Loading...

JALUR REMPAH bisa dibilang merupakan jembatan perdagangan tanaman-tanaman eksotis ke masyarakat dunia. Di masa lalu saja, bumbu menjadi benda mewah bagi masyarakat Timur Tengah yang keberadaannya bisa dilacak pada mumi firaun di Mesir.

Spesialis Program Budaya UNESCO, Moe Chiba mengungkap, bahwa jalur rempah juga bisa disebut sebagai jalur sutera maritim memiliki dampak pemahaman budaya dan politik. 

"Di jalur rempah ada beragam umat manusia—utamanya orang Austronesia—yang secara lintas waktu dalam situasi geografis berkembang melintasi lautan untuk bertukar budaya dari Samudera Pasifik dan Hindia," terangnya di webinar Youth International Forum on Spice Route - Public Talks 2 yang diadakan Negeri Rempah Foundation, Senin 5 April 2021.

"Kalian pasti pernah dengar bila Borobudur dan Angkor Wat punya hubungan kesamaan dalam gaya aristektur. Itu berkat dari jalur ini. Jadi jalur ini bukan hanya soal rempah dan periode datang dan pergi ke kawasan itu."

Walau interaksi budaya dan politik ada di masa lalu, jalur ini bisa dimanfaatkan di dunia modern seperti hari ini untuk menyelesaikan masalah-masalah mancanegara.

Ia memberi gambaran kasus seperti masalah Laut Tiongkok Selatan yang dirundung konflik antara Tiongkok dan negara-negara Asia Tenggara akibat sengketa perbatasan laut. Penyelesaian sengketa itu bisa dimulai dari penjagaan warisan sejarah yang tenggelam di sana yang juga bagian dari jalur rempah.

Lewat studi yang melibatkan negara-negara sekitar, dipercaya dapat membuka diskusi kerjasama untuk memabahas sengketa itu lewat bukti-bukti yang ada.

"Penjagaan ini tentunya butuh biaya untuk membayar untuk mencegah dampak [buruk], dan kerusakan peninggalan," Chiba berpendapat. "UNESCO bisa berperan di situ. Bukan sebagai eksploitasi yang banyak dipertanyakan sebagai trafficking heritage untuk komersial. Tetapi untuk para ilmuwan bisa mengkajinya."

Jika negara-negara sekitar mau melakukannya, menurutnya itu adalah langkah yang baik untuk langkah yang lebih jauh di depan untuk pengembangan pengetahuan dan sengketa.

Melansir dari Antara, sengketa Laut Tiongkok Selatan disebabkan batas laut yang masih rancu antara negara-negara sekitar seperti, Vietnam, Malaysia, Brunei, Filipina, dan Tiongkok.

Untuk menyelesaikannya, PBB mengengahinya dengan hukum internasional lewat UNCLOS. Tetapi hukum ini tak dipatuhi oleh Tiongkok dengan klaim sepihak.

Menurut pakar hukum Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana, hal itu disebabkan penetapan Nine Dash Line yang dilakukan Tiongkok yang dianggap sebagai tempat penangkapan ikan oleh nelayan tradisional mereka sejak dahulu.

Masalah temporer yang bisa ditangkap dari mempelajari jalur rempah, menurut Fefi Eka Wardiani Climate Reality Indonesia, adalah perubahan iklim. Ia berpendapat, bahwa rempah adalah tanaman epidemik yang hanya bisa tumbuh di tempat asalnya.

"Perubahan iklim akan berdampak pada tanaman epidemik seperti rempah. Itu akan membuatnya susah tumbuh dan jadi punah," katanya di forum tingkat mancanegara itu.

"Dampak ini setidaknya juga jadi kesadaran buat pengusaha rempah untuk mengetahui penyebab dan harus bertindak apa. Kalau rempah susah tumbuh bahkan punah, mau apa yang dijual?"

Menurut pakar hukum Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana, hal itu disebabkan penetapan Nine Dash Line yang dilakukan Tiongkok yang dianggap sebagai tempat penangkapan ikan oleh nelayan tradisional mereka sejak dahulu.

Masalah temporer yang bisa ditangkap dari mempelajari jalur rempah, menurut Fefi Eka Wardiani Climate Reality Indonesia, adalah perubahan iklim. Ia berpendapat, bahwa rempah adalah tanaman epidemik yang hanya bisa tumbuh di tempat asalnya.

"Perubahan iklim akan berdampak pada tanaman epidemik seperti rempah. Itu akan membuatnya susah tumbuh dan jadi punah," katanya di forum tingkat mancanegara itu.

"Dampak ini setidaknya juga jadi kesadaran buat pengusaha rempah untuk mengetahui penyebab dan harus bertindak apa. Kalau rempah susah tumbuh bahkan punah, mau apa yang dijual?".

Sumber: https://www.kba.one/news/jalur-rempah-rute-dagang-yang-menyimpan-solusi-masalah-masa-kini/index.html?page=all

LANGIT7.ID, Jakarta - Jalur rempah nusantara bisa jadi pijakan kerja sama global. Yayasan Negeri Rempah akan kembali menyelenggarakan IFSR pada 20-23 September 2021 secara daring.

Kegiatan International Forum on Spice Route (IFSR) 2021 ini bekerja sama dengan perkumpulan Maritim Muda Nusantara, Rumah Produktif Indonesia, Perhimpunan Masyarakat Etnobiologi Indonesia, dan Jaringan Masyarakat Negeri Rempah.

IFSR menyambut partisipan dari berbagai penjuru tanah air dan mancanegara untuk turut berbagi gagasan, pengetahuan dan pengalaman tentang jalur rempah.

Kegiatan IFSR 2021 mengusung tema Bridging Differences, Fostering Intercultural Understanding. Sebab jalur rempah dapat menjadi pijakan dalam melihat kembali berbagai kemungkinan kerja sama global mewujudkan persaudaraan dan perdamaian.

Ketua Dewan Pembina Yayasan Negeri Rempah, Hassan Wirajuda menyatakan, diplomasi budaya sesungguhnya bukan sesuatu yang baru. Sejak nenek moyang dulu sudah melakukannya dengan rancangan yang cukup canggih dan semangat 'tangan di atas'.

"Sangat banyak yang bisa kita tawarkan untuk berbagi dengan bangsa-bangsa lain karena keberagaman peradaban dan budaya kita," kata Hasan.

Ketua Yayasan Negeri Rempah, Kumoratih Kushardjanto, menambahkan bahwa jalur rempah bukan sekadar jalur perdagangan. Tapi seperti ruang silaturahmi dan pertukaran antarbudaya yang melampaui ruang dan waktu.

"Nusantara dari masa ke masa menjadi simpul penting pertukaran antarbudaya yang mempertemukan berbagai gagasan, konsep, ilmu pengetahuan, agama, bahasa, hingga budaya antarbangsa," ujar Kumoratih.

Jalur rempah diajukan sebagai warisan dunia ke UNESCO oleh pemerintah Indonesia. Upaya ini meningkatkan antusiasme masyarakat yang setidaknya sejak 2014 telah menggulirkan narasi jalur rempah dalam berbagai kegiatan yang bersifat sporadis.

Yayasan Negeri Rempah dan Jaringan Masyarakat Negeri Rempah, sebuah jejaring simpul komunitas yang tersebar di beberapa provinsi bahkan mancanegara, semakin gencar memberikan ruang untuk menyuarakan gagasan tentang jalur rempah.

Sumber: https://langit7.id/read/4203/1/jalur-rempah-nusantara-bisa-jadi-pijakan-kerja-sama-global-1631941784

Liputan6.com, Jakarta - Peran Indonesia dalam jalur rempah diyakini dimulai sejak ribuan tahun lalu. Namun, pernyataan itu masih membutuhkan bukti kuat dan pengakuan dari negara-negara lain. 

Hal tersebut dipaparkan oleh Bram Kushardjanto dari Yayasan Negeri Rempah dalam webinar International Forum on Spice Route (IFSR), Rabu, 22 September 2021. Menurut dia, untuk mendapatkan pengakuan Jalur Rempah Indonesia sebagai warisan dunia dari UNESCO, diperlukan bukti dan pengakuan dari negara-negara yang disinggahi para pedagang rempah dari kerajaan-kerajaan Nusantara pada zaman dahulu.

Ia meyakini, Indonesia berperan penting dalam perekonomian dunia karena posisi yang strategis sebagai jalur maritim dunia. "Indonesia memiliki posisi strategis karena menghubungkan Asia Timur, Asia Selatan, Timur Tengah sampai Eropa. Asia Tenggara mempunyai sumber komoditas yang paling dicari dan paling berharga, yaitu rempah-rempah," ucap Bram.

Potensi Jalur Rempah Indonesia juga diungkap Jajang Gunawijaya, pengamat pariwisata dari Universitas Indonesia (UI). Menurut Jajang, Jalur Rempah punya potensi besar bagi pariwisata Indonesia dan tidak kalah dari Jalur Sutra China yang sudah mendunia.

"Ada tiga potensi yang bisa digali dari Jalur Rempah bagi pariwisata Indonesia. Yang pertama wisata sejarah atau susur, wisata kuliner dan wisata wellness atau kebugaran. Ini kalau dimaksimalkan potensinya sangat besar untuk bidang pariwisata," terang Jajang.

Wisata sejarah ini, menurut Jajang, bisa berupa susur atau menyusuri beragam daerah penghasil rempah yang punya banyak cerita menarik. Wisata ini akan lebih mudah dilaksanakan kalau Jalur Rempah Indonesia nantinya sudah mendapat pengakuan dari UNESCO.

Kekayaan Kuliner Indonesia

093329200_1632332344-Rempah_2.jpeg

"Ada banyak cerita menarik dari sejarah rempah-rempah di Indonesia, mulai dari Maluku, Sulawesi sampai Samudra Pasai. Semuanya punya cerita tersendri tentang perkembangan rempah yang sangat disukai dan diincar bangsa Eropa dan bahkan seluruh dunia," kata Jajang.

Ia menambahkan, perjalanan atau wisata sejarah ini bahkan tak hanya menelusuri Indonesia, tapi juga ke negara Asia lainnya dan bahkan sampai ke Eropa. "Harga rempah itu sebenarnya murah, tapi begitu sampai di Eropa harganya bisa naik berkali-kali lipat karena butuh waktu lama untuk berlayar dari Indonesia ke Eropa. Mereka sangat menyukai rempah karena bisa mengawetkan makanan dan minuman dan juga bisa jadi obat-obatan alami," ungkapnya.

Di bidang wisata kuliner, menurut Jajang, potensinya lebih besar lagi bahkan sudah banyak diakui negara lain. Kekayaan kuliner Indonesia bisa dilihat dari tiap daerah yang hampir semuanya punya makanan khas.

"Kelebihan utama kuliner kita adalah berani memakai banyak bumbu karena kita punya banyak jenis rempah yang bisa membuat makanan semakin enak dan punya rasa yang khas. Kekayaan bumbu rempah ini jadi potensi wisata kuliner yang sangat besar," tutur Jajang.

Bugar dengan Rempah

047107900_1632332390-Rempah_3.jpeg

"Waktu Asian Games 2018 misalnya, banyak orang luar negeri yang datang dan mereka sangat suka makanan Indonesia karena punya banyak bumbu yang khas. Siapa yang tidak suka masakan Padang misalnya, banyak orang luar yang suka dan ketagihan, belum lagi dari daerah lainnya," sambungnya.

Potensi lainnya adalah wisata kebugaran. Ramuan dari rempah bisa digunakan untuk pengobatan dan perawatan tubuh secara alami. Rempah juga bisa dijadikan minuman jamu atau untuk pijat dan bahkan membuat minyak esensial.

Menurut Jajang, rempah banyak digunakan sebagai bahan utama di berbagai spa dan sauna di Indonesia. "Spa wellness di Indonesia berbeda dengan spa negara lain karena kita punya banyak bahan alami dari rempah yang sangat khas, seperti jahe, akar tumbuhan, daun pandan dan bunga sedap malam. Jadi, potensi rempah memang luar biasa," pungkasnya.

Daerah Penghasil Rempah di Indonesia

045876600_1629484009-210819_infografis_daerah_penghasil_rempah_di_indonesia_P.jpeg

Sumber: https://www.liputan6.com/lifestyle/read/4665459/jalur-rempah-indonesia-berpotensi-kembangkan-3-jenis-wisata-sekaligus

Indonesia Gastronomy Network in collaboration with Negeri Rempah Foundation are proud to partner with Google Arts and Culture.

This program is initiated by Indonesia Gastronomy Network as a collaborative program with communities, experts, academics, and industry players across the Creative Economy sub-sectors in culinary arts, illustrations, design, film, music, apps and digital.

Collaborators include Negeri Rempah Foundation, Tempeh Movement, Acaraki, and Rendang Minang Legacy to the World by Reno Andam Suri.

Visit us!

6 Spices that Changed the World
https://artsandculture.google.com/project/indonesian-gastronomy?hl=en

Nutmeg: The Taste of Moluccas
https://artsandculture.google.com/story/rwWx8qzkbCdG7g

Pepper: The King of Spices
https://artsandculture.google.com/story/cAUB34nBKnPEFA

Candlenut: The Spirit of Savoury Cuisine
https://artsandculture.google.com/story/wQVxSQpQn7HklA

Cinnamon: The Soul of Sweets
https://artsandculture.google.com/story/ZgVxN2tG11t5og

Cloves: The Fragrance of Moluccas
https://artsandculture.google.com/story/7wUxiEx3tr3ZrQ

Andaliman: The Treasure of Batak
https://artsandculture.google.com/story/MAVRsuZZfoSPMg

Dengan motto “Menjembatani Perbedaan, Menumbuhkan Pemahaman Antarbudaya”, forum ini berupaya menjadi wadah dialog lintas negara dan budaya tentang topik-topik terkait Jalur Rempah.

oleh Nazalea Kusuma 23 September 2021

Rempah-rempah pernah mengubah dunia. Secara substansi, rempah-rempah memiliki banyak fungsi alami. Secara historis, komoditas ini sangat mempengaruhi politik, ekonomi, budaya, dan konektivitas global. Demi rempah-rempah, dunia telah menempuh perjalanan panjang melintasi Asia Tenggara dari dan ke Asia Timur, Asia Selatan, Timur Tengah, dan Eropa. Aktivitas itu membentuk lalu lintas yang cukup padat, yang kemudian dikenal dengan Jalur Rempah.

Hingga saat ini, Jalur Rempah masih memberikan banyak kesempatan bagi kita untuk mempelajari masa lalu dan membangun inovasi dari sejarah kita, salah satunya melalui Forum Internasional Jalur Rempah – International Forum on Spice Route (IFSR) 2021. Acara tahunan ini diselenggarakan oleh Negeri Rempah Foundation. IFSR 2021 adalah acara virtual bebas biaya yang dimulai pada 20 September dan berakhir pada 23 September 2021.

Dengan motto “Menjembatani Perbedaan, Menumbuhkan Pemahaman Antarbudaya”, forum ini berupaya menjadi wadah dialog lintas negara dan budaya tentang topik-topik terkait Jalur Rempah. IFSR 2021 juga berharap dapat menumbuhkan persahabatan dan kerja sama yang kuat antara Indonesia dan negara lain yang memiliki warisan bersama ini.

Forum internasional ini mengusung tiga tema utama:

Identitas – Kesetaraan – Globalisasi

Tema ini membicarakan tentang sejarah diplomasi di sepanjang Jalur Rempah dan sebagai pintu masuk untuk kerja sama internasional. Kerja sama ini kemudian akan dapat memimpin menuju perdamaian global yang mengutamakan dialog, menjunjung tinggi harkat dan martabat kemanusiaan, serta mengakui dan menghormati warisan dan keragaman budaya dalam semangat keadilan dan kesetaraan.

Menelusuri Jalur Rempah Melalui Fitogeografi, Etnobotani, dan Jejaring Sosial Budaya

Fokus ini adalah tentang memetakan kembali Jalur Rempah melalui jejak budayanya. Migrasi manusia membawa ide, nilai, tradisi, sumber daya alam, dan budaya material melalui jaringan perdagangan global.

Budaya untuk Kreativitas, Inovasi, dan Pusat Mata Pencaharian

Tema ini membahas warisan bersama, budaya maritim, keanekaragaman hayati, pertukaran antarbudaya, dan ekonomi kreatif. Poin kunci dari pembahasan ini adalah bahwa pemahaman antarbudaya merupakan dasar bagi kreativitas dan inovasi.

Tema-tema ini akan disampaikan melalui dua belas kuliah umum, diskusi panel, sesi berbagi, dan kegiatan komunitas dalam empat hari.

  • Pada tanggal 20 September: Membangun Jaringan Cendekiawan Muda Indonesia di Luar Negeri; Meninjau Kembali Jalur Rempah dari Perspektif Fitogeografis dan Etnobotani; Menghubungkan Diaspora Indonesia; dan Identitas-Kesetaraan-Globalisasi. 
  • Pada 21 September: Budaya untuk Kreativitas, Inovasi dan Penciptaan Mata Pencaharian; Meninjau Kembali Jalur Rempah: Memetakan Kembali Jejaring Sosial Budaya; dan Presentasi Pemuda. 
  • Pada 22 September: Memahami Nominasi Warisan Dunia dan Memperkuat Gerakan Komunitas.
  • Pada tanggal 23 September: Budaya Maritim: Warisan Bawah Laut; Budaya Maritim: Teknologi Kapal; dan Dinamika Mobilitas Sosial Austronesia.

Sesi ini dipandu oleh para thought leaders, aktivis muda, dan komunitas yang ikut menyelenggarakan IFSR 2021 (Yayasan Negeri Rempah, Maritim Muda Nusantara, Rumah Produktif Indonesia, dan Perhimpunan Masyarakat Etnobiologi Indonesia). Green Network adalah salah satu dari banyak entitas yang mendukung IFSR 2021. Organisasi dan entitas pendukung lainnya termasuk UNESCO, Bank Indonesia, ICOMOS Indonesia (International Council on Monuments and Sites), Universitas Indonesia, dan banyak lainnya.

Kegiatan International Forum on Spice Route 2021 dapat diikuti dengan seksama melalui akun Instagram @negerirempah dan kanal YouTube Negeri Rempah Channel.

Penerjemah: Marlis Afridah

Sumber: https://greennetwork.id/kabar/2021/09/ifsr-2021-dari-sejarah-ke-inovasi-dan-pemahaman-antarbudaya/

Indonesia Gastronomy Network in collaboration with Negeri Rempah Foundation are proud to partner with Google Arts and Culture.

This program is initiated by Indonesia Gastronomy Network as a collaborative program with communities, experts, academics, and industry players across the Creative Economy sub-sectors in culinary arts, illustrations, design, film, music, apps and digital. Collaborators include Negeri Rempah Foundation, Tempeh Movement, Acaraki, and Rendang Minang Legacy to the World by Reno Andam Suri.

We invite you to join the Virtual Launching for our Google Arts & Culture's platform, on:

  • Thursday, 23 September 2021
  • 10.30-11.30 WIB (Jakarta time, UTC+7)

Live streaming on Kemenparekraf and Google Indonesia Youtube channels. Please click the link and see you on time!

Supported by:

Google International, Google ID & the Ministry of Tourism and Creative Economy (Kemenparekraf).

Liputan6.com, Jakarta - Diajukannya Jalur Rempah sebagai Warisan Dunia ke UNESCO oleh pemerintah Indonesia bagaikan gayung bersambut. Upaya ini meningkatkan antusiasme masyarakat yang setidaknya sejak 2014 telah menggulirkan narasi Jalur Rempah dalam berbagai kegiatan yang bersifat sporadis.

Yayasan Negeri Rempah dan Jaringan Masyarakat Negeri Rempah, sebuah jejaring simpul komunitas yang tersebar di beberapa daerah bahkan mancanegara, semakin gencar memberikan ruang untuk menyuarakan gagasan-gagasan tentang Jalur Rempah di masyarakat.

Meski begitu, pengakuan sebagai warisan dunia bukanlah tujuan utamanya. Narasi besar Jalur Rempah itu hanya sebuah pintu masuk agar kita dapat memaknai keberagaman yang membentuk Indonesia hari ini.

Menurut Prof. Johannes Widodo, Ph.D. dari National University of Singapore dalam International Forum on Spice Route (IFSR) 2021, Selasa, 21 September 2021, ia mengingatkan kembali tentang pentingnya pemanfaatan (warisan) budaya secara etis dan bertanggung jawab.

Mengenai pengusulan sebagai warisan dunia, Johannes melihat bahwa ada kecenderungan pemerintah Indonesia melihatnya dari aspek pariwisata, investasi dan perdagangan semata yang memiliki potensi eksploitasi. "Contohnya suda ada. Kita lihat bagaimana Borobudur dan Pulau Komodo yang menerima peringatan dari pihak UNESCO karena dinilai melakukan pembangunan yang tidak berkelanjutan. Itu harus dikaji dan diperhatikan dengan baik," terangnya.

Johannes juga mengajukan pertanyaan tentang paradigma pembangunan. Di satu sisi adalah pembangunan yang berfokus pada materialitas demi kepentingan ekonomi semata, dan di sisi lainnya adalah pembangunan yang berfokus pada kesejahteraan masyarakat.

"Kalau saya melihat pemerintah nampaknya lebih mengutamakan pembangunan infrastruktur yang pada akhirnya kurang memiliki keberpihakan pada budaya dan masyarakatnya," ucapnya.

Pembangunan Komunitas

Johannes menambahkan, hal ni dapat dilihat dengan munculnya 10 destinasi super prioritas yang dicanangkan oleh pemerintah. Alih-alih dimulai dari infrastruktur, ia menawarkan gagasan pembangunan yang dimulai dari pembangunan komunitas dan budayanya demi kesejahteraan sosial.

Hal senada juga dikatakan Prof. Tim Winter, Ph.D. (Australia) dari University of Western Australia. Menurut Prof Winter, semua instrumen yang berhubungan dengan penghasil rempah harus sudah sejahtera dan stabil sehingga bisa konsisten dalam melaksanakan usaha mereka.

"Yang diutamakan adalah kesejahteraan para penghasil rempah di negeri sendiri, termasuk para petaninya. Kalau di dalam negeri sendiri mengalami kesulitan, tentu akan terasa sia-sia meski sudah banyak mengekspor ke negara lain. Begitu juga di Indonesia. Kesejahteraan para penghasil rempah lokal harus diutamakan, soal tidak ada pembeli atau turis yang datang itu tidak jadi masalah," ucap Winter.

Warisan Milik Bersama

img-yahoo-02.jpg

"Kalau penanganan di dalam negeri sendiri bagus dan hasilnya memuaskan, kemungkinan besar orang lain atau negara lain pasti akan datang untuk membeli. Jadi, bisa saja dimanfaatkan untuk menjadi bagian dari komoditas wisata, kalau memang semua faktor utama dan pendukungnya terpenuhi," lanjutnya.

Ptof Winter memaparkan bahwa rempah-rempah merupakan warisan milik bersama di kawasan Asia. Hal ini setidaknya dapat dilihat dari beragamnya penggunaan rempah-rempah dalam tradisi kulinernya.

Mulai dari laksa, kari, rendang, biryani, dan masih banyak lagi. Dengan demikian, gastrodiplomasi merupakan sebuah kesempatan untuk membuka ruang dialog antarbudaya dalam lingkup Asia Tenggara

Daerah Penghasil Rempah di Indonesia

045876600 1629484009 210819 infografis daerah penghasil rempah di indonesia P

Sumber: https://www.liputan6.com/lifestyle/read/4664403/ragam-faktor-yang-harus-diperkuat-agar-jalur-rempah-indonesia-diakui-dunia

Liputan6.com, Jakarta - Jalur rempah dapat menjadi pijakan dalam melihat kembali berbagai kemungkinan kerja sama antarbangsa. Pijakan tersebut untuk mewujudkan persaudaraan dan perdamaian global yang mengutamakan pemahaman antarbudaya; penghormatan dan pengakuan atas keberagaman budaya beserta warisannya; memiliki semangat keadilan, kesetaraan dan saling berkontribusi; serta menjunjung tinggi harkat martabat kemanusiaan.

Diplomasi budaya sesungguhnya bukan sesuatu yang baru. Nenek moyang kita sudah melakukannya dengan rancangan yang cukup canggih dan dengan semangat ‘tangan di atas’.

"Sebagai bangsa, sudah tiba saatnya kita untuk memajukan kerja sama internasional, termasuk kerja sama teknik dan budaya, terutama dengan negara-negara berkembang, atas dasar kemanusiaan. Sangat banyak yang bisa kita tawarkan untuk berbagi dengan bangsa-bangsa lain karena keberagaman peradaban dan budaya kita," kata Ketua Dewan Pembina Yayasan Negeri Rempah, Hassan Wirajuda, dalam siaran pers tentang penyelenggaraan International Forum on Spice Route (IFSR) yang diterima Liputan6.com, Jumat, 17 September 2021.

Wirajuda berkata, diplomasi ‘tangan di atas’ yang mengutamakan kontribusi ini tidak semata untuk mengangkat Indonesia dan menjatuhkan yang lain. Inisiatif untuk aktif berkontribusi dilandasi oleh kesadaran bahwa tidak ada satu negara pun yang dapat berdiri sendiri tanpa dukungan negara lain.

"Oleh karena itu, dibutuhkan kerja sama antarbangsa yang yang lebih bermakna dan berkesinambungan. Sejarah juga telah menunjukkan bahwa Jalur Rempah dari masa ke masa merupakan contoh nyata diplomasi budaya telah dipraktikkan di segala lini oleh individu, komunitas masyarakat, hingga tingkatan negara bangsa," kata Wirajuda.

Belajar dari dinamikanya di masa lalu, ia menyebut Jalur Rempah sangat relevan untuk menjadi rujukan dalam mencari warna diplomasi Indonesia yang mengedepankan interaksi dan kehangatan dialog di berbagai bidang dan lapisan masyarakat.

Ruang Silaturahmi

043605300 1553888072 Rempah Rempah

Ketua Yayasan Negeri Rempah, Kumoratih Kushardjanto, menambahkan, Jalur Rempah bukan sekadar jalur perdagangan. Menurut dia, Jalur Rempah tak ubahnya seperti ruang silaturahmi danpertukaran antarbudaya yang melampaui ruang dan waktu.

"Karena kekayaan rempah-rempah kita, Nusantara dari masa ke masa menjadi simpul penting pertukaran antarbudaya yang mempertemukanberbagai gagasan, konsep, ilmu pengetahuan, agama, bahasa, hingga budaya, yang berkontribusi penting dalam membentuk peradaban dunia," urainya.

Karena itu, ia menilai narasi Jalur Rempah penting untuk selalu dibahas lantaran luasnya spektrum yang terkandung. Ia menyebut Jalur Rempah relevan menjawab tantangan-tantangan kontemporer, seperti ketahanan pangan, perubahan iklim, pengentasan kemiskinan, dan kesetaraan. "Di situlah pentingnya kita belajar, membaca dan mendengar dari berbagai perspektif," ucap Kumoratih.

Bukan Hanya Pengakuan UNESCO

026919300 1607702932 Rempah 3

Jalur Rempah yang diajukan pemerintah Indonesia sebagai Warisan Dunia ke UNESCO bagaikan gayung bersambut. Upaya ini meningkatkan antusiasme masyarakat yang setidaknya sejak 2014 telah menggulirkan narasi Jalur Rempah dalam berbagai kegiatan yang bersifat sporadis.

Yayasan Negeri Rempah dan Jaringan Masyarakat Negeri Rempah, sebuah jejaring simpul komunitas yang tersebar di beberapa provinsi bahkan mancanegara, semakin gencar memberikan ruang untuk menyuarakan gagasan-gagasan tentang Jalur Rempah di masyarakat. Meski demikian, Kumoratih mengingatkan bahwa pengakuan sebagai warisan dunia bukanlah tujuan utama.

"Narasi besar Jalur Rempah itu hanya sebuah pintu masuk agar kita dapat memaknai keberagaman yang membentuk Indonesia hari ini. Apa gunanya kita mendapatkan status world heritage kalau kita sendiri tidak punya pemahaman terhadap apa yang diamanahkan oleh dunia untuk kita jaga?" lanjutnya.

Penyelenggaraan International Forum on Spice Route (IFSR) yang ketiga akan digelar Yayasan Negeri Rempah pada 20-23 September 2021 secara daring. Acara tersebut mengusung tema Bridging Differences, Fostering Intercultural Understanding yang akan dihadiri pembicara dari dalam dan luar negeri.

Infografis Daerah Penghasil Rempah di Indonesia

045876600 1629484009 210819 infografis daerah penghasil rempah di indonesia P

Sumber: https://www.liputan6.com/lifestyle/read/4661965/jalur-rempah-contoh-nyata-diplomasi-budaya-antarbangsa-sejak-lama

Liputan6.com, Jakarta - Lain tempat, lain pula serapan kulturnya, begitu pula dengan rempah-rempah. Sebagai orang Indonesia, komoditas ini sudah begitu lekat dengan keseharian. Rempah menyapa indra perasa lewat bumbu-bumbu masakan, juga meninggalkan memori tertentu melalui aroma-aroma khas, misalnya.

Pemanfaatan rempah-rempah di belahan dunia lain nyatanya tidak terlalu berbeda. Asimilasi budaya setempat yang kemudian membuatnya memiliki identitas masing-masing.

Di Indonesia, Wawan Sujarwo, Ph.D., dari Ethnobiological Society of Indonesia mengatakan bahwa sementara rempah sebagai bumbu sajian begitu identik, komoditas ini juga dimanfaatkan sebagai obat tradisional dan bahan aromaterapi. Dalam hal aromaterapi, kayu manis jadi yang terpopuler.

"Kayu manis juga dikenal sebagai obat (tradisional) yang legendaris di Indonesia bagian timur," katanya dalam International Forum on Spice Route (IFSR) 2021, Selasa, 20 September 2021.

Prof. Zaal Kikvidze, Ph.D. dari Ilia State University, Tbilisi, Georgia menyambung bahwa di negaranya, yang berlokasi di "persimpangan" Asia-Eropa dan masuk dalam Jalur Sutra, rempah didominasi dalam melengkapi cita rasa sajian. "Di samping tentu Georgia dikenal melalui warisan pembuatan anggur," ucapnya di kesempatan yang sama.

Beberapa rempah yang umum di Georgia antara lain ketumbar, marigold, kemangi, daun mint, kunyit, oregano, kayu manis, pala, dan vanila. Ia selanjutnya memperlihatkan kuliner berupa bubur sorgum yang disajikan bersama saus prunus tercatat di Museum Etnografi, Tbilisi.

Pelestarian Berbasis Komunitas

000165900_1629473966-tamil-shutter-dreams-XM1RAnQeFTs-unsplash.jpeg

Lixin Yang, Ph.D. dari Kunming Institute of Botany, Chinese Academy of Sciences menyoroti bagaimana rempah-rempah dimanfaatkan sebagai obat tradisional dan pewarna pakaian alami. Konservasi keberagaman, terutama berkonsentrasi di Provinsi Yunnan, didorong melalui konteks lokal, seperti agama.

"Kami juga merestorasi hutan-hutan suci di berbagai (tempat tinggal) komunitas minoritas," tuturnya. Suku-suku di wilayah ini, tambah Dr. Yang, dikenal berhubungan dekat dengan alam.

Di sisi lain, produk-produk alami ini, termasuk rempah, kemudian diolah untuk memenuhi kebutuhan hidup komunitas lokal. "Ini kemudian diadopsi dan dikembangkan berdasarkan kearifan lokal untuk memanfaatkan sumber daya alam sekitar," ujarnya.

Persamaan dengan Rempah Asia Tenggara

094924600_1620462300-pexels-mareefe-678414.jpeg

Dr. Yang mengatakan, bagian tenggara dari Himalaya kaya akan warisan obat tradisional. Di samping, rempah di sini juga dimanfaatkan sebagai bumbu makananan yang menciptakan cita rasa khas.

"Soal persamaan dengan rempah di Asia Tenggara, saya pikir lebih mengarah pada keluarga jahe," katanya. Ia menjelaskan, jahe di wilayah tersebut ada yang kuat, baik secara rasa atau aroma, namun ada juga yang lebih "ringan."

Terkait penggunaan, sama seperti di Indonesia, jahe juga sering dimanfaatkan untuk meredakan flu. "(Jahe) yang berwarna kuning biasanya lebih kuat secara aroma," imbuhnya.

Infografis Daerah Penghasil Rempah di Indonesia

045876600_1629484009-210819_infografis_daerah_penghasil_rempah_di_indonesia_P.jpeg

Sumber: https://www.liputan6.com/lifestyle/read/4663391/macam-macam-pemanfaatan-rempah-di-indonesia-china-dan-georgia

Perniagaan rempah-rempah pada masanya menjadi primadona. Para tajir meneluri sumber komoditas berharga ini dengan segala cara, sampai akhirnya mereka mencapai Nusantara sebagai pusat rempah-rempah.

Jalur Rempah kini sedang diupayakan pemerintah agar diakui sebagai salah satu Warisan Dunia. Berbagai kegiatan diadakan untuk tujuan itu. Di antaranya, pemetaan segala bentuk dan jenis perniagaan yang berlangsung di Jalur Rempah.

Akhir tahun lalu, misalnya, berlangsung kegiatan International Forum on Spice Route (ISFR). Ini diadakan atas kerjasama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Pendidikan Tinggi (Kemendikbuddikti) dengan Yayasan Negeri Rempah.

Para pembicara di forum internasional itu sepakat, Jalur Rempah merupakan jalur perniagaan komoditas rempah yang perniagaannya melintasi banyak area dan berbagai pelabuhan di dunia. Jalur perniagaan itu terutama bergerak di wilayah Nusantara barat dengan melintasi Asia, Afrika, hingga Eropa.

Dalam pemetaan Jalur Rempah, diakui Indonesia berperan penting dalam perekonomian dunia karena posisinya yang strategis sebagai jalur perniagaan maritim dunia. Indonesia di Asia Timur memiliki posisi strategis karena menghubungkan Asia Timur, Asia Selatan, Timur Tengah, hingga Eropa.

Selain itu, Indonesia yang berada di Asia Tenggara menjadi salah satu titik pusat perniagaan Jalur Rempah, karena ia memiliki bahan komoditas yang paling dicari dan paling berharga, yaitu rempah-rempah. Di antaranya, kayu manis, kayu manis cina, kapulaga, jahe, dan kunyit.

Rempah-rempah sangat dicari dalam perdagangan di Dunia Timur sejak dahulu kala. Barang itu menemukan jalan perniagaannya ke Timur Tengah sebelum awal era Kristen, tempat sumber sebenarnya rempah-rempah, namun dirahasiakan keberadaan sumbernya oleh para pedagang.

Di pertengahan milenium pertama, pedagang Hindustan dan Ethiopia mengendalikan rute pelayaran ke Hindustan (sekarang India) dan Sri Lanka (Romawi-Taprobane). Mereka saat itu menjadi kekuatan perniagaan maritim Laut Merah. Kekaisaran Aksum telah merintis perniagaan di Laut Merah jauh sejak sebelum abad ke-1 Masehi.

Pada pertengahan abad ke-7, kebangkitan Islam berimbas pada ditutupnya rute perniagaan darat kafilah yang melalui Mesir dan Terusan Suez. Para tajir Arab memisahkan komunitas pedagang Eropa dari Aksum dan Hindustan. Mereka berhasil mengambil alih pengiriman rempah-rempah melalui pedagang Levant dan pedagang Venesia untuk Eropa.

Perniagaan rempah pun membawa kekayaan besar bagi Kekhalifahan Abbasiyah. Para pelaut dan pedagang awal ini sering berlayar dari kota pelabuhan Basra, dan akhirnya setelah banyak pelayaran mereka akan kembali untuk menjual barang-barang mereka, termasuk rempah-rempah, di Baghdad. Ketenaran banyak rempah-rempah seperti pala dan kayu manis, dikaitkan dengan para pedagang rempah awal ini.

Kepulauan Banda di Maluku, Nusantara (sekarang Indonesia), selama waktu yang lama adalah satu-satunya sumber langka pala, memberikan kontribusi bagi reputasi Kepulauan Maluku sebagai “Kepulauan Rempah”. Nama Kepulauan Banda dan Kepulauan Maluku begitu terkenal di kalangan peniaga dunia.

Hubungan perniagaan antara Hindustan dengan Asia Tenggara sangat vital bagi para tajir Arab dan Persia abad ke-7 dan ke-8. Mereka, terutama keturunan Yaman dan Oman, mendominasi niaga maritim di seluruh Samudera Hindia. Mereka mendapat keuntungan besar setelah berhasil menemukan rahasia “kepulauan rempah”, yaitu Kepulauan Maluku dan Kepulauan Banda, sebagai daerah sumber di Timur Jauh.

Produk rempah-rempah dari Maluku kemudian dikirim ke pusat perniagaan di India, melewati pelabuhan seperti Kozhikode, dan melalui Ceylon (sekarang Sri Lanka). Dari sana barang itu dikirim ke arah barat melintasi pelabuhan Arabia di Timur Dekat, ke Ormus di Teluk Persia dan Jeddah di Laut Merah, bahkan kadang-kadang dikirim ke Afrika Timur, di mana mereka akan digunakan untuk berbagai tujuan, termasuk upacara pemakaman.

Penduduk Abbasiyah menggunakan Alexandria, Damietta, Aden, dan Siraf sebagai pelabuhan pintu masuk perniagaan ke India dan Tiongkok. Pedagang yang tiba dari India di kota pelabuhan Aden membayar upeti dalam bentuk jebat, kapur barus, ambergris dan cendana kepada Ibnu Ziyad, Sultan Yaman.

Jadi, selama periode Abad Pertengahan, para tajir Arab mendominasi perniagaan rempah-rempah maritim di Samudera Hindia. Mereka memperoleh keuntungan besar dengan mengambil komoditas itu langsung dari sumbernya di Timur Jauh (Asia Tenggara). Lantas, mereka mengirimnya via Hindustan ke arah barat ke Teluk Persia dan Laut Merah, mengikuti rute darat menuju ke Eropa.

Mereka menggunakan kapal-kapal niaga dengan melewati kanal-kanal, seperti Teluk Benggala, sebagai jembatan untuk menguasai perniagaan di sepanjang banyak rute rempah-rempah. Bersamaan dengan itu, mereka melakukan pertukaran budaya dan komersial di antara beragam budaya dan agama.

Perniagaan mereka berjaya cukup lama, sampai bangkitnya Kekaisaran Turki Utsmani, yang memotong rute niaga Jalur Rempah pada 1453. Jalur niaga darat yang mereka lakukan pada awalnya membantu pengembangan perniagaan rempah. Tapi, rute perniagaan maritim kemudian ternyata jauh lebih berhasil dalam meningkatkan pertumbuhan luar biasa dalam aktivitas perniagaan.

Namun, perniagaan rempah-rempah kemudian berubah lagi di Zaman Penjelajahan Eropa. Kala itu, beberapa jenis rempah-rempah, sepeti lada hitam, sedang sangat dibutuhkan orang Eropa. Sampai akhirnya penjelajah ulung Portugis Vasco da Gama, pada 1498 berhasil mencapai Samudera Hindia melalui Tanjung Harapan setelah memutari Afrika.

Pelayaran dari Eropa ke Samudera Hindia itu menciptakan rute maritim baru perniagaan rempah-rempah. Tapi, para penjelajah Portugis mau tidak mau harus memutari benua Afrika, karena umumnya rute perniagaan kuna dilarang atau dibatasi untuk dilewati. Mereka dicegat di berbagai pelabuhan di negara-negara yang sejak awal khawatir didominasi pihak asing.

Perniagaan rempah-rempah Eropa pun berkembang, meski agak lambat karena menemukan banyak hambatan dan kendala tadi. Namun, para tajir Eropa, khususnya didorong penguasa dan pengusaha Kerajaan Belanda, akhirnya mampu melewati banyak masalah ini, dengan merintis perniagaan laut langsung dari Tanjung Harapan ke Selat Sunda di Nusantara, alias Indonesia sekarang. [AT]

Sumber: https://koransulindo.com/perniagaan-rempah-rempah-dari-nusantara-ke-belahan-dunia

When we think of the history of spice we often start with the protection rackets, piracy, and massacres of the East India companies. But the world trade in spices is not something that begins with the European age of sail in the sixteenth century. It’s far more ancient. The search for spice has led to travel, exploration and cross-cultural influences for millennia. The Indonesian maritime spice routes helped define the extent and culture of Nusantara, or what we now call Indonesia. Focussing on nutmeg and clove, this program explores the history of these ingredients from 3,500 years ago to today, with interviews, poetry, natural sound and music of the Spice Islands.

Guests:

Ian Burnet

Kumoratih Kushardjanto

Barbara Santich

Danielle Clode

Reader:

Michael Baldwin

Duration: 33min 25sec

More Information

Presenter: Hetty McKinnon

Sound engineer: Tom Henry

Writer, producer: Mike Ladd

Credits

Presenter: Hetty McKinnon

Sound Engineer: Tom Henry

Producer: Mike Ladd

Sumber: https://www.abc.net.au/radionational/programs/the-history-listen/the-kitchen-table-a-taste-of-the-past-ep-4-spice/13279896

Indonesian Diaspora Business Council (IDBC) dan Negeri Rempah Foundation (NRF) menandatangani kerja sama untuk mengangkat rempah Indonesia mendunia. Seperti kita ketahui, Indonesia adalah negeri yang kaya akan rempah-rempah, namun sayangnya, rempah-rempah Vietnam, Thailand dan Malaysia justru lebih mendominasi di pasar mancanegara. Langkah kerja sama strategis ini, diharapkan bisa terbangun kolaborasi yang kuat antara diaspora Indonesia dan komunitas yang berada di bawah NRF.

Penandatanganan nota kesepahaman ini dilakukan oleh Presiden IDBC,Fify Manan, dan Ketua Yayasan Negeri Rempah, Kumoratih Kushardjanto, disaksikan oleh Wakil Presiden IDBC Astrid Vasile (Australia), perwakilan dari Dewan Pengurus Yayasan Negeri Rempah dan Koordinator Program Pasarempah, Chaedar Saleh Reksalegora.

NRF yang salah satu pendirinya adalah Hasan Wirayuda, mantan Menteri Luar Negeri RI, telah dikenal sejak lama dengan komunitasnya. Bukan saja dalam hal pengembangan sisi ekonomi bisnis dari rempah-rempah Indonesia, tapi juga membangun narasi bahwa  melalui rempah-rempah, juga menjadi ajang mengenalkan budaya, nilai dan keberagaman. Hal ini disampaikan Kumoratih atau akrab disapa Ratih, pendiri lain NRF saat penandatanganan kerja sama ini secara virtual (02/09/2021).

“Peran diaspora Indonesia amat besar dalam mempromosikan Indonesia. Apalagi, saat ini Indonesia tengah berupaya untuk menominasikan Jalur Rempah sebagai World Heritage. Kita perlu mempererat persahabatan dan kerja sama dengan negara-negara sahabat.. Dengan dukungan diaspora Indonesia, kita dapat mengambil langkah awal yang baik menuju tujuan kita, termasuk strategi untuk mengembangkan usaha di negara lain tempat diaspora kita berada. Narasi Jalur Rempah dapat turut memperkuat diplomasi Indonesia dalam konteks ekonomi,” ujar Ratih.

Di sisi lain, Fify mengatakan Indonesia sebagai negara kepulauan terpendam harta karun yang sangat berharga yaitu rempah. “Indonesia merupakan surga dunia untuk rempah, mestinya ini bukan sekadar komoditi, tapi harus dengan value added kita bisa ekspor rempah-rembah sebagai bahan olahan bumbu masak. Saat ini bumbu rempah olahan didominasi Thailand, Vietnam dan Malaysia. Bumbu masakan Indonesia mestinya bisa lebih luas peluangnya, agar kesejahteraan UMKM meningkat juga petani Indonesia,” tandasnya.

Fifi menambahkan kuliner Indonesia harus bisa mendunia jika bumbu rempahnya juga mendunia. “Para diaspora yang bergerak di bidang kuliner yang terbanyak saat ini, dengan kerja sama ini, saya yakin bisa mendukung bisnis mereka,” ujarnya. Lalu dengan berkembangnya pemasaran secara online, IDBC sebelumnya telah mengembangkan IDBC Trade Link. Dijelaskan Diski, tim dalam pengembangan teknologi di IDBC, bahwa akan banyak membuka peluang dengan memasukkan komunitas di bawah NRF, yang merupakan UMKM rempah,  terkoneksi dengan diaspora yang membutuhkan rempah-rempah.

IDBC TradeLink bukan sekadar e-commerce, lanjut Diski,  karena di dalamnya juga menjadi tempat promosi dan kolaborasi perdagangan virtual, serta dapat turut menampung informasi para pelaku UMKM. Termasuk di dalamnya, Pasarempah, yang bisa membawa komunitas ini ke pasar global. Platform ini dapat diakses melalui situs idbc-tradelink.com.

Tujuan platform ini adalah menghubungkan peluang bisnis di antara Diaspora Indonesia di seluruh dunia dan mempercepat promosi bisnis Indonesia; menyediakan platform direktori bisnis yang komprehensif sebagai sumber data tunggal untuk bisnis Diaspora Indonesia; serta mengakomodir kolaborasi bisnis melalui platform interaksi seluler yang mudah digunakan.

img IDBC NRF 3412

Ke depannya, IDBC dan Negeri Rempah akan menggelar berbagai kegiatan diskusi dan bincang virtual yang mengetengahkan beragam topik dan narasumber yang menginspirasi. Melalui platform Tradelink, kolaborasi menjadi lebih mudah karena platform ini memiliki kapasitas untuk menyediakan "forum" yang sederhana dan mudah diakses oleh para anggotanya.

Astrid mengatakan kolaborasi adalah alat bisnis yang kuat untuk komunitas bisnis, terlepas dari ukuran atau industri mereka. Ada rasa urgensi untuk dapat memenuhi berbagai kebutuhan banyak pihak yang berkepentingan dalam peluang ekonomi UKM ini. “Prioritas kami adalah untuk menampilkan bisnis luar biasa kepada komunitas ekspor, bangsa dan Diaspora Internasional, dan menghubungkan peluang bisnis di antara diaspora Indonesia di seluruh dunia dan mempercepat promosi bisnis Indonesia,” terangnya.

Fify menyebut saat ini ada 12 juta diaspora di seluruh dunia dan TradeLink bergerak untuk membuktikan model platform yang unik, mendorong produktivitas melalui desain dan pengembangan terintegrasi di semua bidang Mode dan aktivitas industri lainnya.

Ratih menambahkan bahwa berkat komoditas rempah-rempah, Nusantara dari masa ke masa menjadi tempat bertemunya manusia dari berbagai belahan dunia yang sebagian besar memiliki semangat bukan semata untuk berdagang, tetapi juga untuk membangun peradaban. Jalur perdagangan rempah inilah yang menjadi sarana bagi pertukaran antarbudaya yang berkontribusi penting dalam membentuk peradaban dunia.

“Melalui rempah, kita bisa mengembangkan new sense of identity, jalur rempah sebagai warisan dunia, literasi tentang budaya harus kita sebarkan bersama. Bukan saja terkait pengembangan ekonomi, inilah saatnya rempah bisa memproyeksikan value Indonesia ke dunia. Kolaborasi ini bisa membuka ruang lebih luas, yang telah bergabung dengan yayasan ini, baik yang tidak terkait ekonomi maupun para UMKM,” ujar Ratih.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Sumber: https://swa.co.id/diaspora/idbc-nrf-akan-bawa-rempah-indonesia-mendunia

Simak bincang ringan tentang aktivitas Negeri Rempah sebagai gerakan literasi. Bincang ringan bersama Kumoratih Kushardjanto dipandu oleh Arief Budiman dan diudarakan pada hari Jumat, 3 September 2021 di stasiun Radio Republik Indonesia (RRI) Pro 4 FM.

Media Art Globale (MAG) proudly presents:

MAG21 
INFINITY 
An Adaptation Movement of Garden Indonesia

Proudly bring Indonesian & international artists, speakers and lectures to 42nd Ars Electronica Festival. We elaborate our heritage, nature and spices through Media Art Globale Festival : INFINITY.

Negeri Rempah Foundation will be part of this exciting festival!

The virtual exhibition will be held on www.mediaartglobale.com and https://ars.electronica.art/

From 8 September to 12 September 2021.

Stay tune for further information!

Tales of The Lands Beneath the Winds is not only about the historical spice trade and its route. It is also a valuable tool for analyzing the present and the future of global issues and solutions, such as the climate crisis. The authors reflect compelling stories of places, nature, goods, and power struggle, illustrating what we have to take into account in this modern times.

 

- Amanda Katili, Ph.D.

(Postscriptum Webinar Kisah Para Pengarung Lautan)

Oleh: JB Kleden*

1630470509394

KETIKA jatuhsenja tak seorangpun berpikir akan kembalikah matahari karena ia pasti akan kembali. Tetapi perjalanan hidup manusia, tidaklah sepasti matahari.  Di bawah matahari yang abadi hanyalah perubahan itu sendiri. Maka pertanyaan mengganjal yang dilontarkan Bona Beding di akhir webinar tersebut “akankah tradisi lokal ini akan berakhir” tidak lebih dari sebuah purbasangka, mungkin juga tak perlu ditanyakan. Bukankah sudah sejak satu dasawarsa yang lalu dunia sudah merayakan kelahiran perahu bertenaga surya? 

1630472447050

 

Tapi jika itu berkaitan dengan pewarisan nilai, baiklah kita ingat bahwa tradisi atau budaya lokal, bahkan mungkin juga sebuah peradaban, seperti dikatakan Paul Recoeur seorang filsuf kontemporer Prancis yang penting, tidak akan bisa hidup, bertahan dan berkembang tanpa ethyco-mythical nucleus. Menggunakan bahasa fisika, inilah inti atom setiap kebudayaan yang mengingat dan mengatur seluruh molekul peredaran kegiatan masyarakat. Karena di sana ada kompleks nilai paling asasi yang merupakan central point of reference bagi setiap orang yang hidup di dalamnya serta merupakan sumber inspirasi bagi kreatifitasnya.

Pengalaman dan ekspresi ketiga penutur kisah ini merupakan upaya untuk menemukan dan mendokumentasikan apa yang menjadi inti atom dari sejarah bahari tanah air kita. Betapapun kita juga paham bahwa sejarah sebagaimana ia dikisahkan berbeda dengan sejarah sebagaimana ia terjadi. Tetapi kisah para pengarung lautan ini telah menjadi apa yang oleh para ahli sejarah disebut sebagai pintu masuk untuk menemukan sumber-sumber yang membantu merekonstruksikan sejarah kehidupan bahari pada suatu masa dulu kala, sebagaimana ia dikisahkan nenek moyang kita yang tak pernah bisa kembali lagi itu. 

                                                                                                      ***

1630473577956

SETIAP kali memandang laut saya selalu memandangnya dengan dengan raya takyub yang luar biasa. Dari detik ke detik laut terus mengirimkan ombaknya ke pantai membentuk buih-buih yang tak pernah berakhir. Sesekali saya berusaha menemukan rahasia di balik riaknya. Tapi tetap saja misteri. Di derunya gelombang muncul beribu-ribu tanda yang tak sepenuhnya terjawab. 

Hanya ada satu hal yang pasti dari laut. Selalu memberi tak harap kembali. Bagai sang surya menyinari dunia. Kita menjejalkan berjuta-juta ton sampah dan limbah ke rahimnya, tetapi ia membalasnya dengan mengirimkan berjuta-juta biota laut bagi keberlangsungan hidup kita. Mantra laut adalah mantra ibu. Mantra ibu adalah mantra kehidupan. Mantra kehidupan adalah mantra penciptaan.

“Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.” (Kej.1:1) Lalu berfirmanlah Allah…dan jadilah cakrawala di tengah segala air untuk memisahkan air dari segala air…. Lalu dari air itu tumbuhkan daratan dan kehidupan. Dengan demikian, kisah samudera raya, dari sebermula, adalah kisah tentang kehidupan. 

Dan kehidupan kita saat ini sedang terancam karena rusaknya lautan. Menurut para ahli geologi besarnya bencana yang saat ini menimpa lautan, akan membuat karang tak sanggup lagi membentuk terumbu, yang dalam sejarah geologi dicatat sebagai “Kesenjangan Karang”. Kesenjangan karang merupakan merupakan ciri khas dari lima kemusnahan besar massal yang telah terjadi dalam sejarah bumi. Kepunahan masal terakhir, terjadi sekitar 75 juta tahun yang lalu di akhir periode Kretaseus akibat dampak asteroid yang memusnahkan berbagai jenis saurus dan amonit. 

                                                                                                           ***

NEGARA Kesatuan Republik Indonesia adalah negara kepulauan, nusantara. Gugusan pulau yang bertaburan di atas laut (archipelago). Kita menjadi sebuah negara kesatuan karena laut melingkupi kita. Maka laut sesungguhnya adalah sebuah rumah besar kita bersama: Rumah Indonesia Raya. Rumah bukan sebagai tempat asal yang tertutup, tetapi rumah yang tumbuh justeru karena adanya kepelbagaian yang ada di bentangannya. 

1630479179730

Laut adalah rumah besar Indonesia, mungkin karena itulah di atasnya setiap kita boleh pergi dan pulang. Ia sumber hidup, meskipun tidak selalu tenang seperti tasik yang dalam. Rumah besar kita bersama inipun juga sedang terancam kepunuhan jika kita tak bijaksana memeliharanya. Baik secara fisik (merawat laut) maupun secara emosional (merawat kebhinekaan). Dengan demikian kisah Para Pengarung Lautan merawat laut, adalah juga kisah merawat Indonesia. Indonesia Tumbuh, Indonesia Tangguh. 

Jalesveva Jayamahe. Kejayaan kita ada dilaut.   On care for our common home, mari memelihara laut kita. Laudato Si; mi’Signone. Terpujilah Engkau Tuhanku di Bentangan Samudera Raya. (*)

Kupang, 31 Agustus 2021, pada hari terakhir bulan Kemerdekaan Indonesia 

*JB Kleden, PNS Kementerian Agama Kota Kupang

BACA JUGA:

Sumber: https://floresku.com/read/tena-laja-motor-arnoldus-io-kiko-terakhir

(Postscriptum Webinar Kisah Para Pengarung Lautan)

Oleh: JB Kleden*

1630470509394

BONA Beding, lelaki nyentrik ini memulai kisahnya dengan sebuah proklamasi. “Bapa saya seorang Lamafa, saya putera Lamafa. Laut itu kehidupan kami. Sejak kecil pada usia 3 tahun, kami sudah dilempar ke dasar laut.” katanya dengan semangat. Mungkin orang Lamarera - meminjam istilah Chairil Anwar termasuk “kikisan laut/berdarah laut”. Tapi seorang Lamafa bukan “Beta Pattirajawane”, sosok mitologis dalam “Cerita Buat Dien Tamaela” yang ketika lahir dibawakan “dayung dan sampan”. Seorang Lamafa ketika lahir diberi minum air laut. Dan pada usia 3 tahun dilempar ke dasar laut agar bisa belajar bertahan hidup.  Maka nasib seorang Lamafa sesungguhnya ditulis di laut.

1630472447050

 

Hanya orang Lamalera yang memahaminya secara tepat frasa ini. Ia magis. Lamafa bukan sekadar tukang tombak ikan paus seperti yang dipahami kebanyakan orang di luar Lamalera. Di laut dia pemimpin kelompok penombak. Di darat dia penjaga kehidupan. Laut bagi orang Lamalera adalah tempat moralitas Lamafa di uji. Kesalahan di darat, diungkapkan di laut. Perilaku Lamafa di darat akan menyebabkan ikan paus datang memberi diri atau menolak memberi dirinya. Lamafa dengan demikian bukan sekadar cerita heroisme di tengah samudera. Ia adalah kisah tentang hidup. Tanggungjawab Lamafa adalah hidup seluruh masyarakat Lamalera dan kampung sekitarnya. 

Semua orang boleh teledor, tetapi seorang Lamafa tak boleh teledor karena ia menggenggam harapan dan masa depan kehidupan seluruh kampung. Kemurnian hati akan membuat  seorang Lamafa dengan riang gembira melompat meraih mette bergegas turun ke lautnya, menakar gelombang menyambut ikan paus yang  datang memberi diri sambil bernyanyi “hirkae…hirkae…hirkae….” 

A thing of beauty is a joy for ever. Maka meski gentar, seorang Lamafa menyadari bahwa dirinya tetaplah manusia yang rapuh, tetapi lebih berarti dalam pengampunan dan rasa syukur. Maka setiap kali mengawali musim lefa seorang Lamafa harus melakukan ritus pembersihan diri, dalam misa lefa. Karena lautlah yang memiliki orang Lamalera, bukan orang  Lamalera yang memiliki laut. “Kau salah-salah, laut akan mengambilmu.”

Diakhir kisanya, putera Lamafa ini menolak terminilogi yang selama ini dilekatkan orang bahwa orang Lamalera berburu paus. “Reu, orang Lamalera tidak berburu paus. Laut bagi bagi kami adalah ibu, yang memelihara kehidupan kami. Ikan paus datang memberi diri dan sebagai pemberian ibu, kami pergi mengambilnya. Mengambil untuk menghidupi kampung kami dan kampung-kampung di sekitar kami.” 

1630478753509

Orang Lamalera mengambil ikan paus ia tidak hanya untuk memenuhi blapa lolo (tempat menyimpan, mengawetkan ikan) ema-ema Lamalera. Seperti Maria dalam kisah Injil, ema-ema Lamalera pergi membawa berkat laut itu bagi saudara-saudaranya para Elisabeth  di bukit-bukit yang jauh, menukarnya dengan ubi, pisang dan jagung. Dan ketika kaki ema-ema turun kembali dengan indahnya dari bukit-bukit nun jauh, anak-anakpun berlari menyambut berkat dari gunung itu dengan kegirangan yang sama seperti mereka menyoraki berkat dari laut, saat ikan paus menyemburkan air tanda kedatangannya. Beleo, beleo, beleo….

Kisah ini mengingatkan saya akan tradisi “Tubak Io” (menangkap Hiu Paus) di kampung kami, Waibalun. Pada musim yang bersamaan dengan musim lefa di Lamalera, di kampung kami juga ada tradisi Tubak Io (menangkap Hiu Paus). Tapi dalam penuturan Bona Beding, saya kemudian menyadari bahwa apa yang dilakukan nenek moyang kami di Waibalum dulu, sama seperti yang dilakukan para Lamafa di Lamalera. Mereka pergi mengambil Io Kiko yang datang memberi diri. 

1630481429116

Betapa tidak. Bayangkan, Hiu Paus (yang dalam Bahasa Latin disebut Rhincodon Typus, atau Whale Shark dalam Bahasa Inggris) itu, menyeberang dari perairan laut Sawu melintasi selat Lewotobi, tidak berbelok ke Selat Sempit Larantuka atau ke Selat Adonara, tapi  masuk ke laut dangkal depan Nuha (pulau) Waibalun, bermain di tasiknya yang tenang, lalu lalang tak mau pergi, sampai nenek moyang kami datang mengambilnya. 

Seperti ikan paus bagi masyarakat Lamalera, Io Kiko itu tidak pernah menjadi milik pribadi. Ia milik seluruh kampung. Dan jika dalam musim itu bisa mengambil tiga ekor atau lebih Io Kiko, maka seluruh isi kampung akan mengadakan ritual Biho Rengki (masak nasi tumpeng adat) pada malam purnama bulan. Semua orang duduk makan bersama di Nama, yang diakhiri dengan dolo-dolo bersama. 

“Mari menari

Mari beria

Mari berlupa”

Bukan karena makan besar dan pesta pora begitu penting, tetapi ada sebuah kegembiraan yang sedang dirayakan bersama orang satu kampung, yakni kegembiraan dan kemerdekaan hidup sebagai saudara. Dengan makan rengki dan menari dolo-dolo pai murah rame-rame kami sedang merayakan tiga keutamaan hidup bersaudara, yakni kesediaan untuk saling berbagi, saling peduli dan saling menumbuhkan keutamaan harapan. 

Mae hama io kiko, kemi hama io ate, keraot hama io belehek.” Inilah kata Mutiara yang tak kami lupakan. “Enak seperti hiu paus, manis seperti hati hiu dan renyah seperti tulang rawan hiu”. Mungkin karena persaudaraan itu, ceruk rindu lebih dalam di sukma, sehingga ketika hari mulai malam, ibunda duduk di bale-bale merenda rindu dan bernyanyi… Bale nagi, bale nagi, no eeee, kendati nae bero eee . (BERSAMBUNG)

*JB Kleden, PNS Kementerian Agama Kota Kupang

BACA JUGA

Sumber: https://floresku.com/read/tena-laja-motor-arnoldus-io-kiko-bagian-3