Loading...

When we think of the history of spice we often start with the protection rackets, piracy, and massacres of the East India companies. But the world trade in spices is not something that begins with the European age of sail in the sixteenth century. It’s far more ancient. The search for spice has led to travel, exploration and cross-cultural influences for millennia. The Indonesian maritime spice routes helped define the extent and culture of Nusantara, or what we now call Indonesia. Focussing on nutmeg and clove, this program explores the history of these ingredients from 3,500 years ago to today, with interviews, poetry, natural sound and music of the Spice Islands.

Guests:

Ian Burnet

Kumoratih Kushardjanto

Barbara Santich

Danielle Clode

Reader:

Michael Baldwin

Duration: 33min 25sec

More Information

Presenter: Hetty McKinnon

Sound engineer: Tom Henry

Writer, producer: Mike Ladd

Credits

Presenter: Hetty McKinnon

Sound Engineer: Tom Henry

Producer: Mike Ladd

Sumber: https://www.abc.net.au/radionational/programs/the-history-listen/the-kitchen-table-a-taste-of-the-past-ep-4-spice/13279896

Indonesian Diaspora Business Council (IDBC) dan Negeri Rempah Foundation (NRF) menandatangani kerja sama untuk mengangkat rempah Indonesia mendunia. Seperti kita ketahui, Indonesia adalah negeri yang kaya akan rempah-rempah, namun sayangnya, rempah-rempah Vietnam, Thailand dan Malaysia justru lebih mendominasi di pasar mancanegara. Langkah kerja sama strategis ini, diharapkan bisa terbangun kolaborasi yang kuat antara diaspora Indonesia dan komunitas yang berada di bawah NRF.

Penandatanganan nota kesepahaman ini dilakukan oleh Presiden IDBC,Fify Manan, dan Ketua Yayasan Negeri Rempah, Kumoratih Kushardjanto, disaksikan oleh Wakil Presiden IDBC Astrid Vasile (Australia), perwakilan dari Dewan Pengurus Yayasan Negeri Rempah dan Koordinator Program Pasarempah, Chaedar Saleh Reksalegora.

NRF yang salah satu pendirinya adalah Hasan Wirayuda, mantan Menteri Luar Negeri RI, telah dikenal sejak lama dengan komunitasnya. Bukan saja dalam hal pengembangan sisi ekonomi bisnis dari rempah-rempah Indonesia, tapi juga membangun narasi bahwa  melalui rempah-rempah, juga menjadi ajang mengenalkan budaya, nilai dan keberagaman. Hal ini disampaikan Kumoratih atau akrab disapa Ratih, pendiri lain NRF saat penandatanganan kerja sama ini secara virtual (02/09/2021).

“Peran diaspora Indonesia amat besar dalam mempromosikan Indonesia. Apalagi, saat ini Indonesia tengah berupaya untuk menominasikan Jalur Rempah sebagai World Heritage. Kita perlu mempererat persahabatan dan kerja sama dengan negara-negara sahabat.. Dengan dukungan diaspora Indonesia, kita dapat mengambil langkah awal yang baik menuju tujuan kita, termasuk strategi untuk mengembangkan usaha di negara lain tempat diaspora kita berada. Narasi Jalur Rempah dapat turut memperkuat diplomasi Indonesia dalam konteks ekonomi,” ujar Ratih.

Di sisi lain, Fify mengatakan Indonesia sebagai negara kepulauan terpendam harta karun yang sangat berharga yaitu rempah. “Indonesia merupakan surga dunia untuk rempah, mestinya ini bukan sekadar komoditi, tapi harus dengan value added kita bisa ekspor rempah-rembah sebagai bahan olahan bumbu masak. Saat ini bumbu rempah olahan didominasi Thailand, Vietnam dan Malaysia. Bumbu masakan Indonesia mestinya bisa lebih luas peluangnya, agar kesejahteraan UMKM meningkat juga petani Indonesia,” tandasnya.

Fifi menambahkan kuliner Indonesia harus bisa mendunia jika bumbu rempahnya juga mendunia. “Para diaspora yang bergerak di bidang kuliner yang terbanyak saat ini, dengan kerja sama ini, saya yakin bisa mendukung bisnis mereka,” ujarnya. Lalu dengan berkembangnya pemasaran secara online, IDBC sebelumnya telah mengembangkan IDBC Trade Link. Dijelaskan Diski, tim dalam pengembangan teknologi di IDBC, bahwa akan banyak membuka peluang dengan memasukkan komunitas di bawah NRF, yang merupakan UMKM rempah,  terkoneksi dengan diaspora yang membutuhkan rempah-rempah.

IDBC TradeLink bukan sekadar e-commerce, lanjut Diski,  karena di dalamnya juga menjadi tempat promosi dan kolaborasi perdagangan virtual, serta dapat turut menampung informasi para pelaku UMKM. Termasuk di dalamnya, Pasarempah, yang bisa membawa komunitas ini ke pasar global. Platform ini dapat diakses melalui situs idbc-tradelink.com.

Tujuan platform ini adalah menghubungkan peluang bisnis di antara Diaspora Indonesia di seluruh dunia dan mempercepat promosi bisnis Indonesia; menyediakan platform direktori bisnis yang komprehensif sebagai sumber data tunggal untuk bisnis Diaspora Indonesia; serta mengakomodir kolaborasi bisnis melalui platform interaksi seluler yang mudah digunakan.

img IDBC NRF 3412

Ke depannya, IDBC dan Negeri Rempah akan menggelar berbagai kegiatan diskusi dan bincang virtual yang mengetengahkan beragam topik dan narasumber yang menginspirasi. Melalui platform Tradelink, kolaborasi menjadi lebih mudah karena platform ini memiliki kapasitas untuk menyediakan "forum" yang sederhana dan mudah diakses oleh para anggotanya.

Astrid mengatakan kolaborasi adalah alat bisnis yang kuat untuk komunitas bisnis, terlepas dari ukuran atau industri mereka. Ada rasa urgensi untuk dapat memenuhi berbagai kebutuhan banyak pihak yang berkepentingan dalam peluang ekonomi UKM ini. “Prioritas kami adalah untuk menampilkan bisnis luar biasa kepada komunitas ekspor, bangsa dan Diaspora Internasional, dan menghubungkan peluang bisnis di antara diaspora Indonesia di seluruh dunia dan mempercepat promosi bisnis Indonesia,” terangnya.

Fify menyebut saat ini ada 12 juta diaspora di seluruh dunia dan TradeLink bergerak untuk membuktikan model platform yang unik, mendorong produktivitas melalui desain dan pengembangan terintegrasi di semua bidang Mode dan aktivitas industri lainnya.

Ratih menambahkan bahwa berkat komoditas rempah-rempah, Nusantara dari masa ke masa menjadi tempat bertemunya manusia dari berbagai belahan dunia yang sebagian besar memiliki semangat bukan semata untuk berdagang, tetapi juga untuk membangun peradaban. Jalur perdagangan rempah inilah yang menjadi sarana bagi pertukaran antarbudaya yang berkontribusi penting dalam membentuk peradaban dunia.

“Melalui rempah, kita bisa mengembangkan new sense of identity, jalur rempah sebagai warisan dunia, literasi tentang budaya harus kita sebarkan bersama. Bukan saja terkait pengembangan ekonomi, inilah saatnya rempah bisa memproyeksikan value Indonesia ke dunia. Kolaborasi ini bisa membuka ruang lebih luas, yang telah bergabung dengan yayasan ini, baik yang tidak terkait ekonomi maupun para UMKM,” ujar Ratih.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Sumber: https://swa.co.id/diaspora/idbc-nrf-akan-bawa-rempah-indonesia-mendunia

Simak bincang ringan tentang aktivitas Negeri Rempah sebagai gerakan literasi. Bincang ringan bersama Kumoratih Kushardjanto dipandu oleh Arief Budiman dan diudarakan pada hari Jumat, 3 September 2021 di stasiun Radio Republik Indonesia (RRI) Pro 4 FM.

Media Art Globale (MAG) proudly presents:

MAG21 
INFINITY 
An Adaptation Movement of Garden Indonesia

Proudly bring Indonesian & international artists, speakers and lectures to 42nd Ars Electronica Festival. We elaborate our heritage, nature and spices through Media Art Globale Festival : INFINITY.

Negeri Rempah Foundation will be part of this exciting festival!

The virtual exhibition will be held on www.mediaartglobale.com and https://ars.electronica.art/

From 8 September to 12 September 2021.

Stay tune for further information!

Tales of The Lands Beneath the Winds is not only about the historical spice trade and its route. It is also a valuable tool for analyzing the present and the future of global issues and solutions, such as the climate crisis. The authors reflect compelling stories of places, nature, goods, and power struggle, illustrating what we have to take into account in this modern times.

 

- Amanda Katili, Ph.D.

(Postscriptum Webinar Kisah Para Pengarung Lautan)

Oleh: JB Kleden*

1630470509394

KETIKA jatuhsenja tak seorangpun berpikir akan kembalikah matahari karena ia pasti akan kembali. Tetapi perjalanan hidup manusia, tidaklah sepasti matahari.  Di bawah matahari yang abadi hanyalah perubahan itu sendiri. Maka pertanyaan mengganjal yang dilontarkan Bona Beding di akhir webinar tersebut “akankah tradisi lokal ini akan berakhir” tidak lebih dari sebuah purbasangka, mungkin juga tak perlu ditanyakan. Bukankah sudah sejak satu dasawarsa yang lalu dunia sudah merayakan kelahiran perahu bertenaga surya? 

1630472447050

 

Tapi jika itu berkaitan dengan pewarisan nilai, baiklah kita ingat bahwa tradisi atau budaya lokal, bahkan mungkin juga sebuah peradaban, seperti dikatakan Paul Recoeur seorang filsuf kontemporer Prancis yang penting, tidak akan bisa hidup, bertahan dan berkembang tanpa ethyco-mythical nucleus. Menggunakan bahasa fisika, inilah inti atom setiap kebudayaan yang mengingat dan mengatur seluruh molekul peredaran kegiatan masyarakat. Karena di sana ada kompleks nilai paling asasi yang merupakan central point of reference bagi setiap orang yang hidup di dalamnya serta merupakan sumber inspirasi bagi kreatifitasnya.

Pengalaman dan ekspresi ketiga penutur kisah ini merupakan upaya untuk menemukan dan mendokumentasikan apa yang menjadi inti atom dari sejarah bahari tanah air kita. Betapapun kita juga paham bahwa sejarah sebagaimana ia dikisahkan berbeda dengan sejarah sebagaimana ia terjadi. Tetapi kisah para pengarung lautan ini telah menjadi apa yang oleh para ahli sejarah disebut sebagai pintu masuk untuk menemukan sumber-sumber yang membantu merekonstruksikan sejarah kehidupan bahari pada suatu masa dulu kala, sebagaimana ia dikisahkan nenek moyang kita yang tak pernah bisa kembali lagi itu. 

                                                                                                      ***

1630473577956

SETIAP kali memandang laut saya selalu memandangnya dengan dengan raya takyub yang luar biasa. Dari detik ke detik laut terus mengirimkan ombaknya ke pantai membentuk buih-buih yang tak pernah berakhir. Sesekali saya berusaha menemukan rahasia di balik riaknya. Tapi tetap saja misteri. Di derunya gelombang muncul beribu-ribu tanda yang tak sepenuhnya terjawab. 

Hanya ada satu hal yang pasti dari laut. Selalu memberi tak harap kembali. Bagai sang surya menyinari dunia. Kita menjejalkan berjuta-juta ton sampah dan limbah ke rahimnya, tetapi ia membalasnya dengan mengirimkan berjuta-juta biota laut bagi keberlangsungan hidup kita. Mantra laut adalah mantra ibu. Mantra ibu adalah mantra kehidupan. Mantra kehidupan adalah mantra penciptaan.

“Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.” (Kej.1:1) Lalu berfirmanlah Allah…dan jadilah cakrawala di tengah segala air untuk memisahkan air dari segala air…. Lalu dari air itu tumbuhkan daratan dan kehidupan. Dengan demikian, kisah samudera raya, dari sebermula, adalah kisah tentang kehidupan. 

Dan kehidupan kita saat ini sedang terancam karena rusaknya lautan. Menurut para ahli geologi besarnya bencana yang saat ini menimpa lautan, akan membuat karang tak sanggup lagi membentuk terumbu, yang dalam sejarah geologi dicatat sebagai “Kesenjangan Karang”. Kesenjangan karang merupakan merupakan ciri khas dari lima kemusnahan besar massal yang telah terjadi dalam sejarah bumi. Kepunahan masal terakhir, terjadi sekitar 75 juta tahun yang lalu di akhir periode Kretaseus akibat dampak asteroid yang memusnahkan berbagai jenis saurus dan amonit. 

                                                                                                           ***

NEGARA Kesatuan Republik Indonesia adalah negara kepulauan, nusantara. Gugusan pulau yang bertaburan di atas laut (archipelago). Kita menjadi sebuah negara kesatuan karena laut melingkupi kita. Maka laut sesungguhnya adalah sebuah rumah besar kita bersama: Rumah Indonesia Raya. Rumah bukan sebagai tempat asal yang tertutup, tetapi rumah yang tumbuh justeru karena adanya kepelbagaian yang ada di bentangannya. 

1630479179730

Laut adalah rumah besar Indonesia, mungkin karena itulah di atasnya setiap kita boleh pergi dan pulang. Ia sumber hidup, meskipun tidak selalu tenang seperti tasik yang dalam. Rumah besar kita bersama inipun juga sedang terancam kepunuhan jika kita tak bijaksana memeliharanya. Baik secara fisik (merawat laut) maupun secara emosional (merawat kebhinekaan). Dengan demikian kisah Para Pengarung Lautan merawat laut, adalah juga kisah merawat Indonesia. Indonesia Tumbuh, Indonesia Tangguh. 

Jalesveva Jayamahe. Kejayaan kita ada dilaut.   On care for our common home, mari memelihara laut kita. Laudato Si; mi’Signone. Terpujilah Engkau Tuhanku di Bentangan Samudera Raya. (*)

Kupang, 31 Agustus 2021, pada hari terakhir bulan Kemerdekaan Indonesia 

*JB Kleden, PNS Kementerian Agama Kota Kupang

BACA JUGA:

Sumber: https://floresku.com/read/tena-laja-motor-arnoldus-io-kiko-terakhir

(Postscriptum Webinar Kisah Para Pengarung Lautan)

Oleh: JB Kleden*

1630470509394

BONA Beding, lelaki nyentrik ini memulai kisahnya dengan sebuah proklamasi. “Bapa saya seorang Lamafa, saya putera Lamafa. Laut itu kehidupan kami. Sejak kecil pada usia 3 tahun, kami sudah dilempar ke dasar laut.” katanya dengan semangat. Mungkin orang Lamarera - meminjam istilah Chairil Anwar termasuk “kikisan laut/berdarah laut”. Tapi seorang Lamafa bukan “Beta Pattirajawane”, sosok mitologis dalam “Cerita Buat Dien Tamaela” yang ketika lahir dibawakan “dayung dan sampan”. Seorang Lamafa ketika lahir diberi minum air laut. Dan pada usia 3 tahun dilempar ke dasar laut agar bisa belajar bertahan hidup.  Maka nasib seorang Lamafa sesungguhnya ditulis di laut.

1630472447050

 

Hanya orang Lamalera yang memahaminya secara tepat frasa ini. Ia magis. Lamafa bukan sekadar tukang tombak ikan paus seperti yang dipahami kebanyakan orang di luar Lamalera. Di laut dia pemimpin kelompok penombak. Di darat dia penjaga kehidupan. Laut bagi orang Lamalera adalah tempat moralitas Lamafa di uji. Kesalahan di darat, diungkapkan di laut. Perilaku Lamafa di darat akan menyebabkan ikan paus datang memberi diri atau menolak memberi dirinya. Lamafa dengan demikian bukan sekadar cerita heroisme di tengah samudera. Ia adalah kisah tentang hidup. Tanggungjawab Lamafa adalah hidup seluruh masyarakat Lamalera dan kampung sekitarnya. 

Semua orang boleh teledor, tetapi seorang Lamafa tak boleh teledor karena ia menggenggam harapan dan masa depan kehidupan seluruh kampung. Kemurnian hati akan membuat  seorang Lamafa dengan riang gembira melompat meraih mette bergegas turun ke lautnya, menakar gelombang menyambut ikan paus yang  datang memberi diri sambil bernyanyi “hirkae…hirkae…hirkae….” 

A thing of beauty is a joy for ever. Maka meski gentar, seorang Lamafa menyadari bahwa dirinya tetaplah manusia yang rapuh, tetapi lebih berarti dalam pengampunan dan rasa syukur. Maka setiap kali mengawali musim lefa seorang Lamafa harus melakukan ritus pembersihan diri, dalam misa lefa. Karena lautlah yang memiliki orang Lamalera, bukan orang  Lamalera yang memiliki laut. “Kau salah-salah, laut akan mengambilmu.”

Diakhir kisanya, putera Lamafa ini menolak terminilogi yang selama ini dilekatkan orang bahwa orang Lamalera berburu paus. “Reu, orang Lamalera tidak berburu paus. Laut bagi bagi kami adalah ibu, yang memelihara kehidupan kami. Ikan paus datang memberi diri dan sebagai pemberian ibu, kami pergi mengambilnya. Mengambil untuk menghidupi kampung kami dan kampung-kampung di sekitar kami.” 

1630478753509

Orang Lamalera mengambil ikan paus ia tidak hanya untuk memenuhi blapa lolo (tempat menyimpan, mengawetkan ikan) ema-ema Lamalera. Seperti Maria dalam kisah Injil, ema-ema Lamalera pergi membawa berkat laut itu bagi saudara-saudaranya para Elisabeth  di bukit-bukit yang jauh, menukarnya dengan ubi, pisang dan jagung. Dan ketika kaki ema-ema turun kembali dengan indahnya dari bukit-bukit nun jauh, anak-anakpun berlari menyambut berkat dari gunung itu dengan kegirangan yang sama seperti mereka menyoraki berkat dari laut, saat ikan paus menyemburkan air tanda kedatangannya. Beleo, beleo, beleo….

Kisah ini mengingatkan saya akan tradisi “Tubak Io” (menangkap Hiu Paus) di kampung kami, Waibalun. Pada musim yang bersamaan dengan musim lefa di Lamalera, di kampung kami juga ada tradisi Tubak Io (menangkap Hiu Paus). Tapi dalam penuturan Bona Beding, saya kemudian menyadari bahwa apa yang dilakukan nenek moyang kami di Waibalum dulu, sama seperti yang dilakukan para Lamafa di Lamalera. Mereka pergi mengambil Io Kiko yang datang memberi diri. 

1630481429116

Betapa tidak. Bayangkan, Hiu Paus (yang dalam Bahasa Latin disebut Rhincodon Typus, atau Whale Shark dalam Bahasa Inggris) itu, menyeberang dari perairan laut Sawu melintasi selat Lewotobi, tidak berbelok ke Selat Sempit Larantuka atau ke Selat Adonara, tapi  masuk ke laut dangkal depan Nuha (pulau) Waibalun, bermain di tasiknya yang tenang, lalu lalang tak mau pergi, sampai nenek moyang kami datang mengambilnya. 

Seperti ikan paus bagi masyarakat Lamalera, Io Kiko itu tidak pernah menjadi milik pribadi. Ia milik seluruh kampung. Dan jika dalam musim itu bisa mengambil tiga ekor atau lebih Io Kiko, maka seluruh isi kampung akan mengadakan ritual Biho Rengki (masak nasi tumpeng adat) pada malam purnama bulan. Semua orang duduk makan bersama di Nama, yang diakhiri dengan dolo-dolo bersama. 

“Mari menari

Mari beria

Mari berlupa”

Bukan karena makan besar dan pesta pora begitu penting, tetapi ada sebuah kegembiraan yang sedang dirayakan bersama orang satu kampung, yakni kegembiraan dan kemerdekaan hidup sebagai saudara. Dengan makan rengki dan menari dolo-dolo pai murah rame-rame kami sedang merayakan tiga keutamaan hidup bersaudara, yakni kesediaan untuk saling berbagi, saling peduli dan saling menumbuhkan keutamaan harapan. 

Mae hama io kiko, kemi hama io ate, keraot hama io belehek.” Inilah kata Mutiara yang tak kami lupakan. “Enak seperti hiu paus, manis seperti hati hiu dan renyah seperti tulang rawan hiu”. Mungkin karena persaudaraan itu, ceruk rindu lebih dalam di sukma, sehingga ketika hari mulai malam, ibunda duduk di bale-bale merenda rindu dan bernyanyi… Bale nagi, bale nagi, no eeee, kendati nae bero eee . (BERSAMBUNG)

*JB Kleden, PNS Kementerian Agama Kota Kupang

BACA JUGA

Sumber: https://floresku.com/read/tena-laja-motor-arnoldus-io-kiko-bagian-3

(Postscriptum Webinar Kisah Para Pengarung Lautan)

Oleh: JB Kleden*

1630470509394

BEGITU menyaksikan potret-potret yang disuguhkan Muhammad Ridwan tentang Perahu Padewakang, Mandar, dengan layar berlapis-lapis, terasa seperti berada kembali di pantai Waibalun beberapa puluh tahun lalu. Melalui foto-foto yang ditampilkannya, perahu-perahu Mandar yang sebagian besar kini tinggal kenangan itu, langsung memukau, dan memenuhi ruang imajinasiku. Dulu dalam periode tertentu, kami selalu melihat perahu-perahu jenis ini yang kami sebut Tena-Laja’ melintas di laut depan kami. 

1630472447050

Biasanya antara April-Oktober bersamaan dengan datangnya angin muson timur yang berhembus dari Asia ke Australia, saat matahari pagi menyepuh puncak  Ile Mandiri dengan sinar kuning putihnya yang lembut, dari Laut Flores selalu saja ada perahu jenis ini masuk ke Selat Sempit Larantuka, melintasi laut depan kami, menuju Selat Lewotobi dan menghilang ke perairan Laut Sawu. Sebaliknya pada musim muson barat (sekitar Oktober-April) saat angin berhembus dari Australia ke Asia, dari perairan laut Sawu, Tena-Laja muncul kembali, melintasi selat Lewotobi, menyusuri pesisir pulau Solor menuju Selat Sempit Larantuka seterusnya ke Laut Flores, atau berbelok ke selat antara Adonara dan Solor dan menghilang ke balik Tanjung Gemuk. 

1630479179730

Kami tidak tahu itu perahu milik siapa. Juga tidak tahu rute perjalanannya. Itu tidak penting bagi kami, karena perahu itu tak pernah menyinggahi kampung kami. Kami hanya melihatnya dari jauh dengan kekaguman yang luar biasa. Ada perahu yang begitu indah. Berlayar tenang seakan waktu berjalan dengan cara berbeda di atas laut. Sungguh sebuah pemandangan yang indah dan mengasyikkan. Tena-Laja – Tena-Laja itu seperti tetap berpegang pada siklusnya, kendati kehidupan di sepanjang pantai yang dilaluinya senantiasa maju bersama garis sejarah dan kemajuan. 

Tena-Laja itu kini tak tampak lagi. Kelak seluruh sejarah ini akan menghilang kembali di laut yang tak lekang oleh waktu. Tapi laut yang terhampar depan kampung kami itu adalah taman bermain teramat indah bagi masa kecil kami. Ia adalah surga kecil yang sangat mengasyikkan, sebuah semesta kemungkinan yang penuh gairah, tempat kami melarungkan selaksa angan.

Nahkoda Kapal Samudra Raksa

KISAH I Gusti Putu Ngurah Sedana (Nahkoda Kapal Samudra Raksa) tentang perjalanan Samudra Raksa melahirkan sensasi tersendiri. Tentang kisah perjalanan ini kita bisa mengaksesnya di internet. Namun satu hal yang baru saya dengar malam itu adalah, setelah menuntaskan misinya di Accra, Ghana, Samudra Raksa dipotong menjadi tujuh bagian, dimuat dalam tujuh kontainer untuk bisa dikirim kembali ke  Indonesia. Kini Samudra Raksa menjadi museum di Borobudur. 

“Pak kenapa harus dipotong dan dikirim pulang? Ya kalau tidak begitu, kami menunggu sampai arah angin berbalik kembali untuk berlayar ke Indonesia. Dan itu biasanya sampai 6 bulan.”

Menunggu arah angin berbalik kembali. Saya teringat bagaimana para orang tua kami dulu menunggu arus ole dan hura (wura) untuk pergi melepas huo (bubu) di perairan Wure (salah satu desa di wilayah Kecamatan Adonara Barat (Flores Timur). Mereka juga menghitung dengan sangat teliti titik-titik tertentu di darat, entah dengn pohon atau batu pada empat penjuru mata angin sebagai pananda untuk melepas huo. Belakangan setelah mempelajari ilmu falak baru saya mengerti apa yang dilakukan itu sama dengan menghitung garis bujur dan garis lintang untuk menentukan titik koordinat. 

1630481903421

Kisah Samudra Raksa yang terombang-ambing di tengah lautan menghadirkan cerita lain. Saya pernah naik motor Arnoldus dari Pelabuhan Waidoko (Kecamatan Wulanggitang) ke Larantuka, pada suatu hari di bulan Desember tahun 70-an. Mesin motor mati di tengah perairan Kawalelo.  Kami sempat terkatung-katung dengan ombak besar yang mengguncang. Wajah anak-anak Seminari San Dominggo Hokeng yang semula penuh kegembiraan karena pulang kampung, mendadak pucat. Hanya sang Jurumudi yang dengan penuh ketenangan menjaga haluan perahu motor agar tidak membelah ombak dengan sudut 90 derajat. 

“Haluan motor musti menyimpang beberapa derajat membentuk sudut lancip agar kita bisa berayun bersama ombak dan tidak tenggelam. Ini pengalaman,” kata sang Jurumudi.  Dan benar, ia dengan sukses mengantar kami tiba ke pelabuhan Larantuka.

Kisah mengarungi laut ini, betapapun tidak seheroik perjalanan Samudra Raksa, seakan mengingatkan bahwa laut mempunyai dua sisi yang bertentangan tetapi juga bertaut. Berlayar di atasnya menggairahkan tetapi juga menegangkan. Sebuah pertautan antara kegembiraan dan harapan, dengan duka dan kecemasan. 

Laut yang tenang di depan mata kanak-kanak kami itu,  ia penuh suspensi tetapi juga memukau. Ia memisahkan kami dengan pulau Solor dan Adonara, tetapi juga menghubungkan; sebuah antara yang juga memiliki lokus tersendiri. Ia tak pernah kosong. Ia menjadi petualang yang menggairahkan juga kebebasan untuk lupa dan kemerdekaan untuk pergi dari rumah. Laut punya tramendum dan fascinosum tersendiri. (BERSAMBUNG)

*JB Kleden, PNS Kementerian Agama Kota Kupang

BACA JUGA: Tena-Laja, Motor Arnoldus, Io Kiko (Bagian 1)

Sumber: https://floresku.com/read/tena-laja-motor-arnoldus-dan-io-kiko-bagian-2

(Postscriptum Webinar Kisah Para Pengarung Lautan)

Oleh: JB Kleden*

1630470509394

“Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.” (Kej.1:1)… 

Dan sejak mula dari segala awal itu, laut punya cerita. Tidak hanya tentang makhluk hidup yang berkeriapan di dalamnya. Laut pun menuturkan kisah tentang para pengarung samudra yang terus berlayar dalam debar di batas senja-senja…

“Tali kapal itu dilepaskan dari pangkalan…Kami berlayar mendapatkan dunia abad keduapuluh kembali, yang masih jauh, jauh sekali dari kami letaknya…” (paragraf kahir cerita mengenai ekspedisi Kon-Tiki)

Dan di atas semua itu laut mengisahkan kehidupan bumi dari sebermulanya.

1630472447050

Pesona Kisah Para Pengarung

Selasa, 24 Agustus 2021, Bona Beding, mengirim undangan webinar yang diselenggarkan Maritim Muda Indonesia, bekerjasama dengan Negeri Rempah Foundation dan International Maritime Virtual Roundtables (IMRV) pada Kamis (26/8). Sebenarnya saya ada jadwal lain. Namun judul dan identitas para penutur membuat saya mengambil keputusan menghadiri webinar ini.

Ternyata keputusan mengikuti webinar ini tidak sia-sia. “Kisah Para Pangarung Lautan yang dituturkan Pelaut Perahu Padewakang, Mandar (Muhammad Ridwan Alimudin), Nahkoda Kapal Samudra Raksa (I Gusti Putu Ngurah Sedana) dan Putera Lamafa (Bona Beding) menjadi sebuah bleesing in disguise yang membawa saya ke masa setengah abad silam saat masih kanak-kanak di kampung kelahiran. Waibalun.

1630470934915

Muhammad Ridwan berbicara mengenai Perahu Padewakang Mandar, I Gusti Putu Ngurah Sedana bercerita mengenai Kapal Samudra Raksa dan Bona Beding menuturkan tradisi berburu ikan paus di Lamalera. Ada kesan kuat para penutur tidak sekadar berkisah tetapi juga menuangkan semacam kerinduan azali dari pengembaraan setiap manusia untuk menemukan yang asli…keluhuran dan kearifan tradisi bahari nenek moyang yang pelan tapi pasti berangsur “pergi” tergerus derasnya perubahan. 

Salah satu ciri khas tradisi atau sejarah lokal adalah lingkup geografisnya yang relatif terbatas dan justeru karena keterbatasan itu ia menjadi sangat intim dengan orang-orang yang mengalaminya secara langsung. Dalam tradisi lokal, hampir semua orang yang mengalaminya dapat dengan lugas mengisahkannya -apa adanya- tanpa batas penyekat. Bahkan karena demikian dekatnya sejarah atau tradisi lokal yang dituturkan bagi yang mendengarnya, terasa sebagai kisah bersama. 

1630470782471

Meski kisah mereka spesifik -Perahu Padekawang Mandar, Kapal Layar Samudra Raksa dan Lamafa –  ada kerinduan universal yang sama di antara mereka untuk mencari akar. Betapapun demikian, para penutur ini sepertinya sadar betul bahwa masa lalu tidak bisa diproyeksikan untuk dihadirkan kembali secara utuh di masa depan. Masa lalu hanya sebagai titik tolak dan sumber inspirasi, maka tampak sekali tidak ada niat para penutur untuk membawa peserta ke tanah Mandar di Sulawesi Barat, ke tempat-tempat persinggahan Samudra Raksa atau ke barisan Najê (rumah perahu) yang berjejer di sepanjang pantai Lamalera. Peserta justeru dibuat sedang berlayar menikmati kedalaman masa lalunya secara universal dalam sebuah kesatuan. 

1630478577432

Maka tanpa idealisme ilmiah yang berlebihan, juga tanpa merasa rendah diri karena keterbatasan sumber (khususnya mengenai Perahu Mandar dan Samudra Raksa, sehingga porsi untuk Lamafa lebih dominan) artikel ini sekadar sebagai sebuah memorabilia yang tidak memerlukan suatu janji muluk-muluk tentang sumbangsihnya yang besar bagi Maritim Muda Indonesia. Karena ia sekadar bercerita tentang segala rasa yang tak ada ujung pangkalnya. (BERSAMBUNG)

*JB Kleden, PNS Kementerian Agama Kota Kupang

Sumber: https://floresku.com/read/tena-laja-motor-arnoldus-io-kiko-bagian-1

media art fest 02Media Art Globale (MAG) proudly presents:

MAG21
INFINITY
An Adaptation Movement of Garden Indonesia

Proudly bring Indonesian & international artists, speakers and lectures to 42nd Ars Electronica Festival.
We elaborate our heritage, nature and spices through Media Art Globale Festival : INFINITY.

The virtual exhibition will be held on
www.mediaartglobale.com and https://ars.electronica.art/

From 8 September to 12 September 2021

media art fest 03Stay tune for further information!

In partnership with Ars Electronica Festival with title “INFINITY” an adaptation movement of Garden Indonesia. MAG21 is a showcase of Indonesian cutting-edge artworks through art, science and technology.

“An Adaption Movement of Garden Indonesia” is a sub-theme at MAG21.
The global pandemic brings positive and negative consequences. Adaptation is the option to survive and overcome it. Garden Indonesia elaborates on our culture, environment and heritage through the science technology to society. These adaptation stories of Garden Indonesia are the culture actions that we would like to spread through this showcase to rise up beyond the challenges.

media art fest 01KUMORATIH KUSHARDJANTO (ID)
Executive Director, Negeri Rempah Foundation.
#MeetTheSpeakers #MeetTheLecturers
@kumoratih - My Spice My Power

Kumoratih is currently Chair of the Executive Board of Negeri Rempah Foundation, a not-for-profit organization dedicated to public education and learning experience, particularly of historical, social and cultural issues relating to Indonesia’s diversity. Kushardjanto is also the Co-Founder and Managing Director of GELAR-Presenting Indonesia, a community-based cultural conservation through sustainable travel. Kumoratih will tell you a glimpse of the history of the spice route in the Indonesian archipelago and local wisdom knowledge preserved in tradition the spice route and how it has changed the world today.

TEASER Pasarempah 3 Fest 02 Artboard 7

  • Festival Kampung Rempah | 11-13 Juni
  • Spicepreneur Forum | 15 Juli
  • Rembukraya Pasarempah | 12 Agustus
  • Pasarempah Tumpah Keliling Indonesia

Apa itu 3’FEST PASAREMPAH?

3’FEST PASAREMPAH (Festival Kampung Rempah • Spicepreneur Forum • Rembukraya Pasarempah) adalah rangkaian program yang diinisiasi oleh Yayasan Negeri Rempah untuk mempertemukan para pelaku pasar/usaha, komunitas, peneliti/akademisi, pemerintah dan media dalam rangka pengembangan berbagai program berkelanjutan yang mengedepankan rempah-rempah Indonesia sebagai komoditas unggul.

Mengapa 3’FEST RASAREMPAH penting diikuti?

Rempah-rempah merupakan komoditas unggulan Indonesia yang memiliki peluang besar untuk dapat dikembangkan sebagai sumber daya yang menopang pembangunan ekonomi. 3’FEST PASAREMPAH membuka berbagai peluang dialog dan sinergi antar pemangku kepentingan. Mulai dari kesempatan untuk mendapatkan dukungan membangun usaha rintisan berupa bimbingan teknis dan pelatihan, informasi peluang ekspor, hingga kontak dengan pembeli potensial baik dari dalam maupun luar negeri.

Informasi dan biaya registrasi (early bird) sila klik:

http://bit.ly/DAFTAR3FESTPASAREMPAH2021

KAMPUNGREMPAH Pasarempah 3 Fest 02

Mari bergabung dan ramaikan ajang promosi dan jual-beli produk olahan rempah di Kampung Rempah. BIla Anda baru merintis usaha, daftarkan produk/merekmu dalam e-katalog Pasarempah dan dapatkan kesempatan untuk berkonsultasi dengan para mentor melalui berbagai klinik dan pelatihan untuk mengembangkan usaha. Ikuti rangkaian program yang mempertemukan para pelaku pasar/usaha, komunitas, peneliti/akademisi, pemerintah dan media dalam rangka pengembangan berbagai program berkelanjutan yang mengedepankan rempah-rempah Indonesia sebagai komoditas unggul.

Setiap peserta akan memamerkan dan mempresentasikan produk/jasa yang akan dijual (showcasing).

Informasi dan biaya registrasi sila klik:

http://bit.ly/DAFTAR3FESTPASAREMPAH2021

TEASER Pasarempah 3 Fest 03 Artboard 8

  • Klinik Pemahaman Hak Atas Kekayaan Intelektual bersama Kementerian Hukum dan HAM di tanggal 14 Juni 2021 (13:00 – 15:00)
  • Klinik Creative Content Development bersama Konten Kreator YNR di tanggal 15 Juni 2021 (13:00 – 15:00)
  • Klinik Desain Kemasan dan Branding bersama YNR di tanggal 16 Juni 2021 (13:00 – 15:00)
  • Klinik Pengurusan Perijinan dan Standarisasi bersama Badan POM di tanggal 21 Juni 2021 (13:00 – 15:00)
  • Klinik Sertifikasi Halal bersama Kementerian Agama di tanggal 22 Juni 2021 (13:00 – 15:00)
  • Klinik Sertifikasi Kesehatan Panganbersama Kementerian Pertanian di tanggal 28 Juni 2021 (13:00 – 15:00)
  • Klinik Standarisasi Industri bersama Kementerian Perindustrian di tanggal 29 Juni 2021 (13:00 – 15:00)
  • Klinik Sertifikasi Organik dan HACCP bersama Sucofindo di tanggal 5 Juli 2021 (13:00 – 15:00)
  • Klinik Franchise Dalam dan Luar Negeri bersama Kementerian Perdagangan di tanggal 6 Juli 2021 (13:00 – 15:00)
  • Klinik Memahami Karakter Pasar Internasional bersama perwakilan Konsulat Jenderal RI di tanggal 12 Juli 2021 (13:00 – 15:00)
  • Klinik Memulai Bisnis Menuju Pasar Internasional bersama ITPC di tanggal 13 Juli 2021 (13:00 – 15:00)

Setelah mengikuti berbagai klinik di atas, setiap peserta diminta untuk membuat profil bisnis dan prospektus yang akan dibutuhkan pada rangkaian program selanjutnya di Spicepreneur Forum.

Informasi dan biaya registrasi sila klik:

http://bit.ly/DAFTAR3FESTPASAREMPAH2021

SPICEPRENEUR Pasarempah 3 Fest 05

Mari bergabung dan dapatkan informasi peluang ekspor, hingga kontak dengan pembeli potensial di Spicepreneur Forum. Dapatkan kesempatan untuk berkonsultasi dengan para mentor melalui berbagai klinik dan sesi berbagi bersama para pelaku pasar baik di dalam dan luar negeri. Ikuti rangkaian program yang mempertemukan para pelaku pasar/usaha, komunitas, peneliti/akademisi, pemerintah dan media dalam rangka pengembangan berbagai program berkelanjutan yang mengedepankan rempah-rempah Indonesia sebagai komoditas unggul.

Temu bisnis, pengembangan usaha, investasi dan pemodalan.

Informasi dan biaya registrasi sila klik:

http://bit.ly/DAFTAR3FESTPASAREMPAH2021

REMBUKRAYA Pasarempah 3 Fest Artboard 6

Mari bergabung dan sampaikan usul-usul perbaikan pada pemangku kebijakan untuk kesatuan tatanan keekonomian rempah yang berkesinambungan. Ikuti rangkaian program yang mempertemukan para pelaku pasar/usaha, komunitas, peneliti/akademisi, pemerintah dan media dalam rangka pengembangan berbagai program berkelanjutan yang mengedepankan rempah-rempah Indonesia sebagai komoditas unggul.

Informasi dan biaya registrasi sila klik: http://bit.ly/DAFTAR3FESTPASAREMPAH2021

TEASER Poster Omnibus

  • Ternate, 21-25 Agustus
  • Banjarmasin, 6-9 September
  • Medan, 20-23 September
  • Padang, 1-4 September
  • Jakarta, 11-14 Oktober
  • Bali, 22-25 Oktober
  • Surabaya, 28-31 Oktober

Mengundang sahabat-sahabat dari berbagai pelosok Nusantara untuk bergabung bersama kami dalam rangka bersama-sama saling memperkuat potensi ekonomi rempah Indonesia. Hubungi kami atau komunitas yang tergabung dalam Jaringan Masyarakat Negeri Rempah di bawah ini dan daftarkan keikutsertaan Anda!

  • Indonesia Timur: Ternate Heritage Society, Niru Daya, Limau Jiko
  • Indonesia Tengah: Komunitas Dupa
  • Indonesia Barat: Hysteria, Beranda Warisan Sumatra, Sahabat Cagar Budaya, Telinsong Budaya Belitung

CALL FOR PAPER & ARTWORK

(Poster, Photography Essay, Short Video)

International Forum on Maritime Spice Trading Routes and Cultural Encounters in Indo-Pacific: Past, Present and Future

Conference co-hosts: Maranatha Christian University (Bandung, INDONESIA) and Fujian Normal University (Fuzhou, CHINA);

Supported by: ICOMOS Indonesia and Negeri Rempah Foundation (INDONESIA)

Theme: "Maritime Trade Routes Creating Global History for Indo-Pacific Nations"

Abstract & artwork concept submission deadline : 14 March 2021

Conference (virtual/zoom platform) : 15-16 June 2021

Keynote Speakers:

  • His Excellency Mr Djauhari Oratmangun, Ambassador of Indonesia for People's Republic of China and Mongolia* (in confirmation)
  • Dr. Junus Satrio Atmodjo*, Board of Trustees Negeri Rempah Foundation (in confirmation)
  • Hilmar Farid, PhD.*, Director General of Culture, Ministry of Education and Culture Republic of Indonesia (in confirmation)
  • Prof. James Chin, Zhejiang University – China
  • Prof. Xu Liping, China Academy of Science – China
  • Dr. Dedi S. Adhuri, Indonesian Academy of Science - Indonesia
  • Anna Luli, PhD., Fujian Normal University – China
  • Prof. Johannes Widodo, National University of Singapore – Singapore
  • Prof. Dr. Leonard Y. Andaya, University of Hawai – Honolulu

As output of this international conference, selected papers will be offered:

  • To be published as book chapters by internatinal pulisher (in process)
  • For submission to related national Sinta indexed scientific journals:
    • SeratRupa Journal of Design (Sinta 5)
    • Jurnal Manajemen Maranatha (Sinta 4)
    • Journal of Medicine and Health (Sinta 4)
    • Journal of Integrated System (Sinta4)
    • Jurnal Bahasa Rupa (Sinta 3)
    • Waca Cipta Ruang (Sinta 5)
    • Jurnal Teknik Sipil (Sinta 5)
    • Humanitas Journal of Psychology (Sinta 4)
    • Perkumpulan Pengelola Jurnal Bahasa dan Sastra Indonesia dan Pengajarannya (PPJB-SIP)
    • Merta (Sinta 2)
    • Religious (Sinta 2)
    • Jurnal Rupa (Sinta 4)
    • Jurnal Idealog (Sinta 4)
    • Dialogia Iuridica (Sinta 4)
    • Jurnal Akuntansi (Sinta 5)
    • Jurnal Demandia (Sinta 3)
    • And other journals that match the topic

Submission format for posters, photography essay:

  • Size: 297 mm x 420 mm (A3)
  • Resolution: 72 px/inch
  • Format: PDF (single file)

Video:

  • Maximum Resolution: 1920x1080px
  • Ratio: 16:9
  • Format: mp4
  • Duration: one minute maximum

For detailed information on topics of interest, schedules and submission, please visit: https://artmaranatha.net/

Secretariat:

  • Qianqian Luli, Ph.D.
    Email: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.
    Mobile phone: +86 15019483385
    Wechat ID: mandarinorange
  • Elizabeth Susanti, Ph.D.
    Email: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.
    Mobile phone with WA : +62 82119779818

International-Forum-on-Maritime-Spice-Trading-Routes-and-Cultural-Encounters-in-Indo-Pacific-Past-Present-and-Future.jpg