Pembicara:

Prof. Dr. Susanto Zuhdi

 

Kota bandar (pelabuhan), jalur perdagangan rempah, dan struktur negara masing-masing memiliki keterkaitan erat dalam menjelaskan bagaimana keadaan sosial-pemerintahan pada saat ini sangat dipengaruhi perdagangan rempah-rempah dan fungsi kota pelabuhan dengan peranan sentralnya. Sejauh ini, penamaan kota Bandar Lampung mengindikasikan fungsi sebagai kota pelabuhan yang terintegrasi dengan jalur perdagangan rempah di Asia Tenggara. Narasi sejarah kemaritiman dan perdagangan rempah perlu diperkuat dengan menemukan kembali arti substansial dari terminologi ‘bandar’. Karakteristik masyarakat kosmopolitan identik dengan kota bandar (pelabuhan) karena terkait dengan perdagangan rempah dunia. Penguatan narasi sejarah maritim juga dapat dilakukan dengan menggali kembali sejarah yang terabaikan tentang suatu kawasan geografis nusantara yang memiliki andil penting dalam jalur perdagangan rempah. Dalam konteks state formation, perdagangan rempah-rempah adalah ingatan kolektif yang kuat antar Indonesia dan Malaysia sebelum keduanya berpisah setelah disepakatinya London Treaty tahun 1825.