Sejarah bangunan Museum Bahari tak bisa dilepaskan dari sejarah Pelabuhan Sunda Kelapa. Sebab, bangunan yang kini menjadi museum ini merupakan bagian dari riwayat perniagaan yang berlangsung di Sunda Kelapa masa lalu. Gedung ini pernah amat berjasa dalam kegiatan perdagangan di Batavia. Selama ratusan tahun, Kongsi Dagang Belanda (VOC) dan pemerintah Belanda menjadikan gedung ini sebagai gudang tempat penyimpanan aneka komoditas yang mereka butuhkan, baik untuk masyarakat Belanda maupun Eropa, dan begitu pula sebaliknya.
Gudang ini dibangun pada tahun 1652 pada akhir kepemimpinan Gubernur Jenderal Christoffel van Swoll. Gudang ini dijadikan tempat penyimpanan rempah-rempah, seperti pala, cengkeh, dan lada. Selain itu, disimpan juga aneka komoditas lain seperti cabai, kain, beras, kopi, teh, kayu, dan sebagainya. Aktivitas di pergudangan terus meningkat di masa-masa kemudian, sehingga bangunan gudang diperluas tahap demi tahap hingga tahun 1759. Sejak didirikan lebih dari 300 tahun silam hingga Indonesia merdeka, bangunan tetap difungsikan sebagai gudang hingga pada 7 Juli 1977, di bawah kepemimpinan Ali Sadikin, berubah fungsi sebagai museum.
Museum Bahari menjadi saksi bisu perjalanan sejarah Pelabuhan Sunda Kelapa, baik masa keemasaannya hingga memudarnya di penghujung abad 19 seiring dengan pembukaan Pelabuhan Tanjung Priok.
Setelah pandemi COVID-19 berlalu, yuk kunjungi museum agar pengetahuanmu kian bertambah!
Foto: DisparbudSumber: Museum Bahari
#negerirempah #jalurrempah #rempahnusantara #rempahrempah #rempah #spicerouteid #spiceroute #museumbahari #wisatamuseum #museum #jalanjalan #wisata #jakarta #museumjakarta #museumindonesia