Loading...

“Menjembatani Perbedaan, Membina Pemahaman Antarbudaya”

Globalisasi telah terjadi ratusan tahun sebelum konsep 'modern' ditemukan. Sejak awal tumbuhnya peradaban manusia, tidak ada bangsa-bangsa di dunia yang bebas dari dua pengaruh besar yang mempengaruhinya, yaitu komunikasi dan budaya. Kedua pengaruh ini memainkan peran penting di dalam proses pertukaran pengetahuan dan pergerakan manusia yang membentuk dunia seperti keadaannya sekarang, dipengaruhi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar yang terus berubah sepanjang masa. Rempah sebagai kekayaan botani menjadi topik yang menarik dibahas di dalam konteks perkembangan peradaban tersebut, sebagai obat dan sebagai bahan pangan yang memperkaya rasa masakan. Sejarah mencatat bagaimana bangsa-bangsa dari belahan bumi berbeda melakukan pelayaran ribuan kilometer untuk memperoleh rempah, dan bagaimana masyarakat pedalaman mengolah bahan-bahan alami dibawa ke luar wilayah mereka melalui jaringan transportasi yang rumit, melibatkan banyak komunitas dan mencakup ruang yang sangat luas. Namun awalnya tidak semua orang menyadari bahwa bahan-bahan sederhana seperti lada, jahe, cengkeh, atau teh selama 600 tahun ke belakang berubah menjadi komoditas yang memengaruhi ekonomi dunia.

Sebagai komoditas, rempah-rempah memainkan peran yang unik. Rempah-rempah melebihi fungsi alamiahnya, mempengaruhi pola hidup dan pengetahuan masyarakat lintas budaya dan bangsa. Di sinilah pengetahuan pelayaran sungai dan laut mengambil perannya dalam mensirkulasikan produk-produk tersebut menjadi komoditas ekonomi yang mendorong perdagangan. Tak hanya itu, jalur darat yang sudah terbentuk berkontribusi langsung membentuk jaringan pertukaran lintas wilayah yang sangat luas, di mana produsen dan pengguna rempah-rempah tidak pernah bertatap muka karena mereka tinggal di tempat yang berjauhan. Tidak dapat disangkal bahwa pelayaran dan perdagangan pada akhirnya membawa dampak pada budidaya rempah. Catatan-catatan sejarah di awal masehi, bahkan sebelumnya, mengindikasikan bahwa teknologi navigasi dan perkapalan berpengaruh besar dalam pergerakan rempah dibawa ke wilayah-wilayah jauh di seluruh dunia, khususnya antara Asia, Afrika, dan Eropa. Tidak ada satu negara atau bangsa yang dapat mengklaim bahwa mereka merupakan pusat penting dalam sistem perdagangan rempah di muka bumi. Setiap wilayah dan komunitas memberikan kontribusi uniknya mendukung pertukaran tersebut. Di masa itu rempah bukan lagi sekedar hasil budidaya domestik tetapi sudah berubah menjadi komoditas produksi untuk memenuhi pasar global, yang berlangsung lama sampai dengan masuknya gelombang bangsa-bangsa Eropa ke Asia di abad ke-16, memperkenalkan monopoli perdagangan melalui sistem kolonisasi wilayah.

Lebih dari sekedar koridor perdagangan, jalur rempah telah menjadi warisan dimana terjadi apresiasi terhadap keragaman dan akulturasi. Setiap pelabuhan dan kota dalam koridor jalur rempah selalu menjadi persemaian budaya dan ide dari berbagai bangsa. Setiap unsur budaya yang mengalir dalam koridor jalur rempah tidak menempati unsur budaya lain, melainkan justru mewariskan suatu pola budaya yang eksklusif, kesatuan budaya yang kaya tersebut diwariskan kepada generasi berikutnya – suatu kekayaan budaya yang bersifat inklusif sebagai warisan bersama, karena otentisitas satu budaya tidak tercipta tanpa integrasi budaya lain.

Kini, pengakuan kita terhadap kontribusi Jalur Rempah memberi kita momentum untuk meninjau kembali keberagaman dan akulturasi antar bangsa. Sejarah telah mencatat bahwa pencapaian peradaban manusia tidak pernah lepas dari kerjasama internasional. Melalui Jalur Rempah, kita dapat temukan kembali kesamaan nilai-nilai universal antar bangsa.

Tentang Program

International Forum on Spice Route (IFSR) merupakan sebuah forum tahunan yang membuka peluang dialog lintas batas dan lintas budaya dalam meninjau kembali jejak kemaritiman berbasis Jalur Rempah yang menjadi pusaka alam dan pusaka budaya warisan bersama dalam lingkup regional.

Tujuan

  • Mempererat persahabatan dan kerjasama antara Indonesia dengan negara-negara lain yang memiliki kesamaan warisan.
  • Menyediakan platform untuk pertukaran pengetahuan dan pemahaman antar budaya melalui program kerjasama berskala internasional.

Program

Kuliah umum, diskusi panel,sesi berbagi, dan kegiatan komunitas.

Partisipan

  • Lembaga Pemerintahan
  • Organisasi non-pemerintah
  • Perwakilan Organisasi/Lembaga Internasional
  • Akademisi, peneliti, pendidik, pemerhati, siswa
  • Media
  • Publik / komunitas