Yayasan Negeri Rempah bekerja sama dengan Departemen Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (FIB UI), memperkenalkan jejak sejarah perdagangan rempah di Nusantara dengan menyelenggarakan pameran dan diskusi berjudul 'Rempah & Kita'.
Sebenarnya (yang ada di pameran) ini hanya bagian kecil saja. Mungkin sekarang orang-orang taunya rempah itu hanya di dapur, padahal ceritanya jauh lebih seru. Bahkan asal mula kolonialisme di Indonesia itu juga berasal dari rempah," ujar Dian Sulityowati, kurator acara 'Rempah & Kita'.
Ketua Yayasan Negeri Rempah, Bram Kushardjanto mengatakan ada beragam potensi untuk dikembangkan dari jejak rempah di Indonesia, salah satunya dari sisi pariwisata. Kepada CNNIndonesia.com ia mengatakan, saat ini Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mulai menyusun jalur wisata rempah lewat aspek kuliner, yang rencananya bakal diresmikan pada tahun 2020.
"Kalau Kemenpar itu lokomotifnya kuliner. Ada beberapa daerah di Indonesia yang akan difokuskan untuk wisata rempah seperti Ternate, Gorontalo, Maluku, Aceh, Banajarmasin, Bali, Banten, dan Jakarta," ujar Bram.
Sementara itu, Ketua Departemen Arkeologi FIB UI Ninie Susanti, memandang bahwa daerah-daerah yang terkenal akan rempahnya bisa dibuatkan paket wisata sejarah, budaya, hingga religi. Tentunya hal itu harus dibuat sekreatif mungkin, agar bisa anak muda bisa tertarik. Masyarakat di daerah yang kaya rempah juga akan mendapat keuntungan ekonomi dari banyaknya turis yang datang untuk berwisata jalur rempah.
Dikutip dari: CNN Indonesia, 2 Maret 2018