Indonesian Diaspora Business Council (IDBC) dan Negeri Rempah Foundation (NRF) menandatangani kerja sama untuk mengangkat rempah Indonesia mendunia. Seperti kita ketahui, Indonesia adalah negeri yang kaya akan rempah-rempah, namun sayangnya, rempah-rempah Vietnam, Thailand dan Malaysia justru lebih mendominasi di pasar mancanegara. Langkah kerja sama strategis ini, diharapkan bisa terbangun kolaborasi yang kuat antara diaspora Indonesia dan komunitas yang berada di bawah NRF.

Penandatanganan nota kesepahaman ini dilakukan oleh Presiden IDBC,Fify Manan, dan Ketua Yayasan Negeri Rempah, Kumoratih Kushardjanto, disaksikan oleh Wakil Presiden IDBC Astrid Vasile (Australia), perwakilan dari Dewan Pengurus Yayasan Negeri Rempah dan Koordinator Program Pasarempah, Chaedar Saleh Reksalegora.

NRF yang salah satu pendirinya adalah Hasan Wirayuda, mantan Menteri Luar Negeri RI, telah dikenal sejak lama dengan komunitasnya. Bukan saja dalam hal pengembangan sisi ekonomi bisnis dari rempah-rempah Indonesia, tapi juga membangun narasi bahwa  melalui rempah-rempah, juga menjadi ajang mengenalkan budaya, nilai dan keberagaman. Hal ini disampaikan Kumoratih atau akrab disapa Ratih, pendiri lain NRF saat penandatanganan kerja sama ini secara virtual (02/09/2021).

“Peran diaspora Indonesia amat besar dalam mempromosikan Indonesia. Apalagi, saat ini Indonesia tengah berupaya untuk menominasikan Jalur Rempah sebagai World Heritage. Kita perlu mempererat persahabatan dan kerja sama dengan negara-negara sahabat.. Dengan dukungan diaspora Indonesia, kita dapat mengambil langkah awal yang baik menuju tujuan kita, termasuk strategi untuk mengembangkan usaha di negara lain tempat diaspora kita berada. Narasi Jalur Rempah dapat turut memperkuat diplomasi Indonesia dalam konteks ekonomi,” ujar Ratih.

Di sisi lain, Fify mengatakan Indonesia sebagai negara kepulauan terpendam harta karun yang sangat berharga yaitu rempah. “Indonesia merupakan surga dunia untuk rempah, mestinya ini bukan sekadar komoditi, tapi harus dengan value added kita bisa ekspor rempah-rembah sebagai bahan olahan bumbu masak. Saat ini bumbu rempah olahan didominasi Thailand, Vietnam dan Malaysia. Bumbu masakan Indonesia mestinya bisa lebih luas peluangnya, agar kesejahteraan UMKM meningkat juga petani Indonesia,” tandasnya.

Fifi menambahkan kuliner Indonesia harus bisa mendunia jika bumbu rempahnya juga mendunia. “Para diaspora yang bergerak di bidang kuliner yang terbanyak saat ini, dengan kerja sama ini, saya yakin bisa mendukung bisnis mereka,” ujarnya. Lalu dengan berkembangnya pemasaran secara online, IDBC sebelumnya telah mengembangkan IDBC Trade Link. Dijelaskan Diski, tim dalam pengembangan teknologi di IDBC, bahwa akan banyak membuka peluang dengan memasukkan komunitas di bawah NRF, yang merupakan UMKM rempah,  terkoneksi dengan diaspora yang membutuhkan rempah-rempah.

IDBC TradeLink bukan sekadar e-commerce, lanjut Diski,  karena di dalamnya juga menjadi tempat promosi dan kolaborasi perdagangan virtual, serta dapat turut menampung informasi para pelaku UMKM. Termasuk di dalamnya, Pasarempah, yang bisa membawa komunitas ini ke pasar global. Platform ini dapat diakses melalui situs idbc-tradelink.com.

Tujuan platform ini adalah menghubungkan peluang bisnis di antara Diaspora Indonesia di seluruh dunia dan mempercepat promosi bisnis Indonesia; menyediakan platform direktori bisnis yang komprehensif sebagai sumber data tunggal untuk bisnis Diaspora Indonesia; serta mengakomodir kolaborasi bisnis melalui platform interaksi seluler yang mudah digunakan.

img IDBC NRF 3412

Ke depannya, IDBC dan Negeri Rempah akan menggelar berbagai kegiatan diskusi dan bincang virtual yang mengetengahkan beragam topik dan narasumber yang menginspirasi. Melalui platform Tradelink, kolaborasi menjadi lebih mudah karena platform ini memiliki kapasitas untuk menyediakan "forum" yang sederhana dan mudah diakses oleh para anggotanya.

Astrid mengatakan kolaborasi adalah alat bisnis yang kuat untuk komunitas bisnis, terlepas dari ukuran atau industri mereka. Ada rasa urgensi untuk dapat memenuhi berbagai kebutuhan banyak pihak yang berkepentingan dalam peluang ekonomi UKM ini. “Prioritas kami adalah untuk menampilkan bisnis luar biasa kepada komunitas ekspor, bangsa dan Diaspora Internasional, dan menghubungkan peluang bisnis di antara diaspora Indonesia di seluruh dunia dan mempercepat promosi bisnis Indonesia,” terangnya.

Fify menyebut saat ini ada 12 juta diaspora di seluruh dunia dan TradeLink bergerak untuk membuktikan model platform yang unik, mendorong produktivitas melalui desain dan pengembangan terintegrasi di semua bidang Mode dan aktivitas industri lainnya.

Ratih menambahkan bahwa berkat komoditas rempah-rempah, Nusantara dari masa ke masa menjadi tempat bertemunya manusia dari berbagai belahan dunia yang sebagian besar memiliki semangat bukan semata untuk berdagang, tetapi juga untuk membangun peradaban. Jalur perdagangan rempah inilah yang menjadi sarana bagi pertukaran antarbudaya yang berkontribusi penting dalam membentuk peradaban dunia.

“Melalui rempah, kita bisa mengembangkan new sense of identity, jalur rempah sebagai warisan dunia, literasi tentang budaya harus kita sebarkan bersama. Bukan saja terkait pengembangan ekonomi, inilah saatnya rempah bisa memproyeksikan value Indonesia ke dunia. Kolaborasi ini bisa membuka ruang lebih luas, yang telah bergabung dengan yayasan ini, baik yang tidak terkait ekonomi maupun para UMKM,” ujar Ratih.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Sumber: https://swa.co.id/diaspora/idbc-nrf-akan-bawa-rempah-indonesia-mendunia