Loading...

Liputan6.com, Jakarta - Isu rempah kian ramai dibicarakan masyarakat. Masih banyak sisi menarik yang belum diulik, padahal jalur ini jadi bukti bahwa Indonesia, Nusantara pada saat itu, memegang peranan penting.

Jika China mengangkat Jalur Sutra, Indonesia mengangkat Jalur Rempah Maritim. Selain lebih kaya, jalur tersebut lebih dulu ada sebelum Jalur Sutra.

"Kita sudah punya jalur tersebut. Ada yang menyebut Jalur Rempah Maritim ini sudah ada sekitar 1000 tahun sebelum Masehi. Jadi, jalur tersebut sudah ada sebelum adanya Nabi Isa," ujar antropolog Yanuardi Syakur dalam peluncuran buku Kisah Negeri-Negeri di Bawah Angin yang diterbitkan Yayasan Negeri Rempah, Rabu, 6 Oktober 2021.

Ada juga yang menyebut, sambung Yanuardi, jalur rempah itu sudah ada sejak 2000 tahun yang lalu, yakni mulai zaman Firaun, Ramses, Ramses II, dan lain sebagainya.

"Karena bagian penting dalam upaya untuk mumifikasi, seperti yang ada di Mesir itu menggunakan rempah," ujar Dosen Program Studi Antropologi Sosial Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Khairun, Ternate, tersebut. "Dengan kejayaan itu, untuk mengangkat marwah bangsa Indonesia untuk mengusulkan Jalur Rempah sebagai Warisan Budaya Dunia UNESCO," kata Yanuardi.

Yanuardi mengatakan pengusulan tersebut sudah bisa dilakukan pada 2024. Oleh karena itu, Yanuardi berharap masyarakat memberikan dukungan untuk pengusulan Jalur Rempah tersebut.

Koridor Jalur Maritim

mengulik waktu permulaan jalur rempah eksis apakah lebih dulu dari jalur sutra Koridor Jalur Maritim

Koridor jalur maritim, kata Yanuardi, berawal dari jalur rempah. Secara sederhana, jalur rempah itu berawal dari Jepang, turun hingga ke Indonesia, tembus ke Samudera Hindia.

"Selannjutnya, jalur rempah tembus ke Mesir, Laut Tengah, kemudian sampai ke Eropa. Itu (gambaran) sederhananya mengenai jalur rempah," kata Yanuardi.

Menurut Yanuardi, indikator kejayaan rempah terlihat saat seseorang hendak bertemu dengan pejabat. Mereka menaruh rempah di bawah lidahnya. "Bukan untuk dimakan, tapi agar rasa harumnya keluar," ungkap Yanuardi.

Literasi Rempah

mengulik waktu permulaan jalur rempah eksis apakah lebih dulu dari jalur sutra literasi rempah

Terkait literasi, sejauh ini sudah banyak buku yang membahas tentang rempah, baik mengenai sejarah rempah maupun kepulauan rempah. Banyak juga buku yang sudah diterjemahkan dari bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia.

"Namun, belum ada satu narasi yang menyeluruh tentang negeri-negeri atau daerah-daerah yang dilalui jalur perdagangan rempah. Karena kalau ditelisik lebih jauh, setiap daerah yang dilalui jalur perdagangan rempah tentu punya jejak," kata dosen di Universitas Pembangunan Panca Budi, Sumatera Utara.

Dari rempah, muncul perdagangan-perdagangan. Selanjutnya, muncul bandar-bandar atau pelabuhan bersejarah di Nusantara, seperti Belawan, Barrus, dan lain-lain. "Semua itu punya sejarah dan cerita dan silakan digali," tandas Sri.

Infografis Daerah Penghasil Rempah di Indonesia

mengulik waktu permulaan jalur rempah eksis apakah lebih dulu dari jalur sutra infografis daerah penghasil rempah di indonesia

Sumber: https://www.liputan6.com/lifestyle/read/4677695/mengulik-waktu-permulaan-jalur-rempah-eksis-apakah-lebih-dulu-dari-jalur-sutra

Pada suatu waktu di masa lalu, rempah telah menjelma barang berharga yang sebanding dengan emas. Rempah pula yang mendatangkan kolonialisme di Bumi Nusantara. Namun, sudah pahamkah kita akan kekuatan rempah, sejarahnya di Tanah Air, juga potensinya di masa depan?

Bagi yang ingin memperluas wawasan atau literasinya mengenai rempah, Yayasan Negeri Rempah telah menerbitkan buku "Kisah Negeri-negeri di Bawah Angin" yang menggambarkan rekam jejak kemaritiman Nusantara dalam sejarah perdagangan rempah-rempah.

Dalam kegiatan bedah buku dan jumpa pers virtual yang digelar Rabu (6/10), Sri Shindi Indira dari Beranda Warisan Sumatera mengungkapkan jika buku ini sangat menarik dan dapat dijadikan rujukan.

"Buku yang terdiri dari 245 halaman ini memiliki gambar yang menarik dan komunikatif sekali. Selain itu, saya juga mencari beberapa buku lainnya yang merujuk ke literasi rempah untuk mengetahui sejauh mana literasi tentang rempah. Ternyata sudah ada banyak buku-buku tentang rempah," paparnya saat membedah buku tersebut.

Dia juga menjelaskan bahwa kita perlu mencari tahu lebih mendalam terkait kekayaan bangsa kita. Dulunya, kita hanya mengenal rempah itu di wilayah Ternate dan Maluku. Lalu bagaimana dengan daerah lainnya. "Kenapa belum ada dan belum menyeluruh tentang informasi daerah-daerah yang dilalui. Ditelisik setiap daerah yang dilewati jalur perdagangan rempah pasti meniggalkan jejak mulai dari Pasai, Barus dan lainnya," jelasnya.

Lebih lanjut, arsitek tersebut juga memaparkan jmengapa jalur tersebut tidak terkenal seperti Ternate dan Maluku maupun tempat lainnya. Menurutnya, pada buku yang telah dicetak dalam bahasa Inggris dengan judul "Tales of the Lands Beneath the Wind" ini telah mengompilasikan perjalanan dan jalur rempah. Dengan telah disebarkan ke berbagai negara di dunia diharapkan buku tersebut dapat dikenal di seluruh dunia.

Pada bagian 1, Dunia Dimabuk Rempah, memaparkan bagaimana kekayaan Indonesia di kala itu akan rempah saat dunia dimabuk rempah. "Dunia Dimabuk Rempah, menarik sekali digambarkan grafisnya. Bicara tentang zaman dahulu ada cerita tentang black death. Tiap 10 tahun adanya pandemi. Ini juga black death terjadi di abad ke-14 dan bisa diobati dengan rempah. Buku ini juga membahas manfaat rempah di zaman dahulu," imbuhnya.

Kemudian, pada bagian berikut, Kisah Negeri-negeri di Bawah Angin, dimulai pembahasan tentang jalur rempah, mulai dari Barus, Tarumanegara, Sriwijaya, Mataram, Majapahit, Pasai, Nusa Tenggara, Banten, Kalimatan, Makassar, Maluku, hingga Papua. Dia mengungkapkan masih adanya jejak-jejak sejarah seperti bangunan-bangunan yang masih awet hingga kini, salah satunya di Barus.

"Kenapa adanya Candi Borobudur, apa kaitannya terhadap rempah. Pada saat adanya pembangunan mungkin di kala itu berpengaruh dengan jalur rempah," ungkapnya.

Di bagian lagin, Sejarah Kemaritiman untuk Memandang Indonesia ke Depan, dia juga menjelaskan bahwa dengan adanya pemahaman literasi tentang budaya, kita bisa memanfaatkan secara positif jalur rempah negara kita yang sangat kaya ini, untuk khususnya pariwisata.

"Di sini pembaca diajak merefleksikan bahwa dari dulu kita sudah kaya bahkan dari ribuan tahun. Lalu, apa yang harus dilakukan. Buku ini juga berisi cuplikan-cuplikan seperti peninggalan-peninggalan yang menjadi inspirasi untuk dikembangkan di masa depan Indonesia melalui pariwisata," lanjutnya.

Selain itu, dia juga membahas terkait epilog yang ada di buku tersebut yaitu Jalesveva Jayamahe, yang berarti jika kejayaan kita ada di laut. Pembaca diajak merefleksikan diri untuk melihat peran dan kontribusi kita untuk ikut melestarikan dan menjaganya.

Kesimpulannya, buku yang akan diterbitkan hitam putih dengan tidak mengganggu cerita dan ilustrasinya ini diperlukan adanya sequel untuk menggali jejak rempah di daerah yang dilalui jalur rempah.

Lewat buku ini juga dapat dijadikan pemanfaatan situs-situs cagar budaya dan pengembangkan pembangunan pariwisata hingga lanjutan lain seperti dokumentasi dan panduan konservasi, panduan pelestarian kebudayaan, konteks sosial ekonomi, dan lingkungan.

Salah satu tim penyusun buku, Yanuardi Syukur mengatakan jika buku ini menjelaskan secara umum bagaimana negeri-negeri di bawah angin termasuk Indonesia dalam jalur rempah maritim. Buku ini juga tidak semata-mata bercerita tentang masa lalu tetapi juga melihat apa yang bisa diangkat di masa depan.

Yayasan Negeri Rempah akan menerbitkan buku "Kisah Negeri-negeri di Bawah Angin" ini dalam bahasa Indonesia dengan dukungan dari Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Sumatera Utara hingga disalurkan ke berbagai perpustakaan dan komunitas di kota Medan secara gratis. (M-2)

Sumber: https://mediaindonesia.com/weekend/438344/menyimak-jejak-dan-daya-rempah-nusantara-dalam-buku-kisah-negeri-negeri-di-bawah-angin

Pada suatu waktu di masa lalu, rempah telah menjelma barang berharga yang sebanding dengan emas. Rempah pula yang mendatangkan kolonialisme di Bumi Nusantara. Namun, sudah pahamkah kita akan kekuatan rempah, sejarahnya di Tanah Air, juga potensinya di masa depan?

Bagi yang ingin memperluas wawasan atau literasinya mengenai rempah, Yayasan Negeri Rempah telah menerbitkan buku "Kisah Negeri-negeri di Bawah Angin" yang menggambarkan rekam jejak kemaritiman Nusantara dalam sejarah perdagangan rempah-rempah. Dalam kegiatan bedah buku dan jumpa pers virtual yang digelar Rabu (6/10), Sri Shindi Indira dari Beranda Warisan Sumatera mengungkapkan jika buku ini sangat menarik dan dapat dijadikan rujukan. "Buku yang terdiri dari 245 halaman ini memiliki gambar yang menarik dan komunikatif sekali. Selain itu, saya juga mencari beberapa buku lainnya yang merujuk ke literasi rempah untuk mengetahui sejauh mana literasi tentang rempah. Ternyata sudah ada banyak buku-buku tentang rempah," paparnya saat membedah buku tersebut. Dia juga menjelaskan bahwa kita perlu mencari tahu lebih mendalam terkait kekayaan bangsa kita. Dulunya, kita hanya mengenal rempah itu di wilayah Ternate dan Maluku. Lalu bagaimana dengan daerah lainnya. "Kenapa belum ada dan belum menyeluruh tentang informasi daerah-daerah yang dilalui. Ditelisik setiap daerah yang dilewati jalur perdagangan rempah pasti meniggalkan jejak mulai dari Pasai, Barus dan lainnya," jelasnya. Lebih lanjut, arsitek tersebut juga memaparkan jmengapa jalur tersebut tidak terkenal seperti Ternate dan Maluku maupun tempat lainnya. Menurutnya, pada buku yang telah dicetak dalam bahasa Inggris dengan judul "Tales of the Lands Beneath the Wind" ini telah mengompilasikan perjalanan dan jalur rempah. Dengan telah disebarkan ke berbagai negara di dunia diharapkan buku tersebut dapat dikenal di seluruh dunia. Pada bagian 1, Dunia Dimabuk Rempah, memaparkan bagaimana kekayaan Indonesia di kala itu akan rempah saat dunia dimabuk rempah. "Dunia Dimabuk Rempah, menarik sekali digambarkan grafisnya.  Bicara tentang zaman dahulu ada cerita tentang black death. Tiap 10 tahun adanya pandemi. Ini juga black death terjadi di abad ke-14 dan bisa diobati dengan rempah. Buku ini juga membahas manfaat rempah di zaman dahulu," imbuhnya. Kemudian, pada bagian berikut, Kisah Negeri-negeri di Bawah Angin, dimulai pembahasan tentang jalur rempah, mulai dari Barus, Tarumanegara, Sriwijaya, Mataram, Majapahit, Pasai, Nusa Tenggara, Banten, Kalimatan, Makassar, Maluku, hingga Papua. Dia mengungkapkan masih adanya jejak-jejak sejarah seperti bangunan-bangunan yang masih awet hingga kini, salah satunya di Barus.

"Kenapa adanya Candi Borobudur, apa kaitannya terhadap rempah. Pada saat adanya pembangunan mungkin di kala itu berpengaruh dengan jalur rempah," ungkapnya. Di bagian lagin, Sejarah Kemaritiman untuk Memandang Indonesia ke Depan, dia juga menjelaskan bahwa dengan adanya pemahaman literasi tentang budaya, kita bisa memanfaatkan secara positif jalur rempah negara kita yang sangat kaya ini, untuk khususnya pariwisata. "Di sini pembaca diajak merefleksikan bahwa dari dulu kita sudah kaya bahkan dari ribuan tahun. Lalu, apa yang harus dilakukan. Buku ini juga berisi cuplikan-cuplikan seperti peninggalan-peninggalan yang menjadi inspirasi untuk dikembangkan di masa depan Indonesia melalui pariwisata," lanjutnya.   Selain itu, dia juga membahas terkait epilog yang ada di buku tersebut yaitu Jalesveva Jayamahe, yang berarti jika kejayaan kita ada di laut. Pembaca diajak merefleksikan diri untuk melihat peran dan kontribusi kita untuk ikut melestarikan dan menjaganya. Kesimpulannya, buku yang akan diterbitkan hitam putih dengan tidak mengganggu cerita dan ilustrasinya ini diperlukan adanya sequel untuk menggali jejak rempah di daerah yang dilalui jalur rempah. Lewat buku ini juga dapat dijadikan pemanfaatan situs-situs cagar budaya dan pengembangkan pembangunan pariwisata hingga lanjutan lain seperti dokumentasi dan panduan konservasi, panduan pelestarian kebudayaan, konteks sosial ekonomi, dan lingkungan. Salah satu tim penyusun buku, Yanuardi Syukur mengatakan jika buku ini menjelaskan secara umum bagaimana negeri-negeri di bawah angin termasuk Indonesia dalam jalur rempah maritim. Buku ini juga tidak semata-mata bercerita tentang masa lalu tetapi juga melihat apa yang bisa diangkat di masa depan. Yayasan Negeri Rempah akan menerbitkan buku "Kisah Negeri-negeri di Bawah Angin" ini dalam bahasa Indonesia dengan dukungan dari Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Sumatera Utara hingga disalurkan ke berbagai perpustakaan dan komunitas di kota Medan secara gratis. (M-2)

Sumber: https://mediaindonesia.com/weekend/438344/jejak-dan-daya-rempah-nusantara-dalam-buku-kisah-negeri-negeri-di-bawah-angin

Dalam rangka literasi Jalur Rempah ke masyarakat, Yayasan Negeri Rempah menginisiasi sebuah buku yang berjudul "Kisah Negeri-Negeri di Bawah Angin". Buku ini telah di cetak dalam bahasa Inggris dengan judul " Tales of the Lands Beneath the Wind" yang telah tersebar di berbagai negara di dunia melalui dukungan KBRI-KBRI di negara-negara sahabat.

Kali ini, Yayasan Negeri Rempah menerbitkan buku ini dalam versi bahasa Indonesia dan akan disebar luaskan secara gratis ke perpustakaan-perpustakaan dan komunitas-komunitas di berbagai daerah. Khusus di kota Medan dan sekitarnya Bank Indonesia Perwakilan Propinsi Sumatera Utara telah mensupport program ini dan akan menyalurkan buku ini ke berbagai perpustakaan dan komunitas di seputar kota Medan.

Apa dan bagaimana programnya akan dijabarkan dalam acara Webinar di tanggal 5 Oktober serta Bedah Buku 6 Oktober 2021.

Pendaftaran bisa dilakukan di:

peluncuran buku kisah negeri negeri di bawah angin bedah buku peluncuran buku kisah negeri negeri di bawah angin bedah buku

Listrik Indonesia | Pertamina International Shipping (PIS) - Subholding Integrated Marine & Logistics tergabung dalam acara International Forum on Spice Route (IFSR) yang diselenggarakan oleh Yayasan Negeri Rempah bekerjasama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia pada 21 -23 September 2021. Mengambil tema “Membangun Kembali Interkonektivitas Jalur Rempah Menuju Warisan Dunia”, dimana representatif PIS turut hadir sebagai narasumber pada kegiatan tersebut yang diwakili oleh Muhammad Irfan Zainul Fikri sebagai Project Management Coordinator dan  Indra Lianggoro Widhy Nugroho sebagai Project Control Pertamina International Shipping dengan topik pembahasan terkait Peran Pertamina International Shipping dalam mendukung Indonesia menjadi poros maritim dunia.

Project Management Coordinator PIS, M. Irfan menyampaikan, “Saat ini jalur laut Indonesia masih menjadi primadona di dunia. Dengan posisi geografisnya yang strategis, hingga kini kawasan laut Indonesia masih menjadi jalur perlintasan maritim yang tersibuk di dunia” ujarnya. Jalur maritim Indonesia saat ini memiliki kesamaan dengan jalur perdagangan rempah-rempah nusantara di masa lampau dan saat ini digunakan oleh PIS untuk mendistribusikan komoditas energi, yaitu minyak dan gas bumi ke seluruh pelosok negeri. Untuk mendukung pelaksanaan distribusi minyak dan gas bumi, PIS didukung 6 lini bisnis yang berfokus pada shipping, marine services, port services, port ownership, storage, other logistics services dan hingga saat ini PIS juga telah memiliki total 539 kapal dengan berbagai tipe untuk menunjang bisnis perusahaan.

PIS juga berkontribusi memajukan industri maritim dalam negeri dengan memberdayakan galangan-galangan lokal dalam pembuatan kapal. Indra menambahkan, “Sejauh ini kita telah memiliki 31 kapal yang dibangun di galangan dalam negeri, salah satunya di PT PAL, lalu PT DPS, dan PT Dok Perkapalan Kodja Bahari” tambahnya.

Hal tersebut menunjukkan dukungan dan upaya yang diberikan PIS untuk melakukan local empowerment sebagai upaya memajukkan industri maritim dalam negeri. Kekuatan Maritim Indonesia yang diwakili oleh PIS saat ini sudah mampu bersaing di kancah internasional.

Dalam kesempatannya Project Control Pertamina International Shipping, Indra mengatakan “Kapal-kapal PIS telah berhasil bersandar di pelabuhan internasional salah satunya di LPG Export Terminal milik Phillips 66 di Freeport, Texas, USA, dengan Kapal Pertamina Gas 2 yang seluruh awak kapalnya adalah warga negara Indonesia dan hal tersebut menunjukkan bahwa armada kapal PIS mampu menembus pasar internasional, tidak hanya di pasar domestik dengan muatan seperti Gasoline & Diesel, Avtur & MFO, Crude Oil, maupun LPG." ujarnya.

Sejalan dengan ekpansi bisnisnya, PIS turut mendukung penerapan Environment, Sustainability dan Governance (ESG) dengan menghadirkan beberapa teknologi kapal yang ramah lingkungan (Green Shipping) seperti Stern Tube Air Seal Type untuk menghindari kebocoran bahan bakar kapal, lalu ada juga teknologi Oily Water Separator (OWS) yang berfungsi untuk memisahkan air dengan minyak mencegah pencemaran. Hal ini merupakan bentuk kontribusi PIS dalam mewujudkan green shipping company, green operation, green cargo, green port, dan green storage untuk dapat bersaing secara global dan mewujudkan visi perusahaan menjadi Asia Leading Shipping Company serta dapat memberikan kontribusi dalam mewujudkan Indonesia sebagai poros maritim dunia. (TS)

 

Sumber: Kapal PIS "Green Shipping" Dukung Jalur Distribusi Perdagangan dalam Forum IFSR (listrikindonesia.com)

Oleh: Sidi Rana Menggala
Scientific Explorer of Cinnamon, founder- Spice Land Indonesia
Belgia

International Forum on Spice Route (IFSR) yang diselenggarakan tanggal 20-23 September 2021 merupakan acara tahunan yang memperluas peluang dialog lintas batas dan lintas budaya dalam meninjau kembali jejak pertukaran antar budaya berdasarkan Jalur Rempah sebagai salah satu warisan bersama dunia (baik alam maupun budaya).

Forum daring yang dihadiri oleh sekitar 350 orang dari Indonesia dan negara-negara Eropa ini diselenggarakan oleh Yayasan Negeri Rempah, yang bermarkas di Jakarta.

Perhelatan akbar tahunan ini turut dihadiri oleh lintas pemangku kepentingan, dari akademisi, pengusaha, pemerintah pusat-daerah hingga para antusias rempah-rempah di Indonesia.

Tahun 2021, penyelenggaraannya berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, dimana biasanya dilakukan secara tatap muka di lokasi yang memiliki nilai sejarah untuk bangsa Indonesia.

Pada tahun ini kegiatan tatap muka digantikan dengan pertemuan secara daring (online) tanpa mengurangi jumlah partisipan yang turut bergabung selama 4 (empat) hari pelaksanaannya.

Selama 4 (empat) hari pemaparan dan presentasi yang menarik dari ‘Identity-Equality-Globalization’ hingga penutup di hari keempat mengenai ‘the dynamics of Austronesian social mobility’ yang menjadi refleksi sejarah rempah-rempah Indonesia yang posisi strategis karena menghubungkan Asia Timur, Asia Selatan, Timur Tengah sampai Eropa. Asia Tenggara mempunyai sumber komoditas yang paling dicari dan paling berharga.

Para pemateri dan pembahas dalam pertemuan daring ini juga secara intelektual mengupas dari sisi ilmiah dan kebermanfaatan sosial rempah-rempah sebagai pembentukan peradaban dunia.

Salah satu topik pembahasan yang saya terkesan adalah mengenai sejarah rempah pala dari Maluku yang disampaikan oleh sdr. Maulana Ibrahim PhD, dimana pada sesi ini saya berperan sebagai moderator dalam tema ‘spice route revisited: remapping social cultural networks’.

Pembahasan mengenai sisi kesejarahan pala hinga menjadi sebuah komoditas primadona dunia yang sangat terikat nilai-nilai kultural bagi warga Ternate.

Pembahasan ini refleksi terhadap situasi Indonesia, negara kepulauan terluas di dunia. Jauh sebelum abad masehi pada jaman romawi, Indonesia, sudah dikenal di seantero dunia walau tidak semua suku bangsa yang langsung datang untuk berniaga.

Namun produk rempah Indonesia diperdagangkan di Jalur Sutera hingga jalur Dupa Romawi atau Hindustan hingga Afrika Timur Ethiopia sekitar abad 5 SM hingga abad 11 Masehi yang dikenal dengan kekuasaan Laut Merah.

Indonesia sendiri memiliki 3 fase sejarah kebangsaan yang diawali dengan fase Hindu, Budha dan Islam hingga Kolonial pada fase Hindu dikenal dengan Kerajaan Majapahit sedang Budha dengan Sriwijaya dan fase Kesultanan Islam.

Tema selanjutnya bagi penulis yang sangat menarik adalah pembahasan yang disampaikan oleh Prof. James Fox dari ANU University yang mengatakan bahwa komoditas kayu manis menjadi media perantara pembentukan peradaban di negara Madagaskar.

Berdasarkan naskah ilmiah kuno, menyebutkan bahwa kayumanis merupakan salah satu rempah tertua di dunia, orang Mesir telah menggunakan kayu manis sejak 2.000 SM, selain digunakan sebagai bumbu, kayu manis juga digunakan sebagai bahan pewangi selama proses pembalseman jenazah yang akan dimumikan.

Bahkan kayu manis disebutkan dalam kitab Perjanjian Lama sebagai salah satu bahan dalam minyak urapan. Oleh sebab itu, kayumanis menjadi rempah yang harganya bisa lebih mahal daripada emas.

Di zaman Kaisar Nero dari Roma, stok kayu manis kekaisaran selama setahun habis dibakar hanya untuk menghormati jenasah istri sang kaisar.

Pada pengobatan tradisional bangsa Cina, kayumanis digunakan sebagai obat untuk berbagai keluhan, mulai mual hingga masuk angin. Manfaat kesehatan kayumanis dikenal bisa menurunkan kadar gula dalam darah. Hal ini sangat baik untuk penderita diabetes. Hal ini disampaikan oleh penulis dalam segmen kedua dalam ‘connecting the diaspora’. Kayu manis juga berfungsi untuk menurunkan kolesterol jahat, meningkatkan kinerja syaraf, mencegah obesitas, mencegah kanker, dan mencegah radang.

Kayu manis telah digunakan oleh manusia selama ribuan tahun. Berdasarkan catatan sejarah, pedagang Arab juga membawa kayu manis ke Eropa yang ternyata masyarakat Eropa juga begitu meggemarinya.

Legenda menyatakan bahwa kaisar Romawi Nero membakar banyak rempah-rempah berharga ini yang bisa ia temukan pada pembakaran mayat istri keduanya Poppaea Sabina pada tahun 65 M untuk menebus perannya dalam kematiannya.

Sesuai dengan bidang pemakaran dan keahlian penulis dalam segmen yang diangkat oleh Prof. James Fox memperkuat argumen ilmiah, bahwa sejak ribuan tahun lalu hingga 2021 kayu manis Indonesia, permintaan pasar dunia untuk komoditas kayu manis Indonesia terus menunjukkan ketertarikan yang signifikan oleh pasar global.

Tanaman rempah yang satu ini memang dikenal punya banyak kegunaan, mulai bahan memasak hingga pengobatan yang terbukti secara ilmiah dan dunia medis.

Tetapi ini tidak hanya untuk kayu manis saja, tetapi juga 7 tanaman rempah-rempah unggulan dari Indonesia, seperti; pala, cengkeh, lada, vanili, andaliman, dan kapulaga.

Faktor-faktor apa saja yang menjadikan rempah-rempah Indonesia memiliki citra rasa ekslusif?

Faktor utama adalah dari nutrisi yang berasal dari hara vulkanik yang tinggi. Kedua, agroklimat yang sesuai di suhu tropis antara 22 – 28 °C dengan dua musim (panas dan hujan). Faktor ketiga adalah metode budidaya holtikultura yang non-pestisida dan 100 persen organik.

Faktor yang paling utama adalah doa dan harapan dari petani rempah Indonesia untuk memberikan komoditas rempah terbaik di dunia untuk menunjang pendapatan kesehariannya.

Indonesia, sesuai disampaikan dalam kata pembukaan IFSR 2021, merupakan salah satu negara penghasil rempah-rempah terbaik di dunia dengan kualitas terbaik disertai dengan nilai sejarah dan historis yang terukir dalam prasasti dan naskah-naskah kuno. Rempah pembentuk peradaban, rempah hadir di Indonesia hingga akhir jaman.

Disini peran kita untuk melestarikan dan memelihara aset tanaman ini dan meneruskan ke generasi mendatang.

Informasi lebih lanjut bisa hubungi langsung ke email berikut:
Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

 

Sumber: International Forum for Spice Route 2021 » DutaNusa.com %

Jakarta, Portonews.com – Pertamina International Shipping (PIS) – Subholding Integrated Marine & Logistics tergabung dalam acara International Forum on Spice Route (IFSR) yang diselenggarakan oleh Yayasan Negeri Rempah bekerjasama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia pada 21 -23 September 2021. Mengambil tema “Membangun Kembali Interkonektivitas Jalur Rempah Menuju Warisan Dunia,” dimana representatif PIS turut hadir sebagai narasumber pada kegiatan tersebut yang diwakili oleh Muhammad Irfan Zainul Fikri sebagai Project Management Coordinator dan Indra Lianggoro Widhy Nugroho sebagai Project Control Pertamina International Shipping dengan topik pembahasan terkait Peran Pertamina International Shipping dalam mendukung Indonesia menjadi poros maritim dunia.

Project Management Coordinator PIS, M. Irfan menyampaikan, “Saat ini jalur laut Indonesia masih menjadi primadona di dunia. Dengan posisi geografisnya yang strategis, hingga kini kawasan laut Indonesia masih menjadi jalur perlintasan maritim yang tersibuk di dunia,” ujarnya. Jalur maritim Indonesia saat ini memiliki kesamaan dengan jalur perdagangan rempah-rempah nusantara di masa lampau dan saat ini digunakan oleh PIS untuk mendistribusikan komoditas energi, yaitu minyak dan gas bumi ke seluruh pelosok negeri. Untuk mendukung pelaksanaan distribusi minyak dan gas bumi, PIS didukung 6 lini bisnis yang berfokus pada shipping, marine services, port services, port ownership, storage, other logistics services dan hingga saat ini PIS juga telah memiliki total 539 kapal dengan berbagai tipe untuk menunjang bisnis perusahaan.

PIS juga berkontribusi memajukan industri maritim dalam negeri dengan memberdayakan galangan-galangan lokal dalam pembuatan kapal. Indra menambahkan, “sejauh ini kita telah memiliki 31 kapal yang dibangun di galangan dalam negeri, salah satunya di PT PAL, lalu PT DPS, dan PT Dok Perkapalan Kodja Bahari” tambahnya. Hal tersebut menunjukkan dukungan dan upaya yang diberikan PIS untuk melakukan local empowerment sebagai upaya memajukkan industri maritim dalam negeri.

Kekuatan Maritim Indonesia yang diwakili oleh PIS saat ini sudah mampu bersaing di kancah internasional. Dalam kesempatannya Project Control Pertamina International Shipping, Indra mengatakan “Kapal-kapal PIS telah berhasil bersandar di pelabuhan internasional salah satunya di LPG Export Terminal milik Phillips 66 di Freeport, Texas, USA, dengan Kapal Pertamina Gas 2 yang seluruh awak kapalnya adalah warga negara Indonesia dan hal tersebut menunjukkan bahwa armada kapal PIS mampu menembus pasar internasional, tidak hanya di pasar domestik dengan muatan seperti Gasoline & Diesel, Avtur & MFO, Crude Oil, maupun LPG,” ujarnya.

Sejalan dengan ekpansi bisnisnya, PIS turut mendukung penerapan Environment, Sustainability dan Governance (ESG) dengan menghadirkan beberapa teknologi kapal yang ramah lingkungan (Green Shipping) seperti Stern Tube Air Seal Type untuk menghindari kebocoran bahan bakar kapal, lalu ada juga teknologi Oily Water Separator (OWS) yang berfungsi untuk memisahkan air dengan minyak mencegah pencemaran. Hal ini merupakan bentuk kontribusi PIS dalam mewujudkan green shipping company, green operation, green cargo, green port, dan green storage untuk dapat bersaing secara global dan mewujudkan visi perusahaan menjadi Asia Leading Shipping Company serta dapat memberikan kontribusi dalam mewujudkan Indonesia sebagai poros maritim dunia.

Jakarta, 27 September 2021 – Pertamina International Shipping (PIS) - Subholding Integrated Marine & Logistics tergabung dalam acara International Forum on Spice Route (IFSR) yang diselenggarakan oleh Yayasan Negeri Rempah bekerjasama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia pada 21 -23 September 2021. Mengambil tema “Membangun Kembali Interkonektivitas Jalur Rempah Menuju Warisan Dunia”, dimana representatif PIS turut hadir sebagai narasumber pada kegiatan tersebut yang diwakili oleh Muhammad Irfan Zainul Fikri sebagai Project Management Coordinator dan  Indra Lianggoro Widhy Nugroho sebagai Project Control Pertamina International Shipping dengan topik pembahasan terkait Peran Pertamina International Shipping dalam mendukung Indonesia menjadi poros maritim dunia.

Project Management Coordinator PIS, M. Irfan menyampaikan, “Saat ini jalur laut Indonesia masih menjadi primadona di dunia. Dengan posisi geografisnya yang strategis, hingga kini kawasan laut Indonesia masih menjadi jalur perlintasan maritim yang tersibuk di dunia” ujarnya. Jalur maritim Indonesia saat ini memiliki kesamaan dengan jalur perdagangan rempah-rempah nusantara di masa lampau dan saat ini digunakan oleh PIS untuk mendistribusikan komoditas energi, yaitu minyak dan gas bumi ke seluruh pelosok negeri. Untuk mendukung pelaksanaan distribusi minyak dan gas bumi, PIS didukung 6 lini bisnis yang berfokus pada shipping, marine services, port services, port ownership, storage, other logistics services dan hingga saat ini PIS juga telah memiliki total 539 kapal dengan berbagai tipe untuk menunjang bisnis perusahaan. 

PIS juga berkontribusi memajukan industri maritim dalam negeri dengan memberdayakan galangan-galangan lokal dalam pembuatan kapal. Indra menambahkan, “sejauh ini kita telah memiliki 31 kapal yang dibangun di galangan dalam negeri, salah satunya di PT PAL, lalu PT DPS, dan PT Dok Perkapalan Kodja Bahari” tambahnya. Hal tersebut menunjukkan dukungan dan upaya yang diberikan PIS untuk melakukan local empowerment sebagai upaya memajukkan industri maritim dalam negeri. 

Kekuatan Maritim Indonesia yang diwakili oleh PIS saat ini sudah mampu bersaing di kancah internasional. Dalam kesempatannya Project Control Pertamina International Shipping, Indra mengatakan “Kapal-kapal PIS telah berhasil bersandar di pelabuhan internasional salah satunya di LPG Export Terminal milik Phillips 66 di Freeport, Texas, USA, dengan Kapal Pertamina Gas 2 yang seluruh awak kapalnya adalah warga negara Indonesia dan hal tersebut menunjukkan bahwa armada kapal PIS mampu menembus pasar internasional, tidak hanya di pasar domestik dengan muatan seperti Gasoline & Diesel, Avtur & MFO, Crude Oil, maupun LPG." ujarnya.

Sejalan dengan ekpansi bisnisnya, PIS turut mendukung penerapan Environment, Sustainability dan Governance (ESG) dengan menghadirkan beberapa teknologi kapal yang ramah lingkungan (Green Shipping) seperti Stern Tube Air Seal Type untuk menghindari kebocoran bahan bakar kapal, lalu ada juga teknologi Oily Water Separator (OWS) yang berfungsi untuk memisahkan air dengan minyak mencegah pencemaran. Hal ini merupakan bentuk kontribusi PIS dalam mewujudkan green shipping company, green operation, green cargo, green port, dan green storage untuk dapat bersaing secara global dan mewujudkan visi perusahaan menjadi Asia Leading Shipping Company serta dapat memberikan kontribusi dalam mewujudkan Indonesia sebagai poros maritim dunia.**

 

Sumber: Pertamina Go Green, Kapal PIS "Green Shipping" Mendukung Jalur Distribusi Perdagangan dalam Forum IFSR | Pertamina

Jakarta, Ruangenergi.com – Saat ini jalur laut Indonesia masih menjadi primadona di dunia. Dengan posisi geografisnya yang strategis, hingga kini kawasan laut Indonesia masih menjadi jalur perlintasan maritim yang tersibuk di dunia.

Hal tersebut dikatakan oleh Project Management Coordinator PT Pertamina International Shipping (PIS) Subholding Integrated Marine & Logistics Pertamina, M. Irfan Zainul Fikri, dalam gelaran International Forum on Spice Route (IFSR) yang diselenggarakan oleh Yayasan Negeri Rempah bekerjasama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 21 -23 September 2021.

Pasalnya, acara tersebut mengambil tema “Membangun Kembali Interkonektivitas Jalur Rempah Menuju Warisan Dunia”.

“Jalur maritim Indonesia saat ini memiliki kesamaan dengan jalur perdagangan rempah-rempah nusantara di masa lampau dan saat ini digunakan oleh PIS untuk mendistribusikan komoditas energi, yaitu minyak dan gas bumi ke seluruh pelosok negeri. Untuk mendukung pelaksanaan distribusi minyak dan gas bumi, PIS didukung 6 lini bisnis yang berfokus pada shipping, marine services, port services, port ownership, storage, other logistics services dan hingga saat ini PIS juga telah memiliki total 539 kapal dengan berbagai tipe untuk menunjang bisnis perusahaan,” ungkap Irfan.

Ia menambahkan, PIS juga berkontribusi memajukan industri maritim dalam negeri dengan memberdayakan galangan-galangan lokal dalam pembuatan kapal. Indra menambahkan,

“Sejauh ini kita telah memiliki 31 kapal yang dibangun di galangan dalam negeri, salah satunya di PT PAL, lalu PT DPS, dan PT Dok Perkapalan Kodja Bahari,” imbuhnya.

Hal tersebut menunjukkan dukungan dan upaya yang diberikan PIS untuk melakukan local empowerment sebagai upaya memajukkan industri maritim dalam negeri.

Menurutnya, Kekuatan Maritim Indonesia yang diwakili oleh PIS saat ini sudah mampu bersaing di kancah internasional.

Dalam kesempatannya Project Control Pertamina International Shipping, Indra Lianggoro Widhy Nugroho, mengungkapkan Pertamina International Shipping berkomitmen mendukung Indonesia menjadi poros maritim dunia.

“Kapal-kapal PIS telah berhasil bersandar di pelabuhan internasional salah satunya di LPG Export Terminal milik Phillips 66 di Freeport, Texas, USA, dengan Kapal Pertamina Gas 2 yang seluruh awak kapalnya adalah warga negara Indonesia dan hal tersebut menunjukkan bahwa armada kapal PIS mampu menembus pasar internasional, tidak hanya di pasar domestik dengan muatan seperti Gasoline & Diesel, Avtur & MFO, Crude Oil, maupun LPG.” terang Indra.

Sejalan dengan ekpansi bisnisnya, lanjut Indra, PIS turut mendukung penerapan Environment, Sustainability dan Governance (ESG) dengan menghadirkan beberapa teknologi kapal yang ramah lingkungan (Green Shipping) seperti Stern Tube Air Seal Type untuk menghindari kebocoran bahan bakar kapal.

Lalu ada juga teknologi Oily Water Separator (OWS) yang berfungsi untuk memisahkan air dengan minyak mencegah pencemaran.

“Ini merupakan bentuk kontribusi PIS dalam mewujudkan green shipping company, green operation, green cargo, green port, dan green storage untuk dapat bersaing secara global dan mewujudkan visi perusahaan menjadi Asia Leading Shipping Company serta dapat memberikan kontribusi dalam mewujudkan Indonesia sebagai poros maritim dunia,” tutupnya.

Sumber: Gelaran Forum IFSR, PIS Dukung Jalur Distribusi Perdagangan Dengan Green Shipping » Berita energi & Minerba Hari Ini - RuangEnergi.com

BisnisNews.id --  Pertamina International Shipping (PIS), Subholding Integrated Marine & Logistics tergabung dalam acara  International Forum on Spice Route (IFSR). Event  yang diselenggarakan oleh Yayasan Negeri Rempah bekerjasama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI pada 21 -23 September 2021. Dengan  mengusung tema “Membangun Kembali Interkonektivitas Jalur Rempah Menuju Warisan Dunia.” 

Representatif PIS turut hadir sebagai narasumber pada kegiatan tersebut yang diwakili  Muhammad Irfan Zainul Fikri, Project Management Coordinator dan  Indra Lianggoro Widhy Nugroho, Project Control Pertamina International Shipping dengan topik pembahasan terkait Peran Pertamina International Shipping dalam mendukung Indonesia menjadi poros maritim dunia.

 M. Irfan menyampaikan, “Saat ini jalur laut Indonesia masih menjadi primadona di dunia. Dengan posisi geografisnya yang strategis, hingga kini kawasan laut Indonesia masih menjadi jalur perlintasan maritim yang tersibuk di dunia” ujarnya. 

Jalur maritim Indonesia saat ini memiliki kesamaan dengan jalur perdagangan rempah-rempah nusantara di masa lampau dan saat ini digunakan oleh PIS untuk mendistribusikan komoditas energi, yaitu minyak dan gas bumi ke seluruh pelosok negeri. Untuk mendukung pelaksanaan distribusi minyak dan gas bumi, PIS didukung 6 lini bisnis yang berfokus pada shipping, marine services, port services, port ownership, storage, other logistics services dan hingga saat ini PIS juga telah memiliki total 539 kapal dengan berbagai tipe untuk menunjang bisnis perusahaan. 

PIS juga berkontribusi memajukan industri maritim dalam negeri dengan memberdayakan galangan-galangan lokal dalam pembuatan kapal. Indra menambahkan, “sejauh ini kita telah memiliki 31 kapal yang dibangun di galangan dalam negeri, salah satunya di PT PAL, lalu PT DPS, dan PT Dok Perkapalan Kodja Bahari” tambahnya. Hal tersebut menunjukkan dukungan dan upaya yang diberikan PIS untuk melakukan local empowerment sebagai upaya memajukkan industri maritim dalam negeri. 

Kekuatan Maritim Indonesia yang diwakili oleh PIS saat ini sudah mampu bersaing di kancah internasional. Dalam kesempatannya Project Control Pertamina International Shipping, Indra mengatakan “Kapal-kapal PIS telah berhasil bersandar di pelabuhan internasional.

Salah satunya di LPG Export Terminal milik Phillips 66 di Freeport, Texas, USA, dengan Kapal Pertamina Gas 2 yang seluruh awak kapalnya adalah warga negara Indonesia dan hal tersebut menunjukkan bahwa armada kapal PIS mampu menembus pasar internasional, tidak hanya di pasar domestik dengan muatan seperti Gasoline & Diesel, Avtur & MFO, Crude Oil, maupun LPG." ujarnya.

Sejalan dengan ekpansi bisnisnya, PIS  mendukung penerapan Environment, Sustainability dan Governance (ESG) dengan menghadirkan beberapa teknologi kapal yang ramah lingkungan (Green Shipping) seperti Stern Tube Air Seal Type untuk menghindari kebocoran bahan bakar kapal, lalu ada juga teknologi Oily Water Separator (OWS) yang berfungsi untuk memisahkan air dengan minyak mencegah pencemaran. 

Hal ini merupakan bentuk kontribusi PIS dalam mewujudkan green shipping company, green operation, green cargo, green port, dan green storage untuk dapat bersaing secara global dan mewujudkan visi perusahaan menjadi Asia Leading Shipping Company serta dapat memberikan kontribusi dalam mewujudkan Indonesia sebagai poros maritim dunia.(hel/Helmi)

 

Sumber: Kapal PIS Green Shipping Mendukung Jalur Distribusi Perdagangan dalam Forum IFSR (bisnisnews.id)

KABAR PRIANGAN - Jalur maritim Indonesia saat ini memiliki kesamaan dengan jalur perdagangan rempah-rempah nusantara di masa lampau.

Kawasan laut Indonesia masih menjadi jalur perlintasan maritim yang tersibuk di dunia. Bahkan hingga saat ini jalur laut Indonesia masih menjadi primadona di dunia.

Jalur tersebut saat ini digunakan oleh PIS (Pertamina International Shipping) untuk mendistribusikan komoditas energi, yaitu minyak dan gas bumi ke seluruh pelosok negeri.

“Dengan posisi geografisnya yang strategis, hingga kini kawasan laut Indonesia masih menjadi jalur perlintasan maritim yang tersibuk di dunia," kata Project Management Coordinator PIS, M. Irfan.

Hal itu dikatakan Irfan pada acara International Forum on Spice Route (IFSR) tanggal 21-23 September 2021 yang diselenggarakan Yayasan Negeri Rempah bekerjasama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia di Jakarta.

Adapun topik pembahasan pada agenda tersebut yaitu terkait Peran Pertamina International Shipping) dalam mendukung Indonesia menjadi poros maritim dunia.

PT Pertamina International Shipping (PIS) merupakan anak perusahaan pelayaran PT Pertamina (Persero).

Untuk menunjukkan dukungan dan upaya yang diberikan PIS untuk melakukan local empowerment sebagai upaya memajukkan industri maritim dalam negeri, PIS memberdayakan galangan-galangan lokal dalam pembuatan kapal.

“Sejauh ini kita telah memiliki 31 kapal yang dibangun di galangan dalam negeri, salah satunya di PT PAL, lalu PT DPS, dan PT Dok Perkapalan Kodja Bahari” tambah Indra Lianggoro Widhy Nugroho, Project Control Pertamina International Shipping.

Kekuatan Maritim Indonesia yang diwakili oleh PIS saat ini sudah mampu bersaing di kancah internasional.

“Kapal-kapal PIS telah berhasil bersandar di pelabuhan internasional salah satunya di LPG Export Terminal milik Phillips 66 di Freeport, Texas, USA,” ungkap Indra.

“Dengan Kapal Pertamina Gas 2 yang seluruh awak kapalnya adalah warga negara Indonesia dan hal tersebut menunjukkan bahwa armada kapal PIS mampu menembus pasar internasional,” ujarnya.

PIS juga dapat memberikan kontribusi dalam mewujudkan Indonesia sebagai poros maritim dunia.

 

Sumber: PIS Green Shipping Mendukung Indonesia Menjadi Poros Maritim Dunia - Kabar Priangan - Halaman 2 (pikiran-rakyat.com)

Dream - Pemerintah tengah memperjuangkan Jalur Rempah mendapatkan pengakuan dunia melalui UNESCO. Ini mengingat Jalur Rempah memiliki peran vital bagi peradaban dunia di masa lalu dan melibatkan tidak hanya Indonesia namun juga banyak negara lain.

Peneliti Yayasan Negeri Rempah, Bram Kushardjanto, mengatakan Jalur Rempah membuat Indonesia memiliki peran penting dalam perekonomian dunia. Selama berabad-abad, kawasan Indonesia yang menjadi penyedia komoditas berharga dunia yaitu rempah.

"Indonesia memiliki posisi strategis karena menghubungkan Asia Timur, Asia Selatan, Timur Tengah sampai Eropa. Asia Tenggara mempunyai sumber komoditas yang paling dicari dan paling berharga, yaitu rempah-rempah," ujar Bram.

Pengamat Pariwisata Universitas Indonesia, Jajang Gunawijaya, menjelaskan Jalur Rumpah berpotensi besar menguatkan sektor pariwisata Indonesia. Setidaknya, ada tiga potensi yang bisa digali dari Jalur Rempah.

"Yang pertama wisata sejarah atau susur, wisata kuliner dan wisata wellness atau kebugaran, ini kalau dimaksimalkan potensinya sangat besar untuk bidang pariwisata," kata dia,

Jajang mengatakan wisata sejarah dapat dijalankan dengan menyusuri sejumlah daerah penghasil rempah di seluruh Indonesia. Wisata ini dapat dijalankan apabila Jalur Rempah diakui UNESCO sebagai warisan dunia.

 

Sumber: Potensi Tersembunyi Jalur Rempah Bagi Sektor Pariwisata Indonesia | Travel.Dream.co.id

JALUR REMPAH bisa dibilang merupakan jembatan perdagangan tanaman-tanaman eksotis ke masyarakat dunia. Di masa lalu saja, bumbu menjadi benda mewah bagi masyarakat Timur Tengah yang keberadaannya bisa dilacak pada mumi firaun di Mesir.

Spesialis Program Budaya UNESCO, Moe Chiba mengungkap, bahwa jalur rempah juga bisa disebut sebagai jalur sutera maritim memiliki dampak pemahaman budaya dan politik. 

"Di jalur rempah ada beragam umat manusia—utamanya orang Austronesia—yang secara lintas waktu dalam situasi geografis berkembang melintasi lautan untuk bertukar budaya dari Samudera Pasifik dan Hindia," terangnya di webinar Youth International Forum on Spice Route - Public Talks 2 yang diadakan Negeri Rempah Foundation, Senin 5 April 2021.

"Kalian pasti pernah dengar bila Borobudur dan Angkor Wat punya hubungan kesamaan dalam gaya aristektur. Itu berkat dari jalur ini. Jadi jalur ini bukan hanya soal rempah dan periode datang dan pergi ke kawasan itu."

Walau interaksi budaya dan politik ada di masa lalu, jalur ini bisa dimanfaatkan di dunia modern seperti hari ini untuk menyelesaikan masalah-masalah mancanegara.

Ia memberi gambaran kasus seperti masalah Laut Tiongkok Selatan yang dirundung konflik antara Tiongkok dan negara-negara Asia Tenggara akibat sengketa perbatasan laut. Penyelesaian sengketa itu bisa dimulai dari penjagaan warisan sejarah yang tenggelam di sana yang juga bagian dari jalur rempah.

Lewat studi yang melibatkan negara-negara sekitar, dipercaya dapat membuka diskusi kerjasama untuk memabahas sengketa itu lewat bukti-bukti yang ada.

"Penjagaan ini tentunya butuh biaya untuk membayar untuk mencegah dampak [buruk], dan kerusakan peninggalan," Chiba berpendapat. "UNESCO bisa berperan di situ. Bukan sebagai eksploitasi yang banyak dipertanyakan sebagai trafficking heritage untuk komersial. Tetapi untuk para ilmuwan bisa mengkajinya."

Jika negara-negara sekitar mau melakukannya, menurutnya itu adalah langkah yang baik untuk langkah yang lebih jauh di depan untuk pengembangan pengetahuan dan sengketa.

Melansir dari Antara, sengketa Laut Tiongkok Selatan disebabkan batas laut yang masih rancu antara negara-negara sekitar seperti, Vietnam, Malaysia, Brunei, Filipina, dan Tiongkok.

Untuk menyelesaikannya, PBB mengengahinya dengan hukum internasional lewat UNCLOS. Tetapi hukum ini tak dipatuhi oleh Tiongkok dengan klaim sepihak.

Menurut pakar hukum Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana, hal itu disebabkan penetapan Nine Dash Line yang dilakukan Tiongkok yang dianggap sebagai tempat penangkapan ikan oleh nelayan tradisional mereka sejak dahulu.

Masalah temporer yang bisa ditangkap dari mempelajari jalur rempah, menurut Fefi Eka Wardiani Climate Reality Indonesia, adalah perubahan iklim. Ia berpendapat, bahwa rempah adalah tanaman epidemik yang hanya bisa tumbuh di tempat asalnya.

"Perubahan iklim akan berdampak pada tanaman epidemik seperti rempah. Itu akan membuatnya susah tumbuh dan jadi punah," katanya di forum tingkat mancanegara itu.

"Dampak ini setidaknya juga jadi kesadaran buat pengusaha rempah untuk mengetahui penyebab dan harus bertindak apa. Kalau rempah susah tumbuh bahkan punah, mau apa yang dijual?"

Menurut pakar hukum Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana, hal itu disebabkan penetapan Nine Dash Line yang dilakukan Tiongkok yang dianggap sebagai tempat penangkapan ikan oleh nelayan tradisional mereka sejak dahulu.

Masalah temporer yang bisa ditangkap dari mempelajari jalur rempah, menurut Fefi Eka Wardiani Climate Reality Indonesia, adalah perubahan iklim. Ia berpendapat, bahwa rempah adalah tanaman epidemik yang hanya bisa tumbuh di tempat asalnya.

"Perubahan iklim akan berdampak pada tanaman epidemik seperti rempah. Itu akan membuatnya susah tumbuh dan jadi punah," katanya di forum tingkat mancanegara itu.

"Dampak ini setidaknya juga jadi kesadaran buat pengusaha rempah untuk mengetahui penyebab dan harus bertindak apa. Kalau rempah susah tumbuh bahkan punah, mau apa yang dijual?".

Sumber: https://www.kba.one/news/jalur-rempah-rute-dagang-yang-menyimpan-solusi-masalah-masa-kini/index.html?page=all

LANGIT7.ID, Jakarta - Jalur rempah nusantara bisa jadi pijakan kerja sama global. Yayasan Negeri Rempah akan kembali menyelenggarakan IFSR pada 20-23 September 2021 secara daring.

Kegiatan International Forum on Spice Route (IFSR) 2021 ini bekerja sama dengan perkumpulan Maritim Muda Nusantara, Rumah Produktif Indonesia, Perhimpunan Masyarakat Etnobiologi Indonesia, dan Jaringan Masyarakat Negeri Rempah.

IFSR menyambut partisipan dari berbagai penjuru tanah air dan mancanegara untuk turut berbagi gagasan, pengetahuan dan pengalaman tentang jalur rempah.

Kegiatan IFSR 2021 mengusung tema Bridging Differences, Fostering Intercultural Understanding. Sebab jalur rempah dapat menjadi pijakan dalam melihat kembali berbagai kemungkinan kerja sama global mewujudkan persaudaraan dan perdamaian.

Ketua Dewan Pembina Yayasan Negeri Rempah, Hassan Wirajuda menyatakan, diplomasi budaya sesungguhnya bukan sesuatu yang baru. Sejak nenek moyang dulu sudah melakukannya dengan rancangan yang cukup canggih dan semangat 'tangan di atas'.

"Sangat banyak yang bisa kita tawarkan untuk berbagi dengan bangsa-bangsa lain karena keberagaman peradaban dan budaya kita," kata Hasan.

Ketua Yayasan Negeri Rempah, Kumoratih Kushardjanto, menambahkan bahwa jalur rempah bukan sekadar jalur perdagangan. Tapi seperti ruang silaturahmi dan pertukaran antarbudaya yang melampaui ruang dan waktu.

"Nusantara dari masa ke masa menjadi simpul penting pertukaran antarbudaya yang mempertemukan berbagai gagasan, konsep, ilmu pengetahuan, agama, bahasa, hingga budaya antarbangsa," ujar Kumoratih.

Jalur rempah diajukan sebagai warisan dunia ke UNESCO oleh pemerintah Indonesia. Upaya ini meningkatkan antusiasme masyarakat yang setidaknya sejak 2014 telah menggulirkan narasi jalur rempah dalam berbagai kegiatan yang bersifat sporadis.

Yayasan Negeri Rempah dan Jaringan Masyarakat Negeri Rempah, sebuah jejaring simpul komunitas yang tersebar di beberapa provinsi bahkan mancanegara, semakin gencar memberikan ruang untuk menyuarakan gagasan tentang jalur rempah.

Sumber: https://langit7.id/read/4203/1/jalur-rempah-nusantara-bisa-jadi-pijakan-kerja-sama-global-1631941784

Liputan6.com, Jakarta - Peran Indonesia dalam jalur rempah diyakini dimulai sejak ribuan tahun lalu. Namun, pernyataan itu masih membutuhkan bukti kuat dan pengakuan dari negara-negara lain. 

Hal tersebut dipaparkan oleh Bram Kushardjanto dari Yayasan Negeri Rempah dalam webinar International Forum on Spice Route (IFSR), Rabu, 22 September 2021. Menurut dia, untuk mendapatkan pengakuan Jalur Rempah Indonesia sebagai warisan dunia dari UNESCO, diperlukan bukti dan pengakuan dari negara-negara yang disinggahi para pedagang rempah dari kerajaan-kerajaan Nusantara pada zaman dahulu.

Ia meyakini, Indonesia berperan penting dalam perekonomian dunia karena posisi yang strategis sebagai jalur maritim dunia. "Indonesia memiliki posisi strategis karena menghubungkan Asia Timur, Asia Selatan, Timur Tengah sampai Eropa. Asia Tenggara mempunyai sumber komoditas yang paling dicari dan paling berharga, yaitu rempah-rempah," ucap Bram.

Potensi Jalur Rempah Indonesia juga diungkap Jajang Gunawijaya, pengamat pariwisata dari Universitas Indonesia (UI). Menurut Jajang, Jalur Rempah punya potensi besar bagi pariwisata Indonesia dan tidak kalah dari Jalur Sutra China yang sudah mendunia.

"Ada tiga potensi yang bisa digali dari Jalur Rempah bagi pariwisata Indonesia. Yang pertama wisata sejarah atau susur, wisata kuliner dan wisata wellness atau kebugaran. Ini kalau dimaksimalkan potensinya sangat besar untuk bidang pariwisata," terang Jajang.

Wisata sejarah ini, menurut Jajang, bisa berupa susur atau menyusuri beragam daerah penghasil rempah yang punya banyak cerita menarik. Wisata ini akan lebih mudah dilaksanakan kalau Jalur Rempah Indonesia nantinya sudah mendapat pengakuan dari UNESCO.

Kekayaan Kuliner Indonesia

093329200_1632332344-Rempah_2.jpeg

"Ada banyak cerita menarik dari sejarah rempah-rempah di Indonesia, mulai dari Maluku, Sulawesi sampai Samudra Pasai. Semuanya punya cerita tersendri tentang perkembangan rempah yang sangat disukai dan diincar bangsa Eropa dan bahkan seluruh dunia," kata Jajang.

Ia menambahkan, perjalanan atau wisata sejarah ini bahkan tak hanya menelusuri Indonesia, tapi juga ke negara Asia lainnya dan bahkan sampai ke Eropa. "Harga rempah itu sebenarnya murah, tapi begitu sampai di Eropa harganya bisa naik berkali-kali lipat karena butuh waktu lama untuk berlayar dari Indonesia ke Eropa. Mereka sangat menyukai rempah karena bisa mengawetkan makanan dan minuman dan juga bisa jadi obat-obatan alami," ungkapnya.

Di bidang wisata kuliner, menurut Jajang, potensinya lebih besar lagi bahkan sudah banyak diakui negara lain. Kekayaan kuliner Indonesia bisa dilihat dari tiap daerah yang hampir semuanya punya makanan khas.

"Kelebihan utama kuliner kita adalah berani memakai banyak bumbu karena kita punya banyak jenis rempah yang bisa membuat makanan semakin enak dan punya rasa yang khas. Kekayaan bumbu rempah ini jadi potensi wisata kuliner yang sangat besar," tutur Jajang.

Bugar dengan Rempah

047107900_1632332390-Rempah_3.jpeg

"Waktu Asian Games 2018 misalnya, banyak orang luar negeri yang datang dan mereka sangat suka makanan Indonesia karena punya banyak bumbu yang khas. Siapa yang tidak suka masakan Padang misalnya, banyak orang luar yang suka dan ketagihan, belum lagi dari daerah lainnya," sambungnya.

Potensi lainnya adalah wisata kebugaran. Ramuan dari rempah bisa digunakan untuk pengobatan dan perawatan tubuh secara alami. Rempah juga bisa dijadikan minuman jamu atau untuk pijat dan bahkan membuat minyak esensial.

Menurut Jajang, rempah banyak digunakan sebagai bahan utama di berbagai spa dan sauna di Indonesia. "Spa wellness di Indonesia berbeda dengan spa negara lain karena kita punya banyak bahan alami dari rempah yang sangat khas, seperti jahe, akar tumbuhan, daun pandan dan bunga sedap malam. Jadi, potensi rempah memang luar biasa," pungkasnya.

Daerah Penghasil Rempah di Indonesia

045876600_1629484009-210819_infografis_daerah_penghasil_rempah_di_indonesia_P.jpeg

Sumber: https://www.liputan6.com/lifestyle/read/4665459/jalur-rempah-indonesia-berpotensi-kembangkan-3-jenis-wisata-sekaligus

Indonesia Gastronomy Network in collaboration with Negeri Rempah Foundation are proud to partner with Google Arts and Culture.

This program is initiated by Indonesia Gastronomy Network as a collaborative program with communities, experts, academics, and industry players across the Creative Economy sub-sectors in culinary arts, illustrations, design, film, music, apps and digital.

Collaborators include Negeri Rempah Foundation, Tempeh Movement, Acaraki, and Rendang Minang Legacy to the World by Reno Andam Suri.

Visit us!

6 Spices that Changed the World
https://artsandculture.google.com/project/indonesian-gastronomy?hl=en

Nutmeg: The Taste of Moluccas
https://artsandculture.google.com/story/rwWx8qzkbCdG7g

Pepper: The King of Spices
https://artsandculture.google.com/story/cAUB34nBKnPEFA

Candlenut: The Spirit of Savoury Cuisine
https://artsandculture.google.com/story/wQVxSQpQn7HklA

Cinnamon: The Soul of Sweets
https://artsandculture.google.com/story/ZgVxN2tG11t5og

Cloves: The Fragrance of Moluccas
https://artsandculture.google.com/story/7wUxiEx3tr3ZrQ

Andaliman: The Treasure of Batak
https://artsandculture.google.com/story/MAVRsuZZfoSPMg