Maritime Network and State Formation (1)

Risalah Hari 2 – International Forum on Spice Route (IFSR) – 20 Maret 2019

Pembicara: Prof. Dr. Hanafi Hussin (Malaysia)  |  Prof. Dr. Rusmin Tumanggor (Indonesia)  |  Dr. Ninie Susanti (Indonesia)  |  Moderator: Dr. Junus Satrio Atmodjo

Perdagangan rempah dunia berpengaruh terhadap perkembangan budaya dan sistem pemerintahan pada kawasan geografis jalur perdagangan yang dilaluinya. Salah satu warisan perubahan sosial yang diturunkan dari jalur perdagangan rempah adalah Indianization dari para Gujarat India. Pada konteks ini, konsep the mandala (pengaruh kekuasaan yang berpusat dan tersentralisasi) merupakan proyeksi dari terbentuknya struktur kekuasaan berbagai kerajaan (kemudian formasi negara) yang muncul di Asia Tenggara, termasuk Nusantara. Lebih lanjut, Angkor Wat dan Borobudur sebagai representasi the mandala menjadi ikon dalam terbentuknya nation pride pada formasi negara. Perdagangan rempah, dengan pemanfaatannya yang bernilai tinggi, membuat rempah dapat menghasilkan keuntungan ekonomi luar biasa. Hal ini mendorong rempah menjadi komoditas bisnis dari hulu hingga hilir dan mendunia, namun tidak semua negara memiliki sumber daya rempah sehingga terdapat dua kemungkinan sistem ekonomi yang mungkin tercipta yakni kolonialisme dan fair trade system. Pembahasan berbeda dapat dilakukan dengan melihat bagaimana Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit mengembangkan hegemoni kekuasaan terhadap komuni-komuni di sekitarnya agar dapat andil dalam perdagangan rempah tetapi tetap dalam pengaruh kekuasaan dua kerajaan tersebut. Hegemoni kekuasaan dalam perdagangan rempah di Nusantara berawal dari konsep the mandala yang dibawa oleh Gujarat India. Berbagai temuan prasasti di dua wilayah kerajaan tersebut mendukung pernyataan bahwa Sriwijaya dan Majapahit memiliki kekuasaan yang terus direproduksi sebagai ingatan bersama (collective memory) atas komuni-komuni di sekitarnya, memperkuat pengaruh dan otoritas atas jalur perdagangan rempah Nusantara.

Close Menu