Cerita Gelap di Balik Jalur Rempah: Pelacuran, Perbudakan, Kriminalitas dan Kekerasan

Risalah Hari 1 – International Forum on Spice Route (IFSR) – 19 Maret 2019

Pembicara: Dr. Junus Satrio Atmodjo  |  Dave Lumenta, Ph.D.   |  Moderator: Irfan Nugraha, M.Si.

Siapakah para pelaut? Rupanya, di balik imajinasi kita atas sosok pelaut yang maskulin, gagah, berani mengarungi lautan, terutama dari belahan Dunia Barat, Dr. Junus Satrio Atmojo dan Dave Lumenta mengungkapkan, sebagian dari pelaut tidak lain adalah para kriminal, orang-orang pelarian dan para budak. Sebabnya, berlaut bukan soal yang mudah. Sekali layar terpasang, baru bertahun-tahun bisa kembali. Tantangan itu menyebabkan, profesi pelaut bukan untuk sembarang orang, namun lebih banyak menarik orang-orang yang punya perilaku kelam, petualang nekad, atau orang-orang yang kebebasannya direnggut paksa. Inilah yang kelak menimbulkan kisah gelap lainnya, pelacuran. Pelabuhan akrab dengan pelacuran. Senantiasa, ada perempuan yang menjajakan tubuhnya. Perjalanan panjang di atas kapal menyebabkan para awaknya yang sebagian besar berperilaku miring membutuhkan tubuh perempuan. Terkisahlah, dalam hikayat Persia, kerinduan para pelaut akan tubuh perempuan yang dapat membuat tidur nyenyak, yang tidak lain merujuk para perempuan bertubuh subur, postur kesenangan para pelaut. Namun, munculnya pelacuran, tidak dapat dilihat dalam pandangan moral yang menyalahkannya semata. Bagaimana pun, kehadiran pelacuran adalah kebutuhan biologis dari para pelaut. Jika tidak direspon, seperti terjadi di catatan sejarah, awak di suatu kapal milik Inggris melakukan pemberontakan akibat dilarang kaptennya melarang awaknya berlabuh demi alasan bercinta. Pandangan serupa terjadi pula dalam perbudakan. Perbudakan yang terjadi sepanjang perdagangan rempah di masa lalu muncul akibat kebutuhan ekonomi, baik untuk mencari tenaga murah atau bahkan menjadikan budak sebagai komoditas. Inilah yang menyebabkan muncul banyak kisah rakyat mengenai tindak tanduk para lanun yang siap menculik anak-anak di sepanjang pesisir untuk menjadi budak.

Terjadinya pelacuran, perbudakan serta kisah kelam lainnya dapat menjadi refleksi dalam memaknai sejarah di masa kini. Sebabnya, berlaut menfasilitasi beragam praktik, tidak saja berdagang, tapi juga orang-orang yang ingin berziarah atau menjauhkan diri dari dominasi kekuasaan. Logika hukum dan moral bagi pelaut belum tentu bisa disamakan dengan norma kehidupan di darat, sebab kebutuhan dan cara bertahan hidupnya harus disesuaikan dengan aktivitas kehidupan di pelabuhan dan laut. Oleh sebab itu, kita harus menghindari pemaknaan sejarah yang seringkali terfokus pada persoalan kronologis, tetapi melupakan hubungan sebab-akibat pada sejumlah peristiwa atau praktik. Fokus pada proses sejarah itu sendiri, bukan pada suatu peristiwa, namun bagaimana menyadari suatu peristiwa dapat berpotensi atau menghasilkan perubahan atas relasi sosial, bahkan menyiptakan kelas dan kelompok masyarakat anyar yang adakalanya mencoba meniru bangsa yang menjajahnya, gaya hidup maupun praktik ekonominya.

Close Menu