Loading...

Setelah penerbitan buku Kisah Negeri-Negeri di Bawah Angin pada 23 Maret 2018 lalu, Negeri Rempah akhirnya menerbitkan versi terjemahan bahasa Inggris yang diberi tajuk Tales of the Lands Beneath the Winds - Tracing the Indonesia Archipelago’s Maritime Role in the History of the Spice Trade pada bulan Desember 2020.

Buku yang ditulis oleh Yanuardi Syukur, Dewi Kumoratih, Irfan Nugraha, Bram Kushardjanto, Prisinta Wanastri dengan penerjemah Tunggul Mintara Dharma Wirajuda ini mengulas secara ringkas tentang jejak perniagaan rempah di Nusantara dari masa pra-kolonial. Buku yang dirancang dengan ilustrasi peta dan foto oleh Dian Parmantia ini pun terasa ringan dan mudah dicerna oleh pembaca awam.

Seiring dengan upaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang akan mengusung Jalur Rempah sebagai Warisan Dunia, terbitnya Tales of the Lands Beneath the Winds sekaligus menjadi sarana untuk memperkenalkan Indonesia di luar negeri.

Kini, Tales of the Lands Beneath the Winds telah menjangkau Spanyol, Swedia, China, India, Thailand, dan Selandia Baru.

*Buku Tales of the Lands Beneath the Winds dapat dipesan dengan cara pre-order. Hubungi kami melalui surat elektronik untuk mendapatkannya.

Di penghujung tahun 2020, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Jenderal Kebudayaan bekerja sama dengan Yayasan Negeri Rempah menerbitkan buku panduan praktis diplomasi budaya Indonesia. Buku ini diterbitkan dalam rangka pelaksanaan program diplomasi budaya antarbangsa yang akan membekali para duta bangsa yang berasal dari beragam latar belakang antara lain pelajar, seniman, peneliti, hingga pelaku usaha. Siapa pun bisa menjadi duta bangsa asalkan memiliki pengetahuan dan wawasan tentang keindonesiaan agar dapat mengusung nama Indonesia di pentas global.

Pengajuan Jalur Rempah (Spice Route) sebagai Warisan Dunia didasari oleh pemahaman bahwa jalur perdagangan rempah Nusantara terletak di salah satu jalur maritim tersibuk dunia yang membentang di antara kepulauan Nusantara dengan dua samudera yaitu Samudera Pasifik dan Samudera Hindia, sejak awal Masehi. Jalur rempah yang dimaksud bukanlah semata jaringan perdagangan, namun juga merupakan tempat bertemunya manusia dari berbagai bangsa. Jalur Rempah menjelma sebagai ruang silaturahmi antar manusia lintas bangsa sekaligus sarana pertukaran dan pemahaman antarbudaya yang pada akhirnya mempertemukan berbagai ide, konsep dan praksis, melampaui konteks ruang dan waktu – dipertemukan oleh sungai, laut, dan samudera.

Sebagai cultural route atau jalur budaya yang sangat penting, maka Jalur Rempah memiliki peluang besar untuk diajukan sebagai Warisan Dunia ke UNESCO oleh Indonesia secara kolektif dengan dukungan negara-negara sahabat. Pengajuan bersama (joint nomination) ini mensyaratkan adanya dukungan dari negara-negara lain di luar Indonesia, terutama dari negara-negara yang memiliki kesamaan, keterkaitan dan keterhubungan secara budaya (common heritage) dengan Jalur Rempah.

Sejarah Jalur Rempah dari masa ke masa merupakan contoh nyata bahwa diplomasi budaya telah dipraktikkan di segala lini oleh individu, komunitas masyarakat, hingga tingkatan negarabangsa. Belajar dari dinamikanya di masa lalu, kiranya amatlah relevan bila Jalur Rempah menjadi rujukan dalam mencari warna diplomasi Indonesia yang mengedepankan interaksi dan kehangatan dialog di berbagai bidang, dan berbagai lapisan masyarakat. Jalur Rempah dapat menjadi pijakan dalam melihat kembali berbagai kemungkinan kerjasama antarbangsa untuk mewujudkan persaudaraan dan perdamaian global yang mengutamakan pemahaman antarbudaya; penghormatan dan pengakuan atas keberagaman budaya beserta warisannya; memiliki semangat keadilan, kesetaraan dan saling berkontribusi, serta menjunjung tinggi harkat martabat kemanusiaan.

Jauh sebelum bangsa-bangsa Eropa turut mewarnai dinamika perdagangan rempah di Nusantara, sejarah mencatat peran besar Sriwijaya yang senantiasa menjadi rujukan ketika membicarakan masa lalu Indonesia sebagai negara maritim. Kedatuan ini mumpuni dalam beberapa aspek strategisnya: politik, ekonomi, teknologi, sosial dan budaya. Bukti-bukti arkeologis pun memberikan petunjuk bahwa abad ke-6 dan ke-7, Asia Tenggara melalui Sriwijaya menjadi pengendali ekonomi yang mampu menggerakkan dinamika regional. Salah satu kekuatan yang dimilikinya adalah kemampuan berdiplomasi dengan mengedepankan kedermawanan dalam menjaga stabilitas kawasan.

Diplomasi “tangan di atas” yang dicontohkan oleh Sriwijaya ini adalah bentuk diplomasi yang dapat dijadikan panutan oleh Indonesia dalam rangka berkontribusi pada kekayaan sejarah milik bersama (common heritage) yaitu Jalur Rempah. Dalam diplomasi berbasis kontribusi ini, Indonesia sebagai penggerak perdagangan rempah di masa lalu memiliki peran strategis untuk mengajak negara-negara yang berada di perlintasan Jalur Rempah untuk menghidupkan kembali memori kolektif masa lalu bahwa kita pernah bersama-sama membangun peradaban melalui pertukaran gagasan, nilai, agama, bahasa, tradisi, termasuk teknologi.

Diplomasi “tangan di atas” ini menuntut keseriusan pemerintah agar berkontribusi lebih banyak dalam menghidupkan warisan sejarah bersama. Tidak untuk mengangkat Indonesia dan menjatuhkan yang lain tapi untuk mengangkat Jalur Rempah sebagai milik bersama di masa lalu, masa kini dan masa depan. Inisiatif untuk aktif berkontribusi dilandasi oleh kesadaran bahwa tidak ada satu negara pun yang dapat berdiri sendiri tanpa adanya dukungan negara lain, dan oleh karenanya dibutuhkan kerjasama antarbangsa yang lebih bermakna.

*Buku Panduan Diplomasi Budaya Indonesia ini dapat diperoleh dalam bentuk digital. Hubungi kami melalui surat elektronik untuk mendapatkannya.

Inisiatif menarik datang dari para sukarelawan Negeri Rempah yang berprofesi sebagai desainer. Menyikapi kondisi pandemi, muncullah gagasan untuk membuat sebuah pameran virtual yang mengetengahkan sejarah perdagangan rempah berdasarkan buku Kisah Negeri-Negeri di Bawah Angin. Pameran yang masih dapat dikatakan merupakan purwarupa, sudah dapat diakses melalui website Negeri Rempah.

Pameran virtual ini memberikan ide lanjutan untuk menjadikan sebagai museum rempah virtual yang bersifat kolaboratif, membuka ruang bagi jejaring Negeri Rempah untuk turut mengisi dan memperkaya narasi Jalur Rempah sebagai sebuah koridor budaya.

Model UN Youth IFSR Web Banner B

CALL FOR DELEGATES!

IORA Council of Ministers (CoM) Meeting Simulation 2021

“Redeveloping Interconnectivity : Towards ‘Spice Route' as the World Heritage"

Council

Indian Ocean Rim Association (IORA)

Topics

Spice Route as Common Heritage

Biodiversity

Human Adaptation and Resilience

Climate Change and Sustainable Development Goals

Maritime Security


 

Latar Belakang

Yayasan Negeri Rempah adalah organisasi nirlaba dengan lingkup sosial-budaya yang didedikasikan bagi peningkatan kesadaran masyarakat untuk belajar dan memperoleh pengetahuan tentang kebhinnekaan Indonesia melalui kegiatan-kegiatan pendidikan dan kebudayaan. Yayasan Negeri Rempah mengusung Jalur Rempah karena memberikan perspektif kontekstual yang unik sebagai pintu masuk untuk mendorong publik agar memiliki pengetahuan dan pemahaman terhadap keragaman yang telah membentuknya. Berkat rempah-rempah, Nusantara menjadi tempat bertemunya manusia dari berbagai belahan bumi yang sebagian besar memiliki semangat bukan semata untuk berdagang, tetapi untuk membangun peradaban. Nusantara menjadi simpul penting pertukaran antarbudaya yang mempertemukan berbagai ide/gagasan, konsep, ilmu pengetahuan, agama, bahasa, estetika, hingga adat kebiasaan. Jalur perdagangan rempah-rempah melalui laut inilah yang menjadi sarana bagi pertukaran antarbudaya yang berkontribusi penting dalam membentuk peradaban dunia.

Salah satu program Yayasan Negeri Rempah adalah International Forum on Spice Route (IFSR), sebuah forum tahunan yang diadakan sejak 2019. Forum ini membuka peluang dialog lintas batas dan lintas budaya dalam meninjau kembali jejak pertukaran antar budaya berbasis Jalur Rempah yang menjadi pusaka alam dan pusaka budaya warisan bersama (common heritage) dalam lingkup regional. Dalam konteks yang lebih strategis, forum ini meletakkan Indonesia ke dalam percaturan perbincangan dunia (mulai wilayah regional Asia Tenggara hingga Kawasan Samudera Hindia) dengan perspektifnya yang unik dalam memaknai sejarah pertukaran antar budaya di salah satu jalur perdagangan berbasis maritim tersibuk di dunia.

Program Jalur Rempah mengemban misi meningkatkan kesadaran masyarakat di daerah dan dunia internasional tentang sejarah dan peran Indonesia di masa lalu serta potensi peran Indonesia di masa depan. Dukungan dari negara-negara sahabat di perlintasan jalur rempah dan dunia internasional secara luas akan mempermudah pengajuan dan pengakuan Jalur Rempah sebagai Warisan Dunia.

Sebagai salah satu upaya untuk melaksanakan misi budaya dan menanamkan pengetahuan mengenai rempah dan jalur rempah kepada generasi muda, maka Yayasan Negeri Rempah bekerja sama dengan Maritim Muda Nusantara, akan menyelenggarakan kegiatan Youth-IFSR 2021 yang dirancang secara khusus melalui kegiatan yang akrab di kalangan pemuda untuk memenuhi ketertarikan mereka dalam membahas isu-isu internasional.

Maksud, Tujuan, dan Manfaat

Kegiatan Youth-IFSR adalah kegiatan pertama IFSR yang secara spesifik ditujukan kepada pemuda. Kegiatan ini bertujuan untuk:

  • Mewujudkan misi diplomasi budaya Jalur Rempah di tahun 2021;
  • Memberikan pengetahuan dan sosialisasi mengenai rempah/jalur rempah sebagai warisan bersama;
  • Memberikan kesempatan bagi pemuda di Asia Tenggara untuk mengenal lebih dalam kekayaan rempah Indonesia;
  • Membangun jejaring antar pemuda yang memiliki ketertarikan di isu diplomasi, maritim dan rempah;
  • Menjaring pemuda berbakat yang akan menjadi peserta pertukaran pelajar diplomasi budaya Jalur Rempah.

Topik Pembahasan

Tema kegiatan Youth-IFSR adalah Redeveloping Interconnectivity: Towards “Spice Route” as the World Heritage (Membangun Kembali Interkonektivitas: Menuju “Jalur Rempah” sebagai Warisan Dunia), sesuai dengan misi diplomasi budaya Jalur Rempah di tahun 2021. Beberapa topik pembahasan utama pada kegiatan ini adalah adaptasi dan resiliensi manusia dalam kebencanaan (human adaptation and resilience in disasters), aspek keamanan dan budaya maritim (maritime security and maritime culture), rempah sebagai warisan bersama (spices as a common heritage), keanekaragaman hayati (biodiversity), kerja sama internasional melalui Indian Ocean Rim Association (IORA) (international cooperation through IORA) serta isu terkait Sustainable Development Goals (SDG).

Jadwal Kegiatan

Kegiatan Youth-IFSR 2021 akan dilaksanakan pada Senin-Rabu, 5-7 April 2021 secara dalam jaringan (daring) dan menggunakan sarana pertemuan virtual.

Senin, 5 April 2021

Pembukaan Youth-IFSR dan Seminar Redeveloping Interconnectivity: Towards “Spice Route” as the World Heritage.

Kegiatan akan diawali dengan pembukaan Youth-IFSR secara resmi dan dilanjutkan dengan Seminar yang menghadirkan perwakilan dari pihak-pihak terkait serta pakar di bidang maritim dan rempah. Melalui kegiatan ini, para peserta akan mendapatkan informasi terkait dengan topik yang akan dibahas pada simulasi sidang.

Selasa-Rabu, 6-7 April 2021

Simulasi Sidang/Pertemuan IORA

Peserta akan mengikuti simulasi sidang/pertemuan IORA seperti kegiatan Model United Nations (MUN) atau Model ASEAN Meeting.

  • Pada hari pertama simulasi sidang, peserta akan menyampaikan posisi negara melalui general statements, mendiskusikan topik-topik pembahasan terkait agenda pertemuan serta membuat working paper.
  • Pada hari kedua simulasi sidang, peserta akan melakukan presentasi working paper dan menyusun draft Joint Communique. Kegiatan akan diakhiri dengan pengumuman delegasi terbaik dalam pertemuan simulasi sidang.

Peserta

Sasaran peserta kegiatan Youth-IFSR 2021 adalah pelajar tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) dan mahasiswa di kawasan Asia Tenggara.

Pendaftaran

bit.ly/yifsr1registration

Risalah Hari 3 – International Forum on Spice Route (IFSR) – 21 Maret 2019

Pembicara: Prof. Gene Ammarell (USA)  |  Dr. Horst Liebner (Jerman)  |  Prof. Dr. Daniel Rosyid (Indonesia)  | Moderator: Andrea Abdul Rahman Azzqy, M.Si.

Dr. Horst Liebner dan Prof. Gene Ammarell mengkaji bahwa masyarakat maritim yang ada di Indonesia memiliki beragam pengetahuan tentang pembuatan kapal. Kapal yang dihasilkan juga merupakan hasil budaya yaitu teknologi. Pembuatan kapal dari mulai bentuk sederhana hingga kompleks yang kaya. Lalu Prof. Dr. Daniel Rosyid juga melengkapi mengenai perkembangan pendidikan kapal saat ini. Namun yang disayangkan dengan kondisi saat ini adalah ketika mahasiswa teknik perkapalan tidak terlalu diajarkan mengenai teknik perkapalan tradisional – yang padahal kaya akan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Risalah Hari 3 – International Forum on Spice Route (IFSR) – 21 Maret 2019

Pembicara: Dr. Dino R. Kusnadi (Kementerian Luar Negeri RI) |  Zainab Tahir, M.Sc. (Kementerian Kelautan dan Perikanan RI)  |  Bernadette ES. Mayasanti (Kementerian Perhubungan RI)  |  Moderator: Aisha Kusumasumantri, M.Si.

Ketiga panelis memaparkan kepentingan yang berbeda, pada intinya jalur sutra sebagai bagian dari teritori laut Indonesia memiliki banyak fungsi. Fungsi ‘jalur rempah’ atau biasa disebut poros maritim antara lain sebagai jalur transportasi, sebagai wilayah dimana ‘harta karun’ banyak terkumpul, dan juga potensi untuk dikenalkan pada dunia internasional utamanya negara-negara Eropa. Oleh karena itu bidang-bidang dari berbagai kemerntrian harus sinergis dan saling mendukung untuk tercapainya kepentingan yang memajukan Bangsa Indonesia.

Risalah Hari 3 – International Forum on Spice Route (IFSR) – 21 Maret 2019

Pembicara: Rodne Galicha, Ph.D. (Philippines)  |  Aditya Pundir, Ph.D. (India)  |  Amanda Katili Niode, Ph.D. (Indonesia)  |  Dr. Dedi S. Adhuri (Indonesia)  |  Moderator: Sarilani Wirawan

Bencana alam dan perubahan iklim ekstrem berpengaruh besar terhadap kehidupan maritim dan produksi sumber daya pangan, khususnya produksi rempah di Indonesia, Filipina, dan India. Negara-negara yang dikelilingi oleh lautan seharusnya sadar akan kondisi geografis nya lalu melakukan strategi adaptasi serta mitigasi. Keberadaan jalur rempah yang membuka interkoneksitas antar negara-negara yang penuh keragaman itu seharusnya menjadi pemersatu untuk bersama-sama menghadapi bencana alam dan perubahan iklim ekstrem. Solusi mitigasi dan adaptasi yang ditawarkan dalam menghadapi persoalan ini tidak hanya dengan mengurangi konsumsi energi, tapi bisa juga dengan mengganti sumber energi menjadi energi yang lebih ramah lingkungan serta memproduksi atau mengembangkan sumber daya serta energi yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Risalah Hari 3 – International Forum on Spice Route (IFSR) – 21 Maret 2019

Pembicara: Prof. Dr. Etty R. Agoes | Dr. Hassan Wirajuda | Moderator: Beginda Pakpahan, Ph.D.

Konfigurasi negara di Asia Tenggara pascakolonialisme terbagi menjadi tiga karakteristik berbeda yakni (1) sejumlah negara yang tidak memiliki laut seperti Kamboja dan Laos (2) sejumlah negara yang memiliki laut tapi tidak bisa berbuat banyak dalam klaim pemanfaatan sumber daya laut seperti Malaysia dan Myanmar (3) negara kepulauan dengan sumber daya laut yang luas seperti Indonesia dan Filipina. London Treaty pada tahun 1824 membagi wilayah Asia Tenggara kedalam negara-negara berdasarkan wilayah jajahan. Luasnya wilayah perairan Indonesia saat ini – yang disepakati berdasarkan London Treaty – keseluruhannya diatur di Batavia sebagai pusat pemerintahan kolonial Belanda. Padahal, sesungguhnya wilayah perairan nusantara ketika Sriwijaya dan Majapahit berkuasa jauh lebih besar. Secara etimologis, Indonesia memang terbayangkan sebagai negara yang erat kaitannya dengan sumber daya air. Dalam lagu kebangsaan Indonesia Raya, disebut 'tanah air' yang padanan katanya bahkan tidak ditemukan dalam bahasa Inggris. Paradigma pembangunan Indonesia menuju negara poros maritim dunia terus diupayakan melalui diplomasi internasional agar Indonesia mampu memanfaatkan potensi sumber daya air secara maksimal. Klaim terhadap wilayah kedaulatan air terus dilakukan tidak hanya oleh Indonesia sebagai negara kepulauan (menuju maritim), tetapi juga negara lain di dunia. Hal ini mengindikasikan bahwa sumber daya air merupakan objek vital tidak hanya sebagai infrastruktur transportasi tetapi juga sumber daya yang terkandung di dalamnya.

Risalah Hari 3 – International Forum on Spice Route (IFSR) – 21 Maret 2019

Kuliah Umum: Prof. Dr. Singgih Tri Sulistyono

Arah pembangunan Indonesia sebagai negara poros maritim dunia selayaknya berefleksi pada dua hal. Pertama, refleksi terhadap kunci keberhasilan dan kehancuran pada sejarah ketika nusantara, Sriwijaya dan Majapahit, berkuasa dan berperan sentral dalam perdagangan rempah dunia. Kedua, arah pembangunan poros maritim Indonesia apakah berpihak kepada rakyat atau ekspansi ekonomi asing. Secara konsep, merujuk pada Indonesia sebagai negara kepulauan saat ini, terdapat perbedaan antara negara kepulauan dan negara maritim. Negara kepulauan cenderung bersifat given, Indonesia dikaruniai gugusan pulau-pulau dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Sementara negara maritim lebih menitikberatkan bagaimana pengelolaan negara mampu memperoleh manfaat dari sumber daya air yang ada secara maksimal. Dalam refleksi sejarah, terdapat beberapa faktor yang menjadi kunci sukses keberhasilan negara maritim: (1) kemampuan produksi komoditas yang dibutuhkan pasar internasional; (2) kemampuan mengontrol dan menguasai kawasan strategis; (3) kemampuan menyinergikan potensi darat dan laut [tidak ada dikotomi antara darat dan laut]; (4) kemampuan (armada) infrastruktur kemaritiman; dan (5) kemampuan dalam kontrol dan negosiasi dengan orang asing. Di sisi lain, interupsi kekuasaan dan kekuatan kolonialisme yang kemudian melakukan monopoli perdagangan merupakan benang merah dari hancurnya kejayaan maritim nusantara di masa lalu, "kunci kegagalan adalah perpecahan dan intrik internal, ketika ada orang atau kelompok tertentu bekerja sama dengan asing untuk kepentingan mereka sendiri". Paradigma pembangunan negara maritim harus terejawantahkan dalam berbagai elemen penggerak negara.