Social Formation (1)

Risalah Hari 1 – International Forum on Spice Route (IFSR) – 19 Maret 2019

Pembicara: Fadly Rahman, M.Si. (Indonesia)  |  Dave Lumenta, Ph.D. (Indonesia)   |  Moderator: Ibnu Natzier, M.Sc.

Perdagangan rempah dunia memiliki andil penting dalam pertukaran budaya serta dinamika komposisi masyarakat yang saling mempengaruhi. Fadly Rahman mengisahkan makanan merupakan salah satu unsur sederhana, namun dapat menjelaskan secara gamblang proses akulturasi budaya yang terjadi dari kelompok masyarakat berbeda. Pertukaran tanaman pangan dari berbagai belahan dunia pada abad pertengahan serta eksplorasi dan perdagangan rempah-rempah dunia telah menciptakan hubungan erat antara nusantara dengan berbagai bangsa dunia seperti India, Cina, Arab, dan Eropa. Kepulauan nusantara pada saat itu, sebagai sentral dari jalur rempah, menghasilkan ragam variasi budaya makanan. Sebagian besar budaya makanan di Indonesia sekarang berasal dari asing. Refleksi mengenai harmonisnya interaksi antar suku bangsa dunia yang terlibat dalam perdagangan rempah dapat terlihat dari sudut pandang budaya makanan (food culture). Dalam hal ini, formasi sosial manusia Nusantara mengalami transformasi dengan terjadinya pernikahan dan kerjasama dagang sepanjang aktivitas perdagangan rempah dilakukan.

Sementara itu, dari sudut pandang lain, Dave Lumenta memandang peran penting komoditas rempah bagi Orang Kenyah yakni: pertama, pemahaman mengenai sirkuit maritim di tengah daratan Kalimantan yang tampak mengisolasi; kedua, mengenali keadaan geomorfologi sungai melalui perjalanan perdagangan; ketiga, pemahaman mengenai logistik perjalanan. Perdagangan rempah tidak hanya menyebabkan komoditasnya saja yang mengalami perpindahan tangan, tetapi juga membentuk jalinan relasi sosial (formasi sosial) yang melibatkan banyak orang dan suku bangsa. Jalur rempah sebagai sebuah warisan, harus berfokus tidak hanya pada komoditas rempahnya saja tetapi yang menarik adalah social arrangement yang ditinggalkan oleh perdagangan ini.

Close Menu