(Imagining) Indonesia as a Maritime State and the World Maritime Axis Historical Reflection

Risalah Hari 3 – International Forum on Spice Route (IFSR) – 21 Maret 2019

Kuliah Umum: Prof. Dr. Singgih Tri Sulistyono

Arah pembangunan Indonesia sebagai negara poros maritim dunia selayaknya berefleksi pada dua hal. Pertama, refleksi terhadap kunci keberhasilan dan kehancuran pada sejarah ketika nusantara, Sriwijaya dan Majapahit, berkuasa dan berperan sentral dalam perdagangan rempah dunia. Kedua, arah pembangunan poros maritim Indonesia apakah berpihak kepada rakyat atau ekspansi ekonomi asing. Secara konsep, merujuk pada Indonesia sebagai negara kepulauan saat ini, terdapat perbedaan antara negara kepulauan dan negara maritim. Negara kepulauan cenderung bersifat given, Indonesia dikaruniai gugusan pulau-pulau dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Sementara negara maritim lebih menitikberatkan bagaimana pengelolaan negara mampu memperoleh manfaat dari sumber daya air yang ada secara maksimal. Dalam refleksi sejarah, terdapat beberapa faktor yang menjadi kunci sukses keberhasilan negara maritim: (1) kemampuan produksi komoditas yang dibutuhkan pasar internasional; (2) kemampuan mengontrol dan menguasai kawasan strategis; (3) kemampuan menyinergikan potensi darat dan laut [tidak ada dikotomi antara darat dan laut]; (4) kemampuan (armada) infrastruktur kemaritiman; dan (5) kemampuan dalam kontrol dan negosiasi dengan orang asing. Di sisi lain, interupsi kekuasaan dan kekuatan kolonialisme yang kemudian melakukan monopoli perdagangan merupakan benang merah dari hancurnya kejayaan maritim nusantara di masa lalu, “kunci kegagalan adalah perpecahan dan intrik internal, ketika ada orang atau kelompok tertentu bekerja sama dengan asing untuk kepentingan mereka sendiri”. Paradigma pembangunan negara maritim harus terejawantahkan dalam berbagai elemen penggerak negara.

Close Menu