Loading...

Peran Diaspora Indonesia amat besar dalam mempromosikan Indonesia. Saat Indonesia tengah berupaya untuk mengusulkan Jalur Rempah sebagai Warisan Dunia, kita perlu mempererat persahabatan dan kerjasama dengan negara-negara sahabat. TradeLink dapat menjadi salah satu cara untuk memproyeksikan nilai-nilai Indonesia dan mempromosikan produk-produk terbaiknya ke dunia. Dengan dukungan diaspora Indonesia, kita dapat mengambil langkah awal yang baik menuju tujuan kita termasuk strategi untuk mengembangkan usaha di negara-negara tempat diaspora kita berada. Narasi Jalur Rempah dapat turut memperkuat diplomasi Indonesia dalam konteks ekonomi.

Jangan lewatkan bincang-bincang dengan Indonesian Diaspora Business Council (IDBC), Negeri Rempah Foundation, dan Indonesian Fashion Chamber di ajang Trade Expo Indonesia.

Kamis, 4 November 2021
16.00-18.00 WIB (UTC +7)

Registrasi:
http://www.tradexpoindonesia.com/
Meeting ID: 821 3683 3601
Passcode: 428746

Promosikan produk-produk Anda yang terkait dengan rempah-rempah Indonesia ke TradeLink melalui @pasarempah.

indonesia diaspora business council

Liputan6.com, Jakarta - Tidak genap rasanya jika membicarakan kuliner Indonesia tanpa menyebut sambal. Dengan catatan lebih dari 300 jenis, baik dalam versi matang maupun mentah, sambal jadi sebagai salah satu identitas sajian lokal.

Kehadirannya tentu tidak lepas dari eksistensi cabai. Menurut sejarawan Wijaya setidaknya ada dua versi asal mula rempah ini di Indonesia. Ia menyebut, merujuk pada teks Ramayana dalam buku Pasar di Jawa Masa Mataram Kuno Abad VII-XIV karya arkeolog Titi Surti Nastiti, cabai sudah eksis di pasar Nusantara sejak abad ke-10.

"Selain cabai jawa, ada juga andaliman (sejenis tanaman merica) Sumatra Utara yang cukup terkenal, walau itu (andaliman) bukan dalam bentuk cabai, tapi cita rasa yang diberikan mirip," katanya melalui sambungan telepon pada Liputan6.com, Kamis, 21 Oktober 2021.

Sementara dalam konteks sejarah Barat, cabai baru dibawa ke Indonesia pada abad-16 oleh para pedagang Portugis. Ketua Yayasan Negeri Rempah Dewi Kumoratih Kushardjanto menjelaskan, dalam hal ini, tempat asal tumbuhnya cabai diyakini di wilayah Amerika Selatan, termasuk Bolivia dan Meksiko.

"Tanaman cabai tumbuh di daerah yang dilintasi garis khatulistiwa," ujarnya lewat pesan Jumat, 22 Oktober 2021.

Sebelumnya, Kumoratih menjelaskan, jahe, lada, dan cabai jawa adalah jenis rempah yang dipakai untuk memberi rasa pedas pada olahan kuliner Nusantara. "Jawa Barat, Lampung, Sumatra Barat, dan Nusa Tenggara Barat dikenal sebagai wilayah penghasil cabai," imbuhnya.

Cabai jawa disebutnya berbeda dari cabai yang dikenal sekarang. Pasalnya, ketika kolonialisme Eropa terjadi di Indonesia, ini juga membawa banyak perubahan. Selain aspek sosial budaya, pengaruhnya juga lekat pada budi daya pangan.

"Ekspansi Eropa ke Nusantara itu juga dalam rangka akumulasi resources berupa komoditas pangan. Jadi daerah koloni itu juga jadi perluasan lahan untuk budi daya berbagai komoditas yang menguntungkan. Sama seperti ketika bibit rempah kita kemudian dibawa untuk dibudidayakan di Zanzibar atau Grenada," paparnya.

Karena itu, tidak heran jika "cabai impor" ini kemudian populer. "Karena pada dasarnya orang Nusantara juga sudah mengenal rasa pedas, meski pedasnya bersumber dari rempah yang berbeda," imbuh Kumoratih.

Pengganti Rempah Asli

cerita akhir pekan asal usul sambal di indonesia pengganti rempah asli

Wijaya menjelaskan, cara menanam cabai yang cenderung mudah, yang mana tidak perlu perawatan khusus, apalagi lahan luas, juga berkontribusi dalam melejitnya popularitas tanaman rempah tersebut. Varietasnya kemudian menawarkan tingkat kepedasan yang berbeda-beda.

"Tapi rupanya 'cabai impor' ini dirasa lebih nendang pedasnya, sehingga kemudian jadi bahan yang umum digunakan untuk sambal," ucap Kumoratih.

Sebelum cabai ngetop di Nusantara, sambungnya, rasa pedas cenderung memanfaatkan rempah asli. "Jadi sambal pecel itu ada kencurnya, ada jahenya, dan seterusnya. Lalu, bahan utamanya bisa jadi adalah kacang," paparnya.

"Kita kan kenal banyak jenis sambal kacang atau bumbu kacang. Nah, begitu cabai bisa menambah kepedasan dan cocok dengan selera lidah lokal, ya dengan sendirinya itu jadi populer," imbuh Kumoratih.

Wijaya menyambung, kolonialisme tidak hanya mengeksploitasi sumber daya alam, tapi juga sumber daya manusia. "Dalam prosesnya ada interaksi yang kemudian membentuk klasifikasi status sosial," katanya.

Namun, tidak seperti makanan lain, dalam konsumsi sambal, tidak ada status sosial tertentu yang dipertimbangkan. "Semua bisa makan sambal, dari orang Eropa, Tionghoa, bangsawan Nusantara, hingga rakyat jelata," kata Ketua Umum Pengurus Pusat Forum Komunikasi Guru IPS Nasional Persatuan Guru Republik Indonesia tersebut.

Diadopsi Sesuai Tradisi Lokal

cerita akhir pekan asal usul sambal di indonesia diadopsi sesuai tradisi lokal

Sambal kemudian diadopsi sesuai tradisi makan di masing-masing daerah. "Sambal matah khas Bali, misalnya," kata Wijaya. "Karena dibuat dengan cara diiris, itu mencerminkan kesederhaan, proses pembuatan singkat, mengurangi proses memasak."

Masih dalam catatan tradisi, Wijaya menyebut, sambal pun lekat dengan hukuman. "Kalau pernah dengar orangtua memarahi anak nakal dengan menggeretak mulutnya akan diberikan sambal, itu juga bentuk kebiasaan yang berkembang," ucapnya.

Biasanya, ia menjelaskan, itu terkait adab anak berbicara pada orang lebih tua. "Pedasnya sambal itu dianggap sebagai representasi tingkat kekesalan orangtua pada anaknya," Wijaya menyebut.

Infografis Diplomasi Lewat Jalur Kuliner

cerita akhir pekan asal usul sambal di indonesia infografis diplomasi lewat jalur kuliner

 

Langit7, Jakarta - India memiliki Dewan Rempah yang berfungsi untuk memberikan perhatian terhadap produksi, pengembangan, pembinaan, promosi dan mengatur ekspor untuk komoditas rempah.

Konsul Jenderal RI di Mumbai, India, Agus Saptono menjelaskan Dewan Rempah India itu berada di bawah Kementerian Perdagangan dan Industri India atau ministry of commerce. Setidaknya, terdapat sekitar sekitar 52 jenis rempah yang berada di bawah naungan Dewan Rempah.

"Namun, tidak semua India melakukan ekspor untuk memenuhi kebutuhan pasar global, tapi juga impor karena ada beberapa yang produksi mereka kurang baik hasilnya. Seperti cengkeh, kayu manis, pala, dan lainnya yang impor dari Indonesia," jelasnya secara daring di acara Rembukraya: Meneroka Praktik Terbaik dalam Tata Niaga Rempah, Selasa (19/10).

Kendati demikian, dengan adanya Dewan Rempah, India melakukan upaya untuk meningkatkan kualitas rempah mereka. Selain itu, dengan adanya Dewan Rempah, membuat produksi dan perdagangan komoditas rempah India semakin baik dan terkoordinasi.

Di antaranya, membantu importis dan eksportis dalam menjalin hubungan timbal balik, identifikasi sumber pasokan yang kompeten, pengaturan platform umum.

"Serta memeriksa keluhan dari importir, peningkatan program kualitas rempah India, pengelolaan bank data, dan penyatuan badan internasional," tambahnya.

Dewan rempah itu, secara tidak langsung memberikan dampak yang baik dalam penguasaan pasar global untuk komoditas rempah India. Sehingga, Indonesia bisa mencontoh beberapa hal yang dilakukan Dewan Rempah India untuk bisa bersaing di pasar global.

(zul)

Sumber: https://langit7.id/read/5869/1/andil-dewan-rempah-india-dalam-perdagangan-global-1634638225

Langit7, Jakarta - Komoditas rempah memberikan kontribusi besar dalam perekonomian nasional. Hal itu terbukti dari perdagangan untuk kebutuhan rempah yang terus meningkat bahkan di tingkat pasar global.

Wakil Duta Besar RI untuk China dan Mongolia, Dino R. Kusnadi mengatakan, pemerintah harus memberikan perhatian lebih terhadap petani rempah di Indonesia.

"Pemerintah dan UMKM perlu memberikan hasil terbaik terkait rempah dari Indonesia. Termasuk rantai pasok untuk kebutuhan perdagangan rempah skala global," ujarnya secara virtual dalam acara Rembukraya: Meneroka Praktik Terbaik dalam Tata Niaga Rempah, Selasa (19/10).

Menurutnya, komoditas rempah ibarat emas yang semakin dicari di berbagai belahan dunia. Hal itu menjadi peluang besar bagi Indonesia karena memiliki varian rempah yang besar, didukung dengan tanah suburnya.

"Ini lah yang menjadi kelebihan rempah Indonesia, dengan rasa dan kualitasnya yang baik. Itu pula yang menjadikan dunia mencari rempah ke Indonesia," tambahnya.

Pengamat ekonomi, lanjut dia, memperkirakan nilai dagang untuk kebutuhan rempah senilai USD100 juta untuk tahun ini. Dengan nilai perdagangan yang terus tumbuh itu, perlu diperkuat terhadap produktivitas dan kualitas rempah Indonesia.

Saat ini, India menjadi negara dengan sumber utama rempah yang berlimpah. Di mana menguasai pasar rempah global untuk ekspornya sebesar 70 persen pada tahun lalu. Diikuti Indonesia di urutan selanjutnya dengan 17,4 persen untuk kebutuhan ekspor ke India.

"Sehingga kita perlu membuat UKM mampu menembus pasar global untuk perekonomian masa depan," katanya.

(zul)

Sumber: https://langit7.id/read/5847/1/punya-peluang-besar-indonesia-targetkan-kuasai-pasar-global-untuk-komoditas-rempah-1634620259

  • Selasa, 19 Oktober 2021
  • 15.00 - 17.00 WIB

Apa yang harus dilakukan secara riil untuk mendorong rempah-rempah Indonesia kembali menjadi produk unggulan? Selama ini berbagai gagasan untuk mengangkat kembali “kejayaan” rempah-rempah Nusantara telah sering terdengar. Dalam perspektif sejarah dan budaya, konsep Jalur Rempah telah memberikan inspirasi kepada banyak pihak untuk memberdayakan rempah-rempah kita menjadi salah satu lokomotif yang bisa menarik kembali Indonesia menjadi juara di percaturan perdagangan dunia. Namun pertanyaan berikutnya adalah dari mana kita memulainya? Ada begitu banyak peluang dan sumberdaya yang tersebar di depan mata. Mana yang diutamakan terlebih dahulu? Apa strategi yang dibutuhkan secara riil untuk membuat gagasan-gagasan tersebut bisa dioperasionalisasi melalui sistem pemodalan, metode pelindungan dan valuasi, pola bursa komoditas dan sebagainya? Sesi terakhir Rembukraya akan menjadi pijakan ke depan untuk menetapkan langkah-langkah nyata selanjutnya.

Narasumber Pemantik: Kocu Andre Hutagalung (Praktisi Industri Keuangan, CEO Maipark Reinsurance)

Narasumber Penanggap:

  • Tantrie Soetjipto (Praktisi Industri Perbankan, Pendiri Roemah Indonesia B.V)
  • Astrid Vasile (Praktisi Bisnis, Indonesian Diaspora Business Council)
  • Sigit Ismaryanto (Alam Asri Interbuana)

Moderator: Diski Naim (Indonesian Diaspora Business Council)

Registrasi: bit.ly/Rembukraya2021

* Pasarempah adalah program yang diinisiasi oleh Yayasan Negeri Rempah untuk mengkaji dan mengangkat aspek keekonomian rempah-rempah Indonesia.

  • Selasa, 19 Oktober 2021
  • 13.00 - 15.00 WIB

Integrasi rantai pasokan dari titik produksi rempah di pulau terdepan dan hulu sungai tertinggi ke pasar dan pelabuhan di pesisir hingga terkirim ke konsumen di dalam dan luar negeri sangat perlu dikembangkan. Meski demikian, masih banyak tantangan yang masih harus dituntaskan, termasuk tingginya biaya beberapa komponen dan kegiatan dalam rantai pasok rempah. Upaya menuju integrasi rantai pasok rempah terus diupayakan baik oleh lembaga swasta maupun digalang melalui program infrastruktur dan peningkatan kapasitas pelaku usaha melalui digitalisasi oleh pemerintah. Menjadi penting dalam Rembukraya ini untuk mendapatkan perspektif terbaik mengenai perkembangan terakhir dari upaya tersebut dan merumuskan langkah berikutnya.

Narasumber Pemantik: Prof. Dr. Ir. Senator Nur Bahagia (Guru Besar Fakultas Teknologi Industri, ITB)

Narasumber Penanggap:

  • Dr. Kuncoro Harto Widodo (Tim Ahli Pusat Studi Transportasi dan Logistik, UGM)
  • Yahya Kuncoro* (Direktur Usaha Angkutan Barang dan Tol Laut, Pelni Indonesia) tbc
  • Trismawan Sanjaya (Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia)

Moderator: Sidi Rana Menggala (Pendiri Spice Land Indonesia)

Registrasi: bit.ly/Rembukraya2021

* Pasarempah adalah program yang diinisiasi oleh Yayasan Negeri Rempah untuk mengkaji dan mengangkat aspek keekonomian rempah-rempah Indonesia.

  • Selasa, 19 Oktober 2021
  • 09.30 - 12.00 WIB

Begitu banyak program dari dalam dan luar negeri kepada pelaku usaha rempah di Indonesia. Mulai dari pola asuh, pemantauan rantai pasok berbasis teknologi penginderaan jarak jauh, hingga pembiayaan. Di sisi lain, pengembangan rempah dari hulu ke hilir seperti pola asuh, agregasi panen, resi gudang, desentralisasi pelabuhan hub ekspor, digitalisasi budidaya pertanian dan perkebunan, perumusan kemudahan berusaha melalui undang-undang Cipta Kerja, hingga pengembangan UMKM, digalang oleh pemerintah Indonesia. Dalam RembukRaya kali ini, kita akan belajar dan mengkaji praktik terbaik tata niaga rempah dari negara sahabat kita, India. Apa yang dapat kita pelajari dari model tata niaga rempah tersebut bila Indonesia akan membuat sistem pengelolaan perniagaan rempah dari hulu ke hilir?

Pengantar:

  • Bram Kushardjanto (Anggota Dewan Pembina Yayasan Negeri Rempah)
  • Dino Kusnadi (Wakil Duta Besar RI untuk China dan Mongolia)

Narasumber Pemantik: Agus Saptono (Konsul Jenderal RI di Mumbai India)

Narasumber Penanggap:

  • Wiyoto (Direktur Utama Mitra BUMDes Nusantara)
  • Kumara Jati (Indonesia Trade & Promotion Center, Chennai)
  • Robert Manan (Indonesian Diaspora Business Council / Pendiri Manan Foundation)

Moderator: Djaka Susila

Registrasi: bit.ly/Rembukraya2021

* Pasarempah adalah program yang diinisiasi oleh Yayasan Negeri Rempah untuk mengkaji dan mengangkat aspek keekonomian rempah-rempah Indonesia.

Liputan6.com, Jakarta - Isu rempah kian ramai dibicarakan masyarakat. Masih banyak sisi menarik yang belum diulik, padahal jalur ini jadi bukti bahwa Indonesia, Nusantara pada saat itu, memegang peranan penting.

Jika China mengangkat Jalur Sutra, Indonesia mengangkat Jalur Rempah Maritim. Selain lebih kaya, jalur tersebut lebih dulu ada sebelum Jalur Sutra.

"Kita sudah punya jalur tersebut. Ada yang menyebut Jalur Rempah Maritim ini sudah ada sekitar 1000 tahun sebelum Masehi. Jadi, jalur tersebut sudah ada sebelum adanya Nabi Isa," ujar antropolog Yanuardi Syakur dalam peluncuran buku Kisah Negeri-Negeri di Bawah Angin yang diterbitkan Yayasan Negeri Rempah, Rabu, 6 Oktober 2021.

Ada juga yang menyebut, sambung Yanuardi, jalur rempah itu sudah ada sejak 2000 tahun yang lalu, yakni mulai zaman Firaun, Ramses, Ramses II, dan lain sebagainya.

"Karena bagian penting dalam upaya untuk mumifikasi, seperti yang ada di Mesir itu menggunakan rempah," ujar Dosen Program Studi Antropologi Sosial Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Khairun, Ternate, tersebut. "Dengan kejayaan itu, untuk mengangkat marwah bangsa Indonesia untuk mengusulkan Jalur Rempah sebagai Warisan Budaya Dunia UNESCO," kata Yanuardi.

Yanuardi mengatakan pengusulan tersebut sudah bisa dilakukan pada 2024. Oleh karena itu, Yanuardi berharap masyarakat memberikan dukungan untuk pengusulan Jalur Rempah tersebut.

Koridor Jalur Maritim

mengulik waktu permulaan jalur rempah eksis apakah lebih dulu dari jalur sutra Koridor Jalur Maritim

Koridor jalur maritim, kata Yanuardi, berawal dari jalur rempah. Secara sederhana, jalur rempah itu berawal dari Jepang, turun hingga ke Indonesia, tembus ke Samudera Hindia.

"Selannjutnya, jalur rempah tembus ke Mesir, Laut Tengah, kemudian sampai ke Eropa. Itu (gambaran) sederhananya mengenai jalur rempah," kata Yanuardi.

Menurut Yanuardi, indikator kejayaan rempah terlihat saat seseorang hendak bertemu dengan pejabat. Mereka menaruh rempah di bawah lidahnya. "Bukan untuk dimakan, tapi agar rasa harumnya keluar," ungkap Yanuardi.

Literasi Rempah

mengulik waktu permulaan jalur rempah eksis apakah lebih dulu dari jalur sutra literasi rempah

Terkait literasi, sejauh ini sudah banyak buku yang membahas tentang rempah, baik mengenai sejarah rempah maupun kepulauan rempah. Banyak juga buku yang sudah diterjemahkan dari bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia.

"Namun, belum ada satu narasi yang menyeluruh tentang negeri-negeri atau daerah-daerah yang dilalui jalur perdagangan rempah. Karena kalau ditelisik lebih jauh, setiap daerah yang dilalui jalur perdagangan rempah tentu punya jejak," kata dosen di Universitas Pembangunan Panca Budi, Sumatera Utara.

Dari rempah, muncul perdagangan-perdagangan. Selanjutnya, muncul bandar-bandar atau pelabuhan bersejarah di Nusantara, seperti Belawan, Barrus, dan lain-lain. "Semua itu punya sejarah dan cerita dan silakan digali," tandas Sri.

Infografis Daerah Penghasil Rempah di Indonesia

mengulik waktu permulaan jalur rempah eksis apakah lebih dulu dari jalur sutra infografis daerah penghasil rempah di indonesia

Sumber: https://www.liputan6.com/lifestyle/read/4677695/mengulik-waktu-permulaan-jalur-rempah-eksis-apakah-lebih-dulu-dari-jalur-sutra

Pada suatu waktu di masa lalu, rempah telah menjelma barang berharga yang sebanding dengan emas. Rempah pula yang mendatangkan kolonialisme di Bumi Nusantara. Namun, sudah pahamkah kita akan kekuatan rempah, sejarahnya di Tanah Air, juga potensinya di masa depan?

Bagi yang ingin memperluas wawasan atau literasinya mengenai rempah, Yayasan Negeri Rempah telah menerbitkan buku "Kisah Negeri-negeri di Bawah Angin" yang menggambarkan rekam jejak kemaritiman Nusantara dalam sejarah perdagangan rempah-rempah.

Dalam kegiatan bedah buku dan jumpa pers virtual yang digelar Rabu (6/10), Sri Shindi Indira dari Beranda Warisan Sumatera mengungkapkan jika buku ini sangat menarik dan dapat dijadikan rujukan.

"Buku yang terdiri dari 245 halaman ini memiliki gambar yang menarik dan komunikatif sekali. Selain itu, saya juga mencari beberapa buku lainnya yang merujuk ke literasi rempah untuk mengetahui sejauh mana literasi tentang rempah. Ternyata sudah ada banyak buku-buku tentang rempah," paparnya saat membedah buku tersebut.

Dia juga menjelaskan bahwa kita perlu mencari tahu lebih mendalam terkait kekayaan bangsa kita. Dulunya, kita hanya mengenal rempah itu di wilayah Ternate dan Maluku. Lalu bagaimana dengan daerah lainnya. "Kenapa belum ada dan belum menyeluruh tentang informasi daerah-daerah yang dilalui. Ditelisik setiap daerah yang dilewati jalur perdagangan rempah pasti meniggalkan jejak mulai dari Pasai, Barus dan lainnya," jelasnya.

Lebih lanjut, arsitek tersebut juga memaparkan jmengapa jalur tersebut tidak terkenal seperti Ternate dan Maluku maupun tempat lainnya. Menurutnya, pada buku yang telah dicetak dalam bahasa Inggris dengan judul "Tales of the Lands Beneath the Wind" ini telah mengompilasikan perjalanan dan jalur rempah. Dengan telah disebarkan ke berbagai negara di dunia diharapkan buku tersebut dapat dikenal di seluruh dunia.

Pada bagian 1, Dunia Dimabuk Rempah, memaparkan bagaimana kekayaan Indonesia di kala itu akan rempah saat dunia dimabuk rempah. "Dunia Dimabuk Rempah, menarik sekali digambarkan grafisnya. Bicara tentang zaman dahulu ada cerita tentang black death. Tiap 10 tahun adanya pandemi. Ini juga black death terjadi di abad ke-14 dan bisa diobati dengan rempah. Buku ini juga membahas manfaat rempah di zaman dahulu," imbuhnya.

Kemudian, pada bagian berikut, Kisah Negeri-negeri di Bawah Angin, dimulai pembahasan tentang jalur rempah, mulai dari Barus, Tarumanegara, Sriwijaya, Mataram, Majapahit, Pasai, Nusa Tenggara, Banten, Kalimatan, Makassar, Maluku, hingga Papua. Dia mengungkapkan masih adanya jejak-jejak sejarah seperti bangunan-bangunan yang masih awet hingga kini, salah satunya di Barus.

"Kenapa adanya Candi Borobudur, apa kaitannya terhadap rempah. Pada saat adanya pembangunan mungkin di kala itu berpengaruh dengan jalur rempah," ungkapnya.

Di bagian lagin, Sejarah Kemaritiman untuk Memandang Indonesia ke Depan, dia juga menjelaskan bahwa dengan adanya pemahaman literasi tentang budaya, kita bisa memanfaatkan secara positif jalur rempah negara kita yang sangat kaya ini, untuk khususnya pariwisata.

"Di sini pembaca diajak merefleksikan bahwa dari dulu kita sudah kaya bahkan dari ribuan tahun. Lalu, apa yang harus dilakukan. Buku ini juga berisi cuplikan-cuplikan seperti peninggalan-peninggalan yang menjadi inspirasi untuk dikembangkan di masa depan Indonesia melalui pariwisata," lanjutnya.

Selain itu, dia juga membahas terkait epilog yang ada di buku tersebut yaitu Jalesveva Jayamahe, yang berarti jika kejayaan kita ada di laut. Pembaca diajak merefleksikan diri untuk melihat peran dan kontribusi kita untuk ikut melestarikan dan menjaganya.

Kesimpulannya, buku yang akan diterbitkan hitam putih dengan tidak mengganggu cerita dan ilustrasinya ini diperlukan adanya sequel untuk menggali jejak rempah di daerah yang dilalui jalur rempah.

Lewat buku ini juga dapat dijadikan pemanfaatan situs-situs cagar budaya dan pengembangkan pembangunan pariwisata hingga lanjutan lain seperti dokumentasi dan panduan konservasi, panduan pelestarian kebudayaan, konteks sosial ekonomi, dan lingkungan.

Salah satu tim penyusun buku, Yanuardi Syukur mengatakan jika buku ini menjelaskan secara umum bagaimana negeri-negeri di bawah angin termasuk Indonesia dalam jalur rempah maritim. Buku ini juga tidak semata-mata bercerita tentang masa lalu tetapi juga melihat apa yang bisa diangkat di masa depan.

Yayasan Negeri Rempah akan menerbitkan buku "Kisah Negeri-negeri di Bawah Angin" ini dalam bahasa Indonesia dengan dukungan dari Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Sumatera Utara hingga disalurkan ke berbagai perpustakaan dan komunitas di kota Medan secara gratis. (M-2)

Sumber: https://mediaindonesia.com/weekend/438344/menyimak-jejak-dan-daya-rempah-nusantara-dalam-buku-kisah-negeri-negeri-di-bawah-angin

Dalam rangka literasi Jalur Rempah ke masyarakat, Yayasan Negeri Rempah menginisiasi sebuah buku yang berjudul "Kisah Negeri-Negeri di Bawah Angin". Buku ini telah di cetak dalam bahasa Inggris dengan judul " Tales of the Lands Beneath the Wind" yang telah tersebar di berbagai negara di dunia melalui dukungan KBRI-KBRI di negara-negara sahabat.

Kali ini, Yayasan Negeri Rempah menerbitkan buku ini dalam versi bahasa Indonesia dan akan disebar luaskan secara gratis ke perpustakaan-perpustakaan dan komunitas-komunitas di berbagai daerah. Khusus di kota Medan dan sekitarnya Bank Indonesia Perwakilan Propinsi Sumatera Utara telah mensupport program ini dan akan menyalurkan buku ini ke berbagai perpustakaan dan komunitas di seputar kota Medan.

Apa dan bagaimana programnya akan dijabarkan dalam acara Webinar di tanggal 5 Oktober serta Bedah Buku 6 Oktober 2021.

Pendaftaran bisa dilakukan di:

peluncuran buku kisah negeri negeri di bawah angin bedah buku peluncuran buku kisah negeri negeri di bawah angin bedah buku

JALUR REMPAH bisa dibilang merupakan jembatan perdagangan tanaman-tanaman eksotis ke masyarakat dunia. Di masa lalu saja, bumbu menjadi benda mewah bagi masyarakat Timur Tengah yang keberadaannya bisa dilacak pada mumi firaun di Mesir.

Spesialis Program Budaya UNESCO, Moe Chiba mengungkap, bahwa jalur rempah juga bisa disebut sebagai jalur sutera maritim memiliki dampak pemahaman budaya dan politik. 

"Di jalur rempah ada beragam umat manusia—utamanya orang Austronesia—yang secara lintas waktu dalam situasi geografis berkembang melintasi lautan untuk bertukar budaya dari Samudera Pasifik dan Hindia," terangnya di webinar Youth International Forum on Spice Route - Public Talks 2 yang diadakan Negeri Rempah Foundation, Senin 5 April 2021.

"Kalian pasti pernah dengar bila Borobudur dan Angkor Wat punya hubungan kesamaan dalam gaya aristektur. Itu berkat dari jalur ini. Jadi jalur ini bukan hanya soal rempah dan periode datang dan pergi ke kawasan itu."

Walau interaksi budaya dan politik ada di masa lalu, jalur ini bisa dimanfaatkan di dunia modern seperti hari ini untuk menyelesaikan masalah-masalah mancanegara.

Ia memberi gambaran kasus seperti masalah Laut Tiongkok Selatan yang dirundung konflik antara Tiongkok dan negara-negara Asia Tenggara akibat sengketa perbatasan laut. Penyelesaian sengketa itu bisa dimulai dari penjagaan warisan sejarah yang tenggelam di sana yang juga bagian dari jalur rempah.

Lewat studi yang melibatkan negara-negara sekitar, dipercaya dapat membuka diskusi kerjasama untuk memabahas sengketa itu lewat bukti-bukti yang ada.

"Penjagaan ini tentunya butuh biaya untuk membayar untuk mencegah dampak [buruk], dan kerusakan peninggalan," Chiba berpendapat. "UNESCO bisa berperan di situ. Bukan sebagai eksploitasi yang banyak dipertanyakan sebagai trafficking heritage untuk komersial. Tetapi untuk para ilmuwan bisa mengkajinya."

Jika negara-negara sekitar mau melakukannya, menurutnya itu adalah langkah yang baik untuk langkah yang lebih jauh di depan untuk pengembangan pengetahuan dan sengketa.

Melansir dari Antara, sengketa Laut Tiongkok Selatan disebabkan batas laut yang masih rancu antara negara-negara sekitar seperti, Vietnam, Malaysia, Brunei, Filipina, dan Tiongkok.

Untuk menyelesaikannya, PBB mengengahinya dengan hukum internasional lewat UNCLOS. Tetapi hukum ini tak dipatuhi oleh Tiongkok dengan klaim sepihak.

Menurut pakar hukum Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana, hal itu disebabkan penetapan Nine Dash Line yang dilakukan Tiongkok yang dianggap sebagai tempat penangkapan ikan oleh nelayan tradisional mereka sejak dahulu.

Masalah temporer yang bisa ditangkap dari mempelajari jalur rempah, menurut Fefi Eka Wardiani Climate Reality Indonesia, adalah perubahan iklim. Ia berpendapat, bahwa rempah adalah tanaman epidemik yang hanya bisa tumbuh di tempat asalnya.

"Perubahan iklim akan berdampak pada tanaman epidemik seperti rempah. Itu akan membuatnya susah tumbuh dan jadi punah," katanya di forum tingkat mancanegara itu.

"Dampak ini setidaknya juga jadi kesadaran buat pengusaha rempah untuk mengetahui penyebab dan harus bertindak apa. Kalau rempah susah tumbuh bahkan punah, mau apa yang dijual?"

Menurut pakar hukum Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana, hal itu disebabkan penetapan Nine Dash Line yang dilakukan Tiongkok yang dianggap sebagai tempat penangkapan ikan oleh nelayan tradisional mereka sejak dahulu.

Masalah temporer yang bisa ditangkap dari mempelajari jalur rempah, menurut Fefi Eka Wardiani Climate Reality Indonesia, adalah perubahan iklim. Ia berpendapat, bahwa rempah adalah tanaman epidemik yang hanya bisa tumbuh di tempat asalnya.

"Perubahan iklim akan berdampak pada tanaman epidemik seperti rempah. Itu akan membuatnya susah tumbuh dan jadi punah," katanya di forum tingkat mancanegara itu.

"Dampak ini setidaknya juga jadi kesadaran buat pengusaha rempah untuk mengetahui penyebab dan harus bertindak apa. Kalau rempah susah tumbuh bahkan punah, mau apa yang dijual?".

Sumber: https://www.kba.one/news/jalur-rempah-rute-dagang-yang-menyimpan-solusi-masalah-masa-kini/index.html?page=all

LANGIT7.ID, Jakarta - Jalur rempah nusantara bisa jadi pijakan kerja sama global. Yayasan Negeri Rempah akan kembali menyelenggarakan IFSR pada 20-23 September 2021 secara daring.

Kegiatan International Forum on Spice Route (IFSR) 2021 ini bekerja sama dengan perkumpulan Maritim Muda Nusantara, Rumah Produktif Indonesia, Perhimpunan Masyarakat Etnobiologi Indonesia, dan Jaringan Masyarakat Negeri Rempah.

IFSR menyambut partisipan dari berbagai penjuru tanah air dan mancanegara untuk turut berbagi gagasan, pengetahuan dan pengalaman tentang jalur rempah.

Kegiatan IFSR 2021 mengusung tema Bridging Differences, Fostering Intercultural Understanding. Sebab jalur rempah dapat menjadi pijakan dalam melihat kembali berbagai kemungkinan kerja sama global mewujudkan persaudaraan dan perdamaian.

Ketua Dewan Pembina Yayasan Negeri Rempah, Hassan Wirajuda menyatakan, diplomasi budaya sesungguhnya bukan sesuatu yang baru. Sejak nenek moyang dulu sudah melakukannya dengan rancangan yang cukup canggih dan semangat 'tangan di atas'.

"Sangat banyak yang bisa kita tawarkan untuk berbagi dengan bangsa-bangsa lain karena keberagaman peradaban dan budaya kita," kata Hasan.

Ketua Yayasan Negeri Rempah, Kumoratih Kushardjanto, menambahkan bahwa jalur rempah bukan sekadar jalur perdagangan. Tapi seperti ruang silaturahmi dan pertukaran antarbudaya yang melampaui ruang dan waktu.

"Nusantara dari masa ke masa menjadi simpul penting pertukaran antarbudaya yang mempertemukan berbagai gagasan, konsep, ilmu pengetahuan, agama, bahasa, hingga budaya antarbangsa," ujar Kumoratih.

Jalur rempah diajukan sebagai warisan dunia ke UNESCO oleh pemerintah Indonesia. Upaya ini meningkatkan antusiasme masyarakat yang setidaknya sejak 2014 telah menggulirkan narasi jalur rempah dalam berbagai kegiatan yang bersifat sporadis.

Yayasan Negeri Rempah dan Jaringan Masyarakat Negeri Rempah, sebuah jejaring simpul komunitas yang tersebar di beberapa provinsi bahkan mancanegara, semakin gencar memberikan ruang untuk menyuarakan gagasan tentang jalur rempah.

Sumber: https://langit7.id/read/4203/1/jalur-rempah-nusantara-bisa-jadi-pijakan-kerja-sama-global-1631941784

Liputan6.com, Jakarta - Peran Indonesia dalam jalur rempah diyakini dimulai sejak ribuan tahun lalu. Namun, pernyataan itu masih membutuhkan bukti kuat dan pengakuan dari negara-negara lain. 

Hal tersebut dipaparkan oleh Bram Kushardjanto dari Yayasan Negeri Rempah dalam webinar International Forum on Spice Route (IFSR), Rabu, 22 September 2021. Menurut dia, untuk mendapatkan pengakuan Jalur Rempah Indonesia sebagai warisan dunia dari UNESCO, diperlukan bukti dan pengakuan dari negara-negara yang disinggahi para pedagang rempah dari kerajaan-kerajaan Nusantara pada zaman dahulu.

Ia meyakini, Indonesia berperan penting dalam perekonomian dunia karena posisi yang strategis sebagai jalur maritim dunia. "Indonesia memiliki posisi strategis karena menghubungkan Asia Timur, Asia Selatan, Timur Tengah sampai Eropa. Asia Tenggara mempunyai sumber komoditas yang paling dicari dan paling berharga, yaitu rempah-rempah," ucap Bram.

Potensi Jalur Rempah Indonesia juga diungkap Jajang Gunawijaya, pengamat pariwisata dari Universitas Indonesia (UI). Menurut Jajang, Jalur Rempah punya potensi besar bagi pariwisata Indonesia dan tidak kalah dari Jalur Sutra China yang sudah mendunia.

"Ada tiga potensi yang bisa digali dari Jalur Rempah bagi pariwisata Indonesia. Yang pertama wisata sejarah atau susur, wisata kuliner dan wisata wellness atau kebugaran. Ini kalau dimaksimalkan potensinya sangat besar untuk bidang pariwisata," terang Jajang.

Wisata sejarah ini, menurut Jajang, bisa berupa susur atau menyusuri beragam daerah penghasil rempah yang punya banyak cerita menarik. Wisata ini akan lebih mudah dilaksanakan kalau Jalur Rempah Indonesia nantinya sudah mendapat pengakuan dari UNESCO.

Kekayaan Kuliner Indonesia

093329200_1632332344-Rempah_2.jpeg

"Ada banyak cerita menarik dari sejarah rempah-rempah di Indonesia, mulai dari Maluku, Sulawesi sampai Samudra Pasai. Semuanya punya cerita tersendri tentang perkembangan rempah yang sangat disukai dan diincar bangsa Eropa dan bahkan seluruh dunia," kata Jajang.

Ia menambahkan, perjalanan atau wisata sejarah ini bahkan tak hanya menelusuri Indonesia, tapi juga ke negara Asia lainnya dan bahkan sampai ke Eropa. "Harga rempah itu sebenarnya murah, tapi begitu sampai di Eropa harganya bisa naik berkali-kali lipat karena butuh waktu lama untuk berlayar dari Indonesia ke Eropa. Mereka sangat menyukai rempah karena bisa mengawetkan makanan dan minuman dan juga bisa jadi obat-obatan alami," ungkapnya.

Di bidang wisata kuliner, menurut Jajang, potensinya lebih besar lagi bahkan sudah banyak diakui negara lain. Kekayaan kuliner Indonesia bisa dilihat dari tiap daerah yang hampir semuanya punya makanan khas.

"Kelebihan utama kuliner kita adalah berani memakai banyak bumbu karena kita punya banyak jenis rempah yang bisa membuat makanan semakin enak dan punya rasa yang khas. Kekayaan bumbu rempah ini jadi potensi wisata kuliner yang sangat besar," tutur Jajang.

Bugar dengan Rempah

047107900_1632332390-Rempah_3.jpeg

"Waktu Asian Games 2018 misalnya, banyak orang luar negeri yang datang dan mereka sangat suka makanan Indonesia karena punya banyak bumbu yang khas. Siapa yang tidak suka masakan Padang misalnya, banyak orang luar yang suka dan ketagihan, belum lagi dari daerah lainnya," sambungnya.

Potensi lainnya adalah wisata kebugaran. Ramuan dari rempah bisa digunakan untuk pengobatan dan perawatan tubuh secara alami. Rempah juga bisa dijadikan minuman jamu atau untuk pijat dan bahkan membuat minyak esensial.

Menurut Jajang, rempah banyak digunakan sebagai bahan utama di berbagai spa dan sauna di Indonesia. "Spa wellness di Indonesia berbeda dengan spa negara lain karena kita punya banyak bahan alami dari rempah yang sangat khas, seperti jahe, akar tumbuhan, daun pandan dan bunga sedap malam. Jadi, potensi rempah memang luar biasa," pungkasnya.

Daerah Penghasil Rempah di Indonesia

045876600_1629484009-210819_infografis_daerah_penghasil_rempah_di_indonesia_P.jpeg

Sumber: https://www.liputan6.com/lifestyle/read/4665459/jalur-rempah-indonesia-berpotensi-kembangkan-3-jenis-wisata-sekaligus

Indonesia Gastronomy Network in collaboration with Negeri Rempah Foundation are proud to partner with Google Arts and Culture.

This program is initiated by Indonesia Gastronomy Network as a collaborative program with communities, experts, academics, and industry players across the Creative Economy sub-sectors in culinary arts, illustrations, design, film, music, apps and digital.

Collaborators include Negeri Rempah Foundation, Tempeh Movement, Acaraki, and Rendang Minang Legacy to the World by Reno Andam Suri.

Visit us!

6 Spices that Changed the World
https://artsandculture.google.com/project/indonesian-gastronomy?hl=en

Nutmeg: The Taste of Moluccas
https://artsandculture.google.com/story/rwWx8qzkbCdG7g

Pepper: The King of Spices
https://artsandculture.google.com/story/cAUB34nBKnPEFA

Candlenut: The Spirit of Savoury Cuisine
https://artsandculture.google.com/story/wQVxSQpQn7HklA

Cinnamon: The Soul of Sweets
https://artsandculture.google.com/story/ZgVxN2tG11t5og

Cloves: The Fragrance of Moluccas
https://artsandculture.google.com/story/7wUxiEx3tr3ZrQ

Andaliman: The Treasure of Batak
https://artsandculture.google.com/story/MAVRsuZZfoSPMg

Dengan motto “Menjembatani Perbedaan, Menumbuhkan Pemahaman Antarbudaya”, forum ini berupaya menjadi wadah dialog lintas negara dan budaya tentang topik-topik terkait Jalur Rempah.

oleh Nazalea Kusuma 23 September 2021

Rempah-rempah pernah mengubah dunia. Secara substansi, rempah-rempah memiliki banyak fungsi alami. Secara historis, komoditas ini sangat mempengaruhi politik, ekonomi, budaya, dan konektivitas global. Demi rempah-rempah, dunia telah menempuh perjalanan panjang melintasi Asia Tenggara dari dan ke Asia Timur, Asia Selatan, Timur Tengah, dan Eropa. Aktivitas itu membentuk lalu lintas yang cukup padat, yang kemudian dikenal dengan Jalur Rempah.

Hingga saat ini, Jalur Rempah masih memberikan banyak kesempatan bagi kita untuk mempelajari masa lalu dan membangun inovasi dari sejarah kita, salah satunya melalui Forum Internasional Jalur Rempah – International Forum on Spice Route (IFSR) 2021. Acara tahunan ini diselenggarakan oleh Negeri Rempah Foundation. IFSR 2021 adalah acara virtual bebas biaya yang dimulai pada 20 September dan berakhir pada 23 September 2021.

Dengan motto “Menjembatani Perbedaan, Menumbuhkan Pemahaman Antarbudaya”, forum ini berupaya menjadi wadah dialog lintas negara dan budaya tentang topik-topik terkait Jalur Rempah. IFSR 2021 juga berharap dapat menumbuhkan persahabatan dan kerja sama yang kuat antara Indonesia dan negara lain yang memiliki warisan bersama ini.

Forum internasional ini mengusung tiga tema utama:

Identitas – Kesetaraan – Globalisasi

Tema ini membicarakan tentang sejarah diplomasi di sepanjang Jalur Rempah dan sebagai pintu masuk untuk kerja sama internasional. Kerja sama ini kemudian akan dapat memimpin menuju perdamaian global yang mengutamakan dialog, menjunjung tinggi harkat dan martabat kemanusiaan, serta mengakui dan menghormati warisan dan keragaman budaya dalam semangat keadilan dan kesetaraan.

Menelusuri Jalur Rempah Melalui Fitogeografi, Etnobotani, dan Jejaring Sosial Budaya

Fokus ini adalah tentang memetakan kembali Jalur Rempah melalui jejak budayanya. Migrasi manusia membawa ide, nilai, tradisi, sumber daya alam, dan budaya material melalui jaringan perdagangan global.

Budaya untuk Kreativitas, Inovasi, dan Pusat Mata Pencaharian

Tema ini membahas warisan bersama, budaya maritim, keanekaragaman hayati, pertukaran antarbudaya, dan ekonomi kreatif. Poin kunci dari pembahasan ini adalah bahwa pemahaman antarbudaya merupakan dasar bagi kreativitas dan inovasi.

Tema-tema ini akan disampaikan melalui dua belas kuliah umum, diskusi panel, sesi berbagi, dan kegiatan komunitas dalam empat hari.

  • Pada tanggal 20 September: Membangun Jaringan Cendekiawan Muda Indonesia di Luar Negeri; Meninjau Kembali Jalur Rempah dari Perspektif Fitogeografis dan Etnobotani; Menghubungkan Diaspora Indonesia; dan Identitas-Kesetaraan-Globalisasi. 
  • Pada 21 September: Budaya untuk Kreativitas, Inovasi dan Penciptaan Mata Pencaharian; Meninjau Kembali Jalur Rempah: Memetakan Kembali Jejaring Sosial Budaya; dan Presentasi Pemuda. 
  • Pada 22 September: Memahami Nominasi Warisan Dunia dan Memperkuat Gerakan Komunitas.
  • Pada tanggal 23 September: Budaya Maritim: Warisan Bawah Laut; Budaya Maritim: Teknologi Kapal; dan Dinamika Mobilitas Sosial Austronesia.

Sesi ini dipandu oleh para thought leaders, aktivis muda, dan komunitas yang ikut menyelenggarakan IFSR 2021 (Yayasan Negeri Rempah, Maritim Muda Nusantara, Rumah Produktif Indonesia, dan Perhimpunan Masyarakat Etnobiologi Indonesia). Green Network adalah salah satu dari banyak entitas yang mendukung IFSR 2021. Organisasi dan entitas pendukung lainnya termasuk UNESCO, Bank Indonesia, ICOMOS Indonesia (International Council on Monuments and Sites), Universitas Indonesia, dan banyak lainnya.

Kegiatan International Forum on Spice Route 2021 dapat diikuti dengan seksama melalui akun Instagram @negerirempah dan kanal YouTube Negeri Rempah Channel.

Penerjemah: Marlis Afridah

Sumber: https://greennetwork.id/kabar/2021/09/ifsr-2021-dari-sejarah-ke-inovasi-dan-pemahaman-antarbudaya/