Liputan6.com, Jakarta - Peran Indonesia dalam jalur rempah diyakini dimulai sejak ribuan tahun lalu. Namun, pernyataan itu masih membutuhkan bukti kuat dan pengakuan dari negara-negara lain. 

Hal tersebut dipaparkan oleh Bram Kushardjanto dari Yayasan Negeri Rempah dalam webinar International Forum on Spice Route (IFSR), Rabu, 22 September 2021. Menurut dia, untuk mendapatkan pengakuan Jalur Rempah Indonesia sebagai warisan dunia dari UNESCO, diperlukan bukti dan pengakuan dari negara-negara yang disinggahi para pedagang rempah dari kerajaan-kerajaan Nusantara pada zaman dahulu.

Ia meyakini, Indonesia berperan penting dalam perekonomian dunia karena posisi yang strategis sebagai jalur maritim dunia. "Indonesia memiliki posisi strategis karena menghubungkan Asia Timur, Asia Selatan, Timur Tengah sampai Eropa. Asia Tenggara mempunyai sumber komoditas yang paling dicari dan paling berharga, yaitu rempah-rempah," ucap Bram.

Potensi Jalur Rempah Indonesia juga diungkap Jajang Gunawijaya, pengamat pariwisata dari Universitas Indonesia (UI). Menurut Jajang, Jalur Rempah punya potensi besar bagi pariwisata Indonesia dan tidak kalah dari Jalur Sutra China yang sudah mendunia.

"Ada tiga potensi yang bisa digali dari Jalur Rempah bagi pariwisata Indonesia. Yang pertama wisata sejarah atau susur, wisata kuliner dan wisata wellness atau kebugaran. Ini kalau dimaksimalkan potensinya sangat besar untuk bidang pariwisata," terang Jajang.

Wisata sejarah ini, menurut Jajang, bisa berupa susur atau menyusuri beragam daerah penghasil rempah yang punya banyak cerita menarik. Wisata ini akan lebih mudah dilaksanakan kalau Jalur Rempah Indonesia nantinya sudah mendapat pengakuan dari UNESCO.

Kekayaan Kuliner Indonesia

093329200_1632332344-Rempah_2.jpeg

"Ada banyak cerita menarik dari sejarah rempah-rempah di Indonesia, mulai dari Maluku, Sulawesi sampai Samudra Pasai. Semuanya punya cerita tersendri tentang perkembangan rempah yang sangat disukai dan diincar bangsa Eropa dan bahkan seluruh dunia," kata Jajang.

Ia menambahkan, perjalanan atau wisata sejarah ini bahkan tak hanya menelusuri Indonesia, tapi juga ke negara Asia lainnya dan bahkan sampai ke Eropa. "Harga rempah itu sebenarnya murah, tapi begitu sampai di Eropa harganya bisa naik berkali-kali lipat karena butuh waktu lama untuk berlayar dari Indonesia ke Eropa. Mereka sangat menyukai rempah karena bisa mengawetkan makanan dan minuman dan juga bisa jadi obat-obatan alami," ungkapnya.

Di bidang wisata kuliner, menurut Jajang, potensinya lebih besar lagi bahkan sudah banyak diakui negara lain. Kekayaan kuliner Indonesia bisa dilihat dari tiap daerah yang hampir semuanya punya makanan khas.

"Kelebihan utama kuliner kita adalah berani memakai banyak bumbu karena kita punya banyak jenis rempah yang bisa membuat makanan semakin enak dan punya rasa yang khas. Kekayaan bumbu rempah ini jadi potensi wisata kuliner yang sangat besar," tutur Jajang.

Bugar dengan Rempah

047107900_1632332390-Rempah_3.jpeg

"Waktu Asian Games 2018 misalnya, banyak orang luar negeri yang datang dan mereka sangat suka makanan Indonesia karena punya banyak bumbu yang khas. Siapa yang tidak suka masakan Padang misalnya, banyak orang luar yang suka dan ketagihan, belum lagi dari daerah lainnya," sambungnya.

Potensi lainnya adalah wisata kebugaran. Ramuan dari rempah bisa digunakan untuk pengobatan dan perawatan tubuh secara alami. Rempah juga bisa dijadikan minuman jamu atau untuk pijat dan bahkan membuat minyak esensial.

Menurut Jajang, rempah banyak digunakan sebagai bahan utama di berbagai spa dan sauna di Indonesia. "Spa wellness di Indonesia berbeda dengan spa negara lain karena kita punya banyak bahan alami dari rempah yang sangat khas, seperti jahe, akar tumbuhan, daun pandan dan bunga sedap malam. Jadi, potensi rempah memang luar biasa," pungkasnya.

Daerah Penghasil Rempah di Indonesia

045876600_1629484009-210819_infografis_daerah_penghasil_rempah_di_indonesia_P.jpeg

Sumber: https://www.liputan6.com/lifestyle/read/4665459/jalur-rempah-indonesia-berpotensi-kembangkan-3-jenis-wisata-sekaligus