Loading...

Webinar Series 05 Spice Routes img

Heritage Webinar Series 05: Spice Routes

In 2017, the Ministry of Education and Culture officially initiated the Spice Route proposal as the World Heritage to UNESCO. This initiative was under the auspices of the Directorate of Cultural Heritage and Diplomacy and the Directorate General of Culture. In line with the vision of President Joko Widodo to position Indonesia as the global maritime fulcrum in 2045, the legacy of the maritime spice route has been acknowledged as a means of cultural exchange and intercultural understanding. It brings together various ideas, concepts, knowledge, and experience between people across nations. This maritime cultural heritage has become increasingly important to be addressed. Spice Route is proposed as a World Heritage and becomes the theme of Indonesian cultural diplomacy. Inevitably, the need to conduct comprehensive research increases side-by-side with the need to socialize the Spice Route narrative. In addition to academic studies, one of the factors considered for the success of the nomination is public knowledge regarding the subject, including its implications in a broader context. This criterion is indicated through the Sustainable Development Goals (SDG) declared by the United Nations. The cultural heritage of an area should provide benefits in terms of social, culture, and economy for the local communities. Therefore, without proper knowledge, Indonesians cannot obtain optimal benefits from the status of Spice Route as the world heritage.

Meanwhile, the methods in studying subjects of humanities and social science in Indonesian secondary education have not encouraged the curiosity of students to learn more about their history and culture. In many cases, these subjects are delivered in less interesting methods. Sources of information such as humanities and history textbooks are unattractive for today's students with less interest in reading. This condition is exacerbated by the increasingly open access to information, which cable television channels to social media in cyberspace are instant information providers for today's contemporary society. However, the recently emerged "Spice Route" or "Jalur Rempah" narrative provides a unique contextual perspective as an entry point to encourage Indonesians to have the knowledge and understanding of the diversity that has shaped the nation. This cultural-historical narrative seems capable of generating a sense of nationalism while simultaneously giving a new meaning of what it means to be a nation, albeit to varying degrees for everyone.

Pasarempah-Menteng.jpg

Mitra BUMDes Nusantara, Yayasan Negeri Rempah, dan Kopi Merah Putih, dengan bangga memperkenalkan kegiatan loji rempah pertama, Pasarempah Ménténg.

Berlokasi di kawasan bersejarah Menteng, Jakarta Pusat, loji ini mudah dicapai dari penjuru kota maupun luar kota, melalui Stasiun Terpadu Antarmoda Manggarai.

Dalam konsep loji rempah ini, kegiatan pameran, niaga, temuwicara, uji-cicip, dan kelas usaha terkait keekonomian rempah, diselenggarakan secara berkesinambungan.

Untuk tahun 2022 ini, sejumlah kegiatan di loji rempah Pasarempah Ménténg telah disusun dalam dua bingkai besar:

  1. Pasarempah Nusantara.
  2. Collating Mosaics of Spices.

Keduanya terdiri dari berbagai kegiatan yang disusun untuk memperkuat keekonomian rempah, dengan sasaran pasar Nusantara dan pasar Global.

Kami membuka loji rempah Pasarempah Ménténg ini mulai dari hari Sabtu, 29 Januari 2022.

Peminat Rempah bisa langsung mengunjungi lokasi di :

"Pasarempah Ménténg"
Jl. Teuku Cik Ditiro - Latuharhary, No.84,
Menteng - Jakarta Pusat.

Usaha Rempah yang ingin bergabung menjadi peserta bisa mengisi formulir pendaftaran, dari tautan:
https://bit.ly/IsiKatalogPasarempah-2

Pendaftaran keikutsertaan usaha rempah di Pasarempah Ménténg tidak dipungut biaya, dan semata mengajak setiap peserta untuk berbagi pembiayaan secara kolaboratif.

Untuk lebih jelas, bisa menghubungi:
Tania, hp-WA +6282144329609
Chaedar, hp-WA +62817421543

Peran Diaspora Indonesia amat besar dalam mempromosikan Indonesia. Saat Indonesia tengah berupaya untuk mengusulkan Jalur Rempah sebagai Warisan Dunia, kita perlu mempererat persahabatan dan kerjasama dengan negara-negara sahabat. TradeLink dapat menjadi salah satu cara untuk memproyeksikan nilai-nilai Indonesia dan mempromosikan produk-produk terbaiknya ke dunia. Dengan dukungan diaspora Indonesia, kita dapat mengambil langkah awal yang baik menuju tujuan kita termasuk strategi untuk mengembangkan usaha di negara-negara tempat diaspora kita berada. Narasi Jalur Rempah dapat turut memperkuat diplomasi Indonesia dalam konteks ekonomi.

Jangan lewatkan bincang-bincang dengan Indonesian Diaspora Business Council (IDBC), Negeri Rempah Foundation, dan Indonesian Fashion Chamber di ajang Trade Expo Indonesia.

Kamis, 4 November 2021
16.00-18.00 WIB (UTC +7)

Registrasi:
http://www.tradexpoindonesia.com/
Meeting ID: 821 3683 3601
Passcode: 428746

Promosikan produk-produk Anda yang terkait dengan rempah-rempah Indonesia ke TradeLink melalui @pasarempah.

indonesia diaspora business council

Dari tempat asalnya yang jauh di pulau tropis, rempah-rempah tiba di pasar Venesia, Belgia dan London dengan melewati jalur yang berliku-liku, hampir mengelilingi setengah planet Bumi... Di setiap tahap selama perjalanan dari Timur ke Barat, makelar rempah yang berbeda akan terus meningkatkan harga sehingga setelah tiba di Eropa, harganya sudah meroket hingga 1.000%--bahkan lebih besar. (Jack Turner, 2011)

***

Pada awal abad ke-15 dia berhasil menarik kapal-kapal Bangsa Eropa mengarungi samudra ribuan mil jauhnya ke Asia, lalu mencapai Nusantara. Enam abad lalu, ia membuat Indonesia dijuluki "Si Raja Rempah" dengan kekayaan alamnya. Dia juga yang sempat memikat perhatian kita---meski sebentar---saat pandemi Covid-19 menyapa Bumi Pertiwi. Dialah rempah-rempah.

Benda ajaib yang menciptakan aroma lezat, menjadi obat, penghangat badan, serta pengawet makanan. Harganya murah, tersedia melimpah di Nusantara. Oleh sebab limpahnya, kita menganggapnya benda biasa, bahkan menyia-nyiakannya. Kita sudah senang rempah kita dihargai sangat murah. Padahal di masa itu, harganya berkali lipat lebih mahal dari emas.

Mulanya Bangsa Eropa berniat berdagang. Lalu didorong nafsu serakah, mereka berusaha menguasai dengan cara merampas, membunuh dan menjajah bangsa kita. Hampir dua abad (1602-1799), bangsa Belanda melalui kongsi dagangnya, VOC, meraup keuntungan berlimpah dengan berdagang rempah-rempah. Berikutnya, keberadaan bangsa-bangsa Eropa di Nusantara menggoreskan jejak penjajahan selama 3,5 abad.

Namun setelah VOC runtuh, penjajah sudah hengkang dari tanah air, dan kemerdekaan diproklamirkan, kita tak juga 'bersinar' dengan rempah. Bagaimana nilai rempah Indonesia saat ini di mata dunia? Seberapa besar kontribusinya bagi perekonomian Indonesia? Mungkinkah bangsa kita berjaya dengan rempah-rempah?

Mengutip pernyataan Bram Kushardjanto, pendiri Yayasan Negeri Rempah, kita berhutang budi pada rempah-rempah. Lantaran rempah, bangsa-bangsa Eropa datang ke Nusantara. Tanpa peristiwa kolonialisasi, kita tetap menjadi Kerajaan Ternate, Tidore, dan kerajaan-kerajaan kecil. Kita bisa bersatu karena dijajah dan bersama membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia. Maka, selayaknya kita membalas budi dengan mengembalikan kejayaan rempah-rempah.

Tantangan rempah di abad ke-21

Beda zaman, lain pula tantangannya. Dari 7.000 jenis rempah yang ada, sejauh ini baru dimanfaatkan 4%. Kondisi memprihatinkan, jika tidak mau dikatakan kemunduran. Ada hambatan di dua faktor utama, yakni produksi dan konsumsi.

Dari faktor produksi, menurut Deputi Dewan Rempah Nasional Lukman Basri, perdagangan rempah Indonesia saat ini jauh menurun dibandingkan masa pendudukan Belanda. Sebab pertama, produk rempah kita belum memenuhi syarat perdagangan internasional, yakni perihal sustainability, mutu, standar higienis, dan informasi akurat tentang asal barang.

Kedua, tidak ada pelabuhan-pelabuhan untuk ekspor seperti di zaman pendudukan Belanda. Dulu, tiap daerah punya pelabuhan sehingga bisa langsung mengirim barang ke negara tujuan. Saat ini ekspor rempah harus ke Surabaya dulu. Ketiga, ketiadaan sumber finansial untuk mendanai ekspor rempah seperti halnya di zaman Belanda yang punya banyak bank. Mewujud apa dana 5,5 Triliun dari pemerintah melalui Kementrian Pertanian (www.pertanian.go.id) untuk mendongkrak potensi rempah dan holtikultura di Indonesia?

Senada dengan itu, Sekda Provinsi Jateng Sri Puryono menilai, tugas penting kita adalah menjaga kuantitas, kualitas dan kontinyuitas. Karena kalau (rempah) sudah laku, muncul 'penyakit' kita mengabaikan kualitas. Ini menjadi penghambat untuk jangka panjang. Di lingkup lokal, harusnya ada mutualisme antara pelaku industri dan petani rempah. Pabrik ada jaminan pasokan bahan baku, petani punya jaminan pemasaran. Di lingkup global, harusnya rempah-rempah kita bernilai lebih tinggi dibanding negara lain.

Kondisi perkebunan rempah rakyat saat ini juga sangat memprihatinkan, ungkap Ketua Dewan Rempah Indonesia serta mantan Direktur Jenderal Perkebunan 2009-2016, Gamal Nasir. 

Pada umumnya kebun-kebun tersebut kurang terawat, usia tanaman melewati batas tanam; menyebabkan produktivitasnya menurun. Ditambah kondisi cuaca yang tidak kondusif, menyebabkan serangan hama meningkat, akhirnya kualitas produksi juga menurun. Di mana peran ribuan sarjana pertanian yang 'dicetak' negeri ini?

Pada periode 2017-2020 volume ekspor terus meningkat, tapi nilainya justru menurun. Sebabnya, rempah diekspor dalam bentuk mentah (curah). Bandingkan dengan Vietnam, yang mengekspor rempah dengan mengolahnya terlebih dahulu.

Dari faktor konsumsi, tantangan utamanya adalah masyarakat Indonesia sendiri tidak terbiasa dan tidak banyak mengonsumsi rempah-rempah. Akibatnya pasarnya kurang menggeliat di Indonesia. Jika di negeri sendiri rempah tidak diminati, bagaimana mau berjaya di negeri orang?

Berkaca dari peristiwa di awal pandemi Covid-19. Sebagian kelompok masyarakat takut kalau terpapar virus, sehingga mencari cara melindungi diri. Mereka meyakini empon-empon (rempah-rempah) bisa menangkal virus Corona. Pemikiran ini tentu baik. Tapi, masyarakat menjadi latah, lalu belanja berlebih. 

Tren ini dikenal sebagai panic buying, belanja karena panik. Masyarakat mengonsumsi rempah karena takut terpapar virus, bukannya mengadopsi menjadi pola hidup sehat. Akibatnya, pertama kali dalam sejarah harga empon-empon melambung berkali lipat. Jahe misalnya, biasanya berkisar Rp. 20.000 di pasaran, bisa mencapai Rp. 100.000, bahkan lebih.

Petani dan pedagang empon-empon sempat mengecap untung. Tapi, tidak bertahan lama. Seiring berjalannya waktu dan manusia mulai terbiasa hidup di tengah pandemi, pola konsumsi rempah-rempah kembali menurun. Seolah-olah rempah hanya penghilang rasa takut.

Sungguh disayangkan, mengonsumsi rempah-rempah ini hanya musiman. Bukan dari kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan. Pola pikir semacam ini yang harusnya dirombak. Kalau mau sehat dengan mengonsumsi rempah, tak harus menunggu pandemi Covid-19 dan jangan anget-angetan.

Bagaimana harus melanjutkan perjuangan?

Sumber:https://www.kompasiana.com/wantoro/6183b95a70628270057671f3/rempah-dan-peran-kita-merevitalisasi-warisan-kekayaan-bangsa-bagian-1?page=all#section1

Indonesian Diaspora Business Council (IDBC) dan Negeri Rempah Foundation (NRF) menandatangani kerja sama untuk mengangkat rempah Indonesia mendunia. Seperti kita ketahui, Indonesia adalah negeri yang kaya akan rempah-rempah, namun sayangnya, rempah-rempah Vietnam, Thailand dan Malaysia justru lebih mendominasi di pasar mancanegara. Langkah kerja sama strategis ini, diharapkan bisa terbangun kolaborasi yang kuat antara diaspora Indonesia dan komunitas yang berada di bawah NRF.

Penandatanganan nota kesepahaman ini dilakukan oleh Presiden IDBC,Fify Manan, dan Ketua Yayasan Negeri Rempah, Kumoratih Kushardjanto, disaksikan oleh Wakil Presiden IDBC Astrid Vasile (Australia), perwakilan dari Dewan Pengurus Yayasan Negeri Rempah dan Koordinator Program Pasarempah, Chaedar Saleh Reksalegora.

NRF yang salah satu pendirinya adalah Hasan Wirayuda, mantan Menteri Luar Negeri RI, telah dikenal sejak lama dengan komunitasnya. Bukan saja dalam hal pengembangan sisi ekonomi bisnis dari rempah-rempah Indonesia, tapi juga membangun narasi bahwa melalui rempah-rempah, juga menjadi ajang mengenalkan budaya, nilai dan keberagaman. Hal ini disampaikan Kumoratih atau akrab disapa Ratih, pendiri lain NRF saat penandatanganan kerja sama ini secara virtual (02/09/2021).

“Peran diaspora Indonesia amat besar dalam mempromosikan Indonesia. Apalagi, saat ini Indonesia tengah berupaya untuk menominasikan Jalur Rempah sebagai World Heritage. Kita perlu mempererat persahabatan dan kerja sama dengan negara-negara sahabat.. Dengan dukungan diaspora Indonesia, kita dapat mengambil langkah awal yang baik menuju tujuan kita, termasuk strategi untuk mengembangkan usaha di negara lain tempat diaspora kita berada. Narasi Jalur Rempah dapat turut memperkuat diplomasi Indonesia dalam konteks ekonomi,” ujar Ratih.

Di sisi lain, Fify mengatakan Indonesia sebagai negara kepulauan terpendam harta karun yang sangat berharga yaitu rempah. “Indonesia merupakan surga dunia untuk rempah, mestinya ini bukan sekadar komoditi, tapi harus dengan value added kita bisa ekspor rempah-rembah sebagai bahan olahan bumbu masak. Saat ini bumbu rempah olahan didominasi Thailand, Vietnam dan Malaysia. Bumbu masakan Indonesia mestinya bisa lebih luas peluangnya, agar kesejahteraan UMKM meningkat juga petani Indonesia,” tandasnya.

Fifi menambahkan kuliner Indonesia harus bisa mendunia jika bumbu rempahnya juga mendunia. “Para diaspora yang bergerak di bidang kuliner yang terbanyak saat ini, dengan kerja sama ini, saya yakin bisa mendukung bisnis mereka,” ujarnya. Lalu dengan berkembangnya pemasaran secara online, IDBC sebelumnya telah mengembangkan IDBC Trade Link. Dijelaskan Diski, tim dalam pengembangan teknologi di IDBC, bahwa akan banyak membuka peluang dengan memasukkan komunitas di bawah NRF, yang merupakan UMKM rempah, terkoneksi dengan diaspora yang membutuhkan rempah-rempah.

IDBC TradeLink bukan sekadar e-commerce, lanjut Diski, karena di dalamnya juga menjadi tempat promosi dan kolaborasi perdagangan virtual, serta dapat turut menampung informasi para pelaku UMKM. Termasuk di dalamnya, Pasarempah, yang bisa membawa komunitas ini ke pasar global. Platform ini dapat diakses melalui situs idbc-tradelink.com.

Tujuan platform ini adalah menghubungkan peluang bisnis di antara Diaspora Indonesia di seluruh dunia dan mempercepat promosi bisnis Indonesia; menyediakan platform direktori bisnis yang komprehensif sebagai sumber data tunggal untuk bisnis Diaspora Indonesia; serta mengakomodir kolaborasi bisnis melalui platform interaksi seluler yang mudah digunakan.

Ke depannya, IDBC dan Negeri Rempah akan menggelar berbagai kegiatan diskusi dan bincang virtual yang mengetengahkan beragam topik dan narasumber yang menginspirasi. Melalui platform Tradelink, kolaborasi menjadi lebih mudah karena platform ini memiliki kapasitas untuk menyediakan "forum" yang sederhana dan mudah diakses oleh para anggotanya.

Astrid mengatakan kolaborasi adalah alat bisnis yang kuat untuk komunitas bisnis, terlepas dari ukuran atau industri mereka. Ada rasa urgensi untuk dapat memenuhi berbagai kebutuhan banyak pihak yang berkepentingan dalam peluang ekonomi UKM ini. “Prioritas kami adalah untuk menampilkan bisnis luar biasa kepada komunitas ekspor, bangsa dan Diaspora Internasional, dan menghubungkan peluang bisnis di antara diaspora Indonesia di seluruh dunia dan mempercepat promosi bisnis Indonesia,” terangnya.

Fify menyebut saat ini ada 12 juta diaspora di seluruh dunia dan TradeLink bergerak untuk membuktikan model platform yang unik, mendorong produktivitas melalui desain dan pengembangan terintegrasi di semua bidang Mode dan aktivitas industri lainnya.

Ratih menambahkan bahwa berkat komoditas rempah-rempah, Nusantara dari masa ke masa menjadi tempat bertemunya manusia dari berbagai belahan dunia yang sebagian besar memiliki semangat bukan semata untuk berdagang, tetapi juga untuk membangun peradaban. Jalur perdagangan rempah inilah yang menjadi sarana bagi pertukaran antarbudaya yang berkontribusi penting dalam membentuk peradaban dunia.

“Melalui rempah, kita bisa mengembangkan new sense of identity, jalur rempah sebagai warisan dunia, literasi tentang budaya harus kita sebarkan bersama. Bukan saja terkait pengembangan ekonomi, inilah saatnya rempah bisa memproyeksikan value Indonesia ke dunia. Kolaborasi ini bisa membuka ruang lebih luas, yang telah bergabung dengan yayasan ini, baik yang tidak terkait ekonomi maupun para UMKM,” ujar Ratih.

Penulis: Herning Banirestu

Sumber: IDBC-NRF Akan Bawa Rempah Indonesia Mendunia (idbc-tradelink.com)

Liputan6.com, Jakarta - Tidak genap rasanya jika membicarakan kuliner Indonesia tanpa menyebut sambal. Dengan catatan lebih dari 300 jenis, baik dalam versi matang maupun mentah, sambal jadi sebagai salah satu identitas sajian lokal.

Kehadirannya tentu tidak lepas dari eksistensi cabai. Menurut sejarawan Wijaya setidaknya ada dua versi asal mula rempah ini di Indonesia. Ia menyebut, merujuk pada teks Ramayana dalam buku Pasar di Jawa Masa Mataram Kuno Abad VII-XIV karya arkeolog Titi Surti Nastiti, cabai sudah eksis di pasar Nusantara sejak abad ke-10.

"Selain cabai jawa, ada juga andaliman (sejenis tanaman merica) Sumatra Utara yang cukup terkenal, walau itu (andaliman) bukan dalam bentuk cabai, tapi cita rasa yang diberikan mirip," katanya melalui sambungan telepon pada Liputan6.com, Kamis, 21 Oktober 2021.

Sementara dalam konteks sejarah Barat, cabai baru dibawa ke Indonesia pada abad-16 oleh para pedagang Portugis. Ketua Yayasan Negeri Rempah Dewi Kumoratih Kushardjanto menjelaskan, dalam hal ini, tempat asal tumbuhnya cabai diyakini di wilayah Amerika Selatan, termasuk Bolivia dan Meksiko.

"Tanaman cabai tumbuh di daerah yang dilintasi garis khatulistiwa," ujarnya lewat pesan Jumat, 22 Oktober 2021.

Sebelumnya, Kumoratih menjelaskan, jahe, lada, dan cabai jawa adalah jenis rempah yang dipakai untuk memberi rasa pedas pada olahan kuliner Nusantara. "Jawa Barat, Lampung, Sumatra Barat, dan Nusa Tenggara Barat dikenal sebagai wilayah penghasil cabai," imbuhnya.

Cabai jawa disebutnya berbeda dari cabai yang dikenal sekarang. Pasalnya, ketika kolonialisme Eropa terjadi di Indonesia, ini juga membawa banyak perubahan. Selain aspek sosial budaya, pengaruhnya juga lekat pada budi daya pangan.

"Ekspansi Eropa ke Nusantara itu juga dalam rangka akumulasi resources berupa komoditas pangan. Jadi daerah koloni itu juga jadi perluasan lahan untuk budi daya berbagai komoditas yang menguntungkan. Sama seperti ketika bibit rempah kita kemudian dibawa untuk dibudidayakan di Zanzibar atau Grenada," paparnya.

Karena itu, tidak heran jika "cabai impor" ini kemudian populer. "Karena pada dasarnya orang Nusantara juga sudah mengenal rasa pedas, meski pedasnya bersumber dari rempah yang berbeda," imbuh Kumoratih.

Pengganti Rempah Asli

cerita akhir pekan asal usul sambal di indonesia pengganti rempah asli

Wijaya menjelaskan, cara menanam cabai yang cenderung mudah, yang mana tidak perlu perawatan khusus, apalagi lahan luas, juga berkontribusi dalam melejitnya popularitas tanaman rempah tersebut. Varietasnya kemudian menawarkan tingkat kepedasan yang berbeda-beda.

"Tapi rupanya 'cabai impor' ini dirasa lebih nendang pedasnya, sehingga kemudian jadi bahan yang umum digunakan untuk sambal," ucap Kumoratih.

Sebelum cabai ngetop di Nusantara, sambungnya, rasa pedas cenderung memanfaatkan rempah asli. "Jadi sambal pecel itu ada kencurnya, ada jahenya, dan seterusnya. Lalu, bahan utamanya bisa jadi adalah kacang," paparnya.

"Kita kan kenal banyak jenis sambal kacang atau bumbu kacang. Nah, begitu cabai bisa menambah kepedasan dan cocok dengan selera lidah lokal, ya dengan sendirinya itu jadi populer," imbuh Kumoratih.

Wijaya menyambung, kolonialisme tidak hanya mengeksploitasi sumber daya alam, tapi juga sumber daya manusia. "Dalam prosesnya ada interaksi yang kemudian membentuk klasifikasi status sosial," katanya.

Namun, tidak seperti makanan lain, dalam konsumsi sambal, tidak ada status sosial tertentu yang dipertimbangkan. "Semua bisa makan sambal, dari orang Eropa, Tionghoa, bangsawan Nusantara, hingga rakyat jelata," kata Ketua Umum Pengurus Pusat Forum Komunikasi Guru IPS Nasional Persatuan Guru Republik Indonesia tersebut.

Diadopsi Sesuai Tradisi Lokal

cerita akhir pekan asal usul sambal di indonesia diadopsi sesuai tradisi lokal

Sambal kemudian diadopsi sesuai tradisi makan di masing-masing daerah. "Sambal matah khas Bali, misalnya," kata Wijaya. "Karena dibuat dengan cara diiris, itu mencerminkan kesederhaan, proses pembuatan singkat, mengurangi proses memasak."

Masih dalam catatan tradisi, Wijaya menyebut, sambal pun lekat dengan hukuman. "Kalau pernah dengar orangtua memarahi anak nakal dengan menggeretak mulutnya akan diberikan sambal, itu juga bentuk kebiasaan yang berkembang," ucapnya.

Biasanya, ia menjelaskan, itu terkait adab anak berbicara pada orang lebih tua. "Pedasnya sambal itu dianggap sebagai representasi tingkat kekesalan orangtua pada anaknya," Wijaya menyebut.

Infografis Diplomasi Lewat Jalur Kuliner

cerita akhir pekan asal usul sambal di indonesia infografis diplomasi lewat jalur kuliner

 

Langit7, Jakarta - India memiliki Dewan Rempah yang berfungsi untuk memberikan perhatian terhadap produksi, pengembangan, pembinaan, promosi dan mengatur ekspor untuk komoditas rempah.

Konsul Jenderal RI di Mumbai, India, Agus Saptono menjelaskan Dewan Rempah India itu berada di bawah Kementerian Perdagangan dan Industri India atau ministry of commerce. Setidaknya, terdapat sekitar sekitar 52 jenis rempah yang berada di bawah naungan Dewan Rempah.

"Namun, tidak semua India melakukan ekspor untuk memenuhi kebutuhan pasar global, tapi juga impor karena ada beberapa yang produksi mereka kurang baik hasilnya. Seperti cengkeh, kayu manis, pala, dan lainnya yang impor dari Indonesia," jelasnya secara daring di acara Rembukraya: Meneroka Praktik Terbaik dalam Tata Niaga Rempah, Selasa (19/10).

Kendati demikian, dengan adanya Dewan Rempah, India melakukan upaya untuk meningkatkan kualitas rempah mereka. Selain itu, dengan adanya Dewan Rempah, membuat produksi dan perdagangan komoditas rempah India semakin baik dan terkoordinasi.

Di antaranya, membantu importis dan eksportis dalam menjalin hubungan timbal balik, identifikasi sumber pasokan yang kompeten, pengaturan platform umum.

"Serta memeriksa keluhan dari importir, peningkatan program kualitas rempah India, pengelolaan bank data, dan penyatuan badan internasional," tambahnya.

Dewan rempah itu, secara tidak langsung memberikan dampak yang baik dalam penguasaan pasar global untuk komoditas rempah India. Sehingga, Indonesia bisa mencontoh beberapa hal yang dilakukan Dewan Rempah India untuk bisa bersaing di pasar global.

(zul)

Sumber: https://langit7.id/read/5869/1/andil-dewan-rempah-india-dalam-perdagangan-global-1634638225

Langit7, Jakarta - Komoditas rempah memberikan kontribusi besar dalam perekonomian nasional. Hal itu terbukti dari perdagangan untuk kebutuhan rempah yang terus meningkat bahkan di tingkat pasar global.

Wakil Duta Besar RI untuk China dan Mongolia, Dino R. Kusnadi mengatakan, pemerintah harus memberikan perhatian lebih terhadap petani rempah di Indonesia.

"Pemerintah dan UMKM perlu memberikan hasil terbaik terkait rempah dari Indonesia. Termasuk rantai pasok untuk kebutuhan perdagangan rempah skala global," ujarnya secara virtual dalam acara Rembukraya: Meneroka Praktik Terbaik dalam Tata Niaga Rempah, Selasa (19/10).

Menurutnya, komoditas rempah ibarat emas yang semakin dicari di berbagai belahan dunia. Hal itu menjadi peluang besar bagi Indonesia karena memiliki varian rempah yang besar, didukung dengan tanah suburnya.

"Ini lah yang menjadi kelebihan rempah Indonesia, dengan rasa dan kualitasnya yang baik. Itu pula yang menjadikan dunia mencari rempah ke Indonesia," tambahnya.

Pengamat ekonomi, lanjut dia, memperkirakan nilai dagang untuk kebutuhan rempah senilai USD100 juta untuk tahun ini. Dengan nilai perdagangan yang terus tumbuh itu, perlu diperkuat terhadap produktivitas dan kualitas rempah Indonesia.

Saat ini, India menjadi negara dengan sumber utama rempah yang berlimpah. Di mana menguasai pasar rempah global untuk ekspornya sebesar 70 persen pada tahun lalu. Diikuti Indonesia di urutan selanjutnya dengan 17,4 persen untuk kebutuhan ekspor ke India.

"Sehingga kita perlu membuat UKM mampu menembus pasar global untuk perekonomian masa depan," katanya.

(zul)

Sumber: https://langit7.id/read/5847/1/punya-peluang-besar-indonesia-targetkan-kuasai-pasar-global-untuk-komoditas-rempah-1634620259

  • Selasa, 19 Oktober 2021
  • 15.00 - 17.00 WIB

Apa yang harus dilakukan secara riil untuk mendorong rempah-rempah Indonesia kembali menjadi produk unggulan? Selama ini berbagai gagasan untuk mengangkat kembali “kejayaan” rempah-rempah Nusantara telah sering terdengar. Dalam perspektif sejarah dan budaya, konsep Jalur Rempah telah memberikan inspirasi kepada banyak pihak untuk memberdayakan rempah-rempah kita menjadi salah satu lokomotif yang bisa menarik kembali Indonesia menjadi juara di percaturan perdagangan dunia. Namun pertanyaan berikutnya adalah dari mana kita memulainya? Ada begitu banyak peluang dan sumberdaya yang tersebar di depan mata. Mana yang diutamakan terlebih dahulu? Apa strategi yang dibutuhkan secara riil untuk membuat gagasan-gagasan tersebut bisa dioperasionalisasi melalui sistem pemodalan, metode pelindungan dan valuasi, pola bursa komoditas dan sebagainya? Sesi terakhir Rembukraya akan menjadi pijakan ke depan untuk menetapkan langkah-langkah nyata selanjutnya.

Narasumber Pemantik: Kocu Andre Hutagalung (Praktisi Industri Keuangan, CEO Maipark Reinsurance)

Narasumber Penanggap:

  • Tantrie Soetjipto (Praktisi Industri Perbankan, Pendiri Roemah Indonesia B.V)
  • Astrid Vasile (Praktisi Bisnis, Indonesian Diaspora Business Council)
  • Sigit Ismaryanto (Alam Asri Interbuana)

Moderator: Diski Naim (Indonesian Diaspora Business Council)

Registrasi: bit.ly/Rembukraya2021

* Pasarempah adalah program yang diinisiasi oleh Yayasan Negeri Rempah untuk mengkaji dan mengangkat aspek keekonomian rempah-rempah Indonesia.

  • Selasa, 19 Oktober 2021
  • 13.00 - 15.00 WIB

Integrasi rantai pasokan dari titik produksi rempah di pulau terdepan dan hulu sungai tertinggi ke pasar dan pelabuhan di pesisir hingga terkirim ke konsumen di dalam dan luar negeri sangat perlu dikembangkan. Meski demikian, masih banyak tantangan yang masih harus dituntaskan, termasuk tingginya biaya beberapa komponen dan kegiatan dalam rantai pasok rempah. Upaya menuju integrasi rantai pasok rempah terus diupayakan baik oleh lembaga swasta maupun digalang melalui program infrastruktur dan peningkatan kapasitas pelaku usaha melalui digitalisasi oleh pemerintah. Menjadi penting dalam Rembukraya ini untuk mendapatkan perspektif terbaik mengenai perkembangan terakhir dari upaya tersebut dan merumuskan langkah berikutnya.

Narasumber Pemantik: Prof. Dr. Ir. Senator Nur Bahagia (Guru Besar Fakultas Teknologi Industri, ITB)

Narasumber Penanggap:

  • Dr. Kuncoro Harto Widodo (Tim Ahli Pusat Studi Transportasi dan Logistik, UGM)
  • Yahya Kuncoro* (Direktur Usaha Angkutan Barang dan Tol Laut, Pelni Indonesia) tbc
  • Trismawan Sanjaya (Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia)

Moderator: Sidi Rana Menggala (Pendiri Spice Land Indonesia)

Registrasi: bit.ly/Rembukraya2021

* Pasarempah adalah program yang diinisiasi oleh Yayasan Negeri Rempah untuk mengkaji dan mengangkat aspek keekonomian rempah-rempah Indonesia.

  • Selasa, 19 Oktober 2021
  • 09.30 - 12.00 WIB

Begitu banyak program dari dalam dan luar negeri kepada pelaku usaha rempah di Indonesia. Mulai dari pola asuh, pemantauan rantai pasok berbasis teknologi penginderaan jarak jauh, hingga pembiayaan. Di sisi lain, pengembangan rempah dari hulu ke hilir seperti pola asuh, agregasi panen, resi gudang, desentralisasi pelabuhan hub ekspor, digitalisasi budidaya pertanian dan perkebunan, perumusan kemudahan berusaha melalui undang-undang Cipta Kerja, hingga pengembangan UMKM, digalang oleh pemerintah Indonesia. Dalam RembukRaya kali ini, kita akan belajar dan mengkaji praktik terbaik tata niaga rempah dari negara sahabat kita, India. Apa yang dapat kita pelajari dari model tata niaga rempah tersebut bila Indonesia akan membuat sistem pengelolaan perniagaan rempah dari hulu ke hilir?

Pengantar:

  • Bram Kushardjanto (Anggota Dewan Pembina Yayasan Negeri Rempah)
  • Dino Kusnadi (Wakil Duta Besar RI untuk China dan Mongolia)

Narasumber Pemantik: Agus Saptono (Konsul Jenderal RI di Mumbai India)

Narasumber Penanggap:

  • Wiyoto (Direktur Utama Mitra BUMDes Nusantara)
  • Kumara Jati (Indonesia Trade & Promotion Center, Chennai)
  • Robert Manan (Indonesian Diaspora Business Council / Pendiri Manan Foundation)

Moderator: Djaka Susila

Registrasi: bit.ly/Rembukraya2021

* Pasarempah adalah program yang diinisiasi oleh Yayasan Negeri Rempah untuk mengkaji dan mengangkat aspek keekonomian rempah-rempah Indonesia.

Liputan6.com, Jakarta - Isu rempah kian ramai dibicarakan masyarakat. Masih banyak sisi menarik yang belum diulik, padahal jalur ini jadi bukti bahwa Indonesia, Nusantara pada saat itu, memegang peranan penting.

Jika China mengangkat Jalur Sutra, Indonesia mengangkat Jalur Rempah Maritim. Selain lebih kaya, jalur tersebut lebih dulu ada sebelum Jalur Sutra.

"Kita sudah punya jalur tersebut. Ada yang menyebut Jalur Rempah Maritim ini sudah ada sekitar 1000 tahun sebelum Masehi. Jadi, jalur tersebut sudah ada sebelum adanya Nabi Isa," ujar antropolog Yanuardi Syakur dalam peluncuran buku Kisah Negeri-Negeri di Bawah Angin yang diterbitkan Yayasan Negeri Rempah, Rabu, 6 Oktober 2021.

Ada juga yang menyebut, sambung Yanuardi, jalur rempah itu sudah ada sejak 2000 tahun yang lalu, yakni mulai zaman Firaun, Ramses, Ramses II, dan lain sebagainya.

"Karena bagian penting dalam upaya untuk mumifikasi, seperti yang ada di Mesir itu menggunakan rempah," ujar Dosen Program Studi Antropologi Sosial Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Khairun, Ternate, tersebut. "Dengan kejayaan itu, untuk mengangkat marwah bangsa Indonesia untuk mengusulkan Jalur Rempah sebagai Warisan Budaya Dunia UNESCO," kata Yanuardi.

Yanuardi mengatakan pengusulan tersebut sudah bisa dilakukan pada 2024. Oleh karena itu, Yanuardi berharap masyarakat memberikan dukungan untuk pengusulan Jalur Rempah tersebut.

Koridor Jalur Maritim

mengulik waktu permulaan jalur rempah eksis apakah lebih dulu dari jalur sutra Koridor Jalur Maritim

Koridor jalur maritim, kata Yanuardi, berawal dari jalur rempah. Secara sederhana, jalur rempah itu berawal dari Jepang, turun hingga ke Indonesia, tembus ke Samudera Hindia.

"Selannjutnya, jalur rempah tembus ke Mesir, Laut Tengah, kemudian sampai ke Eropa. Itu (gambaran) sederhananya mengenai jalur rempah," kata Yanuardi.

Menurut Yanuardi, indikator kejayaan rempah terlihat saat seseorang hendak bertemu dengan pejabat. Mereka menaruh rempah di bawah lidahnya. "Bukan untuk dimakan, tapi agar rasa harumnya keluar," ungkap Yanuardi.

Literasi Rempah

mengulik waktu permulaan jalur rempah eksis apakah lebih dulu dari jalur sutra literasi rempah

Terkait literasi, sejauh ini sudah banyak buku yang membahas tentang rempah, baik mengenai sejarah rempah maupun kepulauan rempah. Banyak juga buku yang sudah diterjemahkan dari bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia.

"Namun, belum ada satu narasi yang menyeluruh tentang negeri-negeri atau daerah-daerah yang dilalui jalur perdagangan rempah. Karena kalau ditelisik lebih jauh, setiap daerah yang dilalui jalur perdagangan rempah tentu punya jejak," kata dosen di Universitas Pembangunan Panca Budi, Sumatera Utara.

Dari rempah, muncul perdagangan-perdagangan. Selanjutnya, muncul bandar-bandar atau pelabuhan bersejarah di Nusantara, seperti Belawan, Barrus, dan lain-lain. "Semua itu punya sejarah dan cerita dan silakan digali," tandas Sri.

Infografis Daerah Penghasil Rempah di Indonesia

mengulik waktu permulaan jalur rempah eksis apakah lebih dulu dari jalur sutra infografis daerah penghasil rempah di indonesia

Sumber: https://www.liputan6.com/lifestyle/read/4677695/mengulik-waktu-permulaan-jalur-rempah-eksis-apakah-lebih-dulu-dari-jalur-sutra

Pada suatu waktu di masa lalu, rempah telah menjelma barang berharga yang sebanding dengan emas. Rempah pula yang mendatangkan kolonialisme di Bumi Nusantara. Namun, sudah pahamkah kita akan kekuatan rempah, sejarahnya di Tanah Air, juga potensinya di masa depan?

Bagi yang ingin memperluas wawasan atau literasinya mengenai rempah, Yayasan Negeri Rempah telah menerbitkan buku "Kisah Negeri-negeri di Bawah Angin" yang menggambarkan rekam jejak kemaritiman Nusantara dalam sejarah perdagangan rempah-rempah.

Dalam kegiatan bedah buku dan jumpa pers virtual yang digelar Rabu (6/10), Sri Shindi Indira dari Beranda Warisan Sumatera mengungkapkan jika buku ini sangat menarik dan dapat dijadikan rujukan.

"Buku yang terdiri dari 245 halaman ini memiliki gambar yang menarik dan komunikatif sekali. Selain itu, saya juga mencari beberapa buku lainnya yang merujuk ke literasi rempah untuk mengetahui sejauh mana literasi tentang rempah. Ternyata sudah ada banyak buku-buku tentang rempah," paparnya saat membedah buku tersebut.

Dia juga menjelaskan bahwa kita perlu mencari tahu lebih mendalam terkait kekayaan bangsa kita. Dulunya, kita hanya mengenal rempah itu di wilayah Ternate dan Maluku. Lalu bagaimana dengan daerah lainnya. "Kenapa belum ada dan belum menyeluruh tentang informasi daerah-daerah yang dilalui. Ditelisik setiap daerah yang dilewati jalur perdagangan rempah pasti meniggalkan jejak mulai dari Pasai, Barus dan lainnya," jelasnya.

Lebih lanjut, arsitek tersebut juga memaparkan jmengapa jalur tersebut tidak terkenal seperti Ternate dan Maluku maupun tempat lainnya. Menurutnya, pada buku yang telah dicetak dalam bahasa Inggris dengan judul "Tales of the Lands Beneath the Wind" ini telah mengompilasikan perjalanan dan jalur rempah. Dengan telah disebarkan ke berbagai negara di dunia diharapkan buku tersebut dapat dikenal di seluruh dunia.

Pada bagian 1, Dunia Dimabuk Rempah, memaparkan bagaimana kekayaan Indonesia di kala itu akan rempah saat dunia dimabuk rempah. "Dunia Dimabuk Rempah, menarik sekali digambarkan grafisnya. Bicara tentang zaman dahulu ada cerita tentang black death. Tiap 10 tahun adanya pandemi. Ini juga black death terjadi di abad ke-14 dan bisa diobati dengan rempah. Buku ini juga membahas manfaat rempah di zaman dahulu," imbuhnya.

Kemudian, pada bagian berikut, Kisah Negeri-negeri di Bawah Angin, dimulai pembahasan tentang jalur rempah, mulai dari Barus, Tarumanegara, Sriwijaya, Mataram, Majapahit, Pasai, Nusa Tenggara, Banten, Kalimatan, Makassar, Maluku, hingga Papua. Dia mengungkapkan masih adanya jejak-jejak sejarah seperti bangunan-bangunan yang masih awet hingga kini, salah satunya di Barus.

"Kenapa adanya Candi Borobudur, apa kaitannya terhadap rempah. Pada saat adanya pembangunan mungkin di kala itu berpengaruh dengan jalur rempah," ungkapnya.

Di bagian lagin, Sejarah Kemaritiman untuk Memandang Indonesia ke Depan, dia juga menjelaskan bahwa dengan adanya pemahaman literasi tentang budaya, kita bisa memanfaatkan secara positif jalur rempah negara kita yang sangat kaya ini, untuk khususnya pariwisata.

"Di sini pembaca diajak merefleksikan bahwa dari dulu kita sudah kaya bahkan dari ribuan tahun. Lalu, apa yang harus dilakukan. Buku ini juga berisi cuplikan-cuplikan seperti peninggalan-peninggalan yang menjadi inspirasi untuk dikembangkan di masa depan Indonesia melalui pariwisata," lanjutnya.

Selain itu, dia juga membahas terkait epilog yang ada di buku tersebut yaitu Jalesveva Jayamahe, yang berarti jika kejayaan kita ada di laut. Pembaca diajak merefleksikan diri untuk melihat peran dan kontribusi kita untuk ikut melestarikan dan menjaganya.

Kesimpulannya, buku yang akan diterbitkan hitam putih dengan tidak mengganggu cerita dan ilustrasinya ini diperlukan adanya sequel untuk menggali jejak rempah di daerah yang dilalui jalur rempah.

Lewat buku ini juga dapat dijadikan pemanfaatan situs-situs cagar budaya dan pengembangkan pembangunan pariwisata hingga lanjutan lain seperti dokumentasi dan panduan konservasi, panduan pelestarian kebudayaan, konteks sosial ekonomi, dan lingkungan.

Salah satu tim penyusun buku, Yanuardi Syukur mengatakan jika buku ini menjelaskan secara umum bagaimana negeri-negeri di bawah angin termasuk Indonesia dalam jalur rempah maritim. Buku ini juga tidak semata-mata bercerita tentang masa lalu tetapi juga melihat apa yang bisa diangkat di masa depan.

Yayasan Negeri Rempah akan menerbitkan buku "Kisah Negeri-negeri di Bawah Angin" ini dalam bahasa Indonesia dengan dukungan dari Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Sumatera Utara hingga disalurkan ke berbagai perpustakaan dan komunitas di kota Medan secara gratis. (M-2)

Sumber: https://mediaindonesia.com/weekend/438344/menyimak-jejak-dan-daya-rempah-nusantara-dalam-buku-kisah-negeri-negeri-di-bawah-angin

Pada suatu waktu di masa lalu, rempah telah menjelma barang berharga yang sebanding dengan emas. Rempah pula yang mendatangkan kolonialisme di Bumi Nusantara. Namun, sudah pahamkah kita akan kekuatan rempah, sejarahnya di Tanah Air, juga potensinya di masa depan?

Bagi yang ingin memperluas wawasan atau literasinya mengenai rempah, Yayasan Negeri Rempah telah menerbitkan buku "Kisah Negeri-negeri di Bawah Angin" yang menggambarkan rekam jejak kemaritiman Nusantara dalam sejarah perdagangan rempah-rempah. Dalam kegiatan bedah buku dan jumpa pers virtual yang digelar Rabu (6/10), Sri Shindi Indira dari Beranda Warisan Sumatera mengungkapkan jika buku ini sangat menarik dan dapat dijadikan rujukan. "Buku yang terdiri dari 245 halaman ini memiliki gambar yang menarik dan komunikatif sekali. Selain itu, saya juga mencari beberapa buku lainnya yang merujuk ke literasi rempah untuk mengetahui sejauh mana literasi tentang rempah. Ternyata sudah ada banyak buku-buku tentang rempah," paparnya saat membedah buku tersebut. Dia juga menjelaskan bahwa kita perlu mencari tahu lebih mendalam terkait kekayaan bangsa kita. Dulunya, kita hanya mengenal rempah itu di wilayah Ternate dan Maluku. Lalu bagaimana dengan daerah lainnya. "Kenapa belum ada dan belum menyeluruh tentang informasi daerah-daerah yang dilalui. Ditelisik setiap daerah yang dilewati jalur perdagangan rempah pasti meniggalkan jejak mulai dari Pasai, Barus dan lainnya," jelasnya. Lebih lanjut, arsitek tersebut juga memaparkan jmengapa jalur tersebut tidak terkenal seperti Ternate dan Maluku maupun tempat lainnya. Menurutnya, pada buku yang telah dicetak dalam bahasa Inggris dengan judul "Tales of the Lands Beneath the Wind" ini telah mengompilasikan perjalanan dan jalur rempah. Dengan telah disebarkan ke berbagai negara di dunia diharapkan buku tersebut dapat dikenal di seluruh dunia. Pada bagian 1, Dunia Dimabuk Rempah, memaparkan bagaimana kekayaan Indonesia di kala itu akan rempah saat dunia dimabuk rempah. "Dunia Dimabuk Rempah, menarik sekali digambarkan grafisnya.  Bicara tentang zaman dahulu ada cerita tentang black death. Tiap 10 tahun adanya pandemi. Ini juga black death terjadi di abad ke-14 dan bisa diobati dengan rempah. Buku ini juga membahas manfaat rempah di zaman dahulu," imbuhnya. Kemudian, pada bagian berikut, Kisah Negeri-negeri di Bawah Angin, dimulai pembahasan tentang jalur rempah, mulai dari Barus, Tarumanegara, Sriwijaya, Mataram, Majapahit, Pasai, Nusa Tenggara, Banten, Kalimatan, Makassar, Maluku, hingga Papua. Dia mengungkapkan masih adanya jejak-jejak sejarah seperti bangunan-bangunan yang masih awet hingga kini, salah satunya di Barus.

"Kenapa adanya Candi Borobudur, apa kaitannya terhadap rempah. Pada saat adanya pembangunan mungkin di kala itu berpengaruh dengan jalur rempah," ungkapnya. Di bagian lagin, Sejarah Kemaritiman untuk Memandang Indonesia ke Depan, dia juga menjelaskan bahwa dengan adanya pemahaman literasi tentang budaya, kita bisa memanfaatkan secara positif jalur rempah negara kita yang sangat kaya ini, untuk khususnya pariwisata. "Di sini pembaca diajak merefleksikan bahwa dari dulu kita sudah kaya bahkan dari ribuan tahun. Lalu, apa yang harus dilakukan. Buku ini juga berisi cuplikan-cuplikan seperti peninggalan-peninggalan yang menjadi inspirasi untuk dikembangkan di masa depan Indonesia melalui pariwisata," lanjutnya.   Selain itu, dia juga membahas terkait epilog yang ada di buku tersebut yaitu Jalesveva Jayamahe, yang berarti jika kejayaan kita ada di laut. Pembaca diajak merefleksikan diri untuk melihat peran dan kontribusi kita untuk ikut melestarikan dan menjaganya. Kesimpulannya, buku yang akan diterbitkan hitam putih dengan tidak mengganggu cerita dan ilustrasinya ini diperlukan adanya sequel untuk menggali jejak rempah di daerah yang dilalui jalur rempah. Lewat buku ini juga dapat dijadikan pemanfaatan situs-situs cagar budaya dan pengembangkan pembangunan pariwisata hingga lanjutan lain seperti dokumentasi dan panduan konservasi, panduan pelestarian kebudayaan, konteks sosial ekonomi, dan lingkungan. Salah satu tim penyusun buku, Yanuardi Syukur mengatakan jika buku ini menjelaskan secara umum bagaimana negeri-negeri di bawah angin termasuk Indonesia dalam jalur rempah maritim. Buku ini juga tidak semata-mata bercerita tentang masa lalu tetapi juga melihat apa yang bisa diangkat di masa depan. Yayasan Negeri Rempah akan menerbitkan buku "Kisah Negeri-negeri di Bawah Angin" ini dalam bahasa Indonesia dengan dukungan dari Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Sumatera Utara hingga disalurkan ke berbagai perpustakaan dan komunitas di kota Medan secara gratis. (M-2)

Sumber: https://mediaindonesia.com/weekend/438344/jejak-dan-daya-rempah-nusantara-dalam-buku-kisah-negeri-negeri-di-bawah-angin

Dalam rangka literasi Jalur Rempah ke masyarakat, Yayasan Negeri Rempah menginisiasi sebuah buku yang berjudul "Kisah Negeri-Negeri di Bawah Angin". Buku ini telah di cetak dalam bahasa Inggris dengan judul " Tales of the Lands Beneath the Wind" yang telah tersebar di berbagai negara di dunia melalui dukungan KBRI-KBRI di negara-negara sahabat.

Kali ini, Yayasan Negeri Rempah menerbitkan buku ini dalam versi bahasa Indonesia dan akan disebar luaskan secara gratis ke perpustakaan-perpustakaan dan komunitas-komunitas di berbagai daerah. Khusus di kota Medan dan sekitarnya Bank Indonesia Perwakilan Propinsi Sumatera Utara telah mensupport program ini dan akan menyalurkan buku ini ke berbagai perpustakaan dan komunitas di seputar kota Medan.

Apa dan bagaimana programnya akan dijabarkan dalam acara Webinar di tanggal 5 Oktober serta Bedah Buku 6 Oktober 2021.

Pendaftaran bisa dilakukan di:

peluncuran buku kisah negeri negeri di bawah angin bedah buku peluncuran buku kisah negeri negeri di bawah angin bedah buku