Pada suatu waktu di masa lalu, rempah telah menjelma barang berharga yang sebanding dengan emas. Rempah pula yang mendatangkan kolonialisme di Bumi Nusantara. Namun, sudah pahamkah kita akan kekuatan rempah, sejarahnya di Tanah Air, juga potensinya di masa depan?

Bagi yang ingin memperluas wawasan atau literasinya mengenai rempah, Yayasan Negeri Rempah telah menerbitkan buku "Kisah Negeri-negeri di Bawah Angin" yang menggambarkan rekam jejak kemaritiman Nusantara dalam sejarah perdagangan rempah-rempah. Dalam kegiatan bedah buku dan jumpa pers virtual yang digelar Rabu (6/10), Sri Shindi Indira dari Beranda Warisan Sumatera mengungkapkan jika buku ini sangat menarik dan dapat dijadikan rujukan. "Buku yang terdiri dari 245 halaman ini memiliki gambar yang menarik dan komunikatif sekali. Selain itu, saya juga mencari beberapa buku lainnya yang merujuk ke literasi rempah untuk mengetahui sejauh mana literasi tentang rempah. Ternyata sudah ada banyak buku-buku tentang rempah," paparnya saat membedah buku tersebut. Dia juga menjelaskan bahwa kita perlu mencari tahu lebih mendalam terkait kekayaan bangsa kita. Dulunya, kita hanya mengenal rempah itu di wilayah Ternate dan Maluku. Lalu bagaimana dengan daerah lainnya. "Kenapa belum ada dan belum menyeluruh tentang informasi daerah-daerah yang dilalui. Ditelisik setiap daerah yang dilewati jalur perdagangan rempah pasti meniggalkan jejak mulai dari Pasai, Barus dan lainnya," jelasnya. Lebih lanjut, arsitek tersebut juga memaparkan jmengapa jalur tersebut tidak terkenal seperti Ternate dan Maluku maupun tempat lainnya. Menurutnya, pada buku yang telah dicetak dalam bahasa Inggris dengan judul "Tales of the Lands Beneath the Wind" ini telah mengompilasikan perjalanan dan jalur rempah. Dengan telah disebarkan ke berbagai negara di dunia diharapkan buku tersebut dapat dikenal di seluruh dunia. Pada bagian 1, Dunia Dimabuk Rempah, memaparkan bagaimana kekayaan Indonesia di kala itu akan rempah saat dunia dimabuk rempah. "Dunia Dimabuk Rempah, menarik sekali digambarkan grafisnya.  Bicara tentang zaman dahulu ada cerita tentang black death. Tiap 10 tahun adanya pandemi. Ini juga black death terjadi di abad ke-14 dan bisa diobati dengan rempah. Buku ini juga membahas manfaat rempah di zaman dahulu," imbuhnya. Kemudian, pada bagian berikut, Kisah Negeri-negeri di Bawah Angin, dimulai pembahasan tentang jalur rempah, mulai dari Barus, Tarumanegara, Sriwijaya, Mataram, Majapahit, Pasai, Nusa Tenggara, Banten, Kalimatan, Makassar, Maluku, hingga Papua. Dia mengungkapkan masih adanya jejak-jejak sejarah seperti bangunan-bangunan yang masih awet hingga kini, salah satunya di Barus.

"Kenapa adanya Candi Borobudur, apa kaitannya terhadap rempah. Pada saat adanya pembangunan mungkin di kala itu berpengaruh dengan jalur rempah," ungkapnya. Di bagian lagin, Sejarah Kemaritiman untuk Memandang Indonesia ke Depan, dia juga menjelaskan bahwa dengan adanya pemahaman literasi tentang budaya, kita bisa memanfaatkan secara positif jalur rempah negara kita yang sangat kaya ini, untuk khususnya pariwisata. "Di sini pembaca diajak merefleksikan bahwa dari dulu kita sudah kaya bahkan dari ribuan tahun. Lalu, apa yang harus dilakukan. Buku ini juga berisi cuplikan-cuplikan seperti peninggalan-peninggalan yang menjadi inspirasi untuk dikembangkan di masa depan Indonesia melalui pariwisata," lanjutnya.   Selain itu, dia juga membahas terkait epilog yang ada di buku tersebut yaitu Jalesveva Jayamahe, yang berarti jika kejayaan kita ada di laut. Pembaca diajak merefleksikan diri untuk melihat peran dan kontribusi kita untuk ikut melestarikan dan menjaganya. Kesimpulannya, buku yang akan diterbitkan hitam putih dengan tidak mengganggu cerita dan ilustrasinya ini diperlukan adanya sequel untuk menggali jejak rempah di daerah yang dilalui jalur rempah. Lewat buku ini juga dapat dijadikan pemanfaatan situs-situs cagar budaya dan pengembangkan pembangunan pariwisata hingga lanjutan lain seperti dokumentasi dan panduan konservasi, panduan pelestarian kebudayaan, konteks sosial ekonomi, dan lingkungan. Salah satu tim penyusun buku, Yanuardi Syukur mengatakan jika buku ini menjelaskan secara umum bagaimana negeri-negeri di bawah angin termasuk Indonesia dalam jalur rempah maritim. Buku ini juga tidak semata-mata bercerita tentang masa lalu tetapi juga melihat apa yang bisa diangkat di masa depan. Yayasan Negeri Rempah akan menerbitkan buku "Kisah Negeri-negeri di Bawah Angin" ini dalam bahasa Indonesia dengan dukungan dari Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Sumatera Utara hingga disalurkan ke berbagai perpustakaan dan komunitas di kota Medan secara gratis. (M-2)

Sumber: https://mediaindonesia.com/weekend/438344/jejak-dan-daya-rempah-nusantara-dalam-buku-kisah-negeri-negeri-di-bawah-angin