Eijkman datang ke Indonesia terkait dengan penyakit beri-beri yang pada tahun 1860-an menjadi epidemi di Kepulauan Melayu. Penyakit ini awalnya banyak diderita oleh tentara Belanda yang kemudian mulai menyerang penduduk di Pulau Jawa. Gejala awalnya mulai dari melemahnya otot dan sendi tubuh hingga berujung pada lesu, hilang kesadaran, dan meninggal dunia.

Hipotesis awal adalah beri-beri merupakan penyakit menular. Namun, ini terbantahkan setelah ia melakukan uji coba pada ayam peliharaan laboratoriumnya yang terserang penyakit semacam polineuritis pada manusia. Penelitiannya menggunakan 2 variabel yang berbeda, yaitu menggunakan beras yang disajikan untuk pasien rumah sakit militer dan beras yang didapat dari pasar. Dari hasil percobaannya, ternyata beras yang didapat dari pasar mengandung zat patogen. Beras tersebut diduga telah diputihkan, sehingga mengandung semacam racun. Padahal, jenis beras ini merupakan beras yang dikonsumsi masyarakat Jawa pada umumnya. Zat penawarnya justru terdapat pada sekam padi atau kulit ari beras yang terdapat pada beras untuk pasien RS.

Melalui serangkaian penelitian ilmuwan lainnya, zat penawar tersebut kemudian didentifikasikan sebagai vitamin. Atas penelitiannya dan jasanya dalam mengungkap kasus pandemi ini, Eijkman mendapat hadiah Nobel pada 1929.

Kini, namanya diabadikan sebagai nama lembaga penelitian pemerintah yang bergerak dalam bidang biologi molekuler, Eijkman Institute di bawah Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia.

Foto: Wikimedia Commons

Sumber:

Donath, W.F., M.D. (1897). A Short History of Beri-beri Investigations in the Netherlands Indies.

Tirto. (2019). Christiaan Ejkman, Mantan Dokter Militer Menguak Misteri Beri-Beri.

#berjasa #berjasabagiindonesia #negerirempah #jalurrempah #rempahrempah #rempahnusantara #spicerouteid #spiceroute #christiaanejkman #eijkman #eijkmaninstitute #beriberi #vitamin