Loading...

JAKARTA, jurnal-ina.com – Guna pengajuan “Jalur Rempah” sebagai warisan dunia (world heritage) ke UNESCO, Yayasan Negeri Rempah bersama Yayasan Taut Seni menyelenggarakan Spice & Rice Festival pada 11-16 November 2022 di Bali Collection, ITDC, Nusa Dua, Bali. Festival ini merupakan bagian dari side event forum pertemuan antar Kepala Negara G20 di Nusa Dua, Bali yang dikoordinasikan oleh Kementerian Koperasi dan UKM (KemenKopUKM).

Selaras dengan tema side event G20 yaitu “Local Wisdom for Global Sustainability”, Spice and Rice Festival akan mempromosikan kekayaan rempah dan beras Nusantara untuk mendorong bergeraknya komunitas masyarakat dan pelaku usaha kecil Indonesia meningkatkan peluang kemajuan ekonomi rakyat.

Indonesia adalah negeri kepulauan yang terletak di khatulistiwa beriklim tropis memiliki keanekaragaman hayati tertinggi di dunia (baik di darat dan laut) yang menjadikan Nusantara surga pangan yang tiada habisnya. Salah satunya adalah beras, sumber pangan yang telah dibudidayakan manusia Nusantara sejak zaman Neolitikum. Setidaknya 8.000 jenis padi tumbuh di Nusantara (Rigg, 2002).

Begitu pula dengan rempah. Dari 400-500 jenis tumbuhan yang digunakan sebagai rempah dalam skala dunia, setidaknya 275 jenis rempah merupakan endemik Nusantara (Prosea, 1999). Rempah bukan sekadar bumbu penambah cita rasa makanan, juga merupakan bahan utama obat-obatan. Tak pelak, beras dan rempah menjadi komoditas penting di mata perdagangan Nusantara dari masa ke masa.

Berkah pangan inilah yang senantiasa disyukuri dan dirayakan oleh seluruh masyarakat Nusantara, dalam berbagai tradisi dan wujud. Rempah dan beras hampir selalu ada dalam berbagai ritus kehidupan, kelahiran, perkawinan, kematian, sebagai penolak bala bahkan penyucian diri.

Tradisi masyarakat Nusantara tak bisa dilepaskan dari pangan karena bagaimana mereka menjaga dan mengolah pangan merupakan seni kehidupan (art of life) itu sendiri. Seiring dengan jaman yang berubah, pandemi global Covid-19 menjadi momentum yang menyadarkan kita bahwa ada rantai pengetahuan yang harus dijaga keberlanjutannya, salah satunya adalah kekayaan kosa rasa pangan yang kita miliki.

Untuk menghormati dua warisan alam dan budaya Indonesia yaitu rempah dan beras yang telah diakui dunia, Spice and Rice Festival ini hadir di tengah perhelatan G20.

spice-and-rice-festival-side-event-g20-mengusung-kearifan-lokal-untuk-keberlanjutan-global-rempah2.jpeg

Jenis rempah-rempah Indonesia

“Kami ingin menunjukkan pada dunia bahwa Indonesia memiliki nilai-nilai budaya yang layak dikontribusikan bagi dunia untuk mengakhiri kelaparan, mencapai ketahanan pangan dan nutrisi yang lebih baik. Serta mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan yang inklusif, berkesetaraan dan berkeadilan bagi semua,” ujar Kumoratih Kushardjanto, ketua Yayasan Negeri Rempah.

Andar Manik dari Yayasan Taut Seni menambahkan nilai-nilai yang direpresentasikan melalui produk-produk pilihan yang dipamerkan dalam kegiatan ini tidak terbatas pada pangan saja, tetapi juga beragam ekspresi budaya seperti kesenian yang lahir dari tradisi daerah-daerah penghasil beras dan rempah, baik dari pesisir maupun pedalaman.

Selama enam hari ke depan, Spice and Rice Festival akan menyelenggarakan ‘Jamuan Negeri Rempah’ (tradisi makan bersama khas Indonesia) dan ‘Hidangan Rempah’ (tradisi kuliner daerah-daerah penghasil rempah dan beras). Jamuan makan yang menghadirkan sensasi tradisi makan bersama dari beberapa daerah di Indonesia diisi dengan megibung (Bali), bajamba (Minangkabau), bedulang (Belitung), botram (Jawa Barat), tumpengan (Jawa), rimo-rimo (Maluku Utara), serta tradisi makan bersama dari Bone (Sulawesi Selatan).

Selain jamuan makan bersama khas Indonesia, akan hadir pula hidangan rempah asal India dan Timur Tengah yang menunjukkan jejak keterhubungan budaya yang terbentuk dari jalur rempah dari masa ke masa.

Festival ini juga akan menghadirkan ‘Warung Jamu’, ‘Pasar Makanan’ (food fair), serta kedai ‘Lisoi’ yang mengangkat aneka minuman fermentasi lokal seperti tuak dan arak, serta produk fermentasi lainnya termasuk kretek.

Jaringan komunitas pelaku UKM turut pula menghangatkan suasana secara gotong-royong melalui ‘Pasarempah Tumpah’ (pasar produk pangan/non-pangan dan makanan/minuman siap saji yang berkaitan dengan tradisi/budaya dari daerah penghasil beras dan rempah), ‘Toko Kelontong’ (toko aneka produk titipan para pelaku usaha kecil yang berasal dari luar Bali), hingga workshop singkat yang memperkenalkan beragam produk budaya dari rempah dan beras.

Pameran Mini akan menampilkan peta Jalur Rempah dan peta sebaran rempah yang dapat memberikan gambaran singkat tentang jejak perdagangan rempah Nusantara. Tak ketinggalan, pelaku seni tradisi dari beberapa daerah di Indonesia tampil meramaikan festival. “Kami ingin menghadirkan kembali spirit kebersamaan yang melekat pada tradisi Nusantara melalui pangannya,” ucap Kumoratih.

MULIA GINTING – ERWIN TAMBUNAN

Spice and Rice Festival Side Event G20 rempah1

Sumber: https://govnews-idn.com/ragam-dan-kuliner/spice-and-rice-festival-side-event-g20-mengusung-kearifan-lokal-untuk-keberlanjutan-global/

Jakarta (ANTARA) - Komunitas Rasasastra bersama Yayasan Negeri Rempah mengadakan workshop dan literasi seni budaya untuk mengenalkan bermacam rasa rempah pada masyarakat dengan "'Kosa Rasa".

"Rasasastra bekerja sama dengan Yayasan Negeri Rempah membentuk konsep besar, Kosa Rasa. Kosa rasa adalah perbendaharaan rasa akan rempah," ucap Gisel Anindita, perwakilan Rasasastra dan Yayasan Negeri Rempah yang ditemui dalam acara 'Rasasastra Union' di Jakarta, Minggu.

Dalam acara ini, Rasasastra bekerja sama dengan banyak komunitas yang menyajikan bermacam olahan rempah dan tempe seperti Wedangan Q dan Tempe.ide.

Selain itu, juga ada literasi mengenai rempah melalui seni dan budaya dalam dongeng "Ando dan Ramuan Ajaib" yang dibawakan oleh Winson The storytelling family.

Gisel mengatakan ide dibentuknya Yayasan Negeri Rempah ini pada saat pandemi COVID-19, masyarakat disarankan meminum jamu sebagai usaha membentuk daya tahan tubuh. Namun, tidak semua orang menyukai jamu, termasuk anak-anak dan remaja.

"Awal mulanya ada salah satu penggagas Negeri Rempah selama pandemi kita disuruh minum jamu, empon-empon, tapi anak dan remaja enggak mau, bukannya enggak suka, tapi enggak dibiasakan kenal rasa itu," ucap Gisel.

Ia mengatakan Yayasan Negeri Rempah ingin mengenalkan bermacam rasa rempah agar masyarakat terutama anak-anak kenal dengan warisan makanan khas Indonesia dan familiar dengan rasanya.

Melalui Rasasastra, ia berharap masyarakat mudah teredukasi dengan kekayaan rempah Indonesia, salah satunya dengan workshop dan dongeng sebagai alat komunikasinya.

"Kenapa Rasasastra tertarik, karena inline-nya literasi tidak hanya tulisan, tapi juga lisan. Salah satu literasi lisan itu adalah mengajarkan rempah-rempah, tentang banyaknya warisan makanan Indonesia dengan workshop dan dongeng," ucapnya.

Gisel berharap semakin banyak masyarakat mengetahui rasa dari rempah-rempah Indonesia dan bertambahnya komunitas pecinta rempah-rempah.

Selain menyajikan olahan rempah, dalam acara ini juga diadakan workshop belajar aksara Jawa dan penampilan tarian dari Anindaloka.

Pewarta: Fitra Ashari
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2022

Sumber: https://www.antaranews.com/berita/3225753/rasasastra-kenalkan-rempah-dengan-literasi-seni-budaya-kosa-rasa

Jakarta (ANTARA) -
Pegiat jamu Puri Lestari mengatakan masyarakat Indonesia sudah banyak melupakan profil rasa jamu karena hilangnya tradisi mengonsumsi jamu.

"Untuk yang biasa minum jamu karena sudah dikasih dari kecil untuk daya tahan, kalo kita-kita di urban sudah hilang tradisi itu karena sudah ada yang kimiawi, tapi kan efeknya beda," ucapnya saat ditemui dalam acara 'Rasasastra Union' di Jakarta, Minggu.

Melalui literasi rempah bersama Rasasastra ini, ia ingin mengembangkan profil rasa dari jamu yang sudah banyak dilupakan masyarakat saat ini dengan preferensi rasa yang lebih akrab di lidah melalui usaha menjual jamu botolan yang dirintisnya.

"Kalau jamu ini ingin kita kemas lagi dengan profil rasa yang bisa lebih masuk ke lidah sekarang seperti apa, karena kita sudah kehilangan kosa rasa tentang rempah itu sendiri," ucap Puri.

Menurut Puri, hilangnya kebiasaan masyarakat mengonsumsi jamu juga dikarenakan memori rasa pahit setiap mengonsumsi jamu dan selalu identik sebagai obat.

Maka itu ia ingin menjadikan konsumsi jamu sebagai bagian dari keseharian seperti kopi, dan menggeser stigma bahwa jamu identik dengan obat dan rasa pahit.

Pengusaha jamu ini juga bekerja sama dengan Yayasan Negeri Rempah, ingin menjadikan petani rempah Indonesia bisa menyaingi negara lain dalam hal ekspor komoditas rempah dengan melakukan pendampingan.

"Di Yayasan Negeri Rempah ini sebenarnya kita banyak pendampingan untuk teman-teman UMKM yang mungkin punya akses ke petani rempah diambil dengan harga yang lebih baik dari tengkulak, dikemas bagus dan dijual," ucapnya.

Namun masih ada beberapa kendala yang dihadapi petani rempah Indonesia seperti kapasitas produksi yang tidak stabil karena masih bergantung dengan cuaca, sehingga belum memenuhi standar untuk ekspor komoditas ke luar negeri.

Pewarta: Fitra Ashari
Uploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2022

Sumber: https://megapolitan.antaranews.com/berita/219085/masyarakat-indonesia-sudah-banyak-hilang-tradisi-mengonsumsi-jamu

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pegiat jamu Puri Lestari mengatakan masyarakat Indonesia sudah banyak melupakan profil rasa jamu. Hal tersebut karena sudah semakin hilangnya tradisi mengonsumsi jamu.

"Untuk yang biasa minum jamu karena sudah dikasih dari kecil untuk daya tahan, kalau kita-kita di urban sudah hilang tradisi itu karena sudah ada yang kimiawi. Tapi kan efeknya beda," ucapnya saat ditemui dalam acara 'Rasasastra Union' di Jakarta, Ahad (6/11/2022).

Melalui literasi rempah bersama Rasasastra ini, ia ingin mengembangkan profil rasa dari jamu yang sudah banyak dilupakan masyarakat saat ini. Yaitu dengan preferensi rasa yang lebih akrab di lidah melalui usaha menjual jamu botolan yang dirintisnya.

"Kalau jamu ini ingin kita kemas lagi dengan profil rasa yang bisa lebih masuk ke lidah sekarang seperti apa, karena kita sudah kehilangan kosa rasa tentang rempah itu sendiri," ucap Puri.

Menurut Puri, hilangnya kebiasaan masyarakat mengonsumsi jamu juga dikarenakan memori rasa pahit setiap mengonsumsi jamu dan selalu identik sebagai obat. Maka itu ia ingin menjadikan konsumsi jamu sebagai bagian dari keseharian seperti kopi, dan menggeser stigma bahwa jamu identik dengan obat dan rasa pahit.

Pengusaha jamu ini juga bekerja sama dengan Yayasan Negeri Rempah, ingin menjadikan petani rempah Indonesia bisa menyaingi negara lain dalam hal ekspor komoditas rempah dengan melakukan pendampingan. "Di Yayasan Negeri Rempah ini sebenarnya kita banyak pendampingan untuk teman-teman UMKM yang mungkin punya akses ke petani rempah diambil dengan harga yang lebih baik dari tengkulak, dikemas bagus dan dijual," ucapnya.

Namun masih ada beberapa kendala yang dihadapi petani rempah Indonesia seperti kapasitas produksi yang tidak stabil karena masih bergantung dengan cuaca. Sehingga belum memenuhi standar untuk ekspor komoditas ke luar negeri.

Sumber: https://www.republika.co.id/berita/rkxb0a328/pegiat-nilai-masyarakat-sudah-banyak-melupakan-rasa-jamu

20221106 113826 01

Jakarta (ANTARA) - Pegiat literasi dongeng Wiwin Windrati mengatakan mengenalkan rempah-rempah Indonesia bisa dilakukan dengan mudah pada anak melalui seni bertutur atau dongeng.

"Dongeng adalah satu media yang paling mudah diterima menurut kami, kemudian kami kembangkan ini karena pada saat audiens atau siapapun menonton pertunjukan dongeng enggak akan merasa kaya di ajarin, enggak merasa dilarang," kata Wiwin saat ditemui di acara 'Rasasastra Union' di Jakarta, Minggu.

Ia mengatakan, Indonesia sudah lama akrab dengan dongeng atau cerita mulai dari nenek moyang. Hal itu menjadi sesuatu yang mudah diterima dan sampai ke alam bawah sadar siapapun yang mendengarkan.

Maka itu, dalam acara yang digagas Rasasastra, ia bersama komunitas Winson The Storyteller Family, mengajak anak-anak mengenal rempah-rempah melalui dongeng yang dibalut dengan musik berjudul "Ando dan Ramuan Ajaib".

"Kebetulan 'Ando dan Ramuan Ajaib' ini bentuknya musikalisasi, artinya elemen musik juga sangat kuat disini," ucapnya.

Wanita yang akrab disapa Miss Wiwin itu mengatakan dongeng "Ando dan Ramuan Ajaib" bercerita tentang perjalanan anak laki-laki untuk mencari rempah-rempah demi menolong putri di negeri dongeng.

Gelaran dongeng yang juga menggunakan wayangan ini dilakukan dengan cara 'lesehan' agar semakin dekat dan tidak berjarak dengan anak-anak.

"Gimana rempah jadi jauh sama anak-anak, jadi si Ando ini yang mau mendekatkan rempah jadi suatu yang dekat dengan penyampaian yang sesederhana mungkin supaya mudah tersampaikan," ucap Wiwin.

Grup musik yang ikut mengantarkan cerita "Ando dan Ramuan Ajaib" ini terdiri dari anak-anak berbakat dari bermacam latar belakang genre musik seperti rock, jazz, dan classic. Mereka menjadikan cerita tentang rempah ini lebih mudah diterima anak-anak dengan mengaransemen ulang lagu anak yang sudah ada.

Wiwin berharap dari cerita "Ando dan Ramuan Ajaib", literasi tentang rempah Indonesia akan menyebar ke seluruh dunia dan bisa menyampaikan pesan baik kepada anak-anak agar menjadi kuat terhadap banyak hal.

"Rempah ini adalah elemen akarnya Ando, kalau bicara rempah, bicara Indonesia banyak yang bisa dikaitkan. Berharap ramuan ajaib ini yang bisa membuat anak2 Indonesia kuat terhadap banyak hal," ucap Wiwin.

Pewarta: Fitra Ashari
Editor: Desi Purnamawati
COPYRIGHT © ANTARA 2022

Sumber: https://www.antaranews.com/berita/3226117/mengenalkan-rempah-pada-anak-melalui-dongeng

spice rice festival

Local Wisdom for Global Sustainability
G20 Official Side Event - Future SME Village

🗓️ 11-16 November 2022
📍Selasar Gedung Putih, Bali Collection, ITDC Nusa Dua, Bali

Taking the momentum of the G20 Summit (15-16 November) in Nusa Dua Bali, this festival would like to show the world that Indonesia has cultural values that can contribute to the world ending hunger, achieving food security and better nutrition, as well as supporting sustainable development goals that are inclusive, equal, and fair for all. These values are represented through the best Indonesian products.

  • Jamuan Negeri Rempah (the Indonesian Traditional Communal Banquet) - dinner by reservation
  • Hidangan Rempah (Spice and Rice Cuisine) - lunch by reservation
  • Lisoi…! (Arak and Kretek Lounge)
  • Warung Jamu (Jamu Bar)
  • Pasarempah Tumpah & Toko Kelontong (Pop-Up Food and Spice Market)
  • Sesi Berbagi/Workshop (Sharing Sessions and Workshops) - by reservation

The Spice and Rice Festival is an official side event of the G20 Summit in Nusa Dua Bali, brought to you by Taut Seni Foundation and Negeri Rempah Foundation.

To be part of the Festival, please contact us at:

  • Irma +62 896 48884493
  • Shinta +62 812 3947142
  • Tania +62 821 44329609
  • Wiwit +62 818 02030802
  • Lita +62 812 81442295

* All products will be curated. Terms and conditions applied.

JAKARTA, govnews-idn.com – Guna pengajuan “Jalur Rempah” sebagai warisan dunia (world heritage) ke UNESCO, Yayasan Negeri Rempah bersama Yayasan Taut Seni menyelenggarakan Spice & Rice Festival pada 11-16 November 2022 di Bali Collection, ITDC, Nusa Dua, Bali. Festival ini merupakan bagian dari side event forum pertemuan antar Kepala Negara G20 di Nusa Dua, Bali yang dikoordinasikan oleh Kementerian Koperasi dan UKM (KemenKopUKM).

Selaras dengan tema side event G20 yaitu “Local Wisdom for Global Sustainability”, Spice and Rice Festival akan mempromosikan kekayaan rempah dan beras Nusantara untuk mendorong bergeraknya komunitas masyarakat dan pelaku usaha kecil Indonesia meningkatkan peluang kemajuan ekonomi rakyat.

Indonesia adalah negeri kepulauan yang terletak di khatulistiwa beriklim tropis memiliki keanekaragaman hayati tertinggi di dunia (baik di darat dan laut) yang menjadikan Nusantara surga pangan yang tiada habisnya. Salah satunya adalah beras, sumber pangan yang telah dibudidayakan manusia Nusantara sejak zaman Neolitikum. Setidaknya 8.000 jenis padi tumbuh di Nusantara (Rigg, 2002).

Begitu pula dengan rempah. Dari 400-500 jenis tumbuhan yang digunakan sebagai rempah dalam skala dunia, setidaknya 275 jenis rempah merupakan endemik Nusantara (Prosea, 1999). Rempah bukan sekadar bumbu penambah cita rasa makanan, juga merupakan bahan utama obat-obatan. Tak pelak, beras dan rempah menjadi komoditas penting di mata perdagangan Nusantara dari masa ke masa.

Berkah pangan inilah yang senantiasa disyukuri dan dirayakan oleh seluruh masyarakat Nusantara, dalam berbagai tradisi dan wujud. Rempah dan beras hampir selalu ada dalam berbagai ritus kehidupan, kelahiran, perkawinan, kematian, sebagai penolak bala bahkan penyucian diri.

Tradisi masyarakat Nusantara tak bisa dilepaskan dari pangan karena bagaimana mereka menjaga dan mengolah pangan merupakan seni kehidupan (art of life) itu sendiri. Seiring dengan jaman yang berubah, pandemi global Covid-19 menjadi momentum yang menyadarkan kita bahwa ada rantai pengetahuan yang harus dijaga keberlanjutannya, salah satunya adalah kekayaan kosa rasa pangan yang kita miliki.

Untuk menghormati dua warisan alam dan budaya Indonesia yaitu rempah dan beras yang telah diakui dunia, Spice and Rice Festival ini hadir di tengah perhelatan G20.

Spice_and_Rice_Festival_Side_Event_G20-rempah.jpeg

Beragam santapa”Kami ingin menunjukkan pada dunia bahwa Indonesia memiliki nilai-nilai budaya yang layak dikontribusikan bagi dunia untuk mengakhiri kelaparan, mencapai ketahanan pangan dan nutrisi yang lebih baik. Serta mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan yang inklusif, berkesetaraan dan berkeadilan bagi semua,” ujar Kumoratih Kushardjanto, ketua Yayasan Negeri Rempah.

Andar Manik dari Yayasan Taut Seni menambahkan nilai-nilai yang direpresentasikan melalui produk-produk pilihan yang dipamerkan dalam kegiatan ini tidak terbatas pada pangan saja, tetapi juga beragam ekspresi budaya seperti kesenian yang lahir dari tradisi daerah-daerah penghasil beras dan rempah, baik dari pesisir maupun pedalaman.

Selama enam hari ke depan, Spice and Rice Festival akan menyelenggarakan ‘Jamuan Negeri Rempah’ (tradisi makan bersama khas Indonesia) dan ‘Hidangan Rempah’ (tradisi kuliner daerah-daerah penghasil rempah dan beras). Jamuan makan yang menghadirkan sensasi tradisi makan bersama dari beberapa daerah di Indonesia diisi dengan megibung (Bali), bajamba (Minangkabau), bedulang (Belitung), botram (Jawa Barat), tumpengan (Jawa), rimo-rimo (Maluku Utara), serta tradisi makan bersama dari Bone (Sulawesi Selatan).

Selain jamuan makan bersama khas Indonesia, akan hadir pula hidangan rempah asal India dan Timur Tengah yang menunjukkan jejak keterhubungan budaya yang terbentuk dari jalur rempah dari masa ke masa.

Festival ini juga akan menghadirkan ‘Warung Jamu’, ‘Pasar Makanan’ (food fair), serta kedai ‘Lisoi’ yang mengangkat aneka minuman fermentasi lokal seperti tuak dan arak, serta produk fermentasi lainnya termasuk kretek.

Jaringan komunitas pelaku UKM turut pula menghangatkan suasana secara gotong-royong melalui ‘Pasarempah Tumpah’ (pasar produk pangan/non-pangan dan makanan/minuman siap saji yang berkaitan dengan tradisi/budaya dari daerah penghasil beras dan rempah), ‘Toko Kelontong’ (toko aneka produk titipan para pelaku usaha kecil yang berasal dari luar Bali), hingga workshop singkat yang memperkenalkan beragam produk budaya dari rempah dan beras.

Pameran Mini akan menampilkan peta Jalur Rempah dan peta sebaran rempah yang dapat memberikan gambaran singkat tentang jejak perdagangan rempah Nusantara. Tak ketinggalan, pelaku seni tradisi dari beberapa daerah di Indonesia tampil meramaikan festival. “Kami ingin menghadirkan kembali spirit kebersamaan yang melekat pada tradisi Nusantara melalui pangannya,” ucap Kumoratih.

MULIA GINTING – ERWIN TAMBUNAN

Spice_and_Rice_Festival_Side_Event_G20-rempah1.jpeg

Sumber: https://govnews-idn.com/ragam-dan-kuliner/spice-and-rice-festival-side-event-g20-mengusung-kearifan-lokal-untuk-keberlanjutan-global/

JAKARTA,suaramerdeka-jakarta.com - Dalam rangka pengajuan “Jalur Rempah” sebagai warisan dunia (world heritage) ke UNESCO, Yayasan Negeri Rempah bersama Yayasan Taut Seni menyelenggarakan Spice & Rice Festival pada 11-16 November 2022 di Bali Collection, ITDC, Nusa Dua, Bali. Festival ini merupakan bagian dari side event forum pertemuan antar Kepala Negara G20 di Nusa Dua, Bali, yang dikoordinasikan oleh Kementerian Koperasi dan UKM (KemenKopUKM).

Selaras dengan tema side event G20 yaitu "Local Wisdom for Global Sustainability", Spice and Rice Festival akan mempromosikan kekayaan rempah dan beras Nusantara di dalam rangka mendorong bergeraknya komunitas masyarakat dan pelaku usaha kecil Indonesia untuk meningkatkan peluang kemajuan ekonomi rakyat.

Indonesia adalah negeri kepulauan yang terletak di khatulistiwa beriklim tropis memiliki keanekaragaman hayati tertinggi di dunia (baik di darat dan laut) yang menjadikan Nusantara surga pangan yang tiada habisnya. Salah satunya adalah beras, sumber pangan yang telah dibudidayakan manusia Nusantara sejak zaman Neolitikum. Setidaknya 8.000 jenis padi tumbuh di Nusantara (Rigg, 2002).

Begitu pula dengan rempah. Dari 400-500 jenis tumbuhan yang digunakan sebagai rempah dalam skala dunia, setidaknya 275 jenis rempah merupakan endemik Nusantara (Prosea, 1999). Rempah bukan sekadar bumbu penambah cita rasa makanan; juga merupakan bahan utama obat-obatan. Tak pelak, beras dan rempah menjadi komoditas penting yang menjadi mata perdagangan Nusantara dari masa ke masa.

Berkah pangan inilah yang senantiasa disyukuri dan dirayakan oleh seluruh masyarakat Nusantara, dalam berbagai tradisi dan wujudnya. Rempah dan beras hampir selalu ada dalam berbagai ritus kehidupan: kelahiran, perkawinan, kematian, sebagai penolak bala bahkan penyucian diri.

Tradisi masyarakat Nusantara tak bisa dilepaskan dari pangan karena bagaimana mereka menjaga dan mengolah pangan merupakan seni kehidupan (art of life) itu sendiri. Seiring dengan jaman yang berubah, pandemi global Covid-19 menjadi momentum yang menyadarkan kita bahwa ada rantai pengetahuan yang harus dijaga keberlanjutannya, salah satunya adalah kekayaan kosa rasa pangan yang kita miliki.

Untuk menghormati dua warisan alam dan budaya Indonesia yaitu rempah dan beras yang telah diakui dunia, Spice and Rice Festival ini hadir di tengah perhelatan G20.

"Kami ingin menunjukkan pada dunia bahwa Indonesia memiliki nilai-nilai budaya yang layak dikontribusikan bagi dunia untuk mengakhiri kelaparan, mencapai ketahanan pangan dan nutrisi yang lebih baik, serta mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan yang inklusif, berkesetaraan dan berkeadilan bagi semua," ujar Kumoratih Kushardjanto, ketua Yayasan Negeri Rempah.

Andar Manik dari Yayasan Taut Seni menambahkan nilai-nilai yang direpresentasikan melalui produk-produk pilihan yang dipamerkan dalam kegiatan ini tidak terbatas pada pangan saja, tetapi juga beragam ekspresi budaya seperti kesenian yang lahir dari tradisi daerah-daerah penghasil beras dan rempah, baik dari pesisir maupun pedalaman.

Selama enam hari ke depan, Spice and Rice Festival akan menyelenggarakan ‘Jamuan Negeri Rempah’ (tradisi makan bersama khas Indonesia) dan ‘Hidangan Rempah’ (tradisi kuliner daerah-daerah penghasil rempah dan beras).

Jamuan makan yang menghadirkan sensasi tradisi makan bersama dari beberapa daerah di Indonesia diisi dengan megibung (Bali), bajamba (Minangkabau), bedulang (Belitung), botram (Jawa Barat), tumpengan (Jawa), rimo-rimo (Maluku Utara), serta tradisi makan bersama dari Bone (Sulawesi Selatan).

Selain jamuan makan bersama khas Indonesia, akan hadir pula hidangan rempah asal India dan Timur Tengah yang menunjukkan jejak keterhubungan budaya yang terbentuk dari jalur rempah dari masa ke masa.

Festival ini juga akan menghadirkan ‘Warung Jamu’, ‘Pasar Makanan’ (food fair), serta kedai ‘Lisoi’ yang mengangkat aneka minuman fermentasi lokal seperti tuak dan arak, serta produk fermentasi lainnya termasuk kretek. Jaringan komunitas pelaku UKM turut pula menghangatkan suasana secara gotong-royong melalui ‘Pasarempah Tumpah’ (pasar produk pangan/non-pangan dan makanan/minuman siap saji yang berkaitan dengan tradisi/budaya dari daerah penghasil beras dan rempah), ‘Toko Kelontong’ (toko aneka produk titipan para pelaku usaha kecil yang berasal dari luar Bali), hingga workshop singkat yang memperkenalkan beragam produk budaya dari rempah dan beras.

Pameran Mini akan menampilkan peta Jalur Rempah dan peta sebaran rempah yang dapat memberikan gambaran singkat tentang jejak perdagangan rempah Nusantara. Tak ketinggalan, pelaku seni tradisi dari beberapa daerah di Indonesia turut tampil meramaikan festival. "Kami ingin menghadirkan kembali spirit kebersamaan yang melekat pada tradisi Nusantara melalui pangannya," ucap Kumoratih.***(sh)

Sumber: https://jakarta.suaramerdeka.com/nasional/pr-1345392901/spice-and-rice-festival-side-event-g20-mengusung-kearifan-lokal-untuk-keberlanjutan-global

072754400-1666072781-830-556.jpg

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Yayasan Negeri Rempah bersama Yayasan Taut Seni akan menyelenggarakan Spice & Rice Festival pada 11-16 November 2022 di Bali Collection, ITDC, Nusa Dua, Bali. Festival merupakan bagian dari side event forum pertemuan G20 yang dikoordinasikan oleh Kementerian Koperasi dan UKM (KemenKopUKM) RI.

Selaras dengan tema side event G20, yaitu "Local Wisdom for Global Sustainability", Spice and Rice Festival akan mempromosikan kekayaan rempah dan beras Nusantara. Kegiatan bertujuan mendukung pergerakan komunitas masyarakat dan pelaku usaha kecil Indonesia untuk meningkatkan peluang kemajuan ekonomi rakyat.

Ketua Yayasan Negeri Rempah, Kumoratih Kushardjanto, menyampaikan bahwa beras merupakan sumber pangan yang telah dibudidayakan manusia di Nusantara sejak zaman Neolitikum. Setidaknya ada 8.000 jenis padi yang tumbuh di Nusantara. Sementara, dari 400-500 jenis tumbuhan yang digunakan sebagai rempah di dunia, setidaknya 275 jenis rempah merupakan endemik Nusantara. Rempah bukan sekadar bumbu penambah cita rasa makanan, tetapi juga merupakan bahan utama obat-obatan.

Kumoratih mengatakan, beras dan rempah menjadi komoditas penting yang menjadi mata perdagangan Nusantara dari masa ke masa. Berkah pangan tersebut senantiasa disyukuri dan dirayakan oleh masyarakat Nusantara, dalam berbagai tradisi dan wujudnya.

Rempah dan beras hampir selalu ada dalam berbagai ritus kehidupan, termasuk kelahiran, perkawinan, kematian, sebagai penolak bala, bahkan penyucian diri. Untuk menghormati dua warisan alam dan budaya Indonesia yaitu rempah dan beras, Spice and Rice Festival hadir di tengah perhelatan G20.

"Kami ingin menunjukkan pada dunia bahwa Indonesia memiliki nilai-nilai budaya yang layak dikontribusikan bagi dunia untuk mengakhiri kelaparan, mencapai ketahanan pangan dan nutrisi yang lebih baik, serta mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan yang inklusif, berkesetaraan dan berkeadilan bagi semua," ujar Kumoratih lewat pernyataan resminya.

Produk-produk pilihan akan dipamerkan dalam kegiatan mendatang. Tidak terbatas pada pangan, tetapi juga beragam ekspresi budaya. Misalnya, kesenian yang lahir dari tradisi daerah-daerah penghasil beras dan rempah, baik dari wilayah pesisir maupun pedalaman Indonesia.

Spice and Rice Festival juga menghadirkan tradisi makan bersama khas Indonesia dan tradisi kuliner daerah-daerah penghasil rempah dan beras. Hadir pula hidangan rempah asal India dan Timur Tengah yang menunjukkan jejak keterhubungan budaya yang terbentuk dari jalur rempah dari masa ke masa.

Pengunjung festival juga bisa menyambangi warung jamu, pasar makanan, serta kedai yang mengangkat aneka minuman fermentasi lokal dan produk kretek. Ada pula pasarempah tumpah, toko kelontong, pameran mini, serta berbagai lokakarya.

n Shelbi Asrianti

Sumber: https://republika.co.id/berita/rkkglj328/spice-and-rice-festival-promosikan-beras-dan-rempah-nusantara

spice and rice festival promosikan kekayaan rempah nusantara di ajang g20

Spice and Rice Festival, Promosikan Kekayaan Rempah Nusantara di Ajang G20

Dalam rangka pengajuan Jalur Rempah sebagai warisan dunia (world heritage) ke Unesco, Yayasan Negeri Rempah bersama Yayasan Taut Seni menyelenggarakan Spice & Rice Festival pada 11-16 November 2022 di Bali Collection, ITDC, Nusa Dua, Bali.

Festival ini merupakan bagian dari side event forum pertemuan antar Kepala Negara G20 di Nusa Dua, Bali, yang dikoordinasikan oleh Kementerian Koperasi dan UKM.

Selaras dengan tema side event G20 yaitu Local Wisdom for Global Sustainability, Spice and Rice Festival akan mempromosikan kekayaan rempah dan beras Nusantara di dalam rangka mendorong bergeraknya komunitas masyarakat dan pelaku usaha kecil Indonesia untuk meningkatkan peluang kemajuan ekonomi rakyat.

Indonesia adalah negeri kepulauan yang terletak di khatulistiwa beriklim tropis memiliki keanekaragaman hayati tertinggi di dunia (baik di darat dan laut) yang menjadikan Nusantara surga pangan yang tiada habisnya. Salah satunya adalah beras, sumber pangan yang telah dibudidayakan manusia Nusantara sejak zaman Neolitikum. Setidaknya 8.000 jenis padi tumbuh di Nusantara (Rigg, 2002).

Begitu pula dengan rempah. Dari 400-500 jenis tumbuhan yang digunakan sebagai rempah dalam skala dunia, setidaknya 275 jenis rempah merupakan endemik Nusantara (Prosea, 1999). Rempah bukan sekadar bumbu penambah cita rasa makanan; juga merupakan bahan utama obat-obatan. Tak pelak, beras dan rempah menjadi komoditas penting yang menjadi mata perdagangan Nusantara dari masa ke masa.

Berkah pangan inilah yang senantiasa disyukuri dan dirayakan oleh seluruh masyarakat Nusantara, dalam berbagai tradisi dan wujudnya. Rempah dan beras hampir selalu ada dalam berbagai ritus kehidupan: kelahiran, perkawinan, kematian, sebagai penolak bala bahkan penyucian diri.

Tradisi masyarakat Nusantara tak bisa dilepaskan dari pangan karena bagaimana mereka menjaga dan mengolah pangan merupakan seni kehidupan _(art of life)_ itu sendiri. Seiring dengan jaman yang berubah, pandemi global Covid-19 menjadi momentum yang menyadarkan kita bahwa ada rantai pengetahuan yang harus dijaga keberlanjutannya, salah satunya adalah kekayaan kosa rasa pangan yang kita miliki.

Untuk menghormati dua warisan alam dan budaya Indonesia yaitu rempah dan beras yang telah diakui dunia, Spice and Rice Festival ini hadir di tengah perhelatan G20.

"Kami ingin menunjukkan pada dunia bahwa Indonesia memiliki nilai-nilai budaya yang layak dikontribusikan bagi dunia untuk mengakhiri kelaparan, mencapai ketahanan pangan dan nutrisi yang lebih baik, serta mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan yang inklusif, berkesetaraan dan berkeadilan bagi semua," ujar Ketua Yayasan Negeri Rempah Kumoratih Kushardjanto dilansir dari keterangan resmi, Senin (31/10).

Andar Manik dari Yayasan Taut Seni menambahkan nilai-nilai yang direpresentasikan melalui produk-produk pilihan yang dipamerkan dalam kegiatan ini tidak terbatas pada pangan saja, tetapi juga beragam ekspresi budaya seperti kesenian yang lahir dari tradisi daerah-daerah penghasil beras dan rempah, baik dari pesisir maupun pedalaman.

Spice and Rice Festival akan menyelenggarakan Jamuan Negeri Rempah (tradisi makan bersama khas Indonesia) dan Hidangan Rempah (tradisi kuliner daerah-daerah penghasil rempah dan beras). Jamuan makan yang menghadirkan sensasi tradisi makan bersama dari beberapa daerah di Indonesia diisi dengan megibung (Bali), bajamba (Minangkabau), bedulang (Belitung), botram (Jawa Barat), tumpengan (Jawa), rimo-rimo (Maluku Utara), serta tradisi makan bersama dari Bone (Sulawesi Selatan).

Selain jamuan makan bersama khas Indonesia, akan hadir pula hidangan rempah asal India dan Timur Tengah yang menunjukkan jejak keterhubungan budaya yang terbentuk dari jalur rempah dari masa ke masa.

Festival ini juga akan menghadirkan Warung Jamu, Pasar Makanan (food fair), serta kedai Lisoi yang mengangkat aneka minuman fermentasi lokal seperti tuak dan arak, serta produk fermentasi lainnya termasuk kretek. Jaringan komunitas pelaku UKM turut pula menghangatkan suasana secara gotong-royong melalui Pasarempah Tumpah (pasar produk pangan/non-pangan dan makanan/minuman siap saji yang berkaitan dengan tradisi/budaya dari daerah penghasil beras dan rempah), Toko Kelontong (toko aneka produk titipan para pelaku usaha kecil yang berasal dari luar Bali), hingga workshop singkat yang memperkenalkan beragam produk budaya dari rempah dan beras.

Pameran Mini akan menampilkan peta Jalur Rempah dan peta sebaran rempah yang dapat memberikan gambaran singkat tentang jejak perdagangan rempah Nusantara. Tak ketinggalan, pelaku seni tradisi dari beberapa daerah di Indonesia turut tampil meramaikan festival.

"Kami ingin menghadirkan kembali spirit kebersamaan yang melekat pada tradisi Nusantara melalui pangannya," pungkas Kumoratih. (OL-12)

Sumber: https://mediaindonesia.com/humaniora/533807/spice-and-rice-festival-promosikan-kekayaan-rempah-nusantara-di-ajang-g20

JAKARTA− International Forum on Spice Routes (IFSR) yang digagas Yayasan Negeri Rempah dan dilaksanakan setiap tahun kembali hadir untuk membahas dan mengadvokasi berbagai topik dan isu seputar Jalur Rempah dalam masyarakat kontemporer. IFSR 2022 dilaksanakan secara kolaboratif antara Yayasan Negeri Rempah (YNR) dan Pusat Riset Masyarakat dan Budaya, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada 20-23 September 2022. Mengusung tema “Revitalizing the Spice Routes: Answering Global Challenges /Menguatkan Kembali Jalur Rempah untuk Menjawab Tantangan Global”, IFSR 2022 di selenggarakan secara hibrida (luring dan daring) dari BRIN Jakarta.

Ahmad Najib Burhani, Kepala Organisasi Riset Ilmu Sosial dan Humaniora (BRIN), menyatakan bahwa IFSR 2022 menandai kerja sama jangka panjang antara Yayasan Negeri Rempah dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional untuk memperkuat landasan saintifik Jalur Rempah. Rekonstruksi Jalur Rempah tidak dapat dipisahkan dari cara manusia dan komunitas saat ini hidup dan memanfaatkan konektivitas global yang telah berlangsung sepanjang sejarah.

Banyak orang yang masih berpikir dan berpendapat bahwa Jalur Rempah tak lebih dari sekadar sejarah, namun para peneliti dan cendekiawan telah membuktikan bahwa jalur ini merupakan koneksi maritim penting yang bertahan dan telah berubah bentuk dan sifatnya. Bahkan IFSR  sebelumnya telah membuktikan bahwa jalur-jalur tersebut masih ada dan digunakan sebagai salah satu penghubung regional dan global yang penting antara berbagai wilayah, benua, dan negara.

Adapun forum ini bertujuan untuk memobilisasi kembali jalur yang sudah ada serta mengangkat peran penting Indonesia, termasuk negara-negara Asia Tenggara, dalam skala global. Dalam artian yang lebih strategis, memosisikan kembali Indonesia dalam wacana global dengan perspektif
uniknya dalam memahami jalur maritim (ekonomi, perdagangan, budaya, dan berbagai aspek lainnya) dari masa ke masa.

Hal ini menjadi penting ketika Indonesia hendak mengajukan Jalur Rempah sebagai warisan dunia, dibutuhkan landasan akademik untuk memperkuat argumentasi dan memberikan bingkai yang kontekstual agar Jalur Rempah dapat menjawab isu-isu global yang kita hadapi. “Sudah  saatnya kita mulai melihat Jalur Rempah dari pers pektif yang berbeda sehingga relevan dalam menjawab tantangan kontemporer seperti perubahan iklim, penanggulangan dan rekonstruksi bencana, ketahanan pangan, dan berbagai lainnya,” ujar Kumoratih Kushardjanto, Komite Pelaksana IFSR yang juga Ketua Dewan Pengurus YNR.

Ketua Dewan Pembina YNR Hassan Wirajuda dalam pidato pengantarnya menyatakan bahwa tantangan kita adalah bagaimana mengisi warisan sejarah Jalur Rempah dengan inovasi teknologi. Hal ini pun selaras dengan pernyataan Hilmar Farid, Dirjen Kebudayaan Kemendikbud ristek RI. “Di dalam Jalur Rempah ini kita dapat melihat keanekaragaman hayati dan keanekaragaman budaya di bumi Nusantara. Yang penting lagi adalah bagaimana kita melihat cultural resources yang ada dalam masyarakat kita ini bisa berkontribusi terhadap perubahan cara dan gaya hidup yang sangat esensial di dalam pemulihan global,” paparnya.

IFSR 2022 diikuti oleh peserta dari Indonesia, India, China, Jepang, Australia, Filipina, Singapura. Untuk pertama kali IFSR 2022 membuka partisipasi publik untuk mengirimkan gagasan, penelitian, dan pemikirannya dalam call for paper . Naskah-naskah yang masuk di seleksi oleh para cendekiawan yang terdiri atas jajaran pakar YNR dan BRIN. Sekitar 116 naskah yang telah masuk dipresentasikan secara terbuka.

Adapun tema Jalur Rempah ini dikelompokkan ke dalam enam panel topik yang berbeda. Pertama, Identitas, Kesetaraan, dan Globisasi. Kedua, Pembangunan Berkelanjutan dan Keanekaragaman Alam di Sepanjang Jalur Rempah. Ketiga, Budaya untuk Kreativitas, Inovasi dan Mata Pencaharian. Keempat, Pemulihan dan Rekonstruksi Ben cana. Kelima, Komunitas Mari tim dan Nelayan. Keenam, Pelayaran dan Jalur Perdagangan.

Dari naskah-naskah yang masuk, 55 dipresentasikan oleh para penulis secara daring dan 47 naskah dipresentasikan melalui poster. Selain dari Indonesia, terdapat beberapa penyaji dari Australia, Filipina, Jepang. Kajian dan temuan-temuan dari para penulis dan peneliti yang di terima di IFSR 2022 akan dipamerkan dalam bentuk poster infografik di Pekan Literasi Jalur Rempah di Perpustakaan Nasional pada 20-27 November 2022.

Yayasan Negeri Rempah berinisiatif untuk menyajikannya dalam format yang lebih populer untuk dapat menjangkau masyarakat umum mengenal banyak aspek dari Jalur Rempah. Kondisi pascapandemi turut memberikan antusiasme para pendukung program untuk saling berbagi gagasan tentang Jalur Rempah. Forum tahunan yang pertama kali diadakan pada 2019 ini secara konsisten dijalankan secara swadaya, berbasis komunitas dengan semangat kolaborasi dan gotong-royong yang mengedepankan prinsip kerelawanan untuk menumbuhkan tradisi literasi dalam masyarakat.

“Ini adalah sum bangan dari masyarakat untuk negara. Ada atau tidak ada dukungan pemerintah, masyarakat tetap akan bergerak dan belajar untuk menghidupkan narasi Jalur Rempah dengan caranya sendiri,” pungkas Kumoratih. [Hendri Irawan]

 

Sumber: Koran Sindo

Jakarta – Humas BRIN. Untuk pertama kalinya, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyelenggarakan A.B. Lapian Memorial Lecture 2022 pada Jumat (23/09) di Jakarta. Kegiatan ini untuk mengenang jasa sosok seorang ilmuwan, sejarawan di bidang kemaritiman yang sudah dikenal di tingkat regional maupun global, Adrian Bernard Lapian. Pada kesempatan ini merilis tema “A.B. Lapian: “Nakhoda Kajian Maritim Indonesia”. Rangkaian acara tersebut sekaligus untuk memperingati Hari Maritim Nasional yang jatuh pada tanggal 23 September.

Kepala BRIN, Laksana Tri Handoko, dalam sambutannya menyampaikan, jasa seorang Lapian sangat besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan bidang kemaritiman. “Beliaulah yang telah membangun pondasi kajian maritim di Indonesia, bahkan Asia Tenggara,” ungkap Handoko. Komitmen besarnya tidak sebatas pada hasil karya ilmiah saja, namun juga kontribusinya pada kebijakan, advokasi, serta perhatiannya terhadap komunitas – komunitas sejarah maritim di Indonesia.

Dalam pidatonya, Handoko juga mengungkap karya besar Lapian yang menyingkap sejarah jalur perdagangan maritim di Maluku pada awal abad 16. “Selain melengkapi isu maritim, perspektif yang dikembangkannya berkontribusi pada orang - orang yang seringkali dianggap marginal, baik pada realitas masa lalu maupun dalam kajian sejarah,” imbuhnya.

Dalam hal ini, karir seorang Lapian sebagai nakhoda kajian maritim, dikembangkan dalam dua ranah kelembagaan baik di lembaga penelitian maupun di perguruan tinggi. Lapian juga tidak hanya bergelut di bidang kemaritiman saja, namun juga memimpin riset - riset yang bersifat multidisiplin, seperti sosiologi, antropologi, dan ilmu lingkungan, bahkan meluas pada disiplin pengembangan ilmu lainnya.

Selaras dengan itu, Kepala Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora (OR – IPSH), Ahmad Najib Burhani menjelaskan bahwa A.B. Lapian adalah seorang sejarawan utama di Indonesia. Jasa Lapian yang harus diingat terus, lantaran kontribusinya yang luar biasa selaku pendiri kelompok kajian maritim sekaligus menghidupkan komunitas – komunitas maritim.

Pengakuan terhadap kepiawaian Lapian, diceritakan Najib, seorang ilmuwan dari University Malaya, Saharil Kholik memberikan gelar kepada Lapian sebagai nakhoda pertama  sejarawan di maritim Asia Tenggara. “Bahkan, pada saat itu, Antonie Ray, seorang ilmuwan dari Australia Nasional University mengatakan, tidak ada sarjana Indonesia yang lebih baik darinya yang telah mendemonstrasikan keahliannya sebagai sejarawan,” ucap Najib.

Indonesia telah diwarisi ilmu di bidang kemaritiman oleh Lapian dan kawan – kawan. Najib mengatakan, secara tidak langsung, Lapian mengajak agar kita menghargai bangsa Indonesia sebagai negara bahari dengan terus berkomitmen melanjutkan kerja Lapian tersebut. Untuk itu, BRIN melalui OR IPSH, menyelenggarakan kegiatan kuliah umum ini sebagai wujud bangsa Indonesia memaknai pentinya kelautan.

Diskusi umum yang dihelat tersebut menghadirkan dua pembicara yang sudah dikenal sebagai sahabat, teman, dan rekan kerja yang erat dengan Lapian, yaitu Taufik Abdullah dan Alex John Ulaen. Diskusi mendalam untuk mengenang Kembali sosok lapian ini dipandu oleh Kepala Pusat Riset Kewilayahan, Fadjar Ibnu Thufail.

Taufik, yang pernah mengampu jabatan Kepala LIPI periode 2000 – 2002, dalam paparannya lebih banyak berkisah tentang perjalanan panjang bersama sahabatnya, Lapian. Ia mengungkap proses pengembangan kajian riset yang dilakukan, dengan bumbu narasi pertemanannya bersama Lapian.

Sementara Alex mengaku sangat terkesan menjadi pembicara kali ini karena sama halnya mendapat kesempatan untuk menghormati sejarawan, sekaligus guru yang berjasa di bidang kemaritiman. “Kkarya dan gagasan beliau banyak menginspirasi bahkan mengalihkan perhatian saya dari seorang pembelajar etnologi ke fenomena sejarah, kebaharian, dan khususnya di kawasan laut Sulawesi serta perbatasan Indonesia dan Pilipina,” ujar Alex.

Pada kesempatan ini, Alex membahas topik “Memulung Kembara Kelana Nakhoda Kajian Maritim Indonesia”. Judul tersebut, baginya, mengandung makna analogis sosio psikologis yang membebaskan pikirannya dari persoalan legalitas. Sehingga ia bisa lebih bebas berpendapat mengagumi sosok Lapian.

Alex menyajikan data karya – karya ilmiah Lapian pada periode 1964 - 2009 dengan penemuan sejumlah 219 karya artikel dan buku khusus bertema maritim. “Tentu saja jumlah itu tidak termasuk karya – karya lainnya lagi yang masih banyak tentunya,” ucapnya dengan bangga. Lapian sangat hangat di dalam mengembangkan ilmunya, di dalam menulis karya ia berkolaborasi dengan berbagai pihak.

Ia juga mengamati dari diri seorang Lapian yang juga melakukan proses alih rupa status yang diberikan untuk orang – orang yang bekerja di dunia kelautan. “Bermula dari istilah yang digunakan seperti orang laut dan raja laut menjadi nelayan dan pengusaha nelayan. Hal ini yang juga menjadi catatan sejarah kehadiran para penguasa baru di Indonesia sebagai nelayan profesional,” tutur Alex. Ia mengakui kehebatan Lapian, dengan hal ini, telah mewariskan Kompas Penanda Kiblat dan semangat bahari bagi bangsa Indonesia.

Pada kesempatan ini, BRIN memberikan apresiasi penghargaan untuk mengenal sosok jasa A.B. Lapian. Kenang – kenangan diberikan secara langsung oleh Kepala OR – IPSH kepada perwakilan keluarga, yang dalam hal ini dihadiri oleh Gideon Lapian.

Kegiatan diakhiri dengan sambutan Kepala Pusat Riset Masyarakat dan Budaya, Lilis Mulyani. Lilis menyampaikan, bahwa kegiatan kuliah umum ini rencananya dihelat setiap tahun sekali ini. “Pak Lapian adalah pelopor, guru, dan mentor kami. Kegiatan ini kami selenggarakan untuk melihat dan mendiskusikan kembali secara lebih hidup gagasan – gagasan Pak lapian. Dengan demikian, kita bisa menghadirkan lagi riset terkait gagasan beliau,” kata Lilis menutup kegiatan. (And)

 

Sumber: BRIN

Jakarta – Humas BRIN. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Masyarakat dan Budaya (PRMB) Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora (OR IPSH) bekerja sama dengan Yayasan Negeri Rempah menyelenggarakan kegiatan International Forum on Spice Route (IFSR) 2022, Selasa (20/9) di Jakarta. Kegiatan ini mengangkat  tema “Revitalisasi Rute rempah-rempah: Menjawab Tantangan Global”.

IFSR merupakan forum kerja sama antara beberapa institusi yang digagas oleh Yayasan Negeri Rempah. Kegiatannya membahas dan mengadvokasi topik jalur rempah - rempah pada masyarakat kontemporer. Sebagai forum internasional, IFSR membuka dialog lintas batas dan budaya untuk menghidupkan energi penelitian. Tekadnya untuk memelihara jalur rempah yang telah menjadi warisan bersama alam dan budaya di tingkat regional dan global. Sebelumnya, IFSR telah membuktikan bahwa rute-rute tersebut masih ada dan digunakan sebagai salah satu penghubung regional dan global yang penting antar berbagai wilayah, benua, dan negara.

Kepala PRMB, Lilis Mulyani mengatakan, pihaknya menginisiasi konferensi tersebut untuk memberi ruang kepada para periset dan pelaku budaya, bertukar pengetahuan untuk memajukan riset tentang jalur rempah Indonesia. Indonesia yang kaya akan hasil rempah menjadi ketertarikan tersendiri bagi para pengamat. Ini dibuktikan dengan  melimpahnya peminat poster dan makalah yang mengisi kegiatan tersebut. “Acara ini sungguh luar biasa. Sejumlah lebih dari 100 abstrak dari peserta yang dikirim ke panitia. Ini menunjukkan semangat yang tinggi para peneliti kita,” ujarnya saat menyampaikan laporan kegiatan.

Lilis mengaku merancang kegiatan secara kursif agar seluruh peserta dapat berpartisipasi langsung sehingga menyemarakkan rangkaian kegiatan. Di antara para peserta yang kebanyakan dari kalangan mahasiswa, diakuinya sangat antusias dan sangat memperkaya ide riset jalur rempah. “Poster yang mereka kirimkan sangat menarik. Mereka benar – benar menggali potensi kekayaan rempah Indonesia,” imbuh Lilis. Potensi besar ini, bagi Lilis, harus dioptimalkan untuk membangun dukungan ilmiah yang kuat bagi jalur rempah sebagai salah satu warisan.

Hal itu juga diakui Kepala OR IPSH, Ahmad Najib Burhani, saat membuka secara resmi kegiatan IFSR 2022.

Menggali potensi pengembangan riset sudah menjadi tanggung jawab BRIN dengan tim perisetnya terutama untuk menjangkau audiens yang lebih besar lagi sampai ke seluruh dunia. Hal ini sekaligus menjadi media penyampai pesan yang kuat untuk memperoleh pengakuan dari seluruh masyarakat di dunia terhadap kekayaan Indonesia yang melimpah.

Menjaga jalur rempah - rempah termasuk alam dan budaya Indonesia di tingkat regional maupun global, telah menjadi warisan bersama masyarakat Indonesia. Saat ini, yang menjadi tantangan global adalah menghilangnya akar budaya Indonesia di mata negara – negara asia tenggara bahkan dunia. Strategi untuk mencapai solusinya yaitu membangun perspektif global termasuk budaya perdagangan maritim. Ini yang menjadi salah satu tujuan organisasi bagi penelitian ilmu sosial dan humaniora sebagai platform regional global.

“Mengangkat kembali jalur rempah bukanlah bernostalgia pada kejayaan nusantara pada masa lalu. Tetapi tujuannya juga untuk mengenali kebesaran masa lalu Indonesia dan kekurangannya, serta merefleksikan sejarah masa lalu untuk masa kini dan masa depan,” kata Ketua Dewan Pembina Yayasan Negeri Rempah, Hassan Wirajuda, saat menyampaikan sambutannya.

Menurutnya, sejak zaman dahulu terdapat dua geopolitik Indonesia yang relatif permanen, yaitu kepulauan nusantara yang menempati posisi strategis. Dikatakan strategis karena terletak di antara dua benua dan dua samudera serta tanah dan lautan nusantara yang kaya raya. “Tidak mengherankan apabila di dalam sejarah terdapat kerajaan-kerajaan yang berjaya, dua di antaranya Sriwijaya dan Majapahit,” ungkapnya.

Jalur rempah sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa merupakan jalur yang damai. Bangsa-bangsa Eropa datang tidak sekadar berdagang, tetapi memonopoli perdagangan. Dari monopoli melalui penaklukan, berujung pada kolonisasi yang menjadi tujuan mereka berdasarkan pada Perjanjian Tordesillas tahun 1494. Berdasarkan perjanjian ini, Spanyol dan Portugal membagi dunia menjadi dua wilayah yang berpengaruh, masing-masing ke arah barat dan timur. “Dengan mandat untuk menduduki semua wilayah yang ditemukan menjadi millik mereka,” ungkap Hassan lagi.

Tidak dapat diingkari bahwa keunggulan teknologi seperti penemuan misiu, alteleri, bahkan kompas, menjadi instrumen penting penjajahan. Pelajaran yang dapat kita tarik adalah kekayaan nusantara yang melimpah menjadi daya tarik tersendiri bagi dunia luar. Namun, tanpa kekuatan modal, teknologi dan militer, hal ini hanya menjadi sumber malapetaka.

Berbicara mengenai jalur rempah yang membentang dari Asia Timur, Indonesia dan Asia Tenggara, Timur Tengah dan Afrika, serta Eropa, Hassan menyampaikan pesan agar kita jangan hanya bernostalgia kepada kejayaan di masa lalu. Dalam menjawab tantangan globalisasi dewasa ini, rempah pada perdagangan masa kini tidak lagi menjadi komoditas yang paling dicari. Tetapi hal itu harus dikembangkan melalui kerja sama perdagangan, kebudayaan, peradaban, serta teknologi. “Tantangan kita adalah bagaimana mengisi warisan sejarah itu dengan inovasi-inovasi teknologi,” pesan Hassan menutup sambutan.

Konferensi hari pertama ini diisi dengan presentasi poster oleh peserta yang didominasi dari kalangan mahasiswa serta paparan presentasi oleh para periset BRIN dan kalangan akademisi dari berbagai kampus di Indonesia. Konferensi akan digelar selama 4 hari dan berakhir pada tanggal 23 September 2022. (Arial – ANS)

 

Sumber: BRIN

Webinar Series 05 Spice Routes img

Heritage Webinar Series 05: Spice Routes

In 2017, the Ministry of Education and Culture officially initiated the Spice Route proposal as the World Heritage to UNESCO. This initiative was under the auspices of the Directorate of Cultural Heritage and Diplomacy and the Directorate General of Culture. In line with the vision of President Joko Widodo to position Indonesia as the global maritime fulcrum in 2045, the legacy of the maritime spice route has been acknowledged as a means of cultural exchange and intercultural understanding. It brings together various ideas, concepts, knowledge, and experience between people across nations. This maritime cultural heritage has become increasingly important to be addressed. Spice Route is proposed as a World Heritage and becomes the theme of Indonesian cultural diplomacy. Inevitably, the need to conduct comprehensive research increases side-by-side with the need to socialize the Spice Route narrative. In addition to academic studies, one of the factors considered for the success of the nomination is public knowledge regarding the subject, including its implications in a broader context. This criterion is indicated through the Sustainable Development Goals (SDG) declared by the United Nations. The cultural heritage of an area should provide benefits in terms of social, culture, and economy for the local communities. Therefore, without proper knowledge, Indonesians cannot obtain optimal benefits from the status of Spice Route as the world heritage.

Meanwhile, the methods in studying subjects of humanities and social science in Indonesian secondary education have not encouraged the curiosity of students to learn more about their history and culture. In many cases, these subjects are delivered in less interesting methods. Sources of information such as humanities and history textbooks are unattractive for today's students with less interest in reading. This condition is exacerbated by the increasingly open access to information, which cable television channels to social media in cyberspace are instant information providers for today's contemporary society. However, the recently emerged "Spice Route" or "Jalur Rempah" narrative provides a unique contextual perspective as an entry point to encourage Indonesians to have the knowledge and understanding of the diversity that has shaped the nation. This cultural-historical narrative seems capable of generating a sense of nationalism while simultaneously giving a new meaning of what it means to be a nation, albeit to varying degrees for everyone.

Pasarempah-Menteng.jpg

Mitra BUMDes Nusantara, Yayasan Negeri Rempah, dan Kopi Merah Putih, dengan bangga memperkenalkan kegiatan loji rempah pertama, Pasarempah Ménténg.

Berlokasi di kawasan bersejarah Menteng, Jakarta Pusat, loji ini mudah dicapai dari penjuru kota maupun luar kota, melalui Stasiun Terpadu Antarmoda Manggarai.

Dalam konsep loji rempah ini, kegiatan pameran, niaga, temuwicara, uji-cicip, dan kelas usaha terkait keekonomian rempah, diselenggarakan secara berkesinambungan.

Untuk tahun 2022 ini, sejumlah kegiatan di loji rempah Pasarempah Ménténg telah disusun dalam dua bingkai besar:

  1. Pasarempah Nusantara.
  2. Collating Mosaics of Spices.

Keduanya terdiri dari berbagai kegiatan yang disusun untuk memperkuat keekonomian rempah, dengan sasaran pasar Nusantara dan pasar Global.

Kami membuka loji rempah Pasarempah Ménténg ini mulai dari hari Sabtu, 29 Januari 2022.

Peminat Rempah bisa langsung mengunjungi lokasi di :

"Pasarempah Ménténg"
Jl. Teuku Cik Ditiro - Latuharhary, No.84,
Menteng - Jakarta Pusat.

Usaha Rempah yang ingin bergabung menjadi peserta bisa mengisi formulir pendaftaran, dari tautan:
https://bit.ly/IsiKatalogPasarempah-2

Pendaftaran keikutsertaan usaha rempah di Pasarempah Ménténg tidak dipungut biaya, dan semata mengajak setiap peserta untuk berbagi pembiayaan secara kolaboratif.

Untuk lebih jelas, bisa menghubungi:
Tania, hp-WA +6282144329609
Chaedar, hp-WA +62817421543

Peran Diaspora Indonesia amat besar dalam mempromosikan Indonesia. Saat Indonesia tengah berupaya untuk mengusulkan Jalur Rempah sebagai Warisan Dunia, kita perlu mempererat persahabatan dan kerjasama dengan negara-negara sahabat. TradeLink dapat menjadi salah satu cara untuk memproyeksikan nilai-nilai Indonesia dan mempromosikan produk-produk terbaiknya ke dunia. Dengan dukungan diaspora Indonesia, kita dapat mengambil langkah awal yang baik menuju tujuan kita termasuk strategi untuk mengembangkan usaha di negara-negara tempat diaspora kita berada. Narasi Jalur Rempah dapat turut memperkuat diplomasi Indonesia dalam konteks ekonomi.

Jangan lewatkan bincang-bincang dengan Indonesian Diaspora Business Council (IDBC), Negeri Rempah Foundation, dan Indonesian Fashion Chamber di ajang Trade Expo Indonesia.

Kamis, 4 November 2021
16.00-18.00 WIB (UTC +7)

Registrasi:
http://www.tradexpoindonesia.com/
Meeting ID: 821 3683 3601
Passcode: 428746

Promosikan produk-produk Anda yang terkait dengan rempah-rempah Indonesia ke TradeLink melalui @pasarempah.

indonesia diaspora business council