Pustaha Laklak adalah sebuah tradisi tulis yang berkembang di masyarakat Batak. Secara fisik, pustaha terdiri dari lampak (sampul) dan laklak (kulit kayu sebagai media penulisan). Pustaha digunakan oleh seorang datu atau seorang murid yang belajar untuk menjadi seorang datu. Pustaha biasa dibuat dari kayu atau kulit kayu pohon alim atau gaharu. Panjang kulit kayu bisa mencapai 7 meter dan lebar 60 cm. Laklak dilipat menyerupai akordeon dan dibuat lurus dan rapi hingga siap untuk ditulis.

Pustaha Laklak berisi tentang obat-obatan berbahan dasar rempah-rempah untuk mencegah guna-guna, juga mantra untuk mengobati penyakit karena racun dan ilmu hitam. Pustaha Laklak juga berisi ramalan hari baik dan buruk, serta ramalan mimpi. Selain itu, juga terkandung ilmu pengetahuan yang terbagi menjadi tiga, yaitu ilmu menyambung hidup, ilmu menghancurkan hidup, dan ilmu nujum.

Pustaha Laklak juga mencatat beberapa data terkait kemaritiman, dibuktikan dengan penyebutan bahan perahu dari kayu (parau, parparau toras tu tunggul) serta keberadaan perahu yang besar (parparau hopal na bolon). Kata laut juga disebutkan di dalamnya. Tercatat bahwa ikan yang mati di laut menjadi salah satu syarat yang harus dipenuhi dalam penyiapan upacara yang berkenaan dengan upaya mematikan musuh. Dari sini, dapat dipastikan bahwa nilai-nilai berbasis kemaritiman telah dikenal masyarakat Batak sejak lampau.

Foto: Barus Hulu

Sumber:

Kemdikbud. (2017). Pustaha Laklak dan Simbol Kemaritiman yang Dikandungnya Pameran Utama Perpustakaan Nasional RI

#negerirempah #jalurrempah #rempah #rempahrempah #rempahnusantara #spice #spiceroute #spicerouteid #pustahalaklak #batak