JAKARTA− International Forum on Spice Routes (IFSR) yang digagas Yayasan Negeri Rempah dan dilaksanakan setiap tahun kembali hadir untuk membahas dan mengadvokasi berbagai topik dan isu seputar Jalur Rempah dalam masyarakat kontemporer. IFSR 2022 dilaksanakan secara kolaboratif antara Yayasan Negeri Rempah (YNR) dan Pusat Riset Masyarakat dan Budaya, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada 20-23 September 2022. Mengusung tema “Revitalizing the Spice Routes: Answering Global Challenges /Menguatkan Kembali Jalur Rempah untuk Menjawab Tantangan Global”, IFSR 2022 di selenggarakan secara hibrida (luring dan daring) dari BRIN Jakarta.

Ahmad Najib Burhani, Kepala Organisasi Riset Ilmu Sosial dan Humaniora (BRIN), menyatakan bahwa IFSR 2022 menandai kerja sama jangka panjang antara Yayasan Negeri Rempah dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional untuk memperkuat landasan saintifik Jalur Rempah. Rekonstruksi Jalur Rempah tidak dapat dipisahkan dari cara manusia dan komunitas saat ini hidup dan memanfaatkan konektivitas global yang telah berlangsung sepanjang sejarah.

Banyak orang yang masih berpikir dan berpendapat bahwa Jalur Rempah tak lebih dari sekadar sejarah, namun para peneliti dan cendekiawan telah membuktikan bahwa jalur ini merupakan koneksi maritim penting yang bertahan dan telah berubah bentuk dan sifatnya. Bahkan IFSR  sebelumnya telah membuktikan bahwa jalur-jalur tersebut masih ada dan digunakan sebagai salah satu penghubung regional dan global yang penting antara berbagai wilayah, benua, dan negara.

Adapun forum ini bertujuan untuk memobilisasi kembali jalur yang sudah ada serta mengangkat peran penting Indonesia, termasuk negara-negara Asia Tenggara, dalam skala global. Dalam artian yang lebih strategis, memosisikan kembali Indonesia dalam wacana global dengan perspektif
uniknya dalam memahami jalur maritim (ekonomi, perdagangan, budaya, dan berbagai aspek lainnya) dari masa ke masa.

Hal ini menjadi penting ketika Indonesia hendak mengajukan Jalur Rempah sebagai warisan dunia, dibutuhkan landasan akademik untuk memperkuat argumentasi dan memberikan bingkai yang kontekstual agar Jalur Rempah dapat menjawab isu-isu global yang kita hadapi. “Sudah  saatnya kita mulai melihat Jalur Rempah dari pers pektif yang berbeda sehingga relevan dalam menjawab tantangan kontemporer seperti perubahan iklim, penanggulangan dan rekonstruksi bencana, ketahanan pangan, dan berbagai lainnya,” ujar Kumoratih Kushardjanto, Komite Pelaksana IFSR yang juga Ketua Dewan Pengurus YNR.

Ketua Dewan Pembina YNR Hassan Wirajuda dalam pidato pengantarnya menyatakan bahwa tantangan kita adalah bagaimana mengisi warisan sejarah Jalur Rempah dengan inovasi teknologi. Hal ini pun selaras dengan pernyataan Hilmar Farid, Dirjen Kebudayaan Kemendikbud ristek RI. “Di dalam Jalur Rempah ini kita dapat melihat keanekaragaman hayati dan keanekaragaman budaya di bumi Nusantara. Yang penting lagi adalah bagaimana kita melihat cultural resources yang ada dalam masyarakat kita ini bisa berkontribusi terhadap perubahan cara dan gaya hidup yang sangat esensial di dalam pemulihan global,” paparnya.

IFSR 2022 diikuti oleh peserta dari Indonesia, India, China, Jepang, Australia, Filipina, Singapura. Untuk pertama kali IFSR 2022 membuka partisipasi publik untuk mengirimkan gagasan, penelitian, dan pemikirannya dalam call for paper . Naskah-naskah yang masuk di seleksi oleh para cendekiawan yang terdiri atas jajaran pakar YNR dan BRIN. Sekitar 116 naskah yang telah masuk dipresentasikan secara terbuka.

Adapun tema Jalur Rempah ini dikelompokkan ke dalam enam panel topik yang berbeda. Pertama, Identitas, Kesetaraan, dan Globisasi. Kedua, Pembangunan Berkelanjutan dan Keanekaragaman Alam di Sepanjang Jalur Rempah. Ketiga, Budaya untuk Kreativitas, Inovasi dan Mata Pencaharian. Keempat, Pemulihan dan Rekonstruksi Ben cana. Kelima, Komunitas Mari tim dan Nelayan. Keenam, Pelayaran dan Jalur Perdagangan.

Dari naskah-naskah yang masuk, 55 dipresentasikan oleh para penulis secara daring dan 47 naskah dipresentasikan melalui poster. Selain dari Indonesia, terdapat beberapa penyaji dari Australia, Filipina, Jepang. Kajian dan temuan-temuan dari para penulis dan peneliti yang di terima di IFSR 2022 akan dipamerkan dalam bentuk poster infografik di Pekan Literasi Jalur Rempah di Perpustakaan Nasional pada 20-27 November 2022.

Yayasan Negeri Rempah berinisiatif untuk menyajikannya dalam format yang lebih populer untuk dapat menjangkau masyarakat umum mengenal banyak aspek dari Jalur Rempah. Kondisi pascapandemi turut memberikan antusiasme para pendukung program untuk saling berbagi gagasan tentang Jalur Rempah. Forum tahunan yang pertama kali diadakan pada 2019 ini secara konsisten dijalankan secara swadaya, berbasis komunitas dengan semangat kolaborasi dan gotong-royong yang mengedepankan prinsip kerelawanan untuk menumbuhkan tradisi literasi dalam masyarakat.

“Ini adalah sum bangan dari masyarakat untuk negara. Ada atau tidak ada dukungan pemerintah, masyarakat tetap akan bergerak dan belajar untuk menghidupkan narasi Jalur Rempah dengan caranya sendiri,” pungkas Kumoratih. [Hendri Irawan]

 

Sumber: Koran Sindo