Fakhruddin Abdul Khair merupakan Sultan Gowa ke-26. Semasa pemerintahannya di Kesultanan Gowa, ia kerap mendapat tekanan dari Belanda. Sultan Fakhrudin diduga memiliki hubungan dagang yang lebih dekat dengan Inggris. Hal ini dibuktikan Belanda dengan keterlibatannya pada Cella Bangkahulu, sebuah bentuk kerja sama politik dengan Inggris yang bertujuan untuk melemahkan monopoli dagang Belanda di Bima, NTT.
Pada 1767, Sultan Fakhruddin ditangkap oleh Belanda dan dibuang ke Ceylon. Di sana, Sultan Fakhruddin memiliki anak laki-laki dari wanita lain (selain dari istrinya, Siti Hapipa) yang dinamainya Karaeng Sangunglo. Sangunglo sempat belajar mengenai kemiliteran melalui program Resimen Melayu Ceylon yang bertujuan untuk mempersiapkan armada untuk menyerang bangsa Timur. Tercatat, ada 6 saudara tiri Sangunglo yang juga mengikuti resimen ini.
Perebutan wilayah Kandy, Ceylon yang pertama dilakukan oleh pihak Belanda pada tahun 1761. Sangunglo melihat rakyat Ceylon yang ditindas oleh Belanda. Inilah awal mula Sangunglo membelot dan memutuskan untuk bergabung menjadi pasukan pengawal Kandy.
Tahun 1803, pasukan Inggris berkeinginan untuk merebut Kandy. Dalam pertempuran ini, Sangunglo bertempur dengan pasukan dari Resimen Melayu Ceylon, termasuk diantaranya 2 saudara tiri Sangunglo, Nuruddin dan Saifuddin yang pro Inggris. Sangunglo sempat bernegosiasi dengan mereka untuk bergabung ke pihak Kandy, namun ditolak. Singkat cerita, Inggris kalah telak, namun Sangunglo tewas di tangan Mayor Davie. Armada Kandy lalu menawan pasukan Inggris, termasuk kedua saudara tirinya.
Kisah Karaeng Sangunglo menjadi sebuah bukti bahwa hubungan antara Indonesia dan Sri Lanka telah terjalin sejak lama.
Sumber:
Arsy. (2015). Karaeng Sangunglo Bangsawan Gowa Dikenang Sebagai Pahlawan di Sri Lanka
Suryadi. (2008). Sepucuk Surat dari Seorang Bangsawan Gowa di Tanah Pembuangan (Ceylon): Wacana
#negerirempah #jalurrempah #rempahrempah #rempahnusantara #spicerouteid #spiceroute #karaengsangunglo #sangunglo