Senin, 20 September 2021

10.30- 12.30 WIB 

 

Pembicara: 

  1. Andi Batara Al Isra (Penulis, New Zealand)
  2. Khaerunnisa (Pelayan Kesehatan Professional, Jepang) 
  3. Batari Oja Andini (Pendidik, Cina) 

Moderator : Ary Sulistyo

 

Indonesia tidak hanya menjadi tujuan, tetapi juga turut mengirimkan warganya ke berbagai negara, terutama di masa globalisasi sekarang. Menarik untuk menyimak sudut pandang pendatang dari Indonesia di berbagai negara. Batari Oja Andini mengamati kepercayaan mengenai tataran dunia (kosmologi) dari Dinasti Chu (1030 SM–223 SM) di Tiongkok dengan kebudayaan di Makassar. Rupanya ada beberapa persamaan antara kedua kebudayaan tersebut seperti ritual pemanggilan roh, tingkatan dunia, dan keyakinan bahwa pusat negeri berada di tengah. 

Tidak hanya persamaan, Indonesia juga dapat belajar dari kondisi negara lain seperti pengamatan Khaerunnisa terhadap penduduk Jepang yang banyak di antaranya adalah lansia. Di satu sisi, ada kesempatan kerja terbuka bagi orang luar Jepang, seperti Indonesia. Di sisi lain, Jepang harus menghadapi banyaknya lansia yang membutuhkan pengawasan dari perawat. Ini menjadikan peluang kerja sebagai perawat di Jepang bagi warga Indonesia. 

Menarik pula melihat sudut pandang warga suatu negara terhadap Indonesia. Andi Batara Al Isra menyebut pandangan warga Selandia Baru terhadap Indonesia masih terasa "jauh" dengan kebudayaan yang sangat berbeda. Padahal, Indonesia tidak hanya memiliki kebudayaan khas Asia Tenggara, tetapi juga kebudayaan Pasifik yang dekat dengan Selandia Baru. Beberapa program telah dilakukan untuk menjalin hubungan Indonesia dengan Selandia Baru seperti pameran Pacific Expo, Asia New Zealand Foundation, pengiriman pelajar Indonesia, bantuan penanganan COVID-19, dan ekspor-impor.