Maluku sudah lama dikenal sebagai ibu kandung rempah dunia. Nilainya yang tinggi di pasaran membuat bangsa-bangsa di Eropa saling berlomba menemukan rute pelayaran menuju pusat rempah. Jalur-jalur yang berhasil dilewati kemudian dirahasiakan. Peta-peta pun dikacaukan demi mengelabui musuh. Tak heran bila pada waktu itu, rempah diibaratkan seperti pisau bermata dua, memberi keuntungan sekaligus malapetaka.

Kerajaan Ternate dianggap sebagai kerajaan maritim yang besar, terutama di abad ke-16 dan 17, ditandai dengan wilayah kekuasaan yang mencakup Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Filipina, dan Papua.

Peranan Papua dalam Jalur Rempah pun tidak dapat dipandang sebelah mata, mengingat daerah barat laut Australia yang dikenal sebagai 'Zona Arafura' juga termasuk salah satu jalur perniagaan yang sibuk. Buktinya dapat ditelusuri melalui interaksi antara masyarakat Papua dengan Maluku, bahkan para pelaut dari Sulawesi.

Jalur perniagaan ini semakin meningkat ketika Kesultanan Tidore berkuasa di abad ke-16. Kesultanan Tidore mengamankan daerah pesisir Papua, sekaligus menghubungkannya dengan jalur perdagangan Eurasia yang menyebabkan rempah Nusantara kian mendunia. Tercatat, kapal-kapal Kesultanan Tidore merambah ke Papua di samping Kepulauan Aru, Kei, dan Tanimbar di Maluku sendiri.

Kini, upaya untuk menghidupkan kembali Maluku dan Papua sebagai destinasi wisata rempah dan wilayah penghasil rempah terus berjalan. Berikut kami rangkum pesona dan eksotika rempah Indonesia Timur yang masih bertahan hingga kini!

Data: Syukur, Y., Kumoratih, D., Nugraha, I., Kushardjanto, B., dan Wanastri, P. (2018). Kisah Negeri-Negeri di Bawah Angin. Jakarta: Yayasan Negeri Rempah | Pameran Jalur Rempah 2015 | Pameran Papua, Sarinah 2020

Foto: (berbagai sumber)

#negerirempah #jalurrempah #rempah #rempahrempah #rempahnusantara #spice #spiceroute #spicerouteid #maluku #moluccas #ternate #tidore #papua #rempahmaluku #rempahpapua