Pada tahun 1347 hingga 1351, Eropa dilanda sebuah wabah pes yang disebut dengan Black Death (Maut Hitam). Wabah ini membinasakan sepertiga hingga dua pertiga populasi Eropa, atau sekitar 75 sampai 200 juta nyawa manusia di seluruh dunia. Gejala awalnya ditandai dengan bagian kulit yang menghitam karena jaringan yang mati. Penyakit pes yang mendunia ini disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis. Pandemi ini berawal dari tikus-tikus yang menyelinap ke berbagai kapal dagang dan bersembunyi di antara berbagai muatan kapal.

Pada waktu itu, salah satu pencegahan agar wabah tidak kian menyebar adalah dengan mencampurkan bahan-bahan rempah seperti kamphor, mint, pala, cengkeh, dan kemenyan ke udara busuk yang dihirup masyarakat. Caranya, rempah-rempah tersebut dibakar dan uapnya digunakan untuk mensterilkan udara. Agar terhindar dari si Maut Hitam, dokter-dokter di sana menggunakan semacam topeng khusus yang berisikan bahan rempah tersebut. Kehadiran sosok dokter bertopeng ini kemudian dianggap sebagai simbol kematian. Baju yang dipakai oleh mereka merupakan bentuk awal dari pakaian Alat Pelindung Diri (APD) yang kita kenal sekarang.

Cara lainnya adalah dengan menahan para pelaut untuk tetap berada di kapal selama 30 hari sampai terbukti tidak sakit,yang dikenal sebagai 'trentino. Kemudian, waktu penahanan diperlama menjadi 40 hari, yang dikenal dengan nama quarantino, asal kata untuk karantina yang umumnya dilakukan ketika menghadapi wabah.

Foto: Public Domain Review

Sumber:

Syukur, Y., Kumoratih, D., Nugraha, I, Kushardjanto, B., dan Wanastri, P. (2018). Kisah Negeri-Negeri di Bawah Angin. Jakarta: Yayasan Negeri Rempah

National Geographic. (2020). Karantina Hingga Vaksin, Inilah Akhir dari 5 Wabah Terparah di Dunia

Public Domain Review. Plague Doctor Costumes

#negerirempah #jalurrempah #rempahrempah #rempahnusantara #spicerouteid #spiceroute #wabahbesardunia #wabah #pandemi #epidemi #blackdeath #mauthitam