Senin, 20 September 2021
10.00- 10.30 WIB
Pembicara Kunci:
Indonesia dengan kondisi geografisnya telah sejak lama menjadi tempat pertemuan peradaban. Kemajuan di bidang pemetaan dan navigasi semakin mendorong pelayaran dari berbagai peradaban, termasuk ke Indonesia. Namun kehadiran kolonialisme mengubah pelayaran dan Indonesia sebagai tempat pertemuan dengan monopolinya. Padahal Indonesia menjadi tempat pertemuan tidak hanya untuk perdagangan, tetapi juga pertukaran budaya. Indonesia mengenal nilai musyawarah mufakat sebagai kesepakatan antar berbagai keragaman yang ada.
Hassan Wirajuda mengungkapkan nilai ini membuat Indonesia lebih sensitif: sensitif dengan hubungan antar budaya, sensitif dengan perasaan yang lain, dan memahami sudut pandang yang lain. Indonesia mengenal istilah Tepa Selira sebagai bentuk toleransi, terutama ketika berhadapan dengan berbagai kebudayaan. Ini menjadi modal penting bagi Indonesia sebagai contoh untuk bangsa-bangsa lain. Misalnya umat Islam yang diidentikkan dengan terorisme, di Indonesia telah menyesuaikan dengan nilai-nilai dialog antar budaya dan agama.
Kejayaan Indonesia ini juga dibahas oleh Djauhari Oratmangun bahwa perdagangan cengkih dari Maluku yang didistribusikan ke Sulawesi, Malaka, dan Palembang untuk diperdagangkan ke belahan dunia lainnya. Salah satu catatannya adalah catatan di masa Dinasti Song (960-1279) dari Tiongkok yang mencatat kekuasaan Sriwijaya menguasai perdagangan di bagian Barat Tiongkok, namun cengkih belum menjadi komoditas yang menonjol. Di masa Dinasti Yuan (1271-1368) dan Ming (1368-1644) barulah cengkih menonjol di Tiongkok, terutama yang berasal dari Sriwijaya dan Jawa, untuk medis. Begitu juga pala dari Kepulauan Banda. Dalam pengobatan tradisional Tiongkok sekarang, rempah masih menempati posisi penting. Tiongkok menjadi negara pengimpor rendah pertama di dunia. Sekarang Indonesia menjadi negara importir rempah kedua ke Tiongkok.