Kincir angin merupakan salah satu daya tarik wisata di Belanda yang telah berlangsung selama berabad-abad. Pada masa Perang Dunia Il, kincir angin digunakan untuk membawa pesan rahasia antarpenduduk lokal.

Memasuki abad ke-14, masyarakat Belanda membuat banyak kincir angin sebagai bagian dari pemanfaatan alam dan pelestarian tradisi masyarakat. Dengan sentuhan teknologi, energi angin diubah menjadi energi gerak dan energi listrik yang dapat dimanfaatkan masyarakat untuk memotong kayu, membuat kertas, serta menggiling gandum, jagung, dan rempah.

Bagaimana dengan kincir angin di Indonesia? Di Belitung, kincir angin memiliki beragam nama seperti kelonceran dan menangin. Kincir angin ini juga tidak dapat dilepaskan dari tradisi, adat, dan budaya. Jika tradisi Belanda dipengaruhi oleh laut, masyarakat Kampung Aik Nangkak, Desa Simpang Rusak, Membalong di Belitung dipengaruhi oleh perbukitan.

Tak jauh dari Air Terjun Jurak Linsum Kawai, warga mempersiapkan diri ketika angin membawa pesan alam dari bukit ke lembah Aik Nangkak untuk menyiapkan diri berkreasi. Kayu yang panjang serta daun nangkak di sepanjang aik arongan (sungai kecil) dimanfaatkan. Kayu yang tebal ditipiskan, yang kaku dilenturkan hingga kombinasi kayu dan daun berubah menjadi kincir angin. Kincir angin ini merupakan salah satu tradisi yang masih dipertahankan oleh masyarakat Kampong Aik Nangkak dan kampung-kampung lainnya di Belitung.

Bila musimnya tiba, mereka membuat menangin hingga dua depa panjangnya. Tentunya tradisi ini lestari karena mereka memiliki keterampilan dan mengutamakan kebersamaan.

Kala siang tiba, mereka bergegas beradu menangin. Menjelang malam, lahir tradisi minter (mancing lelutai) bersama.

Teks dan foto: Fithrorozi
Editor: Pinpin Cahyadi