Loading...

Dengan motto “Menjembatani Perbedaan, Menumbuhkan Pemahaman Antarbudaya”, forum ini berupaya menjadi wadah dialog lintas negara dan budaya tentang topik-topik terkait Jalur Rempah.

oleh Nazalea Kusuma 23 September 2021

Rempah-rempah pernah mengubah dunia. Secara substansi, rempah-rempah memiliki banyak fungsi alami. Secara historis, komoditas ini sangat mempengaruhi politik, ekonomi, budaya, dan konektivitas global. Demi rempah-rempah, dunia telah menempuh perjalanan panjang melintasi Asia Tenggara dari dan ke Asia Timur, Asia Selatan, Timur Tengah, dan Eropa. Aktivitas itu membentuk lalu lintas yang cukup padat, yang kemudian dikenal dengan Jalur Rempah.

Hingga saat ini, Jalur Rempah masih memberikan banyak kesempatan bagi kita untuk mempelajari masa lalu dan membangun inovasi dari sejarah kita, salah satunya melalui Forum Internasional Jalur Rempah – International Forum on Spice Route (IFSR) 2021. Acara tahunan ini diselenggarakan oleh Negeri Rempah Foundation. IFSR 2021 adalah acara virtual bebas biaya yang dimulai pada 20 September dan berakhir pada 23 September 2021.

Dengan motto “Menjembatani Perbedaan, Menumbuhkan Pemahaman Antarbudaya”, forum ini berupaya menjadi wadah dialog lintas negara dan budaya tentang topik-topik terkait Jalur Rempah. IFSR 2021 juga berharap dapat menumbuhkan persahabatan dan kerja sama yang kuat antara Indonesia dan negara lain yang memiliki warisan bersama ini.

Forum internasional ini mengusung tiga tema utama:

Identitas – Kesetaraan – Globalisasi

Tema ini membicarakan tentang sejarah diplomasi di sepanjang Jalur Rempah dan sebagai pintu masuk untuk kerja sama internasional. Kerja sama ini kemudian akan dapat memimpin menuju perdamaian global yang mengutamakan dialog, menjunjung tinggi harkat dan martabat kemanusiaan, serta mengakui dan menghormati warisan dan keragaman budaya dalam semangat keadilan dan kesetaraan.

Menelusuri Jalur Rempah Melalui Fitogeografi, Etnobotani, dan Jejaring Sosial Budaya

Fokus ini adalah tentang memetakan kembali Jalur Rempah melalui jejak budayanya. Migrasi manusia membawa ide, nilai, tradisi, sumber daya alam, dan budaya material melalui jaringan perdagangan global.

Budaya untuk Kreativitas, Inovasi, dan Pusat Mata Pencaharian

Tema ini membahas warisan bersama, budaya maritim, keanekaragaman hayati, pertukaran antarbudaya, dan ekonomi kreatif. Poin kunci dari pembahasan ini adalah bahwa pemahaman antarbudaya merupakan dasar bagi kreativitas dan inovasi.

Tema-tema ini akan disampaikan melalui dua belas kuliah umum, diskusi panel, sesi berbagi, dan kegiatan komunitas dalam empat hari.

  • Pada tanggal 20 September: Membangun Jaringan Cendekiawan Muda Indonesia di Luar Negeri; Meninjau Kembali Jalur Rempah dari Perspektif Fitogeografis dan Etnobotani; Menghubungkan Diaspora Indonesia; dan Identitas-Kesetaraan-Globalisasi. 
  • Pada 21 September: Budaya untuk Kreativitas, Inovasi dan Penciptaan Mata Pencaharian; Meninjau Kembali Jalur Rempah: Memetakan Kembali Jejaring Sosial Budaya; dan Presentasi Pemuda. 
  • Pada 22 September: Memahami Nominasi Warisan Dunia dan Memperkuat Gerakan Komunitas.
  • Pada tanggal 23 September: Budaya Maritim: Warisan Bawah Laut; Budaya Maritim: Teknologi Kapal; dan Dinamika Mobilitas Sosial Austronesia.

Sesi ini dipandu oleh para thought leaders, aktivis muda, dan komunitas yang ikut menyelenggarakan IFSR 2021 (Yayasan Negeri Rempah, Maritim Muda Nusantara, Rumah Produktif Indonesia, dan Perhimpunan Masyarakat Etnobiologi Indonesia). Green Network adalah salah satu dari banyak entitas yang mendukung IFSR 2021. Organisasi dan entitas pendukung lainnya termasuk UNESCO, Bank Indonesia, ICOMOS Indonesia (International Council on Monuments and Sites), Universitas Indonesia, dan banyak lainnya.

Kegiatan International Forum on Spice Route 2021 dapat diikuti dengan seksama melalui akun Instagram @negerirempah dan kanal YouTube Negeri Rempah Channel.

Penerjemah: Marlis Afridah

Sumber: https://greennetwork.id/kabar/2021/09/ifsr-2021-dari-sejarah-ke-inovasi-dan-pemahaman-antarbudaya/

Sejak ribuan tahun lalu, di era prakolonial, Indonesia sudah berperan penting sebagai jalur rempah. Pernyataan ini perlu bukti kuat dan pengakuan dari negara-negara lain di dunia. 

Itu sebabnya, sejak 2017, Indonesia melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, mengusulkan jalur rempah-rempah sebagai Warisan Dunia UNESCO. Pengajuan ini berdasar pada gagasan bahwa rute tersebut adalah titik fokus pertukaran pengetahuan dan budaya.

“Karena kita paham bahwa sebenarnya kita (Indonesia) berkontribusi pada sesuatu di dunia, dari rempah-rempah ini,” kata Direktur Eksekutif Yayasan Negeri Rempah Kumoratih Kushardjanto, bicara tentang mengapa Indonesia harus membuat UNESCO mengakui jalur rempah. 

Ratih juga menjadi pembicara dalam sesi online bertajuk “Tales of the Lands Beneath the Winds – How Spice Intoxicated the World” yang merupakan bagian dari ekshibisi seni Media Art Globale (MAG21), 11 September lalu. 

Ia menyebutkan, jalur rempah Indonesia, yang dulu masih disebut sebagai Nusantara, punya peran sama pentingnya seperti jalur sutra (silk road), jalur perdagangan kemenyan (incense road), dan banyak jalur perdagangan lainnya yang berkontribusi membentuk sejarah dunia. 

“Semua jalur ini berkontribusi pada pertukaran budaya. Saya rasa Pemerintah Indonesia harus memainkan peran penting dalam konteks global untuk memperkenalkan Indonesia sebagai salah satu negara penting yang berkontribusi sesuatu pada dunia,” jelasnya. 

Rempah asli Indonesia  

Indonesia memiliki alasan kuat untuk memaparkan mengapa jalur rempah Nusantara pantas menjadi warisan dunia. Jalur ini menjadi titik temu diplomasi budaya yang dapat memperkuat posisi Indonesia sebagai poros maritim dunia.

Ratih menjelaskan, jalur rempah-rempah global di Asia melalui Samudera Hindia ke Samudera Pasifik, menghubungkan tiga benua besar yaitu Asia, Afrika, dan Eropa, sehingga memiliki jejak peradaban yang signifikan.

Bicara tentang rempah-rempah, berdasarkan penelitian, Asia memiliki sekitar 400 hingga 500 spesies tanaman rempah dalam skala global. Untuk Asia Tenggara, setidaknya jumlahnya mendekati 275 spesies. 

“Itu (jumlah spesies) endemik dari Asia Tenggara. Jadi, bisa dibayangkan Indonesia yang merupakan wilayah terluas di Asia Tenggara, berapa banyak rempah-rempah yang telah digunakan selama berabad-abad sebagai obat, makanan, hingga pengawet. Itulah mengapa zaman dulu banyak orang di seluruh dunia, mencoba pergi ke Nusantara, untuk mendapatkan rempah-rempah karena sangat berharga,” urainya. 

Dari begitu banyak tanaman rempah yang tumbuh di Indonesia, beberapa di antaranya merupakan endemik, yaitu pala, cengkeh, dan kapur barus atau kamper. Tiga rempah endemik Indonesia tersebut telah diperdagangkan selama berabad-abad. 

Memahami keragaman lewat rempah-rempah

Sementara Indonesia sedang dalam proses mengajukan jalur rempah sebagai Warisan Dunia UNESCO, Ratih berharap orang Indonesia sendiri belajar memahami sejarah dan budaya negerinya. 

“Tantangannya adalah bagaimana membuat jalur rempah menjadi sesuatu yang semua orang memiliki pengetahuan yang sama tentang ini. Karena tidak ada gunanya jika ini (jalur rempah) menjadi Warisan Dunia, namun tidak terhubung dengan sejarah kita. Karena pengertian rempah-rempah ini bukan hanya sebagai komoditas,” ujarnya. 

Lebih dari itu, lanjut Ratih, jalur perdagangan rempah, sama seperti jalur perdagangan lainnya di masa lampau, sebenarnya adalah sebuah koridor budaya, di mana pertukaran dan pemahaman antarbudaya telah terjadi. 

“Kita juga belajar tentang keragaman kita sendiri. Jadi, itulah mengapa kita perlu belajar tentang keragaman kita melalui rempah-rempah ini. Itu poin utamanya. Orang Indonesia harus belajar tentang budaya sejarah identitas mereka sendiri, karena tanpa pertukaran ini, kita tidak akan beragam seperti sekarang,” tutupnya. (E03)

Sumber: https://castfoundation.id/media/jalur-rempah-nusantara-titik-temu-budaya-indonesia-dan-dunia/

Indonesia Gastronomy Network in collaboration with Negeri Rempah Foundation are proud to partner with Google Arts and Culture.

This program is initiated by Indonesia Gastronomy Network as a collaborative program with communities, experts, academics, and industry players across the Creative Economy sub-sectors in culinary arts, illustrations, design, film, music, apps and digital. Collaborators include Negeri Rempah Foundation, Tempeh Movement, Acaraki, and Rendang Minang Legacy to the World by Reno Andam Suri.

We invite you to join the Virtual Launching for our Google Arts & Culture's platform, on:

  • Thursday, 23 September 2021
  • 10.30-11.30 WIB (Jakarta time, UTC+7)

Live streaming on Kemenparekraf and Google Indonesia Youtube channels. Please click the link and see you on time!

Supported by:

Google International, Google ID & the Ministry of Tourism and Creative Economy (Kemenparekraf).

Liputan6.com, Jakarta - Diajukannya Jalur Rempah sebagai Warisan Dunia ke UNESCO oleh pemerintah Indonesia bagaikan gayung bersambut. Upaya ini meningkatkan antusiasme masyarakat yang setidaknya sejak 2014 telah menggulirkan narasi Jalur Rempah dalam berbagai kegiatan yang bersifat sporadis.

Yayasan Negeri Rempah dan Jaringan Masyarakat Negeri Rempah, sebuah jejaring simpul komunitas yang tersebar di beberapa daerah bahkan mancanegara, semakin gencar memberikan ruang untuk menyuarakan gagasan-gagasan tentang Jalur Rempah di masyarakat.

Meski begitu, pengakuan sebagai warisan dunia bukanlah tujuan utamanya. Narasi besar Jalur Rempah itu hanya sebuah pintu masuk agar kita dapat memaknai keberagaman yang membentuk Indonesia hari ini.

Menurut Prof. Johannes Widodo, Ph.D. dari National University of Singapore dalam International Forum on Spice Route (IFSR) 2021, Selasa, 21 September 2021, ia mengingatkan kembali tentang pentingnya pemanfaatan (warisan) budaya secara etis dan bertanggung jawab.

Mengenai pengusulan sebagai warisan dunia, Johannes melihat bahwa ada kecenderungan pemerintah Indonesia melihatnya dari aspek pariwisata, investasi dan perdagangan semata yang memiliki potensi eksploitasi. "Contohnya suda ada. Kita lihat bagaimana Borobudur dan Pulau Komodo yang menerima peringatan dari pihak UNESCO karena dinilai melakukan pembangunan yang tidak berkelanjutan. Itu harus dikaji dan diperhatikan dengan baik," terangnya.

Johannes juga mengajukan pertanyaan tentang paradigma pembangunan. Di satu sisi adalah pembangunan yang berfokus pada materialitas demi kepentingan ekonomi semata, dan di sisi lainnya adalah pembangunan yang berfokus pada kesejahteraan masyarakat.

"Kalau saya melihat pemerintah nampaknya lebih mengutamakan pembangunan infrastruktur yang pada akhirnya kurang memiliki keberpihakan pada budaya dan masyarakatnya," ucapnya.

Pembangunan Komunitas

Johannes menambahkan, hal ni dapat dilihat dengan munculnya 10 destinasi super prioritas yang dicanangkan oleh pemerintah. Alih-alih dimulai dari infrastruktur, ia menawarkan gagasan pembangunan yang dimulai dari pembangunan komunitas dan budayanya demi kesejahteraan sosial.

Hal senada juga dikatakan Prof. Tim Winter, Ph.D. (Australia) dari University of Western Australia. Menurut Prof Winter, semua instrumen yang berhubungan dengan penghasil rempah harus sudah sejahtera dan stabil sehingga bisa konsisten dalam melaksanakan usaha mereka.

"Yang diutamakan adalah kesejahteraan para penghasil rempah di negeri sendiri, termasuk para petaninya. Kalau di dalam negeri sendiri mengalami kesulitan, tentu akan terasa sia-sia meski sudah banyak mengekspor ke negara lain. Begitu juga di Indonesia. Kesejahteraan para penghasil rempah lokal harus diutamakan, soal tidak ada pembeli atau turis yang datang itu tidak jadi masalah," ucap Winter.

Warisan Milik Bersama

img-yahoo-02.jpg

"Kalau penanganan di dalam negeri sendiri bagus dan hasilnya memuaskan, kemungkinan besar orang lain atau negara lain pasti akan datang untuk membeli. Jadi, bisa saja dimanfaatkan untuk menjadi bagian dari komoditas wisata, kalau memang semua faktor utama dan pendukungnya terpenuhi," lanjutnya.

Ptof Winter memaparkan bahwa rempah-rempah merupakan warisan milik bersama di kawasan Asia. Hal ini setidaknya dapat dilihat dari beragamnya penggunaan rempah-rempah dalam tradisi kulinernya.

Mulai dari laksa, kari, rendang, biryani, dan masih banyak lagi. Dengan demikian, gastrodiplomasi merupakan sebuah kesempatan untuk membuka ruang dialog antarbudaya dalam lingkup Asia Tenggara

Daerah Penghasil Rempah di Indonesia

045876600 1629484009 210819 infografis daerah penghasil rempah di indonesia P

Sumber: https://www.liputan6.com/lifestyle/read/4664403/ragam-faktor-yang-harus-diperkuat-agar-jalur-rempah-indonesia-diakui-dunia

Liputan6.com, Jakarta - Jalur rempah dapat menjadi pijakan dalam melihat kembali berbagai kemungkinan kerja sama antarbangsa. Pijakan tersebut untuk mewujudkan persaudaraan dan perdamaian global yang mengutamakan pemahaman antarbudaya; penghormatan dan pengakuan atas keberagaman budaya beserta warisannya; memiliki semangat keadilan, kesetaraan dan saling berkontribusi; serta menjunjung tinggi harkat martabat kemanusiaan.

Diplomasi budaya sesungguhnya bukan sesuatu yang baru. Nenek moyang kita sudah melakukannya dengan rancangan yang cukup canggih dan dengan semangat ‘tangan di atas’.

"Sebagai bangsa, sudah tiba saatnya kita untuk memajukan kerja sama internasional, termasuk kerja sama teknik dan budaya, terutama dengan negara-negara berkembang, atas dasar kemanusiaan. Sangat banyak yang bisa kita tawarkan untuk berbagi dengan bangsa-bangsa lain karena keberagaman peradaban dan budaya kita," kata Ketua Dewan Pembina Yayasan Negeri Rempah, Hassan Wirajuda, dalam siaran pers tentang penyelenggaraan International Forum on Spice Route (IFSR) yang diterima Liputan6.com, Jumat, 17 September 2021.

Wirajuda berkata, diplomasi ‘tangan di atas’ yang mengutamakan kontribusi ini tidak semata untuk mengangkat Indonesia dan menjatuhkan yang lain. Inisiatif untuk aktif berkontribusi dilandasi oleh kesadaran bahwa tidak ada satu negara pun yang dapat berdiri sendiri tanpa dukungan negara lain.

"Oleh karena itu, dibutuhkan kerja sama antarbangsa yang yang lebih bermakna dan berkesinambungan. Sejarah juga telah menunjukkan bahwa Jalur Rempah dari masa ke masa merupakan contoh nyata diplomasi budaya telah dipraktikkan di segala lini oleh individu, komunitas masyarakat, hingga tingkatan negara bangsa," kata Wirajuda.

Belajar dari dinamikanya di masa lalu, ia menyebut Jalur Rempah sangat relevan untuk menjadi rujukan dalam mencari warna diplomasi Indonesia yang mengedepankan interaksi dan kehangatan dialog di berbagai bidang dan lapisan masyarakat.

Ruang Silaturahmi

043605300 1553888072 Rempah Rempah

Ketua Yayasan Negeri Rempah, Kumoratih Kushardjanto, menambahkan, Jalur Rempah bukan sekadar jalur perdagangan. Menurut dia, Jalur Rempah tak ubahnya seperti ruang silaturahmi danpertukaran antarbudaya yang melampaui ruang dan waktu.

"Karena kekayaan rempah-rempah kita, Nusantara dari masa ke masa menjadi simpul penting pertukaran antarbudaya yang mempertemukanberbagai gagasan, konsep, ilmu pengetahuan, agama, bahasa, hingga budaya, yang berkontribusi penting dalam membentuk peradaban dunia," urainya.

Karena itu, ia menilai narasi Jalur Rempah penting untuk selalu dibahas lantaran luasnya spektrum yang terkandung. Ia menyebut Jalur Rempah relevan menjawab tantangan-tantangan kontemporer, seperti ketahanan pangan, perubahan iklim, pengentasan kemiskinan, dan kesetaraan. "Di situlah pentingnya kita belajar, membaca dan mendengar dari berbagai perspektif," ucap Kumoratih.

Bukan Hanya Pengakuan UNESCO

026919300 1607702932 Rempah 3

Jalur Rempah yang diajukan pemerintah Indonesia sebagai Warisan Dunia ke UNESCO bagaikan gayung bersambut. Upaya ini meningkatkan antusiasme masyarakat yang setidaknya sejak 2014 telah menggulirkan narasi Jalur Rempah dalam berbagai kegiatan yang bersifat sporadis.

Yayasan Negeri Rempah dan Jaringan Masyarakat Negeri Rempah, sebuah jejaring simpul komunitas yang tersebar di beberapa provinsi bahkan mancanegara, semakin gencar memberikan ruang untuk menyuarakan gagasan-gagasan tentang Jalur Rempah di masyarakat. Meski demikian, Kumoratih mengingatkan bahwa pengakuan sebagai warisan dunia bukanlah tujuan utama.

"Narasi besar Jalur Rempah itu hanya sebuah pintu masuk agar kita dapat memaknai keberagaman yang membentuk Indonesia hari ini. Apa gunanya kita mendapatkan status world heritage kalau kita sendiri tidak punya pemahaman terhadap apa yang diamanahkan oleh dunia untuk kita jaga?" lanjutnya.

Penyelenggaraan International Forum on Spice Route (IFSR) yang ketiga akan digelar Yayasan Negeri Rempah pada 20-23 September 2021 secara daring. Acara tersebut mengusung tema Bridging Differences, Fostering Intercultural Understanding yang akan dihadiri pembicara dari dalam dan luar negeri.

Infografis Daerah Penghasil Rempah di Indonesia

045876600 1629484009 210819 infografis daerah penghasil rempah di indonesia P

Sumber: https://www.liputan6.com/lifestyle/read/4661965/jalur-rempah-contoh-nyata-diplomasi-budaya-antarbangsa-sejak-lama

Pertamina International Shipping (PIS) - Subholding Integrated Marine & Logistics tergabung dalam acara International Forum on Spice Route (IFSR) yang diselenggarakan oleh Yayasan Negeri Rempah bekerjasama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia pada 21-23 September 2021. Mengambil tema “Membangun Kembali Interkonektivitas Jalur Rempah Menuju Warisan Dunia”, di mana representatif PIS turut hadir sebagai narasumber pada kegiatan tersebut yang diwakili oleh Muhammad Irfan Zainul Fikri sebagai Project Management Coordinator dan Indra Lianggoro Widhy Nugroho sebagai Project Control Pertamina International Shipping dengan topik pembahasan terkait peran Pertamina International Shipping dalam mendukung Indonesia menjadi poros maritim dunia.

Project Management Coordinator PIS, M. Irfan menyampaikan, “Saat ini jalur laut Indonesia masih menjadi primadona di dunia. Dengan posisi geografisnya yang strategis, hingga kini kawasan laut Indonesia masih menjadi jalur perlintasan maritim yang tersibuk di dunia," ujarnya. Jalur maritim Indonesia saat ini memiliki kesamaan dengan jalur perdagangan rempah-rempah nusantara di masa lampau dan saat ini digunakan oleh PIS untuk mendistribusikan komoditas energi, yaitu minyak dan gas bumi ke seluruh pelosok negeri. Untuk mendukung pelaksanaan distribusi minyak dan gas bumi, PIS didukung 6 lini bisnis yang berfokus pada shippingmarine servicesport servicesport ownership, storage, other logistics services dan hingga saat ini PIS juga telah memiliki total 539 kapal dengan berbagai tipe untuk menunjang bisnis perusahaan.

PIS juga berkontribusi memajukan industri maritim dalam negeri dengan memberdayakan galangan-galangan lokal dalam pembuatan kapal. Indra menambahkan, “Sejauh ini kita telah memiliki 31 kapal yang dibangun di galangan dalam negeri, salah satunya di PT PAL, lalu PT DPS, dan PT Dok Perkapalan Kodja Bahari," tambahnya. Hal tersebut menunjukkan dukungan dan upaya yang diberikan PIS untuk melakukan local empowerment sebagai upaya memajukkan industri maritim dalam negeri.

Kekuatan Maritim Indonesia yang diwakili oleh PIS saat ini sudah mampu bersaing di kancah internasional. Dalam kesempatannya Project Control Pertamina International Shipping, Indra mengatakan “Kapal-kapal PIS telah berhasil bersandar di pelabuhan internasional salah satunya di LPG Export Terminal milik Phillips 66 di Freeport, Texas, USA, dengan Kapal Pertamina Gas 2 yang seluruh awak kapalnya adalah warga negara Indonesia dan hal tersebut menunjukkan bahwa armada kapal PIS mampu menembus pasar internasional, tidak hanya di pasar domestik dengan muatan seperti Gasoline & Diesel, Avtur & MFO, Crude Oil, maupun LPG." ujarnya.

Sejalan dengan ekpansi bisnisnya, PIS turut mendukung penerapan Environment, Sustainability dan Governance (ESG) dengan menghadirkan beberapa teknologi kapal yang ramah lingkungan (Green Shipping) seperti Stern Tube Air Seal Type untuk menghindari kebocoran bahan bakar kapal, lalu ada juga teknologi Oily Water Separator (OWS) yang berfungsi untuk memisahkan air dengan minyak mencegah pencemaran. Hal ini merupakan bentuk kontribusi PIS dalam mewujudkan green shipping company, green operation, green cargo, green port, dan green storage untuk dapat bersaing secara global dan mewujudkan visi perusahaan menjadi Asia Leading Shipping Company serta dapat memberikan kontribusi dalam mewujudkan Indonesia sebagai poros maritim dunia.

 

Sumber: Pertamina PIS (pertamina-pis.com)

Menyambut Hari Pariwisata Sedunia, bekerja sama dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dan Indonesia Gastronomy Network, Google Arts & Culture dengan bangga meluncurkan “Spice Up The World” (g.co/indonesiaspices) — sebuah halaman yang menampilkan lebih dari 45 kisah digital imersif yang dikuratori oleh para ahli, juga merayakan dan menyoroti keragaman tradisi dan budaya di baliknya gastronomi Indonesia.

Rempah-rempah dari nusantara telah membumbui selera dunia selama lebih dari lima ratus tahun. Ini memicu pelayaran, pertukaran budaya, kemajuan teknologi, juga evolusi ratusan minuman dan makanan yang kita nikmati hari ini. Keanekaragaman rempah-rempah dan cara budaya lokal memadukan rempah-rempah itulah yang membuat identitas gastronomi Indonesia spesial. Halaman “Spice Up The World” menampilkan tradisi, perdagangan dan sejarah, keragaman racikan rempah-rempah dari puluhan daerah, juga potret petani, pasar tradisional dan ilustrasi budaya jajanan kaki lima karya ilustrator lokal, Nugraha Pratama.

“Alam, sejarah, dan budaya semuanya membentuk budaya kuliner Indonesia. Keragaman geografis dan budaya yang sangat besar di seluruh nusantara, telah berkontribusi pada masakan Indonesia yang kaya akan variasi dan rasa. Didukung oleh banyak mitra lainnya seperti Acaraki, Tempe Movement, Negeri Rempah Foundation, Reno Andam Suri, Flavours of Indonesia by William Wongso, Bebek Timbungan dan Indonesiaeats dan Erison J. Kambari- Kami berharap inisiatif “Spice Up the World” di Google Arts & Culture dapat membantu mempromosikan budaya kuliner Indonesia kepada dunia, membantunya bersaing secara global, dan yang terpenting, mewujudkan nilai-nilai sosial budaya yang mendasari Bhinneka Tunggal Ika.” tanggap Vita Datau, Founder Indonesia Gastronomy Network. 

Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya., Kepala Hubungan Publik Asia Tenggara di Google juga menambahkan bahwa, “Inisiatif “Indonesia, Spice up the world” ini merupakan salah satu dari serangkaian upaya Google dalam membantu sektor pariwisata Indonesia pulih dari pandemi COVID-19. Kami percaya bahwa teknologi digital dapat memberikan peluang bagi industri kuliner Indonesia untuk terus berkembang ke seluruh dunia. Inisiatif ini adalah salah satu aksi nyata kolaborasi bersama dalam mempromosikan kekayaan rempah dan kuliner Indonesia secara global. Kami berharap melalui inisiatif ini, masyarakat luas dapat menjelajahi sejarah rempah-rempah Indonesia secara virtual, turut menempatkan kekayaan gastronomi Indonesia di mata masyarakat dunia dan menginspirasi mereka untuk menjelajahi Indonesia diawali dengan bumbu-bumbu Indonesia”. 

“Untuk mendukung sektor pariwisata menuju pemulihan, kami berkolaborasi dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dalam tiga cara: membantu industri dan pemerintah untuk mengambil keputusan yang baik dengan mempromosikan solusi berbasis data dengan meluncurkan alat Destination Insights pada tahun lalu, menyelenggarakan Gapura Digital untuk Wonderful Indonesia yang memberikan pelatihan keterampilan digital gratis, mempersiapkan bisnis pariwisata untuk dapat beradaptasi dengan kewajaran baru, dan hari ini membantu menampilkan budaya kuliner Indonesia ke dunia melalui halaman “Spice up the world” di Google Arts & Culture. Saya berharap upaya kami akan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Indonesia yang ingin membangun kembali sektor pariwisata selama masa sulit ini. Saya pribadi merasa optimis tentang masa depan Indonesia dan tergugah oleh energi dan usaha masyarakat Indonesia. Yang terpenting, kita akan terus berkembang jika kita bisa bekerja sama dalam semangat gotong royong.” ujar Randy Jusuf, Managing Director Google Indonesia saat membuka livestream peluncuran inisiatif ini. 

Pada kesempatan yang sama, Sandiaga Salahuddin Uno, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menegaskan bahwa industri kuliner merupakan salah satu lokomotif kebangkitan industri kreatif Indonesia. Beliau juga optimis akan daya saing kuliner Indonesia baik di pasar lokal regional maupun pasar dunia, yang terus di dukung dengan inovasi dan teknologi digital. 

“Saya menyambut baik hadirnya karya Google Indonesia yang didedikasikan untuk membantu promosi kuliner Indonesia. Saya yakin peluncuran landing page “Spice up the world” di Google Arts & Culture dapat menginspirasi seluruh pelaku kuliner Indonesia untuk selalu berinovasi dan beradaptasi kedepan. Saya berharap semua pihak dapat terus bersinergi dan bersama - sama saling mendukung demi memajukan sektor PAREKRAF Indonesia sehingga mampu memberikan manfaat bagi masyarakat. Khususnya mendukung terbukanya lapangan kerja seluasnya, menggerakkan perekonomian dan mendorong percepatan pemulihan ekonomi nasional.” tutup Sandiaga di acara livestream tersebut.  

 

Sumber: Blog resmi Google di Indonesia: Indonesia, Spice Up The World! Melestarikan kekayaan kuliner Indonesia dari rumah di Google Arts & Culture (googleblog.com)

Liputan6.com, Jakarta - Lain tempat, lain pula serapan kulturnya, begitu pula dengan rempah-rempah. Sebagai orang Indonesia, komoditas ini sudah begitu lekat dengan keseharian. Rempah menyapa indra perasa lewat bumbu-bumbu masakan, juga meninggalkan memori tertentu melalui aroma-aroma khas, misalnya.

Pemanfaatan rempah-rempah di belahan dunia lain nyatanya tidak terlalu berbeda. Asimilasi budaya setempat yang kemudian membuatnya memiliki identitas masing-masing.

Di Indonesia, Wawan Sujarwo, Ph.D., dari Ethnobiological Society of Indonesia mengatakan bahwa sementara rempah sebagai bumbu sajian begitu identik, komoditas ini juga dimanfaatkan sebagai obat tradisional dan bahan aromaterapi. Dalam hal aromaterapi, kayu manis jadi yang terpopuler.

"Kayu manis juga dikenal sebagai obat (tradisional) yang legendaris di Indonesia bagian timur," katanya dalam International Forum on Spice Route (IFSR) 2021, Selasa, 20 September 2021.

Prof. Zaal Kikvidze, Ph.D. dari Ilia State University, Tbilisi, Georgia menyambung bahwa di negaranya, yang berlokasi di "persimpangan" Asia-Eropa dan masuk dalam Jalur Sutra, rempah didominasi dalam melengkapi cita rasa sajian. "Di samping tentu Georgia dikenal melalui warisan pembuatan anggur," ucapnya di kesempatan yang sama.

Beberapa rempah yang umum di Georgia antara lain ketumbar, marigold, kemangi, daun mint, kunyit, oregano, kayu manis, pala, dan vanila. Ia selanjutnya memperlihatkan kuliner berupa bubur sorgum yang disajikan bersama saus prunus tercatat di Museum Etnografi, Tbilisi.

Pelestarian Berbasis Komunitas

000165900_1629473966-tamil-shutter-dreams-XM1RAnQeFTs-unsplash.jpeg

Lixin Yang, Ph.D. dari Kunming Institute of Botany, Chinese Academy of Sciences menyoroti bagaimana rempah-rempah dimanfaatkan sebagai obat tradisional dan pewarna pakaian alami. Konservasi keberagaman, terutama berkonsentrasi di Provinsi Yunnan, didorong melalui konteks lokal, seperti agama.

"Kami juga merestorasi hutan-hutan suci di berbagai (tempat tinggal) komunitas minoritas," tuturnya. Suku-suku di wilayah ini, tambah Dr. Yang, dikenal berhubungan dekat dengan alam.

Di sisi lain, produk-produk alami ini, termasuk rempah, kemudian diolah untuk memenuhi kebutuhan hidup komunitas lokal. "Ini kemudian diadopsi dan dikembangkan berdasarkan kearifan lokal untuk memanfaatkan sumber daya alam sekitar," ujarnya.

Persamaan dengan Rempah Asia Tenggara

094924600_1620462300-pexels-mareefe-678414.jpeg

Dr. Yang mengatakan, bagian tenggara dari Himalaya kaya akan warisan obat tradisional. Di samping, rempah di sini juga dimanfaatkan sebagai bumbu makananan yang menciptakan cita rasa khas.

"Soal persamaan dengan rempah di Asia Tenggara, saya pikir lebih mengarah pada keluarga jahe," katanya. Ia menjelaskan, jahe di wilayah tersebut ada yang kuat, baik secara rasa atau aroma, namun ada juga yang lebih "ringan."

Terkait penggunaan, sama seperti di Indonesia, jahe juga sering dimanfaatkan untuk meredakan flu. "(Jahe) yang berwarna kuning biasanya lebih kuat secara aroma," imbuhnya.

Infografis Daerah Penghasil Rempah di Indonesia

045876600_1629484009-210819_infografis_daerah_penghasil_rempah_di_indonesia_P.jpeg

Sumber: https://www.liputan6.com/lifestyle/read/4663391/macam-macam-pemanfaatan-rempah-di-indonesia-china-dan-georgia

Indonesian Diaspora Business Council (IDBC) dan Negeri Rempah Foundation (NRF) menandatangani kerja sama untuk mengangkat rempah Indonesia mendunia. Seperti kita ketahui, Indonesia adalah negeri yang kaya akan rempah-rempah, namun sayangnya, rempah-rempah Vietnam, Thailand dan Malaysia justru lebih mendominasi di pasar mancanegara. Langkah kerja sama strategis ini, diharapkan bisa terbangun kolaborasi yang kuat antara diaspora Indonesia dan komunitas yang berada di bawah NRF.

Penandatanganan nota kesepahaman ini dilakukan oleh Presiden IDBC,Fify Manan, dan Ketua Yayasan Negeri Rempah, Kumoratih Kushardjanto, disaksikan oleh Wakil Presiden IDBC Astrid Vasile (Australia), perwakilan dari Dewan Pengurus Yayasan Negeri Rempah dan Koordinator Program Pasarempah, Chaedar Saleh Reksalegora.

NRF yang salah satu pendirinya adalah Hasan Wirayuda, mantan Menteri Luar Negeri RI, telah dikenal sejak lama dengan komunitasnya. Bukan saja dalam hal pengembangan sisi ekonomi bisnis dari rempah-rempah Indonesia, tapi juga membangun narasi bahwa  melalui rempah-rempah, juga menjadi ajang mengenalkan budaya, nilai dan keberagaman. Hal ini disampaikan Kumoratih atau akrab disapa Ratih, pendiri lain NRF saat penandatanganan kerja sama ini secara virtual (02/09/2021).

“Peran diaspora Indonesia amat besar dalam mempromosikan Indonesia. Apalagi, saat ini Indonesia tengah berupaya untuk menominasikan Jalur Rempah sebagai World Heritage. Kita perlu mempererat persahabatan dan kerja sama dengan negara-negara sahabat.. Dengan dukungan diaspora Indonesia, kita dapat mengambil langkah awal yang baik menuju tujuan kita, termasuk strategi untuk mengembangkan usaha di negara lain tempat diaspora kita berada. Narasi Jalur Rempah dapat turut memperkuat diplomasi Indonesia dalam konteks ekonomi,” ujar Ratih.

Di sisi lain, Fify mengatakan Indonesia sebagai negara kepulauan terpendam harta karun yang sangat berharga yaitu rempah. “Indonesia merupakan surga dunia untuk rempah, mestinya ini bukan sekadar komoditi, tapi harus dengan value added kita bisa ekspor rempah-rembah sebagai bahan olahan bumbu masak. Saat ini bumbu rempah olahan didominasi Thailand, Vietnam dan Malaysia. Bumbu masakan Indonesia mestinya bisa lebih luas peluangnya, agar kesejahteraan UMKM meningkat juga petani Indonesia,” tandasnya.

Fifi menambahkan kuliner Indonesia harus bisa mendunia jika bumbu rempahnya juga mendunia. “Para diaspora yang bergerak di bidang kuliner yang terbanyak saat ini, dengan kerja sama ini, saya yakin bisa mendukung bisnis mereka,” ujarnya. Lalu dengan berkembangnya pemasaran secara online, IDBC sebelumnya telah mengembangkan IDBC Trade Link. Dijelaskan Diski, tim dalam pengembangan teknologi di IDBC, bahwa akan banyak membuka peluang dengan memasukkan komunitas di bawah NRF, yang merupakan UMKM rempah,  terkoneksi dengan diaspora yang membutuhkan rempah-rempah.

IDBC TradeLink bukan sekadar e-commerce, lanjut Diski,  karena di dalamnya juga menjadi tempat promosi dan kolaborasi perdagangan virtual, serta dapat turut menampung informasi para pelaku UMKM. Termasuk di dalamnya, Pasarempah, yang bisa membawa komunitas ini ke pasar global. Platform ini dapat diakses melalui situs idbc-tradelink.com.

Tujuan platform ini adalah menghubungkan peluang bisnis di antara Diaspora Indonesia di seluruh dunia dan mempercepat promosi bisnis Indonesia; menyediakan platform direktori bisnis yang komprehensif sebagai sumber data tunggal untuk bisnis Diaspora Indonesia; serta mengakomodir kolaborasi bisnis melalui platform interaksi seluler yang mudah digunakan.

Ke depannya, IDBC dan Negeri Rempah akan menggelar berbagai kegiatan diskusi dan bincang virtual yang mengetengahkan beragam topik dan narasumber yang menginspirasi. Melalui platform Tradelink, kolaborasi menjadi lebih mudah karena platform ini memiliki kapasitas untuk menyediakan "forum" yang sederhana dan mudah diakses oleh para anggotanya.

Astrid mengatakan kolaborasi adalah alat bisnis yang kuat untuk komunitas bisnis, terlepas dari ukuran atau industri mereka. Ada rasa urgensi untuk dapat memenuhi berbagai kebutuhan banyak pihak yang berkepentingan dalam peluang ekonomi UKM ini. “Prioritas kami adalah untuk menampilkan bisnis luar biasa kepada komunitas ekspor, bangsa dan Diaspora Internasional, dan menghubungkan peluang bisnis di antara diaspora Indonesia di seluruh dunia dan mempercepat promosi bisnis Indonesia,” terangnya.

Fify menyebut saat ini ada 12 juta diaspora di seluruh dunia dan TradeLink bergerak untuk membuktikan model platform yang unik, mendorong produktivitas melalui desain dan pengembangan terintegrasi di semua bidang Mode dan aktivitas industri lainnya.

Ratih menambahkan bahwa berkat komoditas rempah-rempah, Nusantara dari masa ke masa menjadi tempat bertemunya manusia dari berbagai belahan dunia yang sebagian besar memiliki semangat bukan semata untuk berdagang, tetapi juga untuk membangun peradaban. Jalur perdagangan rempah inilah yang menjadi sarana bagi pertukaran antarbudaya yang berkontribusi penting dalam membentuk peradaban dunia.

“Melalui rempah, kita bisa mengembangkan new sense of identity, jalur rempah sebagai warisan dunia, literasi tentang budaya harus kita sebarkan bersama. Bukan saja terkait pengembangan ekonomi, inilah saatnya rempah bisa memproyeksikan value Indonesia ke dunia. Kolaborasi ini bisa membuka ruang lebih luas, yang telah bergabung dengan yayasan ini, baik yang tidak terkait ekonomi maupun para UMKM,” ujar Ratih.

Sumber: Simak Nih, Daftar Produk Rempah Alam Indonesia yang Mendunia (bogordaily.net)

Liputan6.com, Jakarta - Lain tempat, lain pula serapan kulturnya, begitu pula dengan rempah-rempah. Sebagai orang Indonesia, komoditas ini sudah begitu lekat dengan keseharian. Rempah menyapa indra perasa lewat bumbu-bumbu masakan, juga meninggalkan memori tertentu melalui aroma-aroma khas, misalnya.

Pemanfaatan rempah-rempah di belahan dunia lain nyatanya tidak terlalu berbeda. Asimilasi budaya setempat yang kemudian membuatnya memiliki identitas masing-masing.

Di Indonesia, Wawan Sujarwo, Ph.D., dari Ethnobiological Society of Indonesia mengatakan bahwa sementara rempah sebagai bumbu sajian begitu identik, komoditas ini juga dimanfaatkan sebagai obat tradisional dan bahan aromaterapi. Dalam hal aromaterapi, kayu manis jadi yang terpopuler.

 

"Kayu manis juga dikenal sebagai obat (tradisional) yang legendaris di Indonesia bagian timur," katanya dalam International Forum on Spice Route (IFSR) 2021, Selasa, 20 September 2021.

Prof. Zaal Kikvidze, Ph.D. dari Ilia State University, Tbilisi, Georgia menyambung bahwa di negaranya, yang berlokasi di "persimpangan" Asia-Eropa dan masuk dalam Jalur Sutra, rempah didominasi dalam melengkapi cita rasa sajian. "Di samping tentu Georgia dikenal melalui warisan pembuatan anggur," ucapnya di kesempatan yang sama.

Beberapa rempah yang umum di Georgia antara lain ketumbar, marigold, kemangi, daun mint, kunyit, oregano, kayu manis, pala, dan vanila. Ia selanjutnya memperlihatkan kuliner berupa bubur sorgum yang disajikan bersama saus prunus tercatat di Museum Etnografi, Tbilisi.

Sumber: Macam-Macam Pemanfaatan Rempah di Indonesia, China, dan Georgia - Lifestyle Liputan6.com

Liputan6.com, Jakarta - Diajukannya Jalur Rempah sebagai Warisan Dunia ke UNESCO oleh pemerintah Indonesia bagaikan gayung bersambut. Upaya ini meningkatkan antusiasme masyarakat yang setidaknya sejak 2014 telah menggulirkan narasi Jalur Rempah dalam berbagai kegiatan yang bersifat sporadis.

Yayasan Negeri Rempah dan Jaringan Masyarakat Negeri Rempah, sebuah jejaring simpul komunitas yang tersebar di beberapa daerah bahkan mancanegara, semakin gencar memberikan ruang untuk menyuarakan gagasan-gagasan tentang Jalur Rempah di masyarakat.

Meski begitu, pengakuan sebagai warisan dunia bukanlah tujuan utamanya. Narasi besar Jalur Rempah itu hanya sebuah pintu masuk agar kita dapat memaknai keberagaman yang membentuk Indonesia hari ini.

 

Menurut Prof. Johannes Widodo, Ph.D. dari National University of Singapore dalam International Forum on Spice Route (IFSR) 2021, Selasa, 21 September 2021, ia mengingatkan kembali tentang pentingnya pemanfaatan (warisan) budaya secara etis dan bertanggung jawab.

Mengenai pengusulan sebagai warisan dunia, Johannes melihat bahwa ada kecenderungan pemerintah Indonesia melihatnya dari aspek pariwisata, investasi dan perdagangan semata yang memiliki potensi eksploitasi. "Contohnya suda ada. Kita lihat bagaimana Borobudur dan Pulau Komodo yang menerima peringatan dari pihak UNESCO karena dinilai melakukan pembangunan yang tidak berkelanjutan. Itu harus dikaji dan diperhatikan dengan baik," terangnya.

Johannes juga mengajukan pertanyaan tentang paradigma pembangunan. Di satu sisi adalah pembangunan yang berfokus pada materialitas demi kepentingan ekonomi semata, dan di sisi lainnya adalah pembangunan yang berfokus pada kesejahteraan masyarakat.

"Kalau saya melihat pemerintah nampaknya lebih mengutamakan pembangunan infrastruktur yang pada akhirnya kurang memiliki keberpihakan pada budaya dan masyarakatnya," ucapnya.

LANGIT7.ID, Jakarta - Jalur rempah nusantara bisa jadi pijakan kerja sama global. Yayasan Negeri Rempah akan kembali menyelenggarakan IFSR pada 20-23 September 2021 secara daring.

Kegiatan International Forum on Spice Route (IFSR) 2021 ini bekerja sama dengan perkumpulan Maritim Muda Nusantara, Rumah Produktif Indonesia, Perhimpunan Masyarakat Etnobiologi Indonesia, dan Jaringan Masyarakat Negeri Rempah.

IFSR menyambut partisipan dari berbagai penjuru tanah air dan mancanegara untuk turut berbagi gagasan, pengetahuan dan pengalaman tentang jalur rempah.

Kegiatan IFSR 2021 mengusung tema Bridging Differences, Fostering Intercultural Understanding. Sebab jalur rempah dapat menjadi pijakan dalam melihat kembali berbagai kemungkinan kerja sama global mewujudkan persaudaraan dan perdamaian.

Ketua Dewan Pembina Yayasan Negeri Rempah, Hassan Wirajuda menyatakan, diplomasi budaya sesungguhnya bukan sesuatu yang baru. Sejak nenek moyang dulu sudah melakukannya dengan rancangan yang cukup canggih dan semangat 'tangan di atas'.

"Sangat banyak yang bisa kita tawarkan untuk berbagi dengan bangsa-bangsa lain karena keberagaman peradaban dan budaya kita," kata Hasan.

Ketua Yayasan Negeri Rempah, Kumoratih Kushardjanto, menambahkan bahwa jalur rempah bukan sekadar jalur perdagangan. Tapi seperti ruang silaturahmi dan pertukaran antarbudaya yang melampaui ruang dan waktu.

"Nusantara dari masa ke masa menjadi simpul penting pertukaran antarbudaya yang mempertemukan berbagai gagasan, konsep, ilmu pengetahuan, agama, bahasa, hingga budaya antarbangsa," ujar Kumoratih.

Jalur rempah diajukan sebagai warisan dunia ke UNESCO oleh pemerintah Indonesia. Upaya ini meningkatkan antusiasme masyarakat yang setidaknya sejak 2014 telah menggulirkan narasi jalur rempah dalam berbagai kegiatan yang bersifat sporadis.

Yayasan Negeri Rempah dan Jaringan Masyarakat Negeri Rempah, sebuah jejaring simpul komunitas yang tersebar di beberapa provinsi bahkan mancanegara, semakin gencar memberikan ruang untuk menyuarakan gagasan tentang jalur rempah.

Sumber: Jalur Rempah Nusantara Bisa Jadi Pijakan Kerja Sama Global (langit7.id)

Perniagaan rempah-rempah pada masanya menjadi primadona. Para tajir meneluri sumber komoditas berharga ini dengan segala cara, sampai akhirnya mereka mencapai Nusantara sebagai pusat rempah-rempah.

Jalur Rempah kini sedang diupayakan pemerintah agar diakui sebagai salah satu Warisan Dunia. Berbagai kegiatan diadakan untuk tujuan itu. Di antaranya, pemetaan segala bentuk dan jenis perniagaan yang berlangsung di Jalur Rempah.

Akhir tahun lalu, misalnya, berlangsung kegiatan International Forum on Spice Route (ISFR). Ini diadakan atas kerjasama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Pendidikan Tinggi (Kemendikbuddikti) dengan Yayasan Negeri Rempah.

Para pembicara di forum internasional itu sepakat, Jalur Rempah merupakan jalur perniagaan komoditas rempah yang perniagaannya melintasi banyak area dan berbagai pelabuhan di dunia. Jalur perniagaan itu terutama bergerak di wilayah Nusantara barat dengan melintasi Asia, Afrika, hingga Eropa.

Dalam pemetaan Jalur Rempah, diakui Indonesia berperan penting dalam perekonomian dunia karena posisinya yang strategis sebagai jalur perniagaan maritim dunia. Indonesia di Asia Timur memiliki posisi strategis karena menghubungkan Asia Timur, Asia Selatan, Timur Tengah, hingga Eropa.

Selain itu, Indonesia yang berada di Asia Tenggara menjadi salah satu titik pusat perniagaan Jalur Rempah, karena ia memiliki bahan komoditas yang paling dicari dan paling berharga, yaitu rempah-rempah. Di antaranya, kayu manis, kayu manis cina, kapulaga, jahe, dan kunyit.

Rempah-rempah sangat dicari dalam perdagangan di Dunia Timur sejak dahulu kala. Barang itu menemukan jalan perniagaannya ke Timur Tengah sebelum awal era Kristen, tempat sumber sebenarnya rempah-rempah, namun dirahasiakan keberadaan sumbernya oleh para pedagang.

Di pertengahan milenium pertama, pedagang Hindustan dan Ethiopia mengendalikan rute pelayaran ke Hindustan (sekarang India) dan Sri Lanka (Romawi-Taprobane). Mereka saat itu menjadi kekuatan perniagaan maritim Laut Merah. Kekaisaran Aksum telah merintis perniagaan di Laut Merah jauh sejak sebelum abad ke-1 Masehi.

Pada pertengahan abad ke-7, kebangkitan Islam berimbas pada ditutupnya rute perniagaan darat kafilah yang melalui Mesir dan Terusan Suez. Para tajir Arab memisahkan komunitas pedagang Eropa dari Aksum dan Hindustan. Mereka berhasil mengambil alih pengiriman rempah-rempah melalui pedagang Levant dan pedagang Venesia untuk Eropa.

Perniagaan rempah pun membawa kekayaan besar bagi Kekhalifahan Abbasiyah. Para pelaut dan pedagang awal ini sering berlayar dari kota pelabuhan Basra, dan akhirnya setelah banyak pelayaran mereka akan kembali untuk menjual barang-barang mereka, termasuk rempah-rempah, di Baghdad. Ketenaran banyak rempah-rempah seperti pala dan kayu manis, dikaitkan dengan para pedagang rempah awal ini.

Kepulauan Banda di Maluku, Nusantara (sekarang Indonesia), selama waktu yang lama adalah satu-satunya sumber langka pala, memberikan kontribusi bagi reputasi Kepulauan Maluku sebagai “Kepulauan Rempah”. Nama Kepulauan Banda dan Kepulauan Maluku begitu terkenal di kalangan peniaga dunia.

Hubungan perniagaan antara Hindustan dengan Asia Tenggara sangat vital bagi para tajir Arab dan Persia abad ke-7 dan ke-8. Mereka, terutama keturunan Yaman dan Oman, mendominasi niaga maritim di seluruh Samudera Hindia. Mereka mendapat keuntungan besar setelah berhasil menemukan rahasia “kepulauan rempah”, yaitu Kepulauan Maluku dan Kepulauan Banda, sebagai daerah sumber di Timur Jauh.

Produk rempah-rempah dari Maluku kemudian dikirim ke pusat perniagaan di India, melewati pelabuhan seperti Kozhikode, dan melalui Ceylon (sekarang Sri Lanka). Dari sana barang itu dikirim ke arah barat melintasi pelabuhan Arabia di Timur Dekat, ke Ormus di Teluk Persia dan Jeddah di Laut Merah, bahkan kadang-kadang dikirim ke Afrika Timur, di mana mereka akan digunakan untuk berbagai tujuan, termasuk upacara pemakaman.

Penduduk Abbasiyah menggunakan Alexandria, Damietta, Aden, dan Siraf sebagai pelabuhan pintu masuk perniagaan ke India dan Tiongkok. Pedagang yang tiba dari India di kota pelabuhan Aden membayar upeti dalam bentuk jebat, kapur barus, ambergris dan cendana kepada Ibnu Ziyad, Sultan Yaman.

Jadi, selama periode Abad Pertengahan, para tajir Arab mendominasi perniagaan rempah-rempah maritim di Samudera Hindia. Mereka memperoleh keuntungan besar dengan mengambil komoditas itu langsung dari sumbernya di Timur Jauh (Asia Tenggara). Lantas, mereka mengirimnya via Hindustan ke arah barat ke Teluk Persia dan Laut Merah, mengikuti rute darat menuju ke Eropa.

Mereka menggunakan kapal-kapal niaga dengan melewati kanal-kanal, seperti Teluk Benggala, sebagai jembatan untuk menguasai perniagaan di sepanjang banyak rute rempah-rempah. Bersamaan dengan itu, mereka melakukan pertukaran budaya dan komersial di antara beragam budaya dan agama.

Perniagaan mereka berjaya cukup lama, sampai bangkitnya Kekaisaran Turki Utsmani, yang memotong rute niaga Jalur Rempah pada 1453. Jalur niaga darat yang mereka lakukan pada awalnya membantu pengembangan perniagaan rempah. Tapi, rute perniagaan maritim kemudian ternyata jauh lebih berhasil dalam meningkatkan pertumbuhan luar biasa dalam aktivitas perniagaan.

Namun, perniagaan rempah-rempah kemudian berubah lagi di Zaman Penjelajahan Eropa. Kala itu, beberapa jenis rempah-rempah, sepeti lada hitam, sedang sangat dibutuhkan orang Eropa. Sampai akhirnya penjelajah ulung Portugis Vasco da Gama, pada 1498 berhasil mencapai Samudera Hindia melalui Tanjung Harapan setelah memutari Afrika.

Pelayaran dari Eropa ke Samudera Hindia itu menciptakan rute maritim baru perniagaan rempah-rempah. Tapi, para penjelajah Portugis mau tidak mau harus memutari benua Afrika, karena umumnya rute perniagaan kuna dilarang atau dibatasi untuk dilewati. Mereka dicegat di berbagai pelabuhan di negara-negara yang sejak awal khawatir didominasi pihak asing.

Perniagaan rempah-rempah Eropa pun berkembang, meski agak lambat karena menemukan banyak hambatan dan kendala tadi. Namun, para tajir Eropa, khususnya didorong penguasa dan pengusaha Kerajaan Belanda, akhirnya mampu melewati banyak masalah ini, dengan merintis perniagaan laut langsung dari Tanjung Harapan ke Selat Sunda di Nusantara, alias Indonesia sekarang. [AT]

Sumber: https://koransulindo.com/perniagaan-rempah-rempah-dari-nusantara-ke-belahan-dunia

Jalur Rempah kini sedang diupayakan pemerintah agar diakui sebagai salah satu Warisan Dunia. Berbagai kegiatan diadakan untuk tujuan itu. Di antaranya, pemetaan segala bentuk dan jenis perniagaan yang berlangsung di Jalur Rempah.

Akhir tahun lalu, misalnya, berlangsung kegiatan International Forum on Spice Route (ISFR). Ini diadakan atas kerjasama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Pendidikan Tinggi (Kemendikbuddikti) dengan Yayasan Negeri Rempah.

Para pembicara di forum internasional itu sepakat, Jalur Rempah merupakan jalur perniagaan komoditas rempah yang perniagaannya melintasi banyak area dan berbagai pelabuhan di dunia. Jalur perniagaan itu terutama bergerak di wilayah Nusantara barat dengan melintasi Asia, Afrika, hingga Eropa.

Dalam pemetaan Jalur Rempah, diakui Indonesia berperan penting dalam perekonomian dunia karena posisinya yang strategis sebagai jalur perniagaan maritim dunia. Indonesia di Asia Timur memiliki posisi strategis karena menghubungkan Asia Timur, Asia Selatan, Timur Tengah, hingga Eropa.

Selain itu, Indonesia yang berada di Asia Tenggara menjadi salah satu titik pusat perniagaan Jalur Rempah, karena ia memiliki bahan komoditas yang paling dicari dan paling berharga, yaitu rempah-rempah. Di antaranya, kayu manis, kayu manis cina, kapulaga, jahe, dan kunyit.

Rempah-rempah sangat dicari dalam perdagangan di Dunia Timur sejak dahulu kala. Barang itu menemukan jalan perniagaannya ke Timur Tengah sebelum awal era Kristen, tempat sumber sebenarnya rempah-rempah, namun dirahasiakan keberadaan sumbernya oleh para pedagang.

Di pertengahan milenium pertama, pedagang Hindustan dan Ethiopia mengendalikan rute pelayaran ke Hindustan (sekarang India) dan Sri Lanka (Romawi-Taprobane). Mereka saat itu menjadi kekuatan perniagaan maritim Laut Merah. Kekaisaran Aksum telah merintis perniagaan di Laut Merah jauh sejak sebelum abad ke-1 Masehi.

Pada pertengahan abad ke-7, kebangkitan Islam berimbas pada ditutupnya rute perniagaan darat kafilah yang melalui Mesir dan Terusan Suez. Para tajir Arab memisahkan komunitas pedagang Eropa dari Aksum dan Hindustan. Mereka berhasil mengambil alih pengiriman rempah-rempah melalui pedagang Levant dan pedagang Venesia untuk Eropa.

Perniagaan rempah pun membawa kekayaan besar bagi Kekhalifahan Abbasiyah. Para pelaut dan pedagang awal ini sering berlayar dari kota pelabuhan Basra, dan akhirnya setelah banyak pelayaran mereka akan kembali untuk menjual barang-barang mereka, termasuk rempah-rempah, di Baghdad. Ketenaran banyak rempah-rempah seperti pala dan kayu manis, dikaitkan dengan para pedagang rempah awal ini.

Kepulauan Banda di Maluku, Nusantara (sekarang Indonesia), selama waktu yang lama adalah satu-satunya sumber langka pala, memberikan kontribusi bagi reputasi Kepulauan Maluku sebagai “Kepulauan Rempah”. Nama Kepulauan Banda dan Kepulauan Maluku begitu terkenal di kalangan peniaga dunia.

Hubungan perniagaan antara Hindustan dengan Asia Tenggara sangat vital bagi para tajir Arab dan Persia abad ke-7 dan ke-8. Mereka, terutama keturunan Yaman dan Oman, mendominasi niaga maritim di seluruh Samudera Hindia. Mereka mendapat keuntungan besar setelah berhasil menemukan rahasia “kepulauan rempah”, yaitu Kepulauan Maluku dan Kepulauan Banda, sebagai daerah sumber di Timur Jauh.

Produk rempah-rempah dari Maluku kemudian dikirim ke pusat perniagaan di India, melewati pelabuhan seperti Kozhikode, dan melalui Ceylon (sekarang Sri Lanka). Dari sana barang itu dikirim ke arah barat melintasi pelabuhan Arabia di Timur Dekat, ke Ormus di Teluk Persia dan Jeddah di Laut Merah, bahkan kadang-kadang dikirim ke Afrika Timur, di mana mereka akan digunakan untuk berbagai tujuan, termasuk upacara pemakaman.

Penduduk Abbasiyah menggunakan Alexandria, Damietta, Aden, dan Siraf sebagai pelabuhan pintu masuk perniagaan ke India dan Tiongkok. Pedagang yang tiba dari India di kota pelabuhan Aden membayar upeti dalam bentuk jebat, kapur barus, ambergris dan cendana kepada Ibnu Ziyad, Sultan Yaman.

Jadi, selama periode Abad Pertengahan, para tajir Arab mendominasi perniagaan rempah-rempah maritim di Samudera Hindia. Mereka memperoleh keuntungan besar dengan mengambil komoditas itu langsung dari sumbernya di Timur Jauh (Asia Tenggara). Lantas, mereka mengirimnya via Hindustan ke arah barat ke Teluk Persia dan Laut Merah, mengikuti rute darat menuju ke Eropa.

Mereka menggunakan kapal-kapal niaga dengan melewati kanal-kanal, seperti Teluk Benggala, sebagai jembatan untuk menguasai perniagaan di sepanjang banyak rute rempah-rempah. Bersamaan dengan itu, mereka melakukan pertukaran budaya dan komersial di antara beragam budaya dan agama.

Perniagaan mereka berjaya cukup lama, sampai bangkitnya Kekaisaran Turki Utsmani, yang memotong rute niaga Jalur Rempah pada 1453. Jalur niaga darat yang mereka lakukan pada awalnya membantu pengembangan perniagaan rempah. Tapi, rute perniagaan maritim kemudian ternyata jauh lebih berhasil dalam meningkatkan pertumbuhan luar biasa dalam aktivitas perniagaan.

Namun, perniagaan rempah-rempah kemudian berubah lagi di Zaman Penjelajahan Eropa. Kala itu, beberapa jenis rempah-rempah, sepeti lada hitam, sedang sangat dibutuhkan orang Eropa. Sampai akhirnya penjelajah ulung Portugis Vasco da Gama, pada 1498 berhasil mencapai Samudera Hindia melalui Tanjung Harapan setelah memutari Afrika.

Pelayaran dari Eropa ke Samudera Hindia itu menciptakan rute maritim baru perniagaan rempah-rempah. Tapi, para penjelajah Portugis mau tidak mau harus memutari benua Afrika, karena umumnya rute perniagaan kuna dilarang atau dibatasi untuk dilewati. Mereka dicegat di berbagai pelabuhan di negara-negara yang sejak awal khawatir didominasi pihak asing.

Perniagaan rempah-rempah Eropa pun berkembang, meski agak lambat karena menemukan banyak hambatan dan kendala tadi. Namun, para tajir Eropa, khususnya didorong penguasa dan pengusaha Kerajaan Belanda, akhirnya mampu melewati banyak masalah ini, dengan merintis perniagaan laut langsung dari Tanjung Harapan ke Selat Sunda di Nusantara, alias Indonesia sekarang. [AT]

Sumber: Perniagaan Rempah-Rempah, dari Nusantara ke Belahan Dunia - Koran Sulindo

THE 2ND IMVR 2021 - Series 5

Teruntuk Bapak, Ibu, dan saudara-saudari pecinta laut dan pulau-pulau kecil, serta kawan-kawan Maritim Muda,

Ada yang menarik nih, sore-sore menjelang malam kita obrolin Minawisata Bahari Berkelanjutan dari perspektif akademik dan bisnis dalam acara The 2nd Indonesia Maritime Virtual Roundatbles (IMVR): Pre-Event of International Forum on Spice Route (IFSR) 2021 - Series 5 yang diselenggarakan atas kolaborasi Yayasan Negeri Rempah dan Maritim Muda Nusantara pada:

Kamis, 16 September 2021
Pukul 16.00-18.00 WIB
via Zoom Meeting

JOIN LANGSUNG ZOOM MEETING
Link Zoom: bit.ly/IMVR-series5

Meeting ID: 82041805932
Passcode: IMVR2021

Kita Muda, Wujudkan Poros Maritim Dunia

#jalurrempah #IMVR2021 #IFSR2021 #minawisatabahari #berkelanjutan #negerirempah #maritimmudanusantara #spiceroute #pemudamaju  #maritimjaya #porosmaritimdunia #IndonesiaMaju #IndonesiaTangguh #Indonesia Tumbuh

 

Sumber: The 2nd Indonesia Maritime Virtual Roundtables (IMVR) - Series 5 "Minawisata Bahari Berkelanjutan" (maritimmuda.id)

When we think of the history of spice we often start with the protection rackets, piracy, and massacres of the East India companies. But the world trade in spices is not something that begins with the European age of sail in the sixteenth century. It’s far more ancient. The search for spice has led to travel, exploration and cross-cultural influences for millennia. The Indonesian maritime spice routes helped define the extent and culture of Nusantara, or what we now call Indonesia. Focussing on nutmeg and clove, this program explores the history of these ingredients from 3,500 years ago to today, with interviews, poetry, natural sound and music of the Spice Islands.

Guests:

Ian Burnet

Kumoratih Kushardjanto

Barbara Santich

Danielle Clode

Reader:

Michael Baldwin

Duration: 33min 25sec

More Information

Presenter: Hetty McKinnon

Sound engineer: Tom Henry

Writer, producer: Mike Ladd

Credits

Presenter: Hetty McKinnon

Sound Engineer: Tom Henry

Producer: Mike Ladd

Sumber: https://www.abc.net.au/radionational/programs/the-history-listen/the-kitchen-table-a-taste-of-the-past-ep-4-spice/13279896