Kamis, 24 September 2020
14.05 – 16.05 WIB
Pembicara:
1. Rachmat Sarwono (Jamu Borobudur)
2. Sigit Ismaryanto (Alam Sari Interbuana)
3. Nuning S. Barwa (Dewan Rempah Indonesia)
4. Nova Dewi Setiabudi (Suwe Ora Jamu)
5. Jony Yuwono (Acaraki)
Moderator: Sari Wulandari (Yayasan Negeri Rempah / Universitas Bina Nusantara)
Hidup sehat dengan konsumsi asupan organik, sehat, dan tanpa kimia telah menjadi tren. Tren ini memberi peluang untuk memasarkan produk herbal lokal, misalnya jamu. Rachmat Sarwono mencontohkan Borobudur Extraction Center yang mengolah rempah menjadi produk kesehatan berkualitas dalam bentuk jamu dengan memanfaatkan teknologi modern. Ini karena standar industri kesehatan yang ketat dan butuh teknologi modern untuk mewujudkannya. Sigit Ismaryanto menjelaskan bahwa jamu menguntungkan karena 99% bahan bakunya adalah rempah yang berasal dari dalam negeri. Tantangannya adalah untuk bisa menjaga kualitas dari produk bahan baku maupun olahan rempah karena budidaya yang belum profesional, ketersediaan dan kebutuhan yang tidak seimbang, serta kurangnya dukungan pembiayaan. Untuk menjaga mutu salah satunya menggunakan sains. Namun sains kerap dianggap dapat mengancam nilai yang terkandung dalam produk tradisional. Orientasi sains harus digeser menjadi "sains hijau" (green science) yang ramah lingkungan dan menjadi alternatif produk olahan rempah di samping olahan tradisional.